Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Malam Pelarian
Langit malam di perbatasan utara Mobelle gelap gulita, tanpa bintang. Kabut tebal turun dari pegunungan, menyelimuti hutan pinus yang lebat dalam keheningan mencekam. Ini adalah "Titik Buta"—celah sempit di antara pos penjagaan Mobelle dan wilayah netral yang jarang dipatroli karena medannya yang curam dan berbatu.
Arsen berdiri di balik semak belukar, jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit di dadanya. Dia mengenakan jubah hitam sederhana, wajahnya diolesi lumpur untuk menyamarkan fitur aristokratnya. Di sampingnya, Julian berdiri tegak, tongkat sihirnya tertanam di tanah, ujungnya memancarkan cahaya ungu redup yang hampir tak terlihat.
"Kau yakin dia akan datang lewat sini?" bisik Arsen, suaranya gemetar.
"Sinyal magisnya konsisten," jawab Julian pelan, matanya terpejam fokus pada aliran energi sihir di udara. "Dia menggunakan cincin perlindungan darah royal untuk menyembunyikan jejaknya dari sensor utama. Pintar. Tapi itu juga membuat aura magisnya unik. Seperti sidik jari."
Tiba-tiba, semak-semak di depan mereka bergoyang.
Sebuah sosok kecil dan kurus merangkak keluar dari kabut. Dia mengenakan pakaian compang-camping, wajahnya pucat pasi, dan matanya lebar karena ketakutan. Di pundaknya, dia membawa tas ransel kecil yang tampak berat.
"Caspian!" seru Arsen, lupa akan bahaya, dan berlari maju.
Sosok itu tersentak, mundur ketakutan, tangannya meraih pisau kecil yang terselip di sabuknya. "Jangan mendekat! Siapa kau?!"
"Aku Kakakmu!" kata Arsen, berhenti mendadak, mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan ketiadaan senjata. "Caspian, lihat aku. Ini Arsen."
Caspian menatapnya lama, matanya menyipit dalam kegelapan. Perlahan, ketegangan di bahunya mengendur. Pisau itu turun. "Arsen?" suaranya serak, pecah oleh isakan. "Kamu... kamu benar-benar hidup?"
Arsen menerjang, memeluk adiknya erat-erat. Caspian tubuhnya kaku sejenak, lalu runtuh dalam pelukan itu, menangis tersedu-sedu. Tangisnya tertahan, penuh dengan rasa lega dan trauma yang telah ditahannya selama berminggu-minggu perjalanan melarikan diri.
"Aku pikir mereka membunuhmu," isak Caspian. "Ibu... Ibu bilang kamu pengkhianat. Dia mengirim Pembersih. Aku harus lari, Arsen. Aku tidak bisa tinggal di sana lagi. Mereka mulai mencurigai aku membantu faksi reformis."
Arsen mengusap rambut adiknya yang kusut. "Aku di sini. Kamu aman sekarang. Ratu Floren setuju untuk memberikanmu suaka."
Julian melangkah maju, wajahnya tetap waspada. "Kita tidak punya banyak waktu. Sensor sihir Aethelgard mungkin sudah mendeteksi anomali saat Caspian menembus batas. Kaelia sudah menyiapkan kuda di dua kilometer dari sini. Kita harus bergerak."
Caspian menarik diri dari pelukan Arsen, mengelap air matanya dengan lengan bajunya yang kotor. Dia menatap Julian dengan rasa hormat dan takut. "Anda... Penyihir Kerajaan Mobelle?"
"Julian," koreksi Julian singkat. "Dan ya. Sekarang, ikutlah. Jangan tinggalkan jejak."
Mereka bertiga bergerak cepat melalui hutan. Caspian, meski lelah, memiliki ketahanan yang mengejutkan. Dia terbiasa berjalan kaki jauh saat menyusup keluar dari istana Aethelgard.
Namun, saat mereka mencapai tepi hutan, suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Bukan satu atau dua kuda. Tapi puluhan.
"Mereka tahu," gumam Julian, wajahnya pucat. "Sihir pelacak mereka lebih cepat dari perkiraanku."
Arsen merasakan dingin merambat di tulang belakangnya. "Pembersih."
"Lari!" perintah Julian.
Mereka memecah kegelapan, berlari menuju titik pertemuan yang telah ditentukan. Derap kuda semakin dekat. Suara teriakan kasar terdengar, diikuti oleh bunyi panah yang melesat melewati kepala mereka, menancap di pohon.
"Turun!" teriak Arsen, mendorong Caspian ke dalam parit dangkal.
Julian mengayunkan tongkatnya. Boom! Sebuah ledakan cahaya silau meledak di belakang mereka, menciptakan dinding asap dan ilusi pepohonan palsu untuk membingungkan pengejar.
"Mereka tidak akan tertipu lama," kata Julian, napasnya tersengal-sengal. Sihir tingkat tinggi itu menguras energinya dengan cepat.
Tiba-tiba, dari balik asap, seorang penunggang kuda muncul. Dia mengenakan armor hitam legam, wajahnya tertutup helm tanpa celah. Di tangannya, pedang panjang berkilat dingin. Itu adalah pemimpin Pembersih.
"Pangeran Arsen," suara pemimpin itu bergema, dingin dan mekanis. "Menyerahlah. Bawa adikmu. Ratu Isolde menjanjikan ampunan jika kalian kembali sukarela."
Arsen berdiri, melindungi Caspian yang gemetar di belakangnya. "Ampunan? Dengan rantai di leher kami? Tidak pernah."
Pemimpin itu menurunkan visornya. "Sayang sekali. Maka kami akan membawa pulang mayat kalian."
Dia mengangkat pedangnya, siap menyerang.
Tapi sebelum dia bisa menghunjamkan pedangnya, sebuah anak panah hitam melesat dari kegelapan hutan di sisi kiri, tepat mengenai bahu armor pemimpin itu. Armor itu retak, dan pemimpin itu terhuyung, kudanya meringkik kesakitan.
Dari bayangan pohon, Kaelia muncul, busurnya masih terentang. Di belakangnya, lima agen rahasia Floren siap dengan senjata tersembunyi.
"Permainan selesai," kata Kaelia dingin.
Pertempuran singkat terjadi. Agen-agen Floren, yang terlatih dalam gerilya, dengan cepat melumpuhkan tiga penunggang kuda pertama. Sisanya, melihat jumlah mereka kalah dan pemimpin mereka terluka, memilih untuk mundur ke dalam kegelapan. Mereka tahu aturan pertempuran ini: jangan bertarung jika kemenangan tidak pasti.
Hening kembali turun, hanya napas berat mereka yang terdengar.
Julian ambruk ke lutut, kelelahan. Arsen segera membantunya berdiri.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arsen cemas.
Julian mengangguk lemah. "Hanya... pusing. Sihir ilusi besar itu... memakan banyak tenaga."
Kaelia mendekati mereka, menyarungkan busurnya. Dia menatap Caspian dengan tatapan menilai. "Ini dia? Adik bungsu yang menjadi masalah?"
Caspian menunduk, takut. "Maaf... saya..."
"Diam," potong Kaelia, tapi nadanya tidak kasar. "Naik kuda. Kita harus sampai ke Gudang Lama sebelum fajar. Jika Pembersih melaporkan posisi kita, gelombang kedua akan datang."
Arsen membantu Caspian naik ke salah satu kuda cadangan. Dia sendiri naik ke kuda lain, sementara Julian dibantu oleh salah satu agen.
Saat mereka melesat pergi meninggalkan hutan, Arsen menoleh ke belakang. Hutan itu kini tampak seperti mulut raksasa yang mencoba menelan mereka. Tapi mereka berhasil lolos. Untuk saat ini.
Di dalam hatinya, Arsen merasa beban berat terangkat, digantikan oleh rasa utang budi yang mendalam pada Floren. Tanpa intervensi Ratu itu, Caspian pasti sudah mati. Dan Arsen... Arsen mungkin sudah menyerah pada keputusasaan.
Tapi dia tahu, ini baru permulaan. Isolde tidak akan berhenti. Dan kini, perang pribadi antara keluarga kerajaan Aethelgard dan Mobelle telah resmi dimulai.