NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih

Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:103.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.

"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.

Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....

"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."

Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"

Ikuti Auhto di

FB " Tupar Nasir
WA 089520229628

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Gagal Lagi

     Sejak bangun, wajah Anata tidak cerah, ia kepikiran kata-kata Kafeela semalam.

     "Untung saja aku bisa menahannya." Anata kembali meniru ucapan Kafeela semalam. Ia curiga lebih ke arah yang sensitif. Terbayang yang diurus suaminya adalah seorang perempuan yang sedang mabuk.

     "Pasti tubuhnya sudah bersentuhan dengan perempuan itu," gumamnya cemburu. Tidak rela pria yang baru beberapa hari bergelar suami, harus bersentuhan dengan kulit perempuan lain.

     "Sayang, kenapa diam saja? Eh... tapi, biasanya juga diam saja, kan? Semalam Abang terlanjur lelah, jadi nggak bisa menagih janji padamu," ujar Kafeela seraya mendekat dan tanpa segan memeluk Anata dari belakang.

     Ia mengecup punuk Anata yang langsung merinding geli.

     Perlahan Anata melepas pelukan Kafeela, dan ia menjauh. "Aku gerah."

     "Gerah? Baru saja mandi. Sebaiknya kita sarapan, Bi Neni sudah buatkan sarapan yang enak. Ada lontong sayur," bujuknya sambil menggandeng lengan Anata.

     Lagi-lagi Anata menepis tangan Kafeela dan beringsut sedikit dari suaminya.

     "Ah, ya sudah, sebaiknya Abang bawa saja sarapannya ke sini." Kafeela berinisiatif untuk membawa sarapannya ke dalam kamar saja.

     "Nggak usah. Kamu nggak usah sok perhatian begitu." Anata menolak.

     "Ck...benar-benar, ya. Sayang, kamu sudah lupa apa permintaan Abang? Kalau sampai lupa, maka kamu akan mendapat hukuman." Kafeela mengingatkan kembali mengenai hukuman apabila Anata salah sebut memanggilnya.

     "Nggak takut," tukasnya seraya berjalan pelan menuju pintu dan meninggalkan Kafeela.

      "Serius? Kalau begitu, tidak hanya hukuman, tapi...aku akan tambah lagi hukumannya." Senyum Kafeela menyeringai penuh rencana.

     Sarapan pagi selesai, Anata makan banyak lontong sayur pagi ini. Rasanya enak dan ia tidak segan memuji lontong sayur buatan Bi Neni.

     "Lontong sayur Bi Neni sangat enak. Kalau jualan juga pasti bakal laku, nggak kalah sama lontong sayur yang dijual di gerobak kaki lima," puji Anata tulus.

     Bi Neni tersenyum malu-malu, ia terkekeh kecil.

     Kafeela diam-diam mengamati interaksi antara Anata kepada Bi Neni. Jauh di luar dugaannya, rupanya Anata benar-benar sudah terlihat sangat matang dan dewasa. Tidak ada sikap arogan terhadap Bi Neni yang notabene hanya seorang ART.

     "Dia sudah benar-benar dewasa. Dia juga mampu menghargai orang di bawahnya," gumam Kafeela bangga.

     Pria tampan itu masih larut dalam pengamatannya, karena baginya ini sangat menarik.

     Bi Neni menjawab dengan nada malu-malu, "Tentu saja enak, Non. Sebab, Bibi belajar membuat lontong sayur dari Bu Cladi. Beliau sangat pandai buat lontong sayur."

     "Oh ya, Bi Neni bisa bikin lontong sayur yang enak ini karena belajar dari Mama Cladi?"

     "Iya, Non. Bukan hanya itu, Bibi juga belajar cara memasak masakan nusantara lainnya, seperti nasi uduk yang sedap, soto Bandung. Bahkan makanan luar seperti tom yam dan som tam, Bu Cladi pandai buat. Ah...benar-benar wanita serba bisa," lanjutnya memuji mamanya Kafeela dengan bangga.

     "Wah, sepertinya saya juga perlu belajar dari Mama Cladi dan Ibu saya, Bi. Ibu saya juga pintar masak, terutama bikin nasi tumpeng. Nasi tumpengnya terkenal paling sedap."

     "Kalau begitu, Non Nata, tidak perlu repot-repot belajar dari luar kalau sudah ada dua wanita jago masak di dekat Enon," seru Bi Neni.

     "Betul sekali." Anata setuju, sembari tidak segan-segan membantu membereskan piring bekas ia dan suaminya sarapan pagi.

     Anata meninggalkan dapur, ia bergegas menuju ruang tamu. Rasanya ia ingin menghirup udara pagi di depan teras rumah.

     Walaupun kakinya masih terasa sedikit sakit, Anata memaksa berjalan agar nanti saat masuk kerja tidak kaku.

     "Sayang, gimana, enak bukan lontong sayur buatan Bi Neni?" Tiba-tiba Kafeela muncul tepat di sampingnya, membuat Anata tersentak.

     "Kamu ini kebiasaan, aku terkejut," protes Anata dengan mata mendelik.

     "Stop, jangan dibiasakan memanggil Abang dengan panggilan kamu dong, Abang nggak suka dengarnya. Kamu sudah tidak takut lagi dengan ancaman Abang?" Mata Kafeela menatap tajam tapi tetap teduh ke wajah Anata.

     "Tidak." Anata menjawab tanpa rasa takut.

     "Baiklah, kita buktikan pagi-pagi bolong begini," ancamnya seraya meraih pinggang Anata lalu dipanggulnya ala bridal.

     "Abang, lepas! Jangan begini, aku malu dilihat Bi Neni. Lepaskan!" rengek Anata, tapi tidak digubris Kafeela.

     Pria kekar dan tampan itu terus berjalan sambil memanggul tubuh Anata sampai kamar.

     Setelah tiba di kamar, tubuh Anata dibaringkan pelan di atas ranjang. Senyum Kafeela merekah, dia ikut menyusul Anata.

     "Tidak. Jangan, aku tidak mau," tolak Anata mendorong dada Kafeela kuat, tapi sayang dada kekar Kafeela tidak goyah, ia malah semakin dekat. Tubuhnya hanya beberapa jengkal saja dari Anata.

     "Bibir ini perlu dihukum sampai ia berhenti memanggil Abang dengan sebutan kamu. Itu sangat tidak sopan, karena Abang tidak suka mendengarnya."

     Hukuman yang diucapkan Kafeela tengah berlangsung, sebuah kecupan posesif dan menguasai dilabuhkan di bibir tipis Anata.

     Anata tetap berontak karena ia hampir kehilangan napas, tambah lagi tiba-tiba darah haidnya mengalir dan keluar deras.

     "Aduh...ini lagi banyak-banyaknya," keluhnya seraya mengangkat bokongnya sedikit.

     Kafeela menjauh dari tubuh Anata, ia melihat heran ke arah Anata.

     Dengan rasa ingin tahu Kafeela mulai melontarkan beberapa pertanyaan. "Kamu kenapa, tiba-tiba seperti kebingungan?"

    Anata belum menjawab, perlahan bangkit tapi wajahnya diliputi rasa was-was.

     "Akhhh...tuh kan, tembus sepre," pekiknya pelan terdengar malu dan menyesal.

     Kafeela mengarahkan tatapnya pada pandangan mata Anata, dan sebuah titik noda merah langsung ia jumpai.

     "Apa? Ka~kamu haid?" cetus Kafeela kecewa. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

     Anata mengangguk yakin.

     Wajah Kafeela murung seketika. Padahal rencananya nanti malam ia sudah menyusun strategi atas misi memasuki hutan larangan Anata.

     "Duh Gusti...cobaan apalagi ini?"

     Sementara Anata, segera bergegas menuju kamar mandi. Ia harus segera mengganti pembalut serta seprenya.

     Kafeela masih tertegun kecewa. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Anata sampai selesai haidnya.

     "Kira-kira berapa lama darahnya sampai bersih banget?" tanya Kafeela setelah Anata selesai dari kamar mandi.

     "Seminggu atau tujuh hari."

     "What, tujuh hari? Itu benar-benar lama," dengusnya tidak suka.

     Anata mengangkat bahunya tanda tidak tahu.

     "Baiklah, Abang akan tunggu sampai kamu bersih." Akhirnya Kafeela pasrah, tidak ada jalan lain.

     "Eits, tunggu. Satu lagi. Sekali lagi Abang peringatkan dan ini final, Abang tidak akan pernah mentolelir setiap kesalahan kamu," tegas Kafeela.

     Anata berhenti lalu mendengarkan kalimat lanjutan dari suaminya.

    "Salah sebut lagi, maka kamu akan dapat dobel hukumannya," ancamnya membuat Anata bergidik ngeri.

      Pagi sudah merangkak siang, suasana di rumah itu kembali terlihat sepi.

     Kafeela tidak sabar menunggu hari yang paling menentukan itu.

1
@Al**
/Good/
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Nick_Hen
keren 👍...trrimakasih tor
Arin
/Heart/
Nasir: Makasih Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nick_Hen
lanjut
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
nis_ma
semangat thorr 🔥💪
HaRas_DeHas: Mampir juga Kak ke karya saya "Sang Perwira Yang Terkhianati". 🙏🙏
total 2 replies
Nasir
Hai pembaca, ini dua bab terakhir lho. Kasih saran dong untuk nanti ke depannya buat saya, bikin karya yg kayak mana? Prianya dingin, tegas jutek tapi diam-diam perhatian? Atau wanita kuat, atau apa? Coba tulis sarannya ya.
Arin
Si debay sudah terlanjur ada di perut Anata. Coba pelan-pelan terima.... Jangan egois karena belum mau dan belum siap. Masa mau dipending dulu..... apalagi di gugurkan. Ck...
Nasir: Merasa belum siap, seperti disambar petir.
total 1 replies
Arin
Keputusan bagus Komandan. Semoga keputusan sudah tepat..... Tapi jangan sampai biarpun sudah di ganti dengan ajudan lain buat jadi pengawal Jeny, tapi masih gatel berusaha buat tetap mendekati suami orang.
sunaryati jarum
Semoga segera tumbuh hasil cocok tanam kalian
Nasir: Hehehe.... ditungguin...
total 1 replies
sunaryati jarum
Kamu mundur jadi ajudan saja Kafeela,masa tugasnya antar jemput putri Jendral,itu di luar dinas
Arin
Bagaimana tuh kelanjutan si Jin penyebar fitnah??? Tindakan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya???
Arin: Ditunggu Thor.... gak sabar
total 2 replies
Arin
Begitu tuh anak melakukan kesalahan..... katanya sudah kuliah, mahasiswa...... berartikan anak pintar😁Tapi untuk mengakui kesalahan malah lari......
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Arin: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Arin
Memang kurang ajar banget tuh si anak komandan. Halo.... bapak dan ibu komandan terhormat.... anakmu perlu dibimbing dan diarahkan ke hal yang lebih baik. Jangan sampai dengan kejadian video editan AI masih tidak sadar juga dan semakin menjadi.... Mau banget ya anaknya jadi pelakor
Nittha Nethol
lam upnya
Nasir: Iya Kak maaf, kemarin ada gangguan dr sistem NT. Sehingga yg up kemarin justru di up hari ini sama NT.
total 1 replies
Ai Oncom
the best Anata..
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
wih keren nih Anata...
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Taro
semangat terus thor💪
Arin
Pasti bilang ke Kafee kalau istrinya punya kedekatan dengan bapaknya si Jin ini......Bapak Komandan helow..... itu anaknya perlu di perbaiki ahklak nya ya....mau jadi pelakor anak buahmu.... gak malu punya bapak terpandang dijajarannya tapi tingkah anaknya minus... gak banget
Arin
Murahan banget anak dari komandan. Biasanya anak dari seorang militer dididik disiplin. Bukan kayak gini, yang sudah tau ajudan Papanya sudah menikah. Tapi dengan suka rela dia buka paha, gak ada malu-malunya sama sekali ckckck.
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!