NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Adu pedang

Tanah yang sudah hancur itu kini tak lagi mampu menahan tekanan. Saat kedua kaki mereka berpijak untuk saling menerjang, bumi di bawah mereka meledak, menciptakan kawah sedalam satu meter.

​Liu Shen tidak memberikan ruang bernapas. Ia memutar pedang besar Paman Han di atas kepalanya, menciptakan pusaran angin hitam yang tajam sebelum menghantamkannya secara vertikal.

Lu Ming tidak mundur; ia meluncur maju, tubuhnya miring 45 derajat, membiarkan mata pedang raksasa itu menyapu sejengkal di samping bahunya.

​BRAAAK! Pedang besar itu membelah tanah sepanjang sepuluh meter. Lu Ming memanfaatkan momentum tersebut.

Ia menginjak bilah pedang Liu Shen yang tertancap di tanah, lalu melompat sambil memutar tubuhnya di udara.

Pedang pendeknya berkilat, mengincar tenggorokan Liu Shen dalam tiga tusukan beruntun yang hanya terlihat seperti satu garis cahaya merah.

​TRANG! TRANG! TRANG!

​Liu Shen melepaskan satu tangan dari gagang pedang, lalu menggunakan sarung tangan pelindung logamnya untuk menepis tusukan itu dengan kecepatan refleks yang mustahil.

Ia kemudian menghantamkan sikunya ke arah dada Lu Ming di udara.

Lu Ming menyilangkan tangannya, menerima hantaman itu, dan terlempar ke belakang, namun ia mendarat dengan anggun di atas seutas tali jemuran yang belum terbakar, berdiri tegak seperti burung walet.

​"Terlalu lambat, Liu Shen," bisik Lu Ming. Tubuhnya tiba-tiba memudar.

​Ia menggunakan teknik "Langkah Tinta Gaib". Di mata Liu Shen, Lu Ming kini tampak seperti sepuluh bayangan yang menyerang dari segala arah. Setiap bayangan meninggalkan jejak Qi merah di udara yang berbentuk goresan kaligrafi.

​Liu Shen meraung. Ia menancapkan pedang besarnya ke tanah dan meledakkan seluruh Qi hitamnya dalam bentuk kubah berduri.

​BUM! Gelombang kejut itu menghancurkan bayangan-bayangan Lu Ming. Namun, Lu Ming yang asli muncul tepat di atas kepala Liu Shen, menukik dengan pedang yang terbungkus api merah pekat.

Liu Shen menarik kembali pedangnya dengan satu sentakan kuat, memutar tubuhnya 360 derajat dalam gerakan "Angin Pembantai Bumi".

​Logam bertemu logam. Percikan api menyambar setinggi tiga meter. Liu Shen menggunakan berat pedang besarnya untuk menekan Lu Ming ke bawah, sementara Lu Ming menggunakan fleksibilitas pedang pendeknya untuk mengalirkan tenaga lawan ke samping.

​Mereka bertukar seratus serangan dalam hitungan detik.

​Liu Shen menghancurkan setiap rumah yang dilewati tebasannya.

​Lu Ming membelah setiap helai rambut dan kain zirah Liu Shen tanpa suara.

​Pertarungan berpindah ke atas reruntuhan atap kuil desa yang masih berdiri. Liu Shen melompat, pedangnya membawa beban ribuan ton tekanan udara. Lu Ming menari di antara puing-puing yang melayang akibat tekanan Qi.

​Dalam satu momen krusial, Liu Shen melepaskan teknik pamungkasnya: "Sembilan Gerbang Neraka". Sembilan bayangan pedang raksasa muncul di langit, jatuh menghujam seperti meteor.

​Lu Ming menutup matanya sejenak. Tangannya bergerak seperti sedang melukis di udara kosong. "Puisi Akhir: Langit Berdarah di Atas Kertas Putih".

​Ribuan helai benang Qi merah keluar dari ujung pedang pendek Lu Ming. Benang-benang itu melilit sembilan pedang raksasa Liu Shen di udara, menahan mereka tepat sebelum menyentuh tanah. Suasana mendadak hening. Udara terasa statis.

​KRAK!

​Lu Ming menarik benang-benang itu. Sembilan proyeksi pedang Liu Shen hancur berkeping-keping.

Di saat yang sama, Lu Ming melesat melalui celah reruntuhan. Ia menendang dada Liu Shen, lalu menggunakan lututnya untuk menghantam dagu saudaranya itu.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!