NovelToon NovelToon
DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."



Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.

"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."

Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.

"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."

"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."

Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GENGSI

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela kamar utama. Keyla terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Mungkin karena perutnya yang kenyang semalam, atau mungkin karena kehadiran sosok asing di rumah ini yang entah bagaimana membuat suasana tidak lagi terlalu mencekam.

Namun, saat ingatan tentang Arsyad muncul, tembok pertahanan di hatinya langsung berdiri tegak kembali.

Dia cuma adik Arsenio. Dia cuma numpang tinggal. Jangan terlalu terbuka, Key. Jangan sampai salah langkah, batinnya mengingatkan diri sendiri.

Keyla turun ke lantai bawah dengan langkah pelan. Pagi ini dia berniat bersikap lebih formal dan dingin. Dia ingin mempertegas batas antara mereka. Dia adalah Nyonya besar di rumah ini, dan Arsyad adalah tamu. Itu saja.

Tapi begitu sampai di ruang makan, Keyla kembali dibuat terpaku.

Meja makan yang biasanya kosong dan dingin kini tertata rapi. Ada roti gandum panggang, telur orak-arik yang masih mengepul, irisan buah segar, dan teko keramik berisi teh hangat. Dan di sana, berdiri sosok tinggi besar yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir dengan sangat hati-hati.

Arsyad mengenakan kaos polo berwarna biru muda dan celana chino, tampak sangat rapi dan segar. Wajahnya yang tampan berseri-seri di bawah cahaya pagi.

"Pagi, Kak Keyla!" sapanya ceria seolah tidak terjadi apa-apa semalam. "Silakan duduk. Sarapan siap disantap. Hari ini menu ringan aja, biar gak bikin mual."

Keyla berjalan mendekat dengan langkah kaku. Dia menarik kursi, tapi duduk di ujung yang agak jauh dari Arsyad, menjaga jarak aman seolah ada garis tak terlihat yang tidak boleh dilampaui.

"Makasih," ucapnya singkat, datar, tanpa menatap wajah pria itu. Matanya fokus menatap piring makanannya.

"Sama-sama," Arsyad tersenyum, tidak peduli dengan sikap dingin itu. Dia menarik kursi dan duduk, tapi dia sengaja tidak duduk berhadapan langsung, melainkan menyamping, agar tatapan mereka tidak terlalu intens. Dia paham betul Keyla butuh ruang.

Mereka makan dalam keheningan yang cukup panjang. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Arsyad sebenarnya ingin mengobrol, tapi dia menahan diri. Dia melihat bagaimana Keyla makan dengan sangat tertutup, bahunya tetap tegang, siap siaga setiap saat.

"Kakak hari ini ada acara?" tanya Arsyad memecah kesunyian, suaranya lembut agar tidak mengejutkan.

"Tidak ada. Biasanya aku di rumah aja," jawab Keyla sekenanya, masih tidak menoleh.

"Ooh... gitu. Ya sudah, aku juga di rumah. Mau beres-beres beberapa dokumen di ruang kerja Arsenio," kata Arsyad santai.

Sebutan nama suaminya membuat tangan Keyla berhenti sejenak memegang gelas teh. Dia mengangkat wajah, menatap Arsyad dengan tatapan tajam yang jarang ditunjukkan orang lain padanya.

"Jangan sentuh barang-barang di ruang kerja itu," katanya tegas, suaranya dingin memancarkan otoritas. "Itu wilayah pribadi Arsenio. Tidak ada yang boleh mengutak-atik isinya."

Arsyad menghentikan aktivitas makannya. Dia menatap balik mata Keyla, tidak marah, justru tatapannya penuh pengertian tapi juga tegas.

"Kak, dengerin aku. Arsenio sudah tidak ada. Sekarang aku yang tanggung jawab atas semua aset, perusahaan, dan urusan dia. Aku harus memeriksa semuanya demi keamanan kita berdua," ucap Arsyad pelan namun berwibawa. "Aku janji, aku gak akan buang atau merusak apa pun. Aku cuma melihat dan mengatur. Itu tugas aku."

"Tapi itu..."

"Aku tahu itu berharga buat Kakak. Dan itu juga berharga buat aku. Tenang aja, aku jaga baik-baik," potong Arsyad lembut, mencoba menenangkan.

Keyla mendengus pelan, lalu kembali menunduk melanjutkan makannya. Dia merasa kesal karena merasa posisinya tergeser, tapi di saat yang sama dia sadar Arsyad benar. Dia tidak mengerti apa-apa tentang bisnis dan urusan teknis itu. Arsenio selalu menutupinya rapat-rapat agar dia tidak pusing.

Setelah sarapan selesai, Keyla langsung berdiri. "Aku mau ke taman. Tolong jangan ganggu aku."

"Siap, Bos. Selamat bersantai," Arsyad mengangkat kedua tangan tanda menyerah, senyum tipis terukir di bibirnya.

Keyla berjalan cepat meninggalkan ruang makan, meninggalkan pria itu yang mulai membereskan piring kotor. Dia butuh udara segar, butuh menjauh dari aura Arsyad yang terlalu kuat dan terlalu... hidup.

 

Siang harinya...

Keyla menghabiskan waktu duduk di bangku taman di belakang rumah. Dia memeluk lututnya, menatap kolam ikan yang tenang. Pikiran nya kacau. Kehadiran Arsyad seperti angin kencang yang menerobos masuk ke dalam rumah yang terkunci rapat ini. Dia mengacaukan segalanya, tapi entah kenapa... rumah ini jadi tidak terasa seperti kuburan lagi.

Tiba-tiba, aroma yang sangat familiar tercium samar-samar. Aroma asap pembakaran kayu dan daging.

Keyla mengerutkan kening. Dia berdiri dan berjalan mengikuti aroma itu. Sumbernya berasal dari area belakang dekat garasi.

Dan apa yang dilihatnya?

Arsyad sedang berdiri di depan sebuah barbecue grill portable yang entah didapatnya dari mana. Dia memakai apron lagi, kali ini apron hitam polos yang membuatnya terlihat sangat maskulin. Asap mengepul, dan dia sedang membolak-balik potongan daging sapi dan ayam dengan sangat ahli.

"Kak Keyla!" serunya saat melihat Keyla datang. "Pas banget! Sebentar lagi matang. Aku bikin grill buat makan siang. Di dalam dapur terlalu sempit dan panas, jadi aku masak di sini aja. Wangi kan?"

Keyla berdiri di ambang pintu kaca, tidak mendekat. Tetap di posisi aman.

"Kenapa harus bikin berisik begini?" tanyanya ketus. "Bisa kan pesan ke katering atau minta Mbok Diah masak?"

"Ah, masa tiap hari makan makanan yang itu-itu aja? Bosan dong," Arsyad tertawa renyah, tangannya tetap sibuk mengoleskan bumbu ke daging. "Lagipula, masak sendiri itu kan ibadah. Dan hasilnya pasti lebih enak. Coba sini deh, cicipi dulu. Jangan galak-galak dong pagi-pagi."

"Aku tidak galak, aku cuma..." Keyla menghentikan kalimatnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. "Aku cuma ingin ketenangan."

"Oke, oke. Aku ngerti," Arsyad mengangkat tangan, tapi matanya tetap tersenyum. "Tapi sekali-kali gak ada salahnya kan makan enak? Daging ini bagus lho, tinggi protein. Biar Kakak tetap cantik dan sehat."

Keyla diam saja, tapi kakinya tidak bergerak pergi. Dia tetap berdiri di sana, mengamati Arsyad.

Pria itu benar-benar fokus. Gerakannya luwes, percaya diri, dan sangat menarik untuk dilihat. Ada pesona tersendiri saat seorang pria tangguh sedang melakukan hal-hal domestik seperti ini. Terkadang senyumnya mengembang, terkadang dia bersenandung pelan.

Sungguh kontras yang sangat besar dengan Arsenio. Arsenio adalah pria yang dingin, serius, dan jarang tersenyum. Arsyad adalah kebalikannya: hangat, ceria, dan penuh energi.

Tapi... semakin lama Keyla menatap, semakin dia merasa aneh. Saat Arsyad sedang memicingkan mata menghindari asap, atau saat rahangnya mengeras saat sedang mengangkat beban berat... ada bayangan Arsenio di sana. Wajah mereka sama, hanya karakternya yang berbeda.

"Nah, jadi!" seru Arsyad memecah lamunan Keyla.

Dia membawa piring besar berisi daging panggang, jagung bakar, dan sayuran segar ke meja makan outdoor yang ada di teras.

"Mari makan, Nyonya. Silakan dinilai masakan adik iparnya," katanya sambil menarik kursi untuk Keyla.

Keyla duduk dengan ragu. Dia masih menjaga jarak, sikapnya masih kaku. Tapi saat dia mengambil sepotong daging dan menggigitnya... matanya sedikit membelalak.

Rasanya luar biasa. Bumbunya meresap sempurna, tekstur dagingnya empuk, dan ada aroma smokey yang sangat nikmat.

"Enak..." gumam Keyla tanpa sadar, suaranya sangat pelan.

Arsyad yang mendengarnya langsung tersenyum lebar, matanya berbinar-binar bahagia. Seolah mendapatkan pujian terbesar di dunia.

"Makasih, Kak! Aku tahu pasti Kakak suka. Rahasia aku ada di marinasi nya," katanya bangga.

Makan siang itu berlangsung lebih lama dari sarapan tadi. Arsyad tetap banyak bicara, menceritakan hal-hal lucu saat dia tinggal di luar negeri, mencoba mencairkan suasana. Keyla masih jarang bicara, jawabannya masih singkat, dan dia tetap duduk dengan posisi yang menjaga jarak aman.

Namun, kali ini bahunya tidak setegang tadi. Dan untuk pertama kalinya, sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang sangat cepat menghilang seolah takut terlihat.

Arsyad melihat itu semua. Dia tersenyum puas dalam hati.

Pelan-pelan, Kak. Pelan-pelan. Aku bakal nunggu sampai tembok itu runtuh dengan sendirinya. Demi Arsenio, dan demi kamu... batin Arsyad.

Tapi di balik senyum itu, pikirannya bekerja keras. Dia harus cepat menyelesaikan penyelidikan. Karena dia tahu, bahaya yang membunuh kakaknya mungkin sedang mengintai mereka berdua saat ini juga.

❤️MARI MAMPIR KE CERITA HOROR SAYA❤️

1
Wiwit
cerita ini tentang mereka ber 2 ja kh
M ipan: iya nanti nambah adik nya sama yang jahat nya
total 1 replies
Nur Mei
sedih banget 🥲
M ipan: terima kasih udah mampir🌹
total 1 replies
M ipan
😭🌹
Nesya
mencintai sampai maut memisahkan nyeseeek bgt euy 😭😭😭😭
meongming
semangat thor💪
M ipan: terima kasih kakak atas dukungan nya❤️
total 1 replies
Nesya
baru baca sinopsis nya udah nyesek duluan membayangin bab2 berikutnya fikx bikin mewek ni novel 😭
M ipan: terima kasih kakak sudah mau mampir
total 1 replies
Zia Zee
😭😭😭😭
M ipan: insakallah kakak, semoga kakak setia di buku saya ya🌹
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!