Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paket sudah sampai
Ponsel di tangan Yuda kembali bergetar pelan, sudah kali ketiganya siang ini.
Layar kecil itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang setengah tersembunyi oleh bantal. Sudah hampir seminggu ini rutinitasnya berubah. Begitu pekerjaannya selesai, ia akan berbaring di kasur tipisnya sambil memandangi layar ponsel dengan senyum yang tak kunjung hilang.
Nama itu lagi.
Kotak obrolan mereka masih terbuka. Percakapan hari ini sebenarnya sudah selesai beberapa menit lalu, tapi jempol Yuda tetap saja menggulir layar, membaca ulang pesan-pesan yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala.
Senyumnya makin melebar membaca guyonan yang ia lontarkan dibalas antusias oleh Nazwa.
"Anjir…" gumamnya pelan.
Ia memutar badan, memeluk bantal sambil menatap langit-langit kamar yang kusam. Bayangan wajah Nazwa muncul begitu saja di kepalanya—cara gadis itu membalas chat dengan santai, kadang mengirim foto buku yang sedang ia baca, kadang cuma mengirim stiker yang membuat Yuda bingung harus membalas apa.
Beberapa hari lalu Yuda bahkan hampir salah kirim pesan karena terlalu lama mengetik.
Ia terkekeh sendiri mengingatnya.
Sebuah story baru muncul pada nomor pribadi Nazwa. Jempolnya ragu sepersekian detik sebelum mengetuknya.
Layar berubah menampilkan video pendek.
Nazwa sedang duduk di meja perpustakaan. Rambutnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh ke samping wajahnya. Di depannya ada dua buku terbuka, satu pulpen diselipkan di antara jarinya.
Di bawah video tertulis sebuah caption.
"Capek juga baca jurnal hari ini."
Nazwa menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis ke arah kamera sebelum mematikan rekaman.
Yuda menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu tanpa sadar… ia tersenyum lagi.
"Lucu banget sih anak orang," gumamnya pelan. "Padahal cuma video sepuluh detik."
Ia menaruh ponsel di dada sambil menatap langit-langit kamar. Entah sejak kapan, hal-hal kecil seperti itu sudah cukup membuat hatinya terasa ringan.
Baru beberapa detik ia memejamkan mata.
Drrt.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini notifikasinya berbeda.
Sebuah pesan dari aplikasi belanja muncul di layar.
"Pesanan Anda hampir tiba."
Mata Yuda langsung terbuka lebar.
"Oh!"
Ia spontan bangkit dari kasur sampai bantalnya jatuh ke lantai.
"Udah sampe?"
Yuda buru-buru membuka aplikasi itu. Status pengiriman sudah berubah.
Kurir berada di sekitar lokasi Anda.
Dadanya langsung berdebar.
Itu dia.
Paket skincare yang ia pesan beberapa hari lalu.
Yang bahkan ia pilih dengan penuh perjuangan—menggulung layar berjam-jam, membaca review satu per satu, sampai akhirnya memberanikan diri membeli sesuatu yang menurutnya cukup bagus.
Yuda berdiri dari kasur, lalu bercermin sebentar di kaca kecil di dinding.
Rambutnya sedikit berantakan. Tangannya segera merapikannya.
Siang itu terasa lebih terang dari biasanya.
Di ruang tamu rumahnya, Yuda berdiri dekat jendela sambil memegang ponsel. Layarnya menampilkan peta kecil dari aplikasi belanja, titik biru bergerak pelan di jalan-jalan sekitar komplek.
Titik itu adalah kurirnya. Dan entah kenapa… rasanya aneh sekali.
Yuda menghela napas pelan, lalu berjalan dua langkah ke arah pintu. Berhenti. Menoleh lagi ke layar.
Mondar-mandir.
Baru sekarang ia sadar betapa gelisahnya orang yang menunggu paket.
Biasanya dia yang berada di atas motor. Mengantar satu alamat ke alamat lain. Mengetuk pagar rumah orang, memanggil nama pelanggan, lalu menunggu seseorang keluar sambil berkata, “Paket, Kak.”
Hari ini posisinya terbalik.
Dan ternyata… rasanya jauh lebih menyiksa.
"Ya ampun… baru juga nunggu lima menit," gumamnya sambil mengusap tengkuk.
Ia melirik lagi ke layar.
Titik biru itu berhenti di ujung gang. Beberapa detik kemudian terdengar suara motor mendekat.
Yuda langsung menegakkan badan.
Brrrrr...
Sebuah motor berhenti tepat di depan halaman rumahnya. Tanpa pikir panjang, Yuda langsung membuka pintu.
Ia setengah berlari keluar.
Kurir itu masih duduk di atas motor sambil melihat paket di tangannya.
"Yu… da fir… nan… da. Satu set skincare…" kurir itu membaca pelan.
Keningnya berkerut.
"Lah? Gak salah ini?"
Yuda yang baru saja sampai di depannya langsung membeku sepersekian detik.
Wajah itu dengan helm setengah terbuka dan senyum yang terlalu familiar.
Rizal—teman seperjuangannya sesama kurir.
"WOI!"
Yuda langsung menerjang. Tangannya menyambar paket dari tangan Rizal begitu saja.
"Jangan dibaca woi!" bentaknya cepat.
Rizal sampai sedikit mundur di atas motor karena kaget.
"Lu gak tau SOP apa? Kalo tiap paket itu privasi customernya?" lanjut Yuda dengan nada sok serius.
Rizal berkedip beberapa kali, masih memegang scanner kecil di tangannya.
"Lah?"
Ia memiringkan kepala, menatap Yuda dari atas sampai bawah.
Lalu senyum jahil perlahan muncul di wajahnya.
"Sok peraturan banget lu, Kutil."
Yuda memalingkan wajahnya sambil buru-buru menyembunyikan paket itu di balik badannya. Membuat Rizal semakin menatapnya curiga.
"By the way…" lanjutnya santai.
"Lu kenapa sok-sokan pesen barang dah? Via online pula. Nyusahin gue aja lu, Yud."
Yuda mengangkat dagunya sedikit.
"Bukan urusan lu."
Rizal mendengus kecil. Matanya sempat melirik tulisan besar di kardus itu.
One Set Skincare.
Alisnya langsung naik tinggi.
"Ooooh…"
Nada suaranya berubah penuh arti.
"Skincare."
Yuda langsung memutar badan setengah, makin menutupi paket itu.
"Nih."
Ia buru-buru mengeluarkan uang dari saku celana.
"Lima ribu—eh, sepuluh ribu."
Ia menyodorkannya ke Rizal.
"Buat ngopi."
Rizal menatap uang itu. Lalu menatap Yuda lagi. Alisnya semakin terangkat.
"Widih!" ia bersiul kecil.
"Kaya lu sekarang ye?"
Namun tetap saja ia mengambil uang itu. Kertas sepuluh ribuan langsung dimasukkan ke kantong jaketnya.
"Yaudah, thanks ya, Yud."
Rizal menyalakan motornya.
"Gue cabut dulu."
Ia sempat menoleh sekali lagi sebelum memutar gas.
"Sampaikan salam gue buat… skincare-nya."
"WOI!"
Motor itu sudah keburu melaju keluar gang.
Brrrrrr...
Suara mesin menjauh perlahan. Halaman kembali sepi. Yuda masih berdiri di depan rumah.
Beberapa detik ia hanya menatap jalan kosong itu. Lalu ia menunduk melihat paket di tangannya.
Tulisan “One Set Skincare” masih terpampang jelas di kardusnya.
Yuda menghela napas panjang.
"Anjir… hampir aja tuh orang tau paket gue," gumamnya.
Ia cepat-cepat masuk kembali ke dalam rumah sambil memeluk paket itu erat, seolah takut ada orang lain yang tiba-tiba muncul dan ikut membaca tulisan di kardus tersebut.
Pintu rumah ditutup pelan.
Klik.
Yuda bersandar sebentar di daun pintu, masih memeluk kardus kecil di tangannya. Ia menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang berbahaya.
"Untung aja Rizal gak maksa buka paketnya," gumamnya.
Beberapa detik kemudian ia berjalan ke meja kecil di ruang tamu. Kardus itu diletakkan hati-hati di atas permukaan kayu yang sudah sedikit kusam.
Yuda menarik kursi. Tatapannya jatuh pada tulisan besar di sisi kardus.
One Set Skincare
Ia menggaruk kepalanya pelan.
"Kalau ini kelihatan sama dia…"
Bayangannya langsung muncul: Nazwa membaca tulisan itu, lalu menatapnya dengan ekspresi bingung.
“Yuda… ini apa?”
Wajah Yuda langsung memerah hanya dengan membayangkannya.
"Gak bisa."
Ia segera bangkit, berjalan cepat ke kamar, lalu kembali membawa gunting kecil dan beberapa lembar stiker putih yang biasa ia pakai saat bekerja sebagai kurir.
Stiker itu sederhana.
Di sana biasanya ia menulis nama penerima atau kode alamat.
Yuda menarik kardus itu mendekat. Tangannya mulai bekerja.
Pertama, ia mengelupas bagian label pengiriman dari aplikasi belanja. Sobekannya hati-hati, tapi tetap cukup cepat karena jantungnya berdegup tidak sabar.
Srek.
Label itu terlepas.
Ia meremas kertas itu kecil-kecil sebelum membuangnya ke tempat sampah.
Sekarang tinggal tulisan pada kemasan produk.
Yuda berpikir sebentar. Tangannya menyentuh dagu sembari otaknya bekerja.
Lalu ia menempelkan stiker putih besar tepat di atas tulisan itu.
Ia mengambil pulpen. Tangannya gemetar sedikit ragu.
Beberapa detik ia hanya memandang stiker kosong itu.
Lalu akhirnya ia menulis.
Pengirim : Yuda
Alamat : —
Ia berhenti. Pulpen kembali terangkat. Keningnya berkerut.
"Lah… masa pengirimnya gue juga," gumamnya pelan.
Yuda menepuk dahinya sendiri.
"Ya iya lah, bego."
Ia mencoret sedikit lalu memperbaiki tulisannya seperti label paket biasa. Persis seperti yang sering ia lihat setiap hari saat bekerja.
Dari luar, paket itu kini terlihat seperti kiriman biasa.
"Nah sip!"
Tidak ada lagi tulisan mencolok tentang skincare. Yuda mundur sedikit dari meja dan menilai hasilnya.
"Yoi lumayan."
Ia mengangguk kecil, cukup puas.
Namun setelah itu, pandangannya melembut. Tangannya kembali menyentuh kardus itu pelan.
Di dalamnya ada satu set skincare yang ia pilih sendiri. Ia bahkan sempat membaca artikel tentang jenis kulit, review pengguna, sampai video orang yang menjelaskan manfaatnya.
Semua itu… untuk satu orang. Orang yang bahkan belum tentu menyadari betapa lamanya ia memilih barang ini.
Jantungnya tiba-tiba kembali berdetak lebih cepat.
Besok, ia akan datang ke rumah Nazwa.
Bertamu—dengan kedok mengantarkan paket ini. Pikiran itu saja sudah cukup membuat perutnya terasa aneh.
Yuda menyandarkan punggung di kursi, menatap langit-langit rumah.
"Besok…"
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Ia tidak sabar.
Bayangan wajah Nazwa kembali muncul di kepalanya—senyum tipisnya, cara bicaranya yang lembut, dan bagaimana gadis itu biasanya menyibakkan rambutnya ke telinga saat sedang berbicara.
Degup jantung Yuda semakin kencang.
"Huft... pasti bisa."
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Namun senyum itu tetap tidak hilang.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Yuda berharap malam ini cepat selesai.
Karena besok… ia punya alasan untuk datang ke rumah Nazwa.