Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pusat perbelanjaan kota.
Sebuah kendaraan berhenti tepat di depan bangunan besar yang di kenal oleh banyak orang dengan sebutan Mall, tempat yang sering menjadi tujuan orang untuk menghibur diri atau sekedar berbelanja dan menikmati hidup.
Suasana yang biasanya terlihat ramai kini sangatlah sunyi dan tenang, pasalnya itu adalah waktu jam tutup bangunan besar tersebut. Jika orang lain memilih untuk tidak mendatangi tempat seperti itu ketika sudah tidak ada lagi aktivitas, namun lain halnya dengan seorang pria yang malah terduduk seorang diri di sebuah bangku panjang yang berada tepat di depan bangunan besar tersebut.
Drrttt ...
Drrttt ...
Drrttt ...
Dering gawai berbunyi memecahkan keheningan pada saat itu, ia segera merogoh ponselnya dan melihat sebuah nama yang tertera di layar benda tersebut. Di angkatnya telpon itu dengan keadaan sedikit malas, menunggu kata-kata yang akan di sampaikan oleh sang penelpon.
"Tuan Justin ... sebenarnya apa yang Anda lakukan di sana? Lebih baik Anda segera pulang, ini sudah terlalu larut untuk berkunjung, bahkan Mall itupun pastinya sudah tutup. Lebih baik Anda pulang dan mengistirahatkan tubuh Anda, jangan terus-menerus membebani diri Anda seperti ini, jika tidak--"
Tut.............
Justin mematikan ponselnya dan meletakkan benda tersebut tepat di sampingnya, terlihat waktu kini telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tentu tidak ada siapapun di sana, karena memang kebanyakan dari mereka pasti telah terlelap dalam mimpi yang indah.
Justin menyentuh kursi panjang di sampingnya itu dengan lembut, tempat itu pernah menyimpan sebuah kenangan manis miliknya.
"Kenapa kau pergi ....."
Gumamnya lirih sambil tertunduk diam, dia sedang membayangkan sebuah penyesalannya di masa lalu yang takkan pernah dapat di ulangnya kembali.
"Dimana diri mu sekarang ....."
Kebanyakan orang berkata bahwa pria tidak di perbolehkan menangis, tapi air mata itu menetes tanpa bisa di kendalikan. Penyesalan memang terkadang muncul pada akhir cerita, namun mau sekeras apapun berusaha untuk memperbaikinya tidak akan bisa mengembalikan apapun.
"Aku merindukan mu ....."
Dengan suara terisak, Justin mengelus bangku panjang di sampingnya itu dengan lemah lembut. Sebuah kenangan lama, yang mungkin sudah terlupakan.
"Jika saja aku tidak melepaskan mu .... jika saja aku tak berbuat bodoh seperti itu! Mungkin ... kita takkan berpisah."
Justin terus menangis sambil mencengkram kuat bangku panjang tersebut, sebuah penyesalan yang tak mungkin bisa di kembalikan-nya kini sudah terkunci oleh waktu. Sepertinya wanita itu sudah bahagia saat ini, bahagia bersama sang pujaan hatinya.
Derai air mata benar-benar terukir jelas saat ini. "Isabella .... tolong kembalilah ....." pintanya dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
"Wahai sang pemilik kerinduan kasih ... Jawablah permintaan ku ini ..."
Memang terdengar lucu, menyesal pada akhir-akhir cerita yang sudah terkubur oleh waktu. Mau bagaimanapun Justin tetap berharap wanita itu bisa menemukan kebahagiaannya, namun jika boleh ia saat ingin di berikan kesempatan ke dua.
Tapi apakah hal itu layak?
Justin menyeka air matanya dan kemudian bangkit dari tempat duduknya, dia menatap bangku kosong tersebut dengan tatapan haru. Setelah mengambil ponselnya Justin segera beranjak dari tempat itu, sesekali dia bahkan sempat menoleh ke arah bangku panjang yang baru saja di duduki-nya tadi.
Bukan pertama kalinya Justin melakukan hal tersebut, dia memang kerap datang ke tempat itu hanya untuk sekedar melepas rindu. Walau sudah 5 tahun berpisah namun kenangan itu masih melekat jelas dalam ingatannya.
"Maafkan aku ....."
Justin kembali bergumam sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, dia segera menaiki kendaraannya dan beranjak menuju kediamannya.
-
-
-
-
-
***
BERSAMBUNG...................
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??