NovelToon NovelToon
Love

Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:529.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Isuthy

Tentang cinta dan rasa, tentang pengorbanan dan perjuangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isuthy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Di Ujung Jalan

Meera menangis tanpa henti, sembari terduduk kaku di kursi taman. Dalam kondisi hujan yang kian lama kian deras.

Entah apa yang sebenarnya dia tangisi. Kepergian Lucas atau ketidak datangan Vano saat ini. Sungguh dia sendiri tak mengerti.

Meera hanya menangisi garis hidupnya, takdir cintanya yang seolah berliku.

Merasa takdir baik tak kunjung datang padanya, Meera seharusnya bersyukur semenjak Lucas memutuskan untuk membantunya, kehidupannya perlahan membaik sejak saat itu.

Walaupun kenyataan pahit terus dia telan. Karena cinta sejati urung hinggap di kehidupannya yang terasa kelam.

.

.

.

Tanpa Meera sadari, Vano tengah duduk di dalam mobil mewahnya yang kini tepat terparkir di ujung jalan.

Dengan ditemani Michael dan seorang teman perempuan Michael, tanpa berkedip sedikitpun Vano memperhatikan Meera dari kejauhan.

Hasrat ingin merengkuh kian tinggi, ketika melihat Meera yang terus bertahan di sana. Di bawah derasnya guyuran air hujan dengan suasana malam yang kian lama kian menggelap.

Kaca mobil yang berkabut seakan menjadi saksi bukti, betapa Vano mencemaskan Meera saat kini. Tatkala tangannya terus meraih kaca itu untuk mengelapnya kembali, pabila kabut itu menghalangi pandangannya kepada gadis yang tercinta.

" Kau yakin, tidak akan turun ? " Michael berusaha meyakinkan sahabatnya tuk ke sekian kalinya.

Vano hanya terdiam, duduk bersandar di kursi belakang nya, sembari menengadahkan kepalanya, dan mengurut dahinya yang mendadak pusing itu. Sepertinya dia tengah dilema saat itu.

Antara membenci Meera yang telah membuat hatinya terluka dan kecewa, walaupun Vano sadar Meera tidak sepenuhnya bersalah.

Karena saat ini, Meera memang belum resmi menjadi miliknya. Namun, membayangkan bibir Meera yang dinikmati Lucas dengan sebegitu hangat dan mesranya membuat Vano muak tak terkira.

Cinta dan hasrat yang begitu tinggi untuk memiliki Meera masih menguasai, Vano tak memungkiri itu. Mungkin, saat ini dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.

" Aku- hanya butuh waktu, Michael ... " Jawab Vano lirih.

" Joice bilang, mereka benar-benar sudah putus. Mungkin, saat itu mereka hanya sedang bernostalgia saja. Bersenang-senang tuk terakhir kalinya mungkin ... "

Michael sedikit bercanda, bermaksud mencairkan suasana. Namun malah memancing delikan tajam dari Vano, dan sebuah cubitan dari teman perempuan nya, tepat di perutnya.

" Baiklah ... baiklah ... " Michael mengangkat kedua tangannya ke atas. Mengibarkan bendera putih, menyerah, kalah. Sembari tertawa mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

" Aku- hanya tidak menyangka, kisah cintamu sepelik itu, kawan. " Memajukan badannya yang sedari tadi menoleh ke arah belakang. Memukul bahu Vano pelan.

" Oh, iya ... mana Meera ? " Tiba-tiba teman perempuan Michael mengingatkan mereka yang tengah asyik mengobrol, setelah melihat Meera sudah tidak ada di tempatnya tadi.

Dan semua mata, langsung menoleh ke arah dimana tadi Meera berada.

Menemukan Meera yang telah melangkah untuk pulang, walaupun hanya dari kejauhan Vano tetap memperhatikannya. Memastikan Meera pulang selamat sampai ke tujuannya, Vano dan Michael mengikuti Meera dari belakang.

.

.

.

Dua hari kemudian ...

Makan siang di mini market tepat di depan kampus tempat kuliahnya, Meera dan Joice sengaja memesan satu cup mie instant dan satu cup kopi seduh. Selain harga yang murah meriah disesuaikan dengan kondisi dompet yang kian menipis, menu itu menjadi menu favorit mereka saat ini.

" Kau yakin akan memakan itu ? Wajahmu masih terlihat pucat. "

Joice khawatir dengan kondisi kesehatan Meera sekarang ini. Setelah dua hari tidak masuk kelas, Joice malah bertemu dengan Meera dalam kondisi yang begitu pucat.

" Ini masih lebih baik daripada tidak makan samasekali, bukan ? "

Mengingat dua hari kemarin Meera bahkan hanya memakan cemilan yang masih tersisa di apartemennya.

" Seharusnya kau menghubungiku jika kau sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu. "

Mendengar ucapan Joice, hati Meera sedikit lega. Setidaknya, setelah kepergian Lucas masih ada orang yang memperdulikan dirinya.

Dan Vano ...

Sampai hari inipun Meera tak melihatnya. Entah kemana, Meera juga tidak ambil peduli.

Menyelesaikan makan siang ringan mereka dengan segera, Meera bergegas pergi. Dia harus mulai bekerja kembali. Setelah dua hari kemarin cuti karena sakitnya.

" Sampai jumpa, " pamitnya pada Joice.

" Hati-hati .. " Balas Joice.

Berdiri dan mulai melangkah pergi, tanpa terduga, Vano kini tepat berada di hadapannya. Berada beberapa langkah darinya, Meera mulai melangkah maju ke rencana awal semula. Menuju ke halte bis yang akan membawanya ke tempat Meera bekerja.

Vano, yang berencana untuk membeli sekotak rokok di minimarket itu, sontak kaget juga ketika melihat Meera tidak jauh berada di depannya. Tak berniat mundur, Vano meneruskan langkahnya.

Langkah mereka maju bersamaan menuju tempat yang berlawanan, dan tepat saat mereka berpapasan di hadapan mata, mereka hanya terdiam barang sesaat. Lalu melanjutkan langkahnya ke tujuan awal semula, tanpa saling menatap apalagi bertegur sapa.

Sukses !!!

Pertemuan ini, menjadi pertemuan mereka tuk pertama kali sebagai orang asing yang tidak saling mengenal dan saling menyapa.

.

.

.

Meera memulai bekerja kembali di kafe itu ...

Dengan wajah yang begitu pucat dia memaksakan untuk bekerja. Bagaimanapun hidup adalah realita. Dia bukanlah orang kaya, dengan harta melimpah. Yang bisa mendapatkan uang dengan ongkang-ongkang kaki saja.

Walaupun uang tabungan yang diberikan Lucas cukup besar. Meera tak ingin bergantung padanya. Rasa khawatir mendera, uang itu akan habis dan dia tidak memiliki tabungan cadangan karena terlalu lama tidak bekerja.

" Kau datang ? " Atasan Meera yang bernama Ibu Sonya menyapa.

" Maafkan aku, kemarin ... aku sedikit tidak enak badan. " Jawab Meera jujur.

" Tidak masalah. Tapi kau yakin sudah benar-benar sehat ? " Terlihat khawatir, mengingat wajah Meera yang begitu pucat.

" Tidak. Aku tidak apa-apa. " Jawab Meera menggelengkan kepalanya, sembari memulai pekerjaannya.

" Baguslah. Oh iya Meera .. " Tiba-tiba Ibu Sonya menginterupsi pekerjaan Meera secara tiba-tiba.

" Ada apa ? Anda membutuhkan sesuatu ? " Tanya Meera menoleh.

" Nanti sore, pemilik kafe ini akan datang berkunjung ke sini. " Jelas Bu Sonya.

" Biasanya setiap karyawan baru akan diminta untuk memperkenalkan diri. Selain itu, mungkin saat sore nanti si Bos akan mulai memeriksa kinerja kamu. " Jelasnya kemudian secara mendetail.

Meera cukup terperangah mendengarnya. Bekerja di kafe, bukanlah hal baru baginya, namun mengetahui ada peraturan seperti ini, sedikit membuat Meera bergidik geli mendengarnya.

Tersenyum simpul, Meera hanya berkomentar singkat. " Baiklah ... " Siapa takut ?

" Kau pasti kaget dengan hal ini ? " Meera yang saat itu menunduk langsung menatap lagi ke arah Bu Sonya. Sepertinya Bu Sonya tahu dengan pengalaman kerja Meera sebelumnya, yang Meera lampirkan dalam surat lamaran kerjanya.

Ya, walaupun hanya bekerja di sebuah kafe, namun karena kafe ini cukup besar dengan beberapa cabang dan gaji yang diberikan kepada karyawannya pun begitu memuaskan, peraturan ketat berlaku dengan cukup ketat di sini.

" Aku- cukup mengerti. Setiap tempat mempunyai aturan sendiri. " Jawab Meera tersenyum.

" Baiklah, aku senang mendengarnya. " Bu Sonya lalu berlalu pergi meninggalkan Meera.

.

.

Sore hari ...

Bu Sonya mengantar Meera ke ruangan kerja Bos-nya. Si pemilik kafe yang katanya masih muda, tampan dengan jiwa bisnis yang luar biasa.

Mengikuti langkah Bu Sonya di belakangnya. Meera kaget, kala mendapati Bosnya itu adalah .....

" Va-No ... " Ucap Meera lirih.

Begitupun Vano, tak kalah kaget kala mendapati Meera yang dibawa oleh Sonya, kini tepat berdiri di hadapannya.

" Mee-Ra ... " Ucap Vano tak kalah lirih.

Benci dan rindu menjadi satu, hatinya membencinya, namun tak dia pungkiri sedikitpun, hasrat untuk memiliki Meera masih begitu menguasainya.

Hingga perasaan aneh yang menjalar di dadanya pun tak dia sadari bahwa hatinya senang Meera menjadi bawahannya, dan berada di hadapannya saat ini.

.

.

.

💫 Bersambung ... 💫

1
Y/N
y
bunga cinta
good
azzahra
izin tinggalin jejak thor
Santi Rizal
akhirnya Meera bersatu dengan Lucas
Santi Rizal
Ameera terlalu egois...
Santi Rizal
aku juga pusing Thor... ngebayangin nya
Santi Rizal
semoga Meera dan bayi nya baik baik saja
Santi Rizal
sweet Lucas
Santi Rizal
di ulang
Santi Rizal
aaaa banyak amat Thor
Santi Rizal
semoga Lucas dan Meera bahagia
Santi Rizal
semoga Ameera dipertemukan dengan Lucas...dan berjodoh
Santi Rizal
mirisnya nasib Ameera
RinNi
arseli dan allesa novelnya judulnya apa ya tor🙏
Julia sari Lubis
dari puluhan cerita yg aku baca inilah cerita yg paling banyak flashback nya..
Sushie Ajjah
🥺🥺🥺😭😭😭😭 kasihan meera merasa ngak ada yang sayang... nyesek bacanya
Ida Wahyuni
ngk tau kenapa...aq sudah baca novel ini sampai 5X berulang" tapi tetap tidak bosan sama sekali. novel mu bagus bgt thooor👍👍👍👍
sunguh kereeen daaah😎
Isu💟THY: Hatur Nuhun 😍😍😍
total 1 replies
Firiani Fitri
bikin sesak
Mayang
ssk bgt dd q td thor..kirain bner lucas koma...eee ternytz cm tdur.huuuh author bkin gemeees....
Hasmiati Hasmi
😢😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!