Tak disangka-sangka nasib buruk menimpa Putri Isnari, gadis belia yang baru berumur 21 tahun, ia harus menikah dengan pria arogan dan sombong. Pernikahan tersebut baginya adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Ia harus menikahi seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya!
Pernikahan itu sama sekali tak ada landasan cinta dan juga kasih sayang.
Mampukah ia menjalani rumah tangga yang teramat rumit itu, mampukah dia membuat pondasi rumah dengan cinta dan kasih sayang?
Yuk bareng-bareng baca kisahnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktavia Ellisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterlambatan
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, sinar cahaya pagi masuk disela-sela tirai jendela, namun dua pasutri dari planet Mars masih saja asik menjelajahi dunia mimpinya.
"Hemm..." deham Ridho, ia menggeliatkan tubuhnya untuk mengumpulkan nyawanya, ia duduk disandaran kasur sembari merentangkan kedua tangan, untuk meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
Ridho melirik kearah sofa, ia melihat Putri masih tertidur dengan lelapnya, dibawah selimut yang membungkus seluruh tubuhnya.
"Oh rupanya ia masih tidur, sepertinya aku harus kasih pelajaran yang hot untuk nya, agar dia tau, dengan siapa dia berurusan," batin Ridho.
Ridho beranjak berdiri, lalu berjalan ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
Kurang lebih 15 menit, Ridho keluar dari ruang ganti dengan sudah mengenakan baju kantor, ia berjalan kearah meja rias untuk menyisir rambutnya, dan menyemprotkan parfum kebajunya, ia terlihat sangat tampan sekali, memang tampan dari lahir sih, jadi mau digimana-gimanain tetep aja cakep😂.
"Hehh bangun," seru Ridho pada Putri.
Sedangkan Putri ia hanya menggeliatkan tubuhnya, tanpa menyadari ada bencana yang akan menimpanya.
"Woyy bangunnn!" teriak Ridho.
"Apaan sih teriak-teriak," ucap Putri masih tetap dengan posisinya, dibawah selimut yang membungkus tubuhnya, entah apa yang ada di mimpi Putri hingga tak sadar ia sekarang ada dimana.
"Benar-benar ni bocah, huhhh.. ingin sekali ku memakannya hidup-hidup," kesal Ridho.
"Putriiii bangunnnnn!" teriak Ridho tepat didekat telinga Putri, kesabaran nya sudah habis menghadapi tingkah Putri.
"Astaghfirullah setannn," pekik Putri, ia berteriak sangat kencang, karena disaat ia membuka mata dan selimut yang menutupi wajahnya, Ridho melototi nya dengan raut wajah marah.
"Bisa gak sih, gak usah teriak, untung saja gendang telingaku tidak pecah," kesal Ridho.
"He he maaf Tuan ,saya tadi terkejut, habisnya Tuan melototi saya sih," Putri menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kau ini ya, bisanya menyalahkan orang saja, lihat ini jam berapa hahh, kau kira kau siapa disini, seenaknya saja bangun kesiangan," geram Ridho.
Putri melirik kearah jam dinding yang ada dikamar
nya, jam menunjukkan pukul tujuh, ia membulatkan matanya.
"Aduhh mati aku," batin Putri.
"Cepat mandilah, aku beri waktu 5 menit," tegas Ridho.
"Whattt... 5 menit, gila.. itu mah bukan mandi," ucap Putri tanpa sadar, Putri langsung menutup mulutnya.
"Duhh ni mulut kenapa sih gak ada remnya, asal nyeplos aja," batin Putri dengan memukul mulutnya pelan.
"Kau.." seru Ridho, ia sudah ingin melayangkan sentilan dikening Putri.
"Maafkan saya Tuan," ucap Putri langsung berlari menuju kamar mandi.
"Huhh.. mandi cuma 5 menit, itu mah bukan mandi, emang ya Tuan Ridho yang terhormat itu kadang-kadang aneh, sifat berkuasa nya kambuh lagi," gerutu Putri.
"Ini kalo aku terlambat lagi, bisa-bisa dia ngamuk sama aku, akh yang penting badanku keguyur air ajalah," pikir Putri.
Putri keluar dari ruang ganti dengan sudah mengenakan pakaian, ia menuju ke meja rias.
"Mau ngapain kamu?" tanya Ridho datar.
"Mau menyisir rambutlah Tuan, masa iya mau makan," jawab Putri santai.
"Jawab aja terus," geram Ridho.
"Ya iyalah saya jawab Tuan, orang Tuan tanya, Tuan lama-lama aneh deh, makannya jangan banyak marah-marah Tuan, jadi kay.." ucap Putri terpotong.
"Sekali lagi kau berbicara, aku potong lidahmu," gertak Ridho.
"Ups," Putri langsung menutup mulutnya rapat-rapa.
"Cepatlah," Ridho sudah mulai kesal menunggu Putri.
"Sabar Tuan, ini tinggal kasih lipstik doang kok," jelas
Putri.
"Kamu ini ya, tiap hari saya harus menunggu mu."
"He he," cengir Putri.
"Sudah siap, ayo Tuan," ucap Putri berjalan mendahului Ridho.
"Emang kau tau, kita akan pergi kemana?"
"Enggak," jawab Putri polos.
"Dasar gadis oon, kalau kau tidak tau, kenapa mendahului ku hahh," ucap Ridho.
"Emang kita mau kemana Tuan?" tanya Putri penasaran.
"Kantor," jawab Ridho singkat.
"Ngapain?" tanyanya lagi
"Tidur," ketus Ridho.
"Hahh.. tidur, Tuan gak salah!" seru Putri.
"Bisa gak sih, gak usah teriak-teriak, ini bukan hutan," ketus Ridho.
"Ya lagian Tuan aneh, masa iya kekantor cuma buat tidur, dirumah juga bisa," ucap Putri.
"Jawab aja terus, mau ku lakban mulutmu," tawar Ridho.
Putri menggelengkan kepalanya cepat.
**
"Loh.. kok gak ada orang ya Tuan, apa semuanya udah selesai makan?" tanya Putri saat melihat meja makan tidak ada orang.
"Ya iyalah udah selesai, ini udah jam berapa Putri," ketus Ridho.
"Oh iya ya, yaudah kita makan dulu ya Tuan, saya laper banget," ucap Putri.
"Tidak, kita langsung kekantor," jawab Ridho cepat
"Tapikan tuan.."
"Tidak ada tapi-tapian Putri, Roy sudah menunggu didepan," ucap Ridho.
"Hem baiklah-baiklah.." pasrah Putri.
Skip.
Jangan lupa Like dan Komen yang panjang ya, dan jangan lupa Vote biar Author tambah semangat buat novelnya.