Nicky Ferdian Nanda adalah sosok pria yang kini mengalami trauma berat, karena kematian kekasihnya yang sangat mengenaskan di hadapan matanya. Nicky bagai kehilangan dunianya, gairah hidupnya seolah lenyap terkubur bersama kekasihnya. Nicky memutuskan tak lagi hadir kesekolah selama setahun lamanya setelah kejadian na'as menimpa sang kekasih. Sampai waktu yang di nanti tiba juga, sosok gadis yang Nicky anggap kekasihnya yang terlahir kembali ada di hadapannya. Dia Vanka Natalia Lubis, gadis yang menolongkan saat hampir di tabrak pengendara mobil yang Nicky halangi jalannya.
Kisah cinta lama berubah menjadi awal yang baru. Nicky yang akhirnya sadar bahwa Vanka bukanlah kekasihnya, tetap menginginkan Vanka menjadi pendamping hidupnya. Berbagai upaya Nicky lakukan untuk merebut hati Vanka. Tak perduli gadis itu memiliki seorang kekasih, Nicky tetap memperjuangkan cintanya yang baru. Sampai akhirnya Vanka menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monacim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You Are Mine | Dua Puluh Satu
"Hah?" Talita dan Laras tercengang secara bersamaan.
"Mereka ngapain itu?" cicit Talita.
Pletak
Sebuah sentilan berhasil mendarat di kening Talita, membuat empunya meringis.
"Mikir apa lo? Mereka gak ngapa-ngapain kok. Cuma posisinya aja yang ambigu," omel Vanka kesal "kata Sinta sih, Nicky sengaja menariknya. Tapi kata Nicky, Sinta sengaja menjebak dia" lanjut Vanka lesu.
"Ck, lo dodol yah Van. Jadi karena itu lo marah sama Nicky? Hello! lo udah di hasut sama Sinta" cibir Talita gemas.
"Maksud lo?"
"Nih ya, Nicky itu gak mungkin tertarik sama cewek kayak Sinta. Ganjen gituh. Lo harusnya percaya sama Nicky, Van. Bukannya ngambek sama dia" cerocos Talita dengan segala kemampuannya.
"Iya Van, apalagi tadi Nicky lo tinggalin, kasihan banget. Dia juga lagi sakit kan? Gimana kalau dia tambah sakit coba gegara kepikiran elo mulu" timbal Laras.
"Iya juga yah. Kok gue bego gini" sesal Vanka.
"Bego banget malah" umpat Talita, ia meneruskan makannya.
Bel masuk berbunyi. Vanka segera menuju kelas, sedangkan Laras dan Talita melipir ke toilet. Vanka masuk dalam kelas, ia mendapati Nicky yang tertidur dengan kepala menempel pada meja. Vanka perlahan mendekat, tatapannya beralih pada kotak bekal di samping kepala Nicky. Vanka meraih kotak bekal itu, dan membukanya. Masih penuh tanpa berkurang jumlahnya seperti biasa.
Vanka dengan ragu, mengusap kepala Nicky.
"Nicky. Bangun dong" ucap Vanka pelan.
"Eugh..." Nicky perlahan membuka matanya, ia melihat Vanka menatapnya khawatir.
"Lo kenapa gak makan sih?" tanya Vanka dengan nada khawatir.
Nicky membangunkan kepalanya pada meja, ia merasa denyutan ringan pada kelapanya saat bangun.
"Saya sudah bilang. Bekal itu akan sama makan cuma sama kamu. Saya tidak selera kalau kamu marah sama saya" ucap Nicky terdengar serak.
"Ya gak gitu jugalah. Gimana kalo lo sakit lagi? Gue udah gak marah kok sama lo"
"Kamu beneran sudah gak marah sama saya?" tanya Nicky berbinar.
"Iya. Lo makan dulu yah" ucap Vanka, tapi Pak Damar masuk.
Vanka terlihat sedikit panik, ia menatap para murid yang berlarian mengambil baju olahraga masing-masing.
"Gimana nih, Pak Damar udah masuk" ucap Vanka menatap Nicky prihatin.
"Gapapa, lagian saya gak lapar. Kamu langsung ganti baju aja, saya ganti disini" ucap Nicky seraya membuka tasnya, mengambil baju olahraga disana.
"Ganti disini,?" tanya Vanka penuh selidik "gimana kalau ada cewek yang mendadak masuk, terus lihat lo ganti baju?" tatapan Vanka menajam ke arah Nicky yang melongo.
"Saya laki-laki, jadi tak masalah ganti di sini. Lagian saya juga pakai lapisan dalam kok" sahut Nicky, rautnya sedikit bingung dengan tingkah Vanka.
"Ya, pokoknya lo ganti di toilet aja. Yo ah!" ucap Vanka tak mau tau, tangannya menarik tangan Nicky keluar dari kelas.
Enak aja mau ganti di kelas. Kalo cewek pada niat, gimana coba? rugi gue keduluan. Eh, ishhh...
Vanka mengganti bajunya dengan secepat kilat, bahkan rambutnya belum sempat ia benarkan. Vanka langsung ngacir ke depan toilet pria, menunggu seseorang keluar dari sana. Tak lama Nicky keluar, ia kaget melihat keberadaan Vanka disana.
"Kamu sudah selesai gantinya?" tanya Nicky bingung, biasanya cewek itu ribet dan paling lama.
"Sudah dong, nih udah rapi" sahut Vanka tersenyum.
Nicky terkekeh geli, ia meraih rambut Vanka yang setengah masuk dalam kerah baju olahraganya.
"Rapi itu begini" ucap Nicky menangkup wajah Vanka dengan kedua tangannya.
Vanka tertegun, ia merasa desiran darahnya panas dingin seketika. Tatapan Nicky begitu membuatnya terpana.
"Woy!" seru Talita menepuk pundak Nicky dan Vanka secara spontan.
Tentu saja mereka kaget, tangan Nicky terlepas pada wajah Vanka. Vanka menatap Talita murka.
"Kenapa?" tanya Talita polos.
"Gapapa!" bentak Vanka lalu menarik tangan Nicky menjauh. Nicky menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Talita melongo menatap kepergian mereka.
"Emang gue salah apa?"
Vanka dan Nicky berbaris paling depan, mereka bersebelahan. Vanka tersenyum menoleh Nicky berdiri di sampingnya. Tak lama Pak Damar datang.
"Baiklah, untuk olahraga awal pemanasan dulu. Silakan lari joging mengelilingi lapangan 5 putaran" titah Pak Damar.
Pak Damar menoleh Nicky yang masih memakai perban.
"Nicky, kamu kalau masih sakit tidak usah ikut pemanansan. Pemanasan di tempat sudah cukup" ucap Pak Damar pada Nicky.
"Tidak Pak. Saya sanggup ikut lari dengan yang lain" tolak Nicky sopan. Pak Damar mengangguk.
Semua murid 12 IPA -1 pun berlari mengelilingi lapangan. Vanka tampak semangat, ia mensejajarkan larinya dengan Nicky. Nicky tersenyum di pandang Vanka.
Putaran ketiga, Nicky mulai terlihat terenggah. Ia beberapa kali mengatur pernapasannya.
Uhuukk...Uhhuuk
Nicky terbatuk, langkahnya terhenti dengan tangan bertumbu pada lutut. Vanka yang menyadari Nicky tak di sampingnya, menoleh kebelakang. Vanka kaget dan berlari ke belakang.
"Lo gapapa? Lo pucat banget Nick, kita istirahat yah" panik Vanka.
"Saya tidak apa"
Pak Damar berjalan cepat menuju mereka berdua.
"Nicky kenapa Vanka?" tanya Pak Damar yang baru menghampiri mereka.
"Kayaknya dia masih sakit deh Pak" sahut Vanka cemas.
"Ya sudah, kamu bawa Nicky ke UKS aja ya. Jangan sampai dia pingsan disini" suruh Pak Damar.
Vanka membantu Nicky berjalan, ia menatap Nicky khawatir ketika pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Lo punya asma yah, Nicky?" tanya Vanka di sela jalannya.
"I,iyah" sahut Nicky susah payah.
Mereka sudah sampai di UKS, Vanka merebahkan Nicky di kasur. Vanka mengambil sapu tangan dari sakunya, ia menyeka keringat Nicky yang menghiasi wajah tampan pria itu.
Vanka terlihat cemas ketika Nicky memejamkan matanya.
"Nick, lo jangan pejam mata gitu dong. Gue takut" cicit Vanka terlihat takut.
"Saya mengantuk Vanka" sahut Nicky masih memejamkan matanya.
"Tapi lo pucat banget Nick. Gue takut kalo lo malah gak bangun" ucap Vanka memelan.
Nicky membuka kembali matanya, ia menatap Vanka yang berkaca-kaca.
"Sepertinya kamu sangat khawatir pada saya. Apakah rasa itu sudah ada?" tanya Nicky, matanya menatap lekat Vanka yang tersentak kaget.
"Ra-rasa apa?" tanya Vanka tercekat.
"Kamu tidak paham, atau pura-pura tak paham?" goda Nicky.
Vanka terlihat salah tingkah.
"Apaan sih lo, gak jelas," cerca Vanka "sakit kok nyebelin" umpatnya lagi.
Nicky terkekeh geli. Tali sedetik kemudian, wajahnya terlihat menahan sakit di perutnya.
"Shhhh...euggh..." erang Nicky memegangi perutnya. Tentu saja Vanka panik bukan main.
"Eh, lo kenapa Nick? Sakit banget yah? Duh, gimana dong" panik Vanka.
Bibir Nicky tampak bergetar, keringat mulai membanjiri wajahnya. Vanka panik, ia berlari keluar untuk meminta bantuan.
Tak lama, Vanka kembali. Ia mendapati Nicky yang sudah tak bergerak. Matanya tertutup rapat dengan tangan masih memegangi perut.
"Nick, Nicky! Lo masih hidup kan?" Vanka langsung menangis, ia mendekatkan teliganya pada dada Nicky. Mencoba mendengarkan detak jantung pria itu, namun isakan tangisnya sendiri membuatnya tak mendengar suara detak itu.