Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERJUANGLAH!
"Hiragi!" Panggil Harui.
Tap!
Harui melemparkan sebuah pedang yang hampir sama dengan milik Hiragi.
Hiragi pun dibuat bingung.
"Itu adalah pedangku, mirip seperti pedang milikmu, hanya saja mungkin dua kali lipat beratnya, tapi kau harus menggunakan dua pedang sekaligus dan anggap ini adalah latihan terakhirmu dariku untuk membawa pulang kemenangan dari Keluarga Hans."
Hiragi sangat senang mendapat dukungan dari Harui. Begitu pula dengan Harui, dia sangat senang melihat Hiragi bertambah kuat.
"Silahkan petarung pertama memasuki arena pertandingan."
"HoooOOOoAaaaaaaaaAAAAAaa!!!!"
Begitu ramai yang menduduki stadion.
"HIIIIRAAAAAAGIII !!!!"
Hiragi terkejut dengan suara keras dari Paman Daisi serta Bi Mina dan Biara tak ada habisnya mendukung Hiragi.
"Hiragi!"
"Berjuanglah Hiragi!"
"Ayoo Hiragi!"
Begitu banyak yang menyaksikan hari ini, Harui Erthan Gorsa Yuri, semuanya ada di sini untuk menyemangati Hiragi.
"Heh~ ini akan menjadi menarik." Ucap santai Hiragi sambil menatap remeh ke arah Krista.
...☄☄☄☄☄...
"MULAI!"
Musuh Hiragi saat ini adalah salah satu pendekar pedang dari kerjaan Obelia. Hiragi telah memperhitungkan hal ini, bahwa lawannya pasti kalangan orang yang kuat.
Tapi tidak akan mempan pada Hiragi.
Swuush!
Dengan secepat kilat pendekar itu menghilang dan muncul secara tiba-tiba di belakang Hiragi. Jika benar benar mengedipkan mata sedetik saja orang hebat pun akan kalah.
TRAAAANG!
"HYaaAAAAA!!!" Hiragi mengayunkan pedanya tepat saat pendekar itu menggunakan pelindung.
BRAAAAK!
Namun tetap terlempar.
"WhooooOOOooAAAAAAAAA!! HIRAGI!"
"Terlalu cepat bagimu untuk mengalahkanku." Ucapnya remeh.
"Saat ini Katsura Hiragi belum mengeluarkan apapun, namun lihat sekarang! Gadis hebat ini telah mengubah keadaan dengan cepat!" Komentator pun memberikan pujian pada Hiragi.
Hiragi memfokuskan kekuataannya saat menyerang balik, tapi tanpa dugaan prajurit itu langsung berada di samping kanan Hiragi, yang sedang dalam posisi menyerang bagian kanan, mungkin saat ini Hiragi tahu, bahwa bagian terkuatnya adalah kedua tangannya, jadi dia bertujuan melukai lengannya.
Whush!
Dengan gesit Hiragi menunduk dan mengambil posisi tangan untuk berdiri dan.
BRAAAAK!
DEEEBUMMMMMMMM!
Hiragi berhasil menendang bagian dada prajurit itu tanpa harus melukai fisik menggunakan pedang. Pertarungan awal ini adalah sebuah permulaan, itu pasti.
"Karena pion-pion kesayangan Krista belum diserahkan." Tebak Hiragi dalam pikinya.
"Kemenangan pertama diraih oleh Nona Katsura Hiragi!"
"Kau yang terbaik Hiragii!"
Semakin banyak dukungan Hiragi semakin banyak pula amarah yang dipendam Krista.
Saat ini Hiragi masih tetap menyembunyikan pedang Harui dalam Force Meginal miliknya. Akan dia gunakan saat keadaan telah berubah.
...☄☄☄☄...
BUGH!
DUAK!
Saat ronde terus berlanjut Krista berharap bahwa Hiragi akan kelelahan, tapi apa yang dilihatnya saat ini sungguh berbeda dari pikirannya. Hiragi masih bisa melawan musuhnya dengan wajah tersenyum tenang dan senang.
《Di Sisi Lain Di Tempat Duduk Penonton.》
Erthan dapat melihat jelas wajah Harui sangat gembira seperti ingin ikut menyemangatinya.
"Serang dia Hiragi! Aku akan mentraktirmu apa saja, jika kau menang!" Teriak Gorsa tak mau kalah dengan teriakan penonton lainnya.
Gorsa menggoda Harui untuk ikut memberikan dukungan pada Hiragi, namun dengan acuh Harui melandeninya. Padahal dia tahu bahwa sejak tadi Harui sangat senang dengan pergerakan Hiragi.
《Di Pertandingan.》
TRANG!
Pedang yang Hiragi pegang terlempar, itu adalah sebuah kesempatan emas bagi musuh untuk mengalahkan Hiragi. Erthan Harui serta orang lain yang mendukung Hiragi pun langsung terkekang dengan jatuhnya pedang Hiragi.
"Hiraagi!" Teriak Harui dari kursi penonton sambil berdiri.
Mendengar teriakan dari Harui, Hiragi langsung mendapatkan sebuah cara.
BRAK!
Hiragi menjatuhkan dirinya dengan sengaja dan mengambil ancang-ancang dengan kedua tangan di bawah dan kedua kakinya berada di atas dan berputar ke arah kiri dengan cepat.
DAGH!
BUGH!
Hiragi berhasil menendang musuhnya hanya menggunakan fisik tanpa sihir dan senjata.
Teeeeeeeeeeet
Suara bel istirahat bagi petarung pun berbunyi. Istirahat dilakukan selama satu jam. Hari ini menjadi hari yang lama menjelang Hiragi menang atau kalah.
Setelah ini dia akan melawan Gorsa Harui juga tidak memahami jalan pikiran Gorsa, mengapa ingin mengikuti pertandingan ini. Dan lebih parahnya lagi dia akan melawan Hiragi sebagai musuhnya.
Saat ini Hiragi sedang beristirahat di tempat teduh sekitar arena, pergerakan tadi membuat dirinya terlalu banyak menggunakan tenaga. Memang disaat latihan seperti ini namun saat dalam pertandingan, energi Hiragi serasa terkuras semua.
Bunyi langkah kaki yang berat membuat Hiragi terbangun dari rebahannya.
"Tidurlah." Ucap Harui. "Pertandingan tadi lumayan bagus, kau tidak hanya mengandalkan pedang dan sihirmu, namun fisikmu juga."
Hiragi terbangun dan ingin lebih lanjut mendengar Harui memuji dirinya.
"Hiragi maaf-"
"Kau terlalu banyak meminta maaf." Sela Hiragi dengan cepat.
Harui tahu bahwa ini adalah kesalahan fatal, padahal baru saja sekali membohongi Hiragi dengan seribu alasan. Tapi sekarang Harui tidak akan pernah membuat hal itu terjadi.
"Kalau begitu dukung aku, dan aku akan menerima maafmu." Ucap Hiragi sambil berdiri menatap langit berawan.
Saat ini Harui merasa melihat bintang malam
disiang hari. Kini rambut Hiragi bertambah panjang, dengan sedikit ikatan serta hiasan membuatnya lebih nyaman dilihat.
Harui pun menjulurkan tangannya mengambil beberapa tumpuk rambut Hiragi dan memandanginya tanpa sepengetauan Hiragi.
"Hiragi, apa kau tidak ingin memotong rambutmu." Tanya Harui yang masih
menggenggam beberapa tumpuk rambut di tangannya.
"Hmm.. Kalau menurutmu?"
"Tidak, begini lebih bagus." Ucapnya singkat.
Dari kejauhan Fresa dapat melihat kedua insan itu bercumbu ria. Fresa berpikir, seharusnya yang ada di posisi Hiragi adalah anaknya, Krista.
Tapi segala cara Fresa dan Krista lakukan agar rencana mereka berjalan lancar.
...☄☄☄☄...
"Babak keempat pun berlangsung! Silahkan para petarung mengambil tempat yang telah di sediakan."
Komentator pun sudah mulai meramaikan area stadion ini.
"Hiragi aku tidak akan segan segan loh~"
"Kenapa aku harus mengalahkan pria aneh ini Ya Tuhan." Batin Hiragi menjerit keras.
"MULAI!"
TRANG!
WWUSSHH!
Tabrakan kedua pedang itu berhasil menggertakan tanah serta dinding stadion. Hiragi tahu dari awal pertemuan saja Gorsa pasti sangatlah kuat. Jadi butuh pertimbangan dan kekuatan besar. Dengan tekanan pedang itu dia tidak bisa diremehkan dalam sebelah mata.
Hiragi bersiap untuk melakukan serangan besar, dengan menggunakan Artles Fart yang belum begitu sempurna. Tapi dia harus yakin kalau serangannya akan mengenai Gorsa.
BRAAK!
Mereka berdua sama sama terlempar oleh masing-masing kekuatan yang mereka miliki.
"Ah-Hah!~"
Hiragi merasa kekuatannya seperti mengalir cepat di tubuhnya membuat dirinya langsung kelelahan. Namun ini belum apa-apa dibandingkan akan melawan Krista nantinya.
Hiragi mengatur nafasnya agar kembali normal, dan mengambil gerakan untuk menggunakan pedangnya untuk di ayunkan sekeras mungkin yang dapat mengenai Gorsa.
Bukan hanya Hiragi namun Gorsa juga melakukan hal yang sama. Dari kursi penonton Harui dapat merasakan sebuah kekuatan besar dari Hiragi dan Gorsa.
"Gorsa apakah kau serius"
"HYA!-"
"Aaargh, aku berdarah! Seranganmu begitu kuat Hiragi!"
Krik Krik krik. . . . . . . . .?
Sangat jelas terlihat bahwa Gorsa sengaja melakukan itu.
"Gorsa apa yang kau lakukan?!" Tanya Hiragi dengan nada tinggi.
"Eh, aku kan sudah bilang berdarah berarti aku kalah kan." Ucap Gorsa dengan santai.
《Di Tempat Kursi Penonton.》
"Gorsa bodoh!" Gumam Harui yang melihat hal itu tidak percaya.
"Ya Tuhan mengapa anak ini tidak ada perubahan sama sekali~" Ucap Erthan sambil menggelengkan kepalanya.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????