Kisah sepasang suami istri yang menikah karena sebuah perjodohan.
Ara dan Fawwaz.
Berawal dari tidak saling kenal, lalu dipaksa hidup dalam satu atap.
Ara bersikap sangat dingin dan acuh, berbanding balik dengan Fawwaz yang begitu hangat dan penuh perhatian. Walau sudah berkali-kali di acuhkan, ia tak pernah merasa bosan sedikitpun.
Suatu ketika Ara merasa kasihan dan ingin memperbaiki sikapnya. Benih-benih cinta mulai bersemi, tapi justru ujian berbalik kepadanya.
Dia harus melewati berbagai ujian untuk mendapatkan Fawwaz seutuhnya. Hingga suatu hari ia di melihat kenyataan yang membuat dunianya serasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiva cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam semakin larut tapi belum ada tanda jika Fawwaz akan pulang.
Ara menunggu kedatanganya di meja makan. Sampai hampir jam sembilan malam Fawwaz belum juga sampai.
“Neng,” Bibik menggoyang pelan lengan Ara.
Ara memicing lalu mengangkat kepalanya.
"Apa Mas Fawwaz sudah pulang Bik?" tanya Ara dengan suara berat.
Bibik menggeleng pelan.
"Tadi Bibik juga sudah menelpon Aden, tapi tidak di angkat." Jawab Bibik.
"Ya sudah gak apa Bik, biar Ara tunggu." Ara menyeringai.
"Bibik silahkan istirahat dulu," ujar Ara.
"Terimakasih Neng, nanti piring kotornya biar saja. Besok subuh Bibik yang bereskan." Kata Bibik lalu pamit masuk ke kamarnya.
Ara mengangguk.
Kemudian Ara melirik jam yang ada di dinding ruang makan
“Apa aku tinggal Shalat dulu ya, setelah itu aku kembali menunggunya,” gumamnya.
Lalu Ara pun beranjak dari ruang makan.
Sejak pagi Ara di sibukkan dengan aktifitas barunya, dari membersihkan kamar, memindah baju-baju Fawwaz bahkan menyiapkan makan malam untuk Fawwaz. Semua atas inisiatifnya sendiri.
Setelah hampir satu pekan dia mengurung diri di kamar, akhirnya dia keluar dengan kepribadian yang berbeda.
Ceklek.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Fawwaz dengan suara lemas.
Ara segera menghampiri suaminya.
"Waalaikumsalam. Baru pulang Mas?"
Fawwaz terbelalak melihat istrinya datang menghampirinya.
Fawwaz menggosok matanya, melihat tak percaya dengan apa yang ada di depanya.
"Ah, aku hanya berhalu," gumamnya, kemudian berjalan melewati Ara.
"Biar Ara yang meletakkanya." Ara menarik tas kerja Fawwaz.
Fawwaz hanya diam mematung.
"Ara sudah menyiapkan air hangat untuk Mas mandi." Ara membuka pintu kamarnya, kemudian meminta Fawwaz untuk membersihkan diri di kamar.
"Apa aku sedang bermimpi?" gumam Fawwaz dengan lirih.
"Tidak, Mas sedang tidak bermimpi. Ini beneran Ara." Sahut Ara, kemudian berjalan menuju ruang kerja suaminya.
Lalu Fawwaz berjalan menuju dapur, ia terkejut melihat beberapa menu makanan sudah tersaji di meja makan.
"Ara menyiapkan semua ini untuk Mas." Ungkap Ara.
"Sekarang Mas mandi dulu supaya badan Mas kembali segar." Ucap Ara.
Sebelum Fawwaz beranjak dari dapur, ia memandang sebentar wajah istrinya.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Fawwaz
"Ara menunggu Mas." Sahut Ara.
Kemudian dengan kondisi yang lemas, Fawwaz membersihkan diri di tempat yang sudah di sediakan Ara.
Usai membersihkan diri, Ara sudah menyiapkan beberapa pakaian santai di ranjangnya.
"Ara sudah memindahkan semua pakaian Mas di lemari kita." Ucap Ara
"Kita?" gumam Fawwaz tidak percaya, ia menghentikan aktifitas menggosok rambut belakangnya, menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Fawwaz.
Ara menggeleng. "Ara mau makan malam bersama Mas," jawabnya.
Deg,
"Perutku sudah kenyang dengan makanan di Cafe tadi tapi aku tidak mau mengecewakanya." Fawwaz menatap kebingungan tapi akhirnya ia memilih memakan masakan istrinya. Ia tidak mau mengecewakan Ara yang sudah bersusah payah untuknya.
****
“Sudah cukup, jangan terlalu banyak,” Fawwaz menahan tangan sang istri.
“Maaf,” jawab Ara dengan wajah kecewa.
"Eee, maaf bukan maksudku ... "
Fawwaz tidak jadi melanjutkan kalimatnya, ia mengalihkan ke pembicaraan lain.
“Bibik sudah tidur?” tanya Fawwaz
Ara mengangguk.
Fawwaz merasa bersalah karena membiarkan istrinya menunggu terlalu lama. Harusnya jika ia pulang terlambat, ia bisa memberitahukan orang rumah terlebih dahulu. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Kemudian Fawwaz berpindah duduk di sisi Ara.
“Aku akan menyuapimu,” Fawwaz menyunggingkan senyumnya.
Ara tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Mas minta maaf ya sudah membuat Ara nunggu,” ujarnya.
Ara menggeleng sembari mengunyah makananya.
Fawwaz memandangi wajah istrinya, dan ini adalah pertama kalinya Fawwaz bisa memandang wajahnya dalam jarak yang sangat dekat.
"Mas tidak makan?"
Fawwaz gelagapan, lalu menyantap makananya dengan tergesa-gesa.
Uhuk uhuk ...
Ara segera meraih gelas di depanya lalu menuangkan air putih ke dalamnya.
"Mas pelan-pelan makanya." Kata Ara sembari menyodorkan air.
Fawwaz mengangguk.
"Ra, sebenarnya Mas tadi sudah makan."
Wajah Ara mulai masam.
"Mas gak tau kalau Ara mau masakin Mas. Mas minta maaf ya." Ungkap Fawwaz
Ara mengangguk sembari melanjutkan aktifitas mengunyahnya.
“Gimana kalau sisanya kita bagi-bagikan kepada para Tunawisma atau pemulung,”
Ara menyeringai, lalu ia menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu setelah selesai makan, kamu siap-siap ya. Biar bibik yang membungkus makananya."
Ara pun menyunggingkan senyumnya.
****
Suasana jalanan Jakarta sudah mulai sunyi, Ara dan Fawwaz menelisik setiap sudut jalan dan memberhentikan mobilnya saat melihat pemulung/gelandangan di pinggir jalan.
"Alhamdulillah Ra, sisa beberapa bungkus lagi." Ucap Fawwaz.
Ara mengangguk, "iya Mas."
"Emmm, bay the way terimakasih ya Ra sudah sempatin masak buat Mas." Kata Fawwaz.
"Sama-sama Mas."
Lalu Fawwaz melihat sepasang suami istri sedang mengais sampah di pinggir jalan.
"Ra, kasihkan ke Bapak dan Ibu saja semua. Siapa tau mereka punya anak di rumah." Pinta Fawwaz lalu memberikan beberapa bungkus kepada pemulung tersebut.
Setelah semuanya habis, mereka kembali ke rumah.
Beberapa kali Ara menutup mulutnya dengan satu telapak.
"Kamu ngantuk?" tanya Fawwaz.
Ara mengangguk. "Sepertinya Ara lelah setelah seharian bekerja." Jawab nya kemudian ia memejamkan mata.
Sebagai penghantar tidur, Fawwaz menghidupkan murottal dengan speaker mobilnya.
Sesampainya di garasi rumahnya, Fawwaz tidak tega membangunkan Ara.
Dia menatap wajah polos istrinya. Entah seperti ada yang mendorong, Fawwaz mencondongkan kepalanya ke wajah Ara.
Perlahan ia pejamkan matanya lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Ara.
Kemudian Ara menggeliat. Sontak Fawwaz langsung memundurkan kepalanya.
"Sudah sampai Mas?""
Ara memicing, memastikan jika dirinya sudah berada di rumah.
"Eh, i ... iya Ra. Kita sudah sampai." Jawab Fawwaz dengan suara terbata-bata.
Ara mengernyitkan keningnya.
"Kenapa Mas tidak bangunkan Ara?"
"Emmm, kita baru sampai." Fawwaz gelagapan dan segera beralasan.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumahnya.
Fawwaz berjalan ke arah ruang kerjanya.
"Mas,"
Langkah Fawwaz terhenti karena panggilan Ara.
"Iya Ra. Ada apa?"
"Mas mau kemana?" tanya Ara.
"Eee, Mas mau tidur di sana." Jawabnya ragu.
"Mas gak mau tidur di kamar?" Ara melipat kedua tanganya di atas perut.
"I ... iya, Mas mau." Jawabnya kemudian berjalan di belakang Ara.
Ara mengganti pakaianya dengan baju tidur. Kain trawang dan tipis sangat nyaman di pakai saat tidur.
Kemudian Ara mematikan lampu kamarnya, kecuali lampu meja.
Fawwaz hanya duduk terdiam di sofa kamar.
"Mas mau tidur di sofa?"
suara Ara mengejutkan Fawwaz.
"Eee ... "
"Mulai sekarang Ara tidak akan melarang Mas tidur saru ranjang dengan Ara." Ara menyela kalimat Fawwaz.
Fawwaz membelalakkan matanya dan seketika tubuhnya sulit di gerakkan.
Bersambung.
•
•
•
•
Halo reader. Mohon maaf jika kalimatnya kurang maximal, karena Author sedang tidak enak badan. Doakan semoga segera sehat ya, biar bisa boom up.
pasti ada hati yg tersakiti.
Duhh knpa ujungnya kek gini sih😥
dasar laki laki