NovelToon NovelToon
Disenchanted

Disenchanted

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Teen School/College / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.

Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.

Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.

Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disenchanted 21 — Duka Ganda

Jee hanya terduduk diam dan mengaduk-aduk batagor yang dipesannya 5 menit lalu. Anin, yang duduk di depannya menghela napas dan menduga-duga apa yang terjadi.

"Cerita dong Jee kalau ada masalah, jangan diem aja kek patung ih," protesnya sebab Jee hanya diam saja sejak masuk ke dalam kantin dan memesan makanan.

Jee mendongak, "Aku gak apa-apa kok, Nin. Beneran deh!" kata Jee sambil tersenyum. Senyum yang sedikit dipaksakan, dan sayangnya Anin dengan mudah mengetahuinya.

"Ah gitu terus, lo selalu diem kalau ada masalah. Padahal gue ini kan sahabat lo, Jee. Lo bisa cerita apapun ke gue kalau lo mau, gue pasti dengerin semua cerita lo. Lo tau itu kan?" Kali ini tampaknya Anin tak bisa menahan dirinya untuk bersikap membiarkan Jee.

Anin ingin tahu apa sebab hal yang membuat Jee sedih, dan ingin membantu Jee jika dia bisa. Namun sayangnya, selama ini, Jee selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja sekali pun Anin tahu bahwa Jee tak pernah seperti itu.

"Iya, aku percaya kok, Anin tersayanggg."

"Jadi, mau cerita kan?" desak Anin, membawa tubuhnya maju, mendekat ke arah Jee.

"Dibanding cerita, aku lebih suka kalau minta pendapat kamu, Nin."

"Apa? Apa? Pendapat apa?"

Jee tampak menghela napasnya panjang sesaat berbicara. "Aku juga kurang tahu ya, aku bingung sama sikapnya Alisha itu. Kenapa sekarang dia kayak memusuhi aku gitu ya?"

"Memusuhi? Maksudnya?" tanya Anin bingung.

"Iya, kayak orang yang gak suka dan benci sama aku gitu lho, Nin. Duh aku suudzon jadinya nih. Tapi beneran aku merasa kayak gitu. Apa aku ada salah sama dia ya?"

"Hadeuh, orang itu, sejak awal masuk kelas juga gue udah gak suka, auranya gelap kek nenek sihir," kata Anin sedikit berbisik di akhir kalimat.

"Ish gak boleh kayak gitu ah Nin. Udah mau masuk, ke kelas aja yuk!" ajak Jee, Anin pun mengangguk lalu pergi meninggalkan kantin usai membayar makanan mereka.

•••

Di kantor guru, Alina sedang mencak-mencak lantaran mengetahui anaknya tersiram cokelat panas yang membuat punggung tangan anaknya melepuh. Alisha sendiri, terduduk di ruang guru dengan punggung tangan yang sudah diobati.

"Saya gak mau tahu, ya, Bu! Pokoknya saya minta wali murid anak itu bertanggung jawab!" katanya pada wakil kesiswaan itu.

Bu Lena meminta Alina untuk duduk dan bersikap tenang. "Harap tenang, ya, Bu Alina. Semuanya bisa kita selesaikan dengan baik-baik. Saya yakin sekali Jeehan tidak sengaja melakukannya."

"Ah, terserah! Mau sengaja atau tidak, yang jelas dia sudah melukai anak saya, Alisha. Saya mau dia dipanggil ke sini dan minta maaf kepada anak saya!" katanya keras kepala.

Bu Lena menggeleng lalu menghela napas. Kemudian ia memanggil seorang siswa yang tak sengaja lewat untuk memanggil Jeehan ke Ruang BK. Tak lama, Jeehan muncul dengan disertai Anin.

"Maaf, Bu. Ibu memanggil saya? Ada apa ya Bu?" tanya Jeehan sambil menundukkan sedikit kepalanya di depan pintu Ruang BK. Bu Lena mengangguk lalu meminta Jeehan untuk masuk dan duduk. Sedangkan Anin sengaja menunggu di luar.

Entah mengapa saat Satrio, anak kelas IPA memanggil Jeehan dan memberitahukan bahwa Jeehan harus menghadap wakil kesiswaan, Anin jadi merasa khawatir. Pasalnya, sahabatnya itu tak pernah melakukan hal aneh-aneh atau hal apapun yang membuatnya harus memasuki ruangan siswa bermasalah itu.

"Oh jadi kamu? Kamu yang bikin tangan anak saya begini ya? Keterlaluan ya kamu." Alisha sudah berdiri mengangkat tangan, hendak menampar Jee, namun beruntung Bu Lena sigap menengahi.

"Bu Alina!" sentak Bu Lena menangkis tangan Alisha, sehingga tak jadi mengenai Jee yang sudah tertunduk. "Hati-hati dengan sikap Anda di sini. Ini sekolah, bukan tempat umum, jangan anarkis kepada anak didik saya," tegas Bu Lena membuat Alisha menarik kasar tangannya kembali.

"Kita dengarkan penjelasan Jeehan lebih dulu. Saya yakin ada alasan logis kenapa Jeehan bisa menyiram tangan anak ibu, Alisha."

Bu Lena lalu berpaling kepada Jeehan, tersenyum laku bertanya dengan lembut. "Jeehan, bisa jelaskan kenapa kamu bisa membuat tangan Alisha memerah seperti itu, Nak?"

Jeehan mendongak, sorot matanya tegas. "Jeehan gak sengaja, Bu. Sewaktu selesai dari musola, Jeehan jalan terburu-buru karena sudah ada janji sama Anin. Saking buru-burunya, Jee gak lihat jalan dan gak tahu ada Alisha di depan. Jeehan gak sengaja nyenggol Alisha yang lagi bawa cokelat panas."

"Apakah benar begitu, Alisha?" tanya Bu Lena.

Alisha mau tak mau mengangguk singkat. Karena jika tidak, maka ia juga harus menjelaskan dengan rinci dan ia tak mau mengakui bahwa fakta yang sebenarnya adalah ia sengaja menyiram cokelat panas itu demi mengambil perhatian Harris.

"Bisa Bu Alina pahami sekarang? Itu hanya sebuah ketidaksengajaan, Bu. Harap dimaklumi ya."

Alina mendengus kasar lalu menjawab, "Ya, saya tahu. Tapi saya tetap meminta pertanggung jawaban dari orang tua Jeehan! Saya ingin meminta ganti rugi sebagai biaya pengobatan dan perawatan anak saya."

Bu Lena menggeleng lalu berpaling pada Jee. "Bagaimana Jee? Jeehan bisa panggil ibunya ke sini besok, Nak?"

Jee terdiam menimbang bagaimana caranya memberitahu sang ibu sedangkan ibunya tengah bersedih hati sekarang ini. "Bisa, Bu," jawab Jee akhirnya. Biarlah nanti ia jelaskan masalahnya kepada sang ibu. Ia yakin ibunya akan mengerti.

"Baik, Bu. Kita selesaikan secara kekeluargaan besok, ya. Terima kasih sudah datang ke sini."

"Hmm, ya. Kalau begitu saya dan anak saya izin pulang. Udah waktunya pulang sekolah kan?"

Tepat saat Alina berkata waktunya pulang, bel sekolah pun berdentang. Tanpa mengatakan apapun lagi, Alina pergi dari ruang BK bersama dengan Alisha. Tak lupa memberi tatapan sinisnya pada Jeehan.

Idih, ini tante-tante judes pisan! batin Anin yang tak sengaja berpapasan dengan Alina dan Alisha di luar ruang BK. Kemudian, Jeehan pun menyusul dengan wajah sendunya.

"Jee, jangan sedih ya," kata Anin sambil mengusap pundak Jee. "Allah pasti tahu hatimu, Jee. Kamu gak sengaja, dan kamu gak salah. Memangnya dia aja itu yang dramatis. Yang sabar ya Jee," lanjutnya lagi sambil mengajak Jee untuk kembali ke kelasnya untuk bersiap pulang.

"Iya, Anin, makasih ya."

Sesampainya di depan kelas, Anin dan Jee sudah melihat Harris yang sudah bersandar di dekat pintu. "Cieee ... dah ada yang nungguin tuh," goda Anin yang lalu disenggol Jee.

"Ih Anin, suka kayak gitu, deh. Padahal udah aku kasih tahu berkali-kali, kalau aku sama Harris cuma—"

"Cuma sahabat, kan?" potong Anin cepat.

"Oi Ris!" panggil Anin. Harris menoleh dan tersenyum saat melihat Jee berjalan di belakang Anin. "Nungguin siapa?" tanya Anin pura-pura tak tahu.

"Siapa lagi? Ya Jeehan dong. Gitu aja gak tau," jawab Harris santai.

"Ya kan kali aja lo lagi nungguin si drama queen. Kalau lo nungguin si drama queen, dia dah balik sama maminya."

Harris menaikkan kedua alisnya. "Drama Queen? Siapa?" tanyanya melirik Jee, meminta jawaban.

Namun Jee hanya diam, lalu masuk ke dalam kelas, mengambil tasnya sekaligus tas Anin. "Nih, Anin, aku pulang bareng kamu, boleh gak?"

"Boleh banget, yuk!"

"Eh, Jee, tunggu!" Harris menahan Jee. "Kok pulang sama Anin? Pulang sama aku aja," lanjutnya.

Namun Jee menggeleng, ia terlalu lelah hari ini. Dan, setelah kejadian hari ini, rasanya Jee ingin mulai menjauhi Harris. Entah mengapa, tapi hatinya mulai merasa tak nyaman. Ada sesuatu yang mengusiknya, sedang logikanya berkata untuk menjauh sementara waktu.

Anin yang memahami posisi Jee lantas mendorong Harris dari hadapan Jee. "Minggir, Ris. Jee maunya pulang sama gue, jangan dipaksa. Lagian gue mau bikin presentasi dulu sama Jee," alibi Anin lalu langsung menarik Jeehan menaiki motor scoopy pink miliknya.

Harris menatap kepergian motor pink milik Anin sambil bertanya-tanya. "Apa gue bikin salah lagi ya? Kok tumben Jee gak mau pulang sama gue?" tanyanya bermonolog.

1
falea sezi
terusan jee mana jangan bkin gantung donk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
fokus saja pada kebahagiaanmu Jee
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
salah orang woy 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bastian udah kabur 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju,
Semangaaat Jee 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Surprise 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kan bener,ngapain marah" 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ternyata numpang dirumah istrinya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan pas seneng" aja, noh urus suamimu yg lagi sakit 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Emang bukan madu tapi racuun 🤬
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Salah sendiri kenapa harus ada perempuan" padahal cukup 1 perempuan 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
alasannya karena ayahmu punya istri baru 😏
falea sezi
kok end thor
Mukmini Salasiyanti
udah End ajaa.... ??
hiks.. hiks...

Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk

tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
HK: Entah harus berakhir di sini atau tetap lanjut, kita pikirkan idenya dulu Kak Min. Thanks ya udah baca karya recehan author ini. 🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kebangetan nih masa ayahnya gak tau kl anaknya sekolah disitu😏
falea sezi
hahahah mampus kau azab tuh buat pelakor ma anak nya nunggu karma bapaknya stroke aja q
Mukmini Salasiyanti
tell the truth..
walaupun itu sgt pahit.....
Mukmini Salasiyanti
aihhhhh
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
HK: Tunggu kelanjutannya /Chuckle/
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Bagus laaa kl ingat Bastian..
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya

wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!