Sehari setelah menikah, Ryan kehilangan istri dan mertuanya dalam sebuah kecelakaan. Kemudian ia harus menikahi adik dari istrinya. Namun setelah menikah, ia memperlakukan istri keduanya dengan begitu buruk. Dengan alasan ia tak pernah menginginkan pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Bab 21
Ryan pergi ke restoran tempat Luna bekerja. ia bermaksud untuk merayu Luna lagi agar tidak marah. Ryan menyapa Anabella dengan sopan dan lembut. "Hai, aku mau pesen kopi. Tapi biarin Luna yang layanin ya!" kata Ryan.
Anabella menganggukan kepalanya. Dia meminta Luna untuk melayani Ryan. Meskipun Luna masih kesal, tapi dia tetap menjalankan tugasnya. Dia melayani Ryan dan juga Dito. "Makasih ya!" ucap Ryan sembari tersenyum. Namun Luna mengabaikannya. Dia memilih untuk melakukan pekerjaan lainnya.
Tak lama kemudian datang dua orang lelaki mendekati Ryan dan Dito. Sepertinya itu klien Ryan. Luna jadi ingat, tadi Ryan juga sempat bilang kalau dia mau meeting di dekat restoran tersebut.
Ryan melambaikan tangannya, meminta Luna untuk mendekat. Dengan segera Luna mendekati meja Ryan kembali. Dia menyerahkan buku menu ke tamu yang baru saja datang.
"Pak Ryan kenapa mau pindah tempat meetingnya?" tanya klien-nya.
"Nggak apa pak. Aku cuma mau rekomendasikan restoran ini aja. Makanan di restoran ini cukup enak. Pelayannya juga cantik." jawab Ryan sembari melirik Luna.
Klien Ryan pun terbahak. "Pak Ryan bisa aja. Aku dengar juga gitu sih pak. Ada salah satu klien yang juga merekomendasikan restoran ini. Katanya kue penutup di restoran ini sangat enak. Aku mau pesan itu aja." ucap klien Ryan.
Akhirnya mereka berempat memesan kue penutup yang memang lagi jadi perbincangan yang katanya rasanya lain dari yang lain. Mereka nampak serius membahas pekerjaan.
Di sisi lain. Anabella mendekati Luna yang sesekali melirik suaminya yang sedang meeting. "Suami brengs*k kamu itu bisa lembut juga. Dia nggak terlalu arogan." kata Anabella.
"Kalau lagi serius gitu, dia kelihatan ganteng banget. Nggak salah kalau banyak wanita ingin mendekati dia." kata Anabella lagi.
Luna setuju dengan pendapat Anabella. Harus diakui kalau Ryan memang seorang lelaki yang sangat tampan. Lelaki dingin dengan tatapan tajam. Tapi siapapun yang menatapnya pasti akan jatuh hati. Sepertinya wajah dinginnya memang menjadi daya tariknya. Tapi saat dia tersenyum juga bisa bikin jantungan.
Luna menatap suaminya sembari melakukan pekerjaannya. Begitu juga Ryan yang sesekali meliriknya sembari tersenyum. Selama lebih dari satu jam, akhirnya Ryan menyelesaikan diskusinya dengan klien-nya. "Terima kasih pak, semoga kerja sama kita berjalan lancar!" kata klien-nya.
"Terima kasih pak."
Setelah klien-nya pergi. Ryan pun mendekati Luna yang masih melakukan tugasnya. Dia sedang membersihkan meja. "Aku bantuin nyonya?" kata Dito.
"Nggak usah Dito.." kata Luna dengan lembut.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Ryan.
"Nanti malam ke street food lagi yuk!"
"Nggak bisa." jawab Luna dengan ketus. Saat bicara dengan Ryan, dia sangat ketus.
"Kenapa?"
"Capek."
"Aku bantuin?" Ryan ingin membantu Luna membawa gelas dan piring kotor.
Namun dengan cepat Luna menjauhkannya. "Nggak usah! Aku bisa sendiri!" jawab Luna ketus.
Ryan menghela nafas menghadapi kedinginan istrinya. Padahal dia bukan orang yang sabar. Tapi dia berusaha keras untuk menekan amarahnya. Dia tahu kenapa Luna marah lagi. Dia juga menyadari kesalahannya.
Ryan mengikuti Luna sampai ke dapur. "Nanti malam bikinin steak ya!" kata Ryan.
Akan tetapi, Luna sama sekali tidak menjawabnya. Luna masih melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. Ryan kembali ingin membantu Luna. Namun Luna menatapnya dengan tajam. "Kamu nggak bisa baca? Hanya karyawan yang boleh masuk kesini." omelnya.
"Janji dulu kalau nanti malam kamu mau bikinin steak!" Luna kembali tidak menjawab. Dia kembali melakukan pekerjaannya.
Malam hari.
Luna masih sibuk di dapur. Meskipun ia sedang marah. Tapi Luna tetap mau membuatkan makanan untuk suaminya sesuai permintaannya. Dia membuat steak daging sapi sesuai permintaan Ryan.
Luna bersenandung sembari memasak. Itu kebiasaan dia saat memasak. "La... La.. La.."
Selesai masak, ia pergi mandi terlebih dahulu.
Pukul 20.00 tapi Ryan belum pulang juga. Luna pun kembali kecewa. "Harusnya aku nggak beg* kayak gini.." gumamnya menelan kekecewaannya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Seseorang mengiriminya sebuah video. Dimana di dalam video tersebut ada suaminya yang sedang makan malam bersama dengan Rose. Dia terlihat begitu bahagia saat makan bersama dengan Rose. Ada juga Sinta dan seorang lelaki paruh baya.
Luna tersenyum sinis saat memutar video tersebut. Hatinya berdenyut dan sakit. Luna pun segera membuang semua makanan yang ia masak. Padahal dia belum makan karena menunggu suaminya. Kemudian dia segera pergi ke kamar.
Dengan hati kecewa ia mencoba menutup matanya. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Tanpa sadar air matanya pun menetes. Tapi dengan cepat Luna mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh itu. "Kenapa sih aku nangis.." ucapnya seorang diri.
Luna tak tahu kenapa hatinya terasa sakit seperti tertusuk ribuan duri. Bahkan dia bingung kenapa air matanya jatuh dengan tidak diharapkan. Ia pun mencoba menutup matanya tapi tak bisa. Setiap kali ia menutup matanya, air matanya tiba-tiba mengalir dengan sendirinya.
.....
Pukul 22.00, Ryan baru sampai ke rumah. Dia melihat Luna sudah tertidur di kamar. Ryan juga melihat meja dapur tidak ada makanan apapun. Berarti Luna tidak membuatkan makanan pesanannya, batinnya.
Ia pun segera membuat kopi untuknya. Wajahnya nampak tegang. Entah apa yang ia pikirkan. Ia menyesap kopi hitam kesukaannya. Kemudian menyalakan sebatang rokok.
Asap mengepul ke seluruh wajahnya. Tatapannya kosong, seperti banyak memiliki sesuatu yang ia pikirkan. Baru beberapa menit, ia sudah menghabiskan begitu banyak rokok.
Begitu kopinya habis, ia segera membuang putungan rokok ke sampah. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat makanan yang terbuang di dalam sampah tersebut. Hatinya pun berdenyut. Ada ketidaknyamanan disana. Berulang kali ia menghela nafas untuk mengatur perasaannya.
Ryan masuk ke kamar. Ia mendekati Luna yang tertidur lelap. Dengan lembut menyentuh kepalanya. Dia juga mengecup rambut Luna dengan lembut. Ada kesedihan dimatanya saat melihat Luna. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggu pikirannya.
Ia pun kemudian menuju kamar mandi. Ryan berendam cukup lama. Entah apa yang membuatnya bimbang.
Pagi harinya.
Luna tetap membuat sarapan untuk Ryan. Meskipun dia masih kecewa dengan suaminya. "Pagi.. Maaf semalam aku ada kerjaan jadi pulang telat. Kamu juga nggak bikinin aku steak kan?" tanya Ryan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Nggak. Ngapain juga bikinin." jawab Luna dengan sinis. Tapi sebenarnya dalam hatinya sangat sakit. Dia merasa usahanya seperti tidak dihargai.
"Syukur deh kalau gitu." jawab Ryan masih dengan santai.
Jawaban Ryan itu membuat hati Luna semakin sakit. Selesai menyiapkan makan. Ia pun segera ke kamar untuk mengambil tas, kemudian pergi begitu saja tanpa sarapan terlebih dahulu. Ia bahkan tidak pamit sama sekali ke Ryan.
Blam..
Luna juga cukup keras menutup pintunya.