cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Berpisah Sementara
*
Selamat membaca⬇️
***
Di dalam ruangan berukuran 3x3 meter, tampak keempat orang saling menatap satu sama lain, begitu tahu siapa pria yang masuk ke dalam ruang rawat pak Kuncoro.
Di dalam pikiran mereka timbul berbagai macam spekulasi.
"Apa langkah kita selanjutnya Go? Setelah mengetahui bahwa ternyata keberadaan Riko tidak jauh dari kita?" tanya Barra
"Langkah awal tentu saja kita lakukan pengintaian. Dan penggrebekan pastinya harus dilakukan malam hari dengan cara senyap. Agar tidak mengganggu warga sekitarnya," jawab Ringgo.
Drrrttt...ddrrrtttt...
Nada dering telepon Barra berbunyi nyaring, mengalihkan perhatian mereka.
"Siapa?" tanya Andre
"Rissa," jawab Barra seraya memperlihatkan layar ponselnya.
"Cepat angkat mungkin penting. jangan lupa loudspeaker!" titah Jena
Barra dengan segera menggeser ikon berwarna hijau itu pada ponselnya.
"Hallo, assalamu'alaikum. Ada apa sayang. Kita lagi ada di rumah Andre sekarang."
"Waalaikumsalam. Sebaiknya sekarang kamu pulang sekarang deh, Mas. Ambil pakaian secukupnya dan juga keperluanmu yang lain. Dan untuk sementara waktu lebih baik kamu tinggal di rumah Andre, sampai Anita melahirkan. Soalnya aku berencana membawa Anita pulang kerumah kita."
"Maksudnya gimana?"
"Nanti kita bicarakan lagi saat kita bertemu. Sekarang aku mau tengok kondisi Anita dulu. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Rissa. Barra menghela nafas kasar. Lalu meraup mukanya, seperti orang yang sedang prustasi.
"Sudah, sebaiknya loe ikuti kemauan Rissa. Pasti dia punya alasan melakukan semua itu," ucap Ringgo.
"Apa perlu gue temani?"tanya Andre
"Gak perlu. Gue bisa sendiri," ucap Barra lesu seperti tidak ada semangat dalam dirinya.
'Yaaah... Baru juga berbaikan. Boro-boro iya iya. Ini sudah dipaksa pisah lagi. Emang nasibmu tong,' batin Barra dalam hati
"Oh ya, tolong jaga Vino ya. Nanti kalau dia bangun dan menanyakan gue," pesan Barra.
"Oke. Loe tidak perlu khawatir. Gue bisa menjaga dia dengan baik kok," sahut Jena.
"Iya Jen. Loe emang harus latihan ngurus anak. Biar nanti kalau punya anak sendiri, loe sudah terbiasa dan tidak kaku lagi. Lagian di usia loe harusnya kan sudah punya anak," celetuk Andre.
"Apaan sih kalian. Di saat seperti ini, masih saja bercanda!" sarkas Jena, mulutnya bersungut dengan wajah ditekuk. Dia memang lebih bar-bar di banding Rissa.
Barra tidak memperdulikan gurauan kawan-kawannya. Dia langsung berlalu meninggalkan rumah Andre setelah memastikan Vino masih tertidur dengan pulas.
Barra melajukan kendaraannya sedikit kencang. Sebab lalu lintas agak lengang di saat siang menjelang sore begini.
Hanya 20 menit jarak yang ditempuh. Barra sudah sampai di rumahnya. Dia segera turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah. Tak lupa menutup kembali pintu teralis rumahnya.
Pria tampan itu langsung menuju kamarnya. Kemudian mengambil koper dan mengisinya dengan beberapa pakaian untuk kerja, untuk santai dan tak lupa pakaian dalam. Dirasa cukup lalu menutupnya. Kemudian menuju kamar mandi untuk mengambil peralatan mandinya.
Sebelum keluar rumah lagi, Barra menyempatkan diri duduk di sofa ruang tamu. Dia menyandarkan punggungnya di sana.
Pandangan matanya menerawang jauh ke langit-langit rumahnya, yang berhiaskan lampu kristal.
"Ya Allah... Kapan kasus ini cepat selesai. Baru kali ini menghadapi kasus yang sungguh rumit dan bertele tele begini. Apa setelah ini gue resign saja kali ya? Tapi gue sudah terlanjur nyaman dengan pekerjaan ini," gumamnya seorang diri.
Selain menjadi manager di sebuah perusahaan jasa, Barra memang merangkap sebagai seorang profiler. Yang secara umum, pekerjaan profiler ini adalah menganalisa suatu kasus untuk mendapatkan gambaran mengenai pelakunya. Sering dijumpai ada kasus-kasus misterius dengan minim petunjuk tentang siapa yang melakukannya. Nah, di sinilah seorang profiler ini bekerja untuk melihat secara luas dan menganalisa mulai dari sifat, kemungkinan perawakan pelaku, jenis kelamin, kebiasaan atau kecenderungannya.
Hasil ini nantinya bisa disimpulkan ciri-ciri pelakunya seperti yang selanjutnya akan diselidiki lebih jauh lagi oleh pihak kepolisian hingga mendapatkan pelakunya.
Dan Barra sudah menyerahkan berkas itu pada Ringgo selaku detektif dari pihak kepolisian. Namun dia belum bisa lepas tangan begitu saja, sebelum si pelaku ditangkap. Mengingat ide-ide cemerlangnya masih sangat dibutuhkan. Dia akan benar-benar terbebas, setelah pelaku tertangkap dan berkasnya diserahkan ke kejaksaan. Dan khusus untuk kasus kali ini benar benar sangat menguras energi.
Barra memejamkan mata sejenak. berharap hadirnya senyum indah sang istri dalam imajinasinya.
Beberapa detik berlalu senyum menawan itu benar-benar hadir dan menyapanya. Dirinya pun langsung membuka mata.
"Mas, kok belum berangkat? Bukankan tadi di telepon bilang kalau mau keluar kota? Katanya mau mengurus kantor cabang yang bermasalah?" Rissa mengedipkan sebelah matanya pada Barra dan berharap suaminya itu mengerti akan maksudnya. Lalu dirinya menyalimi sang suami dengan takzim
"Iya sayang. Aku sengaja nungguin kamu untuk berpamitan." Barra lancar mengimbangi sandiwara sang istri. kemudian menegakkan badannya.
"Vino mana, Mas?" tanya Rissa.
"Maaf... Aku belum sempat menjemputnya, Sayang." Dalam hati Barra tersenyum, memuji istrinya yang banyak akalnya.
"Oh ya udah deh. Nanti biar aku yang jemput dia. Sekalian mengambil pakaian Anita. Iya kan Nit?" Rissa sengaja berkata seperti itu, karena dilihatnya dari tadi Anita menatap Barra dengan pandangan nanar.
"Oh. i..i..ya Mbak," ucapnya gagap mungkin karena dirinya tidak fokus.
"Selamat datang di rumah kami Nit. Anggap saja di rumah kakakmu sendiri. Kamu bisa sharing apa saja dengan Rissa. Jangan sungkan, iya kan sayang?" Barra menerbitkan senyuman pada sang istri
"Tentu saja Mas. Aku akan dengan senang hati membantunya," sahut Rissa.
"Ternyata pintar juga gue bersandiwara. Apa gue ikutan casting aja kali ya, biar jadi pemain sinetron. hahahaha," monolog Rissa dalam hati
"Ya udah. Kalau begitu aku pergi dulu, ya Sayang. Jangan nakal heum?!" Kemudian Barra memeluk Rissa seraya berbisik, "Aku pasti akan selalu merindukanmu," ucapnya tepat di telinga Rissa. Sehingga menimbulkan sensasi yang hanya mereka berdua yang tahu dan rasakan.
Dapat dilihat wajah Rissa kini nampak semburat merah. Setelah Barra melerai pelukan, dia segera menutup wajahnya karena malu.
Anita menyaksikan drama pasutri itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa perih di sana, mengingat statusnya yang kini telah berbeda.
"Aku pamit ya Nit. Semoga kamu betah di sini, sampai kamu melahirkan nanti," ucap Barra lalu keluar dari rumah menuju mobilnya.
Rissa mengantar Barra, hingga mobil suaminya itu tak terlihat lagi oleh pandangannya.
Kemudian Rissa masuk kedalam. Dilihatnya Anita sedang terisak. Rissa mendudukkan dirinya di kursi samping Anita. Dan merengkuh wanita itu dalam pelukannya.
Bisa dia rasakan Anita menangis pilu dalam dekapannya. Wanita itu sungguh rapuh saat ini. Tak ada yang bisa Rissa perbuat selain mengusap lembut punggung wanita, yang pernah menjadi rivalnya itu.
"Nita harus bagaimana Mbak? Bang Riko sudah menceraikan Nita. Bagaimana nasib bayiku nanti. Setelah dia lahir, dia tidak punya ayah," ratapnya dengan suara sengau
"Kamu tidak usah khawatir. Kami akan menyayangi anakmu seperti anak kami sendiri." Rissa berusaha menenangkan Anita.
"Apa itu artinya kak Barra mau menikahiku demi bayi ini?"
"Kalau kamu masih berharap seperti itu. Maka dengan senang hati aku akan menendangmu keluar dari rumah ini. Juga dari apartemen yang sekarang kamu tempati. Dan membiarkanmu menjadi gelandangan di jalanan." gertak Rissa. Lalu raut wajahnya pun berubah dingin.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Stay tune terus ya....