Sekuel Deviasi Hati (Cerita si kembarnya Kenzou dan Lovy..Arzio Dewangga Alexander & Arzia Dewangga Alexander)
Arzio, 25 tahun CEO tampan dan ramah ke karyawannya, banyak di sukai lawan jenis, belum memiliki pacar tapi di taksir oleh teman Arzia saudara kembarnya, Aura.
Arzio (Zio) terpikat dengan gadis cantik dan muda seorang maid yang tinggal di rumah papi dan maminya yang pendiam dan introvert.
Paradista Kaina Wijaya (Adis), 23 tahun gadis penuh misteri lulusan sarjana yang meninggalkan keluarga nya dan memilih menjadi maid di rumah papi dan mami Zio.
Arzia (Zia) kembaran Zio yang sama-sama pendiam merasa cocok dekat dengan Adis.
Zio terpikat pada Adis yang penuh misteri di hidupnya.
Mampukah Zio menaklukkan hati gadis pendiam yang bekerja sebagai maid di rumahnya?
Siapakah Adis sebenarnya? Apakah ia hanya seorang maid ataukah ia memiliki keahlian lain di dirinya tetapi orang lain tidak mengetahuinya?
Ikuti kisah perjalanan Zio mendapatkan cinta dari Adis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lunch Bareng
Selesai rapat Adis kembali ke ruangannya, Zia masih dipujuk Dylan untuk satu mobil dengannya. Zia dan Abyan sudah menunggu, sekretaris Fathika juga ikut.
Dylan berbisik ke asistennya Milo jika dirinya akan berdua saja dengan Zia di mobil. Dylan meminta Milo ikut mobil yang lain saja.
Zio tidak melihat kekasihnya.
"Di mana Adis?" tanya Zio ke Zia yang berjalan ke arah mereka.
"Ke ruangannya simpan berkas rapat tadi," jawab Zia.
"Aku panggil dia, kalian jalan aja dulu, Adis bersamaku," Zio berjalan ke ruangan Adis.
Dylan heran, kenapa Zio sampai harus menjemput asisten Zia.
"Siapa wanita itu?" tanya Dylan ke Zia.
"Pacarnya Zio," jawab Zia santai.
"What? Pacar Zio? Beneran?"
"Tanya aja sendiri," Zia berjalan santai ke depan lift.
Abyan dan yang lainnya sudah duluan turun.
Pintu lift terbuka Zia masuk ke lift di susul Dylan.
Zia cuek aja padahal hatinya berdegup kencang.
"Zia, kamu apa kabar?" Dylan mulai membuka obrolan.
"Aku baik," jawab Zia tanpa menoleh.
"Banyak yang ingin aku ceritakan ke kamu Zia," terdengar suara Dylan pelan.
Zia mengernyitkan alisnya.
"Kenapa harus ke aku?"
Dylan ingin sekali meraih tangan Zia tetapi lift sudah terbuka, mereka keluar dari lift.
Yang sudah duluan turun masih menunggu bos mereka.
Zia dan Dylan mendatangi sofa di mana mereka sedang menunggu.
"Mana Zio sama Adis?" tanya Abyan.
"Nyusul," jawab Zia.
"Kita duluan aja mereka nyusul," Zia berjalan menuju keluar diikuti oleh yang lainnya.
"Kamu sama aku Zia, asistenku biar ikut dengan Abyan,"
"Kenapa gak bareng aja satu mobil asistenmu?"
"Aku ingin berdua sama kamu aja,"
Mereka sudah sampai di parkiran mobil. Dylan memberi kode ke asistennya untuk tidak mendekat ke mobilnya, meski sebelumnya ia sudah memberitahukan ke Milo asistennya jika dirinya akan berdua saja dengan Zia di mobilnya.
Mereka semua sudah masuk mobil dan langsung menuju ke restoran yang sudah di reservasi oleh Fathika untuk makan siang.
Sementara di ruangan Adis, Zio masuk saat Adis masih membereskan berkas-berkas yang berantakan di mejanya.
"Sudah selesai?" tanya Zio dengan suara beratnya, Adis kaget mendengar suara yang dikenalnya.
"Ini sudah selesai kok," Adis merona, jika berada di dekat Zio dirinya seakan kaku, salah tingkah.
"Ayo kita pergi, mereka sudah duluan," Ziko mendekati kekasih yang sudah di klaimnya itu.
"Iya, emm.. pak,"
"Kok panggil pak, panggil nama aja, nanti kalo udah terbiasa baru panggilan khusus,"
"Hah?" Adis melongo.
"Ayo, mereka udah jalan dari tadi,"
"Baik, Zi-Zio,"
Zio meraih tangan Adis menggenggamnya melangkah keluar ruangan Adis. Zio merasakan halusnya tangan Adis.
"Banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu Adis, kamu sepertinya banyak menyimpan rahasia, hem?"
Zio dan Adis menunggu lift terbuka. Pintu lift tertutup. Zio meraih pinggang Adis, memeluknya.
Adis yang tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki, tubuhnya menegang. Zio dapat merasakan ketegangan di tubuh Adis.
"Santai aja jangan terlalu tegang, Adis, apa selama umurmu sekarang ini kamu tidak pernah punya pacar?"
Adis diam saja tidak menjawab.
Mereka sudah berada di parkiran mobil. Zio membuka pintu mobil buat Adis. Adis merasa sangat sungkan bosnya membukakan pintu mobil untuknya.
"Terimakasih Zio, biar aku buka sendiri aja pintunya nanti,"
"Kenapa? Kamu malu?"
"Bu-bu-bukan begitu, gak enak aja diliat karyawan yang lain,"
Zio menghidupkan mesinnya, dilihatnya Adis sudah memakai seatbeltnya sendiri. Zio melajukan mobilnya menuju ke restoran.
Selama di perjalanan, Zio memasang musik slow rock barat kesukaannya. Sesekali Zio mengikuti lagunya.
"Apa kamu suka dengerin musik,"
"Suka," jawab Adis tanpa menoleh ke kekasihnya.
Zio melirik ke Adis, "Aku tau siapa dirimu sebenarnya,"
Deg..
Jantung Adis berdebar tak menentu. Ia nampak sedikit panik.
"Kenapa kamu Adis, kamu kaget?"
Adis memejamkan matanya, Adis tidak menyadari jika Zio menoleh kepadanya.
"Kita akan membicarakan ini bukan sekarang, okey, sebentar lagi sampai,"
Adis menoleh ke Zio, mata mereka beradu, sorot mata teduh Zio saat menatapnya membuat Adis seakan terpana tak berkedip.
"Banyak yang ingin aku tanyakan Adis, pulang kerja nanti sama aku aja, aku ingin keluar bersamamu, buka behelmu nanti sore,"
Adis mengernyitkan alisnya.
Zio kembali menatap ke jalanan, Zio sebenarnya ingin sekali mencium bibir kekasihnya ini dari di ruangan Adis tadi saat mereka hanya berdua saja, tapi karena Adis memakai behel Zio megurungkan niatnya.
Zio sudah meminta anggotanya untuk menyelidiki Adis ia sudah mendapatkan laporannya. Seperti dugaan awalnya ternyata benar Adis bukan gadis biasa.
Kekasih yang sudah di klaimnya ini ternyata seorang ahli waris di keluarga Wijaya. Salah satu keluarga konglomerat yang sama dengan keluarga nya.
Mobil yang di kendarai Zio sampai di restoran. Zio turun dari mobil sebelum Adis turun, Zio segera berlari ke pintu sebelah, ia membukakan pintu buat kekasihnya.
Adis tersenyum, "Terimakasih pak Zio,"
"Jangan pake Pak, dear,"
Blush..
Wajah Adis merona merah. Zio menutup pintu mobil begitu Adis keluar. Zio menggandeng tangan Adis memasuki restoran. Banyak yang memandang tak berkedip pasangan yang berjalan di samping mereka atau di depan mereka.
Para pengunjung pada membicarakan pasangan yang bagi mereka melihatnya gak banget. Si cowok tampan tetapi ceweknya cupu.
Zio tidak peduli dengan bisik-bisik para pengunjung. Zio membawa Adis ke lantai dua, ruangan yang di pesan Fathika merupakan ruangan VIP.
Tiba di depan pintu ruangan VIP Zio membuka pintu. Semua mata mengarah ke mereka berdua. Zio dan Adis berjalan menuju ke meja tempat Zia duduk.
"Kenapa kalian? Melihat gak berkedip gitu? Terpesona?"
"Hillih, narsis," ucap Zia.
"Adis di sini aja duduknya dekat aku," Zia meminta Adis duduk di sebelahnya.
"Zia, Adis akan duduk di sampingku," ucap Zio gak mau kalah.
Adis mencebikkan bibirnya.
Zio dan Adis duduk di kursi kosong di dekat Dylan dan Abyan. Zia duduk dii samping Abyan. Zia duduknya tidak terlalu dekat dengan Adis.
Hidangan sudah tersedia, mereka hanya menunggu kedatanga Zio dan Adis pasangan baru yang baru jadian.
"Ayo di mulai aja makannya, berdoa dulu," ucap Zio sebagai pemimpin.
Selesai berdoa mereka memulai makan siangnya. Mereka makan dengan tenang tidak ada yang mengeluarkan suara saat makan.
Zio mengambilkan lauk pauk untuk kekasihnya di piring. Adis merasa tersanjung dengan perlakuan Zio. Zio yang dingin menurut cerita Adis tetapi malam ini tampak sangat hangat kepada dirinya.
Selesai makan siang, mereka berbincang-bincang sejenak.
"Zio, terimakasih untuk makan siangnya, lain kali giliran aku yang akan mentraktir kalian semuanya," ucap Dylan.
Dylan senang hari ini karena bisa berdekatan dengan gadis pujaan hatinya. Cinta yang lama terpendam akhirnya hari ini ia dapat bertemu dengannya.
"Sama-sama Dylan, senang bisa bekerjasama denganmu, jangan merasa kecewa ya Dylan, ini awal yang bagus untuk kita semua,"
Semua tersenyum, perusahaan Zio bisa saling bekerjasama dengan perusahaan sahabatnya, Dylan.