Pada suatu ketika, terlihat seorang pemuda dengan pakaian yang tak layak pakai sedang berjalan. Pemuda tersebut terlihat keletihan, entah mengapa pemuda itu seperti seorang yang belum makan berhari-hari. Karena dari tubuhnya, sudah terlihat sangat kurus kering, membuat siapa saja yang melihatnya merasa kasihan.
"mah, pah. Aku telah dewasa, ternyata benar apa yang kalian katakan dulu. Dewasa sangat tidak menyenangkan, banyak masalah yang ku pendam sendiri, dan aku sangat kesepian sekarang, tak ada teman maupun keluarga yang mau membantuku disaat susah kini," ucap pemuda tersebut didalam hati.
Berjalan tidak tentu arah, pemuda bernama asli Rifki Edrea kini singgah sebentar, dia berhenti sejenak untuk melepaskan rasa lelah habis perjalanan jauh. Walaupun dia tidak memiliki uang sekarang, tetapi rifki masih memiliki persediaan air dikantung celana nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RST, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Bekerja.
Mendengar penuturan Fraswa. Rifki sekarang memahami, bahwa dunia bisnis memang sangat kejam, apalagi kata di gembosi saat ini terngiang-ngiang di kepalanya.
Sesampai di sebuah gedung besar, Rifki lalu di ajak turun oleh Fraswa dari mobil. Tentu tidak melupakan sahabatnya yang lain, Tomi pun di ajak turun dari mobil.
"Sangat indah," gumam Rifki sambil menatap langit bangunan.
Ketika sudah berdiri tegak, mereka kemudian melangkah bersama dari depan pintu masuk menuju lobby kantor. Sejak mereka turun dari mobil, mereka selalu di perhatikan oleh staf di dalam gedung dengan tatapan tidak biasa.
Namun Fraswa yang terbiasa, ia hanya diam dan mengabaikan semua tatapan tersebut dengan wajah dingin.
"Fras. Apa ini benar gedung kantor lu asli?" ucap Tomi bertanya di dalam lift.
"Ya, memang benar! Ini memang benar kantor asli, apa lu kira ini hanya sebuah taman untuk bermain?" ucap Fraswa santai.
"Tidak begitu. Maksudnya, bukan itu! Lu sewa gedung ini atau memang asli di miliki oleh perusahaan lu menjadi asset?" tanya Tomi serius.
"Ya, bagaimana sudut pandang lu aja, apa lu pernah mendengar bahwa apa yang di pakai menyewa?" ucap Fraswa bertanya.
"Ting!"
Kala pintu lift terbuka, mereka bertiga lantas keluar dari dalam lift. Sesaat di luar lift, kini terlihat lorong panjang seperti di dalam gedung hotel sedang berisi pintu-pintu kamar hotel.
"Apa ini gedung hotel bro? Kenapa keluar dari lift seperti lorong begini?" ucap Tomi kebingungan.
"Bukan seperti bang. Tapi benar ini lorong!" ucap Rifki menerangkan.
"Biarkan rif, memang anak itu harus di ajari tata bahasa dengan benar!" ucap Fraswa.
"Memiliki makna bro, nanti di jelaskan! Tapi, mari kalian ikuti saya," ucap Fraswa lanjutnya.
Fraswa kemudian melangkah maju ke depan dengan tenang dan tatapan tajam. Setelah di sebuah ruangan bernuansa eropa dan klasik perpaduan, semuanya lantas terhenti.
"Ini ruangan direktur! Dan, kedua kanan kiri dari ruangan ini adalah CEO, sekertaris dan asisten!" ucap Fraswa menjelaskan.
"Kami paham tuan!" ucap Rifki sembari coba merubah panggilan Fraswa.
"Bagus! Saya suka mendengarnya," ucap Fraswa sambil tersenyum senang.
"br........." ucap Tomi terpotong oleh suara dari Fraswa.
"Panggil saya tuan," ucap Fraswa dingin.
"Mak........" ucap Tomi terhenti sembari tatap mata sahabatnya.
"Lihat situasi bang. Kini kita berada dimana dan apa status kita!" ucap Rifki mengingatkan.
"Maaf-maaf, saya lupa!" ucap Tomi sembari cengengesan.
"Baik, mari saya jelaskan kembali!" ucap Fraswa.
Sekarang ini, Fraswa menerangkan lebih dari banyak hal tentang perusahaan. Tempat di lantai di rekrut, visi misi perusahan, dan juga target yang harus di capai oleh perusahaan.
"Berat sekali tuan, saya berpikir ini bukanlah pekerjaan, namun siksaan dari anda!" ucap Rifki mengkritik.
"Gaji kalian di tambah, bagaimana?" tanya Fraswa.
"Berapa tuan?" ucap Tomi dengan semangat.
"Saya tidak mau, jika untuk membalas Budi anda setelah membelikan barang elektronik kemarin hari........." ucap Rifki terhenti sambil menarik nafas panjang.
"Saya akan bekerja selama 3 bulan tanpa di gaji oleh perusahaan. Sisanya saya inginkan lepas dari perusahaan anda, bagaimana tuan?" ucap Rifki bertanya dengan masam.
"Apa kau tidak ingin kerja di ruangan enak?" ucap Fraswa mengejek.
"Tidak! Saya lebih suka dengan waktu bebas dan darinya tersebut saya sering mendapat ide-ide brilian!" ucap Rifki tegas.
Setelah berucap, Rifki lantas di minta untuk mempertimbangkan segala tawaran Fraswa. Walau tawaran tersebut menarik, namun jika di minta dan harus selesaikan target besar dan jam kerja creazy tersebut.
Rifki memilih tidak mengambil, tetapi ia akan membalas Budi atas jasa Fraswa membelikan dirinya barang elektronik dan pakaian bagus.
"Tetap tidak tuan! Maafkan saya, walau nanti setelah 3 bulan dari ini, saya akan lepas dari perusahaan ini," ucap Rifki dari dalam hati.
"Yaudah, itu terserah anda. Mari kita mulai pekerjaan kita," ucap Fraswa sambil menghela nafas panjang.
Kecewa, marah, kesal. Fraswa rasakan saat ini, apalagi mendengar penolakan Rifki sesaat di beritahu segala macam target perusahan dan cara kerjanya.
Akan tetapi, ia bersyukur karena Rifki tidak lupa dengan kebaikannya. Ia kemudian itu, sekarang membawa mereka berdua ke satu ruangan bersama, dan memberikan mereka pekerjaan dengan kadar profesi mereka.
"Baik, disini kalian akan bekerja. Di meja ini sudah ada berkas, kalian dapat pelajari dan laptop ini akan menyimpan file-file penting dari hasil kerja kalian!" ucap Fraswa.
"Baik, saya paham tuan!" ucap Rifki dan Tomi bersamaan.
Setelah semua memahami, Fraswa kemudian pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang kini berada di sebelah ruangan kerjanya. Ia lalu duduk, ketika sudah berada di ruangan kerja miliknya.
"Tok! Tok!"
Terdengar suara ketukan dari luar pintu. Ia lantas meminta sang pengentuk untuk masuk ke dalam ruangan, setelah pintu terbuka lebar dari luar, terlihat seorang pria muda dengan pakaian formal menyapa.
"Selamat pagi tuan muda!" ucap pemuda itu.
"Pagi! Ada berita apa lix hari ini?" ucap Fraswa bertanya pada asisten pribadinya.
"Berita baik tuan, saya akan memberitahunya untuk anda!" ucap pemuda tersebut, bernama Felix.
...----------------...
"Bagaimana bro? Apa lu paham?" ucap Tomi sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Sedikit bang! Cuma sisa dari berkas ini tidak memahaminya!" ucap Rifki sambil tersenyum masam.
Niat hati ingin membalas Budi, kini ia berdua Tomi malah kebingungan sendiri. Kala sudah membaca semua file, dan beberapa berkas di atas meja kerja, ia lalu menatap Tomi yang dari tadi terdiam.
"B........" ucap Tomi terpotong oleh suara Rifki.
"Paham bang! Ini hanya pekerjaan kecil," ucap Rifki santai.
"Maksud lu? Coba jelaskan," ucap Tomi sambil berdiri dan berjalan mendekatkan diri ke Rifki.
"Begini bang! Ini adalah file yang di kirim oleh perusahaan-perusahaan lain, mereka berisi berkas-berkas lebih penting dari pada kertas ini," ucap Rifki sambil menarik berkas di meja kerja.
"Jika ini hanya berkas berisi ide dari staff,...." ucap Rifki sambil membuka berkas di meja.
"Tapi berbeda dengan ini, semua isi di dalam file ini ialah kerjasama antara perusahaan ini dan perusahaan lain," ucap Rifki menjelaskan.
"Ohh, lalu bagaimana mengerjakannya?" tanya Tomi sambil menatap Rifki.
"Kita baca, setelah memahami. Nanti beritahu direktur perusahaan, tentu kita harus berpikir lebih dulu, apakah layak di beritahu atau tidak isi di dalam file tersebut," ucap Rifki.
"Yaudah, sekarang sudah paham rif. Thanks, jika tidak ada lu, mungkin sekarang gua ini sedang merepotkan orang-orang disini!" ucap Tomi.
lanjut thor