Tentang Ulama, di benak Tumang ialah seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan. Tanpa sayu, parau dan Lelah memberikan nasehat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya. Seperti perkataan Malaikat Jibril, “Ulama adalah Pelita dunia dan akhirat.”
Selain berkelana mencari dambaan hati, Tumang juga selalu berusaha memperbaiki diri dan berusaha sabar, Ridha dengan apa yang di dapat dari karunia Allah serta selalu berbuat Kebajikan. InsyaAllah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Redup
Kaki yang terkena gesekan benda tajam tanpa alas itu tetap berjalan membawa tubuh Paijo. Tumang mempercepat jalan sambil melemparkan pandangan mencari tempat bersembunyi yang aman. Tiba- tiba, dia berhenti karena melihat Cahaya obor dari celah pepohonan.
"Tum, ada apa kok berhenti?" tanya Boy.
"Ya ampun, aku kok tulalit banget ya? Boy kan udah meninggal. Dia satu saung sama aku. Jadi Boy yang sekarang di belakang ku ini Boy siapa?" gumam Tumang.
Memutar tubuh melihat penggambaran Boy yang bertubuh gemuk. Boy menghilang di ganti tipuan angin kencang. Tumang yang cukup kelelahan dan ketakutan segera berlari dengan mempererat tangan meminggul tubuh Paijo.
"Paijo! Kamu kok diem aja sih?" kata Tumang yang semakin gusar.
Mereka melihat bayangan hitam di belakang pohon besar. Suara desiran angin semakin menyeramkan. Tumang dan Paijo merasa seperti terjebak dalam labirin kegelapan yang tak berujung. Namun, ketika mereka mendekati bayangan itu, mereka menemukan sesosok makhluk tak terlihat dengan mata manusia.
Mereka merasa nafas mereka tercekik oleh udara yang terasa semakin berat, seolah-olah ada sesuatu yang menekan mereka dari segala sisi. Suara-suara aneh mulai menggema di sekitar mereka, suara-suara yang tidak manusiawi, seperti desisan angin berpadu dengan raungan makhluk tak dikenal.
Paijo merasakan sesuatu merayap di kulitnya, seolah-olah ada ribuan serangga kecil yang bergerak di bawah permukaan kulitnya. Tumang mencoba menarik Paijo menjauh, tetapi kakinya seperti terjebak dalam lumpur hitam yang tak terlihat.
Seketika, langit yang sebelumnya gelap mulai berwarna merah menyala, memberikan sentuhan mengerikan pada pemandangan di sekitar mereka. Pohon-pohon seakan hidup, menjulurkan cabang-cabangnya yang tampak seperti tangan mencoba meraih mereka.
Paijo dan Tumang berusaha berlari menjauh dari kegelapan yang semakin mencekik mereka, tetapi seolah-olah tanah di sekitar mereka menarik mereka kembali, memaksa mereka untuk tetap berada di tempat yang sama. Setiap langkah yang mereka ambil terasa seperti melawan arus yang tak terlihat namun kuat.
Mereka mencoba untuk saling menarik satu sama lain, tetapi tangan mereka terasa lemah dan hampa, seakan kekuatan mereka telah dihisap habis oleh kegelapan itu sendiri.
Tiba-tiba, sebuah suara serak menggema di udara, menusuk telinga mereka dengan kekerasan yang membuat mereka merasa seperti terguncang dari dalam. "Kalian tidak bisa kabur dari sini," desis suara itu, suatu ancaman yang terasa begitu nyata dan mencekam.
Paijo dan Tumang merinding, hati mereka berdegup kencang dalam ketakutan. Mereka sadar bahwa mereka telah terjebak dalam permainan yang jauh lebih gelap dan mengerikan dari yang pernah mereka bayangkan. Tidak ada cahaya yang dapat menembus kegelapan ini, tidak ada harapan yang tersisa.
Sementara itu, Tumang terdiam, terpaku dalam ketakutan yang tak terlukiskan. Dia merasa seperti diambang jurang kematian, di dalam alam yang gelap dan mengerikan ini, tanpa ada siapa pun yang bisa membantu mereka.
Dalam keheningan yang mencekam, Tumang mendengar suara langkah kaki yang mendekat, langkah yang terdengar seperti getaran di dalam tanah. Dengan perlahan, sesosok bayangan muncul dari kegelapan, menghampiri mereka dengan gerakan yang lambat dan mengancam.
"Kalian telah mengganggu ketenangan kami," suara itu bergema melalui udara, menembus hati Tumang dengan ketakutan yang mematikan. "Kini kalian akan membayar harga yang pantas."
Tumang mencoba menarik Paijo yang pingsan menjauh, tetapi kekuatannya telah habis, dan tubuh Paijo terasa begitu berat baginya. Dia merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir, dihadapkan pada kengerian yang tak terbayangkan.
Seketika, cahaya merah menyala kembali memenuhi langit, menciptakan suasana yang semakin mencekam. Tumang merasa seperti tenggelam dalam gelombang ketakutan yang menghantui pikirannya, tanpa ada harapan untuk menyelamatkan diri.
Dengan gemetar, Tumang mencoba mengucapkan surah pendek yang dia ingat dengan sekuat tenaga. Suaranya terdengar gemetar dan terputus-putus, tetapi dia tetap bertekad untuk mengusir makhluk-makhluk jahat itu dari hadapannya.
Namun, reaksi makhluk-makhluk itu terhadap mantra itu tidak seperti yang dia harapkan. Mereka malah terlihat semakin marah dan ganas, seolah-olah bacaan surah itu hanya membuat mereka lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melampiaskan kemarahan mereka.
Tumang merasa keputusasaan merayap di dalam dirinya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Tubuhnya terasa lemah dan pikirannya dipenuhi oleh ketakutan yang tak terlukiskan.
Tiba-tiba, terdengar suara sayup dari kejauhan. Suara itu semakin mendekat, menjadi semakin jelas. Ternyata itu suara nyanyian yang tenang dan menenangkan. Dan entah bagaimana, suara itu membuat ketakutan dalam diri Tumang sedikit demi sedikit mereda.
Dengan perlahan, Tumang menemukan kekuatan untuk bangkit. Dia melangkah maju, membawa tubuh Paijo yang masih pingsan, menuju arah suara itu. Dan ketika mereka sampai di tempat asal suara itu, mereka melihat seorang wanita tua dengan wajah lembut sedang duduk di depan api unggun, menyanyikan lagu-lagu lawas yang penuh dengan kekuatan magis.
Wanita itu menoleh ke arah mereka, senyum lembut terukir di wajahnya. "Kalian dalam bahaya besar," katanya dengan suara yang lembut namun penuh dengan kebijaksanaan. "Tetapi jangan khawatir, kalian aman di sini. Tetaplah bersama saya, dan bersama-sama kita akan menghadapi kengerian ini."
"Tidak! Ini pasti tipu muslihat setan untuk menyesatkan manusia agar mempercayai mereka" batin Tumang.
Namun, dia sangat khawatir melihat Paijo. Tepukan dari belakang hampir membuat Tumang menjerit kencang. Nek Sirih mengagetkan, wajahnya mengerikan di celah bias Cahaya obor yang di pegang di belakang tubuhnya.
"Nek Sirih..."
"Kalian ngapain? Apakah kini kau mau jadi penghuni abadi pemondokan yang telah lama tidak berpenghuni ini?" ucap Sirih dengan mendengus.
"Tolong kami nek, teman ku ini pula sedang sakit."
"Kau yakin dia hanya sakit? Tidak kah kau lihat bekas cakaran ini akan mengantarkan nyawanya di lubang kematian?" Sirih mengamati luka Paijo yang semakin membusuk.
Tumang merasa kebingungan. Dia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Di satu sisi, dia ingin mempercayai Nek Sirih dan berharap bisa mendapatkan bantuan untuk menyelamatkan Paijo. Namun, di sisi lain, dia juga merasa ragu akan niat sejati Nek Sirih dan apakah mereka bisa benar-benar aman di tempat ini.
Sementara itu, Paijo semakin memburuk. Wajahnya pucat dan tubuhnya terasa semakin dingin. Tumang tahu bahwa mereka tidak punya waktu lagi. Mereka harus segera mengambil keputusan.
"Tolong, Nek Sirih," ucap Tumang dengan suara gemetar. "Kami butuh bantuanmu. Kami tidak tahu harus kemana lagi."
Nek Sirih mendelikkan matanya, tetapi kemudian dia mengangguk dengan lambaian tangan yang singkat. "Baiklah, ikuti aku," ucapnya dingin.
Tumang segera mengangkat tubuh Paijo yang lemas dan mengikuti langkah Nek Sirih. Mereka berjalan melewati pepohonan yang semakin gelap, diikuti oleh suara desiran angin yang menakutkan.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah pondok tua yang tersembunyi di dalam hutan. Pondok itu terlihat seperti telah lama ditinggalkan, tetapi masih terasa hangat dari api unggun yang menyala di depannya.
"Nek Sirih, apa ini tempat yang aman?" Tumang bertanya ragu.
Nek Sirih hanya mengangguk singkat. "Ini tempat yang terbaik yang bisa kubuat untuk kalian. Sekarang, kita harus berusaha menyembuhkan Paijo secepat mungkin sebelum terlambat."
Dengan hati yang penuh kecemasan, Tumang dan Nek Sirih membawa Paijo ke dalam pondok. Mereka tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menanti mereka, tetapi mereka harus tetap bersatu dan berjuang melawan kegelapan yang mengancam untuk mengambil mereka.
Balung seharusnya suruh dzikir saja biar nggak ketasukan setan atau apa gitu. jangan biarkan jiwa kita kosong apalagi saat kondisi kita dalam ketakutan seperti itu. Tukang dan teman teman seharusnya kalian baca surat pendek saja biar para setan nggak bisa mendekati kalian.
Maaf ya kak🙏😊💕
namun juga menegaskan bahwa kegelapan itu tidak terkalahkan. Selain itu, interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah lapisan kompleksitas pada cerita, dengan pembaca dibawa pada perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan keberanian yang tersembunyi. Kesimpulannya, komentar tersebut berhasil menarik perhatian pembaca dan membangun suasana yang mencekam.
Penjelajah pemberani yang menantang kegelapan memberikan dorongan pada narasi, namun nasibnya yang tragis menegaskan bahwa kekuatan jahat itu tidak terbendung. Suara-suara mengerikan yang menggema dari rumah tua yang terkutuk menambah lapisan ketegangan yang mencekam, sementara ketidakberdayaan warga desa yang terperangkap dalam cengkeraman kegelapan menciptakan atmosfer yang memicu adrenalin.
Interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah kompleksitas pada cerita, dengan kehadiran tokoh tua tersebut memberikan nuansa yang lebih dalam terhadap rahasia yang tersembunyi di balik kegelapan itu. Ketegangan mencapai puncaknya ketika suara gemuruh yang menakutkan kembali menggema, memotong keheningan malam dengan kekerasan yang menakutkan, meningkatkan ketidakpastian dan kecemasan pembaca.
Dengan setiap langkah yang diambil Butet dalam usahanya untuk melawan kegelapan, pembaca merasakan ketegangan yang semakin memuncak, sementara suara tawa jahat Kliwon dan pengikutnya menggema di antara bayangan-bayangan gelap, menambah ketakutan yang menyelimuti pikiran.❤️
Sirih harus benar-benar kuat untuk bertahan menghadapi semua ancaman yang muncul dari kegelapan. Di bab ini si Butet liat si nenek menapak di atas tanah nggak?