Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
This is just fiction.
••••••••••••••••••••••••••
Bola mata Navian bergetar, mental? Apa yang terjadi? Mengapa hal itu bisa terjadi pada Tiara, apa karena perlakuan buruk Vianna pada gadis itu atau ada hal lain yang membuat seorang gadis muda yang tak pernah melepaskan senyuman dari paras cantiknya.
Tak dapat dia pungkiri, senyuman Tiara memang manis, tak sedikit dia merasa lega kala melihat gadis bermata kecoklatan itu melukis senyuman indahnya. Lantas apa yang terjadi dengan Tiara, berulang kali Navian melihat perlakuan buruk Vianna pada Tiara, tetapi pria itu tidak pernah melihat perlakuan yang lebih buruk dari Vianna.
Kala itu Navian hanya melihat Vianna mendorong Tiara sampai terjatuh dan merebut barang bawaan Tiara. Begitulah serentetan pikiran Navian, dia mengeras dengan pemikirannya. Navian memiliki jiwa yang lembut, tetapi pria itu pun sangat tegas dan bisa bersikap dingin lebih tergantung mood dirinya.
"Rumah ini milik keluarga kandung Tiara, kamu sudah tahu kan kalau Vianna dan ibunya pergi ke Paris, karena rumah ini hanya boleh dihuni oleh Tiara, itu keputusan Papa, demi kebaikan Tiara, jika Papa tidak melakukannya Tiara bisa mati konyol di tangan mereka," jelas Ridzwan rahangnya mengeras.
Navian membulat, dia terkejut bukan main mendengar kata kematian dari mulut mantan mertuanya, tangan yang menyerana di dalam saku celana secara impulsif keluar dengan sendirinya, langkahnya mendekati Ridzwan.
"Maksud Papa?" tanya Navian bingung, wajah tampannya mendadak tak berwibawa. "Aku tahu dari Papa Marwan tentang rumah dan kepergian Mama Viara dan Vianna, tapi ... Kenapa Papa mengatakan kematian? Ada apa sebenarnya? Nav pikir Vianna hanya memperlakukan buruk Tiara sebatas mendorongnya saja," sambung Navian mengkerutkan dahinya.
"Itu salah satunya, asal kamu tahu Viara dan Vianna itu jahat, Papa pernah ingin membuang mereka karena menyiksa Tiara tanpa henti saat Tiara dan Vianna di bangku SMP, tapi Tiara menahannya, jika bukan karena Tiara mungkin saja Viara dan Vianna sudah Papa buang," keras Ridzwan menggebu-gebu.
Wajah Navian semakin mengkerut, tatapannya terlempar jauh ke bawah, pada punggung gadis cantik itu yang tengah menyantap makanannya bersama Iis, dia tersenyum bahkan berbincang-bincang dengan asisten rumah tangganya tersebut.
"Yang paling parah adalah saat Viara melukai tangan Tiara dengan setrikaan panas," celetuk Ridzwan tanpa ragu menceritakan salah satu kejadian buruk yang dilakukan mantan mertuanya pada Tiara.
Degh!
Hantaman keras mencabik diri Navian pada perasaan tak menyangka jika hal itu terjadi pada Tiara dan lebih mengejutkannya lagi adalah Viara, mantan mertuanya yang selalu berlaku manis dan hangat penuh kasih sayang yang melakukan kekejaman itu.
"Yang Papa katakan ini benar? Ke-kenapa? Apa salah Tiara?" tanya Navian semakin penasaran dengan sosok Tiara yang selalu menutup diri di hadapannya.
"Iis adalah penyelamat Tiara dalam kondisi apapun, dia tidak pernah memedulikan ancaman atau perlakuan buruk Viara padanya, dia selalu membantu Tiara, yang menyarankan Papa untuk pasang cctv tersembunyi di ruangan ini pun Iis, rumah ini milik orangtua Tiara, Viara dan Vianna tidak punya hak apapun atas rumah ini," jawab Ridzwan, dia tidak memberikan jawaban apa yang dipertanyakan Navian.
Pria berambut tipis klimis itu menjelaskan hal lain yang membuat Navian kembali berpikir, dia pasati punggung gadis cantik di bawah, Tiara yang terduduk bersila di atas kursi meja makan besar di bawah kentara tertawa bersama Iis.
Ridzwan mengamati tingkah putrinya dari atas, saat melihat kaki Tiara naik ke atas kursi wajahnya berubah drastis, dia mengkerut tidak senang dengan perangai putrinya itu, Ridzwan menggeleng yang kemudian berkacak pinggang.
"Aduh itu anak kebiasaan, suka naikkan kaki kalau makan, itu tidak boleh, ketahuan kakeknya bisa kena ceramahan satu keturunan," gerutu Ridzwan.
Tubuh pria itu condong ke depan, menjadikan pembatas lantai dua-nya sebagai penopang tubuhnya yang memiliki bobot lebih dari 70kg. "Tiara ...," panggil Ridzwan dari atas.
Seketika Tiara yang hendak memasukkan buah apel yang telah dikupas dan dipotong kecil-kecil oleh Iis lekas menoleh, sorotnya langsung terbenam pada tatapan serius yang dilontarkan oleh Ridzwan, tanpa harus mengatakan apapun lagi, Tiara dengan cepat melelehkan kakinya dari atas kursi.
"Iya Pa ... Maaf," ucap Tiara tersenyum manis sembari membenamkan satu buah apel kecil ke dalam mulutnya.
"Bagus, jangan lakukan itu lagi ya Nak, kakek nanti marah," sahut Ridzwan dari atas.
"Iya Pa ...." Tiara memutar tubuhnya, menegakkan punggung dan kembali menyantap makanannya dengan rapi, layaknya para bangsawan menyantap makanannya.
Embusan lembut terurai dari mulut Ridzwan seiringan dengan tubuhnya yang kembali tegak berdiri dengan kokoh di kakinya sendiri. "Tiara tidak boleh berlaku tidak sopan seperti itu karena harus dibiasakan sebelum pertemuannya dengan kakeknya nanti," papar Ridzwan kemudian pada Navian yang masih setia bersamanya.
"Kakek? Papa kenal dengan keluarga Tiara yang sesungguhnya? Terus jika Tiara ada keluarga yang masih memperhatikannya, kenapa Papa yang mengurusnya, jika itu terjadi mungkin Mama Viara dan Vianna tidak akan berlaku seperti itu?" seru Navian mengurai apa yang dia pikirkan.
Ridzwan mendengkus, dia tersenyum sambil mengusap lembut lengan kekar Navian. "Kamu tidak mengetahui ya Nav, karena Vianna dan Viara memang tidak pernah peduli dengan keluarga Papa, mereka hanya memedulikan uang, harta dan kehidupan nyaman yang Papa berikan, Tiara itu ... Putri pertama dan juga cucu pertama dari keluarga Alexander Viozeta, yang artinya Tiara anak kandung dari Kakak Papa Kak Mazwan Alexander Viozeta."
Mendengar penjelasan Ridzwan, mulut Navian terbuka beberapa saat, dia terbelangah dengan penjelasan Ridzwan, tak pernah dia sangka ternyata Tiara memang bukan sekedar anak angkat bagi Ridzwan melainkan keponakan yang menjadi tanggungjawabnya mengganti posisi kakak kandung untuk menjadi orangtua Tiara.
"A-apa? Jadi Tiara itu keponakan Papa?" tanya Navian sekali lagi memastikan jika telinganya tidak salah mendengar kebenaran itu.
"Tentu saja Nav, Kak Mazwan itu orang baik, dan itu terlihat di dalam diri Tiara, kebaikan orangtuanya melekat di dalam putri Papa itu, seperti yang Papa katakan tadi, jika Viara dan Vianna tidak pernah mengetahui kebenaran ini karena mereka tidak peduli, bahkan pertemuan besar keluarga Papa pun mereka tidak pernah ingin datang," terang Ridzwan lagi.
Navian menghela napasnya yang berat, kedua tangannya dia gantung di pinggang berototnya. Sementara Ridzwan bergeming di samping, sorotnya lurus ke depan, dia terantuk pada memorinya yang mengingatkan sebuah kejadian di mana pertemuan keluarga besar Alexander Viozeta beberapa waktu lalu, tepatnya sekitar satu tahun yang lalu.
Keluarga besar Alexander Viozeta adalah pemilik perusahaan Destiny Property Corporation atau lebih sering dikenal dengan nama perusahaan DPC group, di bawah perusahaan induk DPC ada lima anak perusahaan yang tak kalah besarnya.
Salah satunya adalah perusahaan Redz Corporation yang dipegang kendali oleh Ridzwan, dan perusahaan induk DPC group sebelumnya dikuasai oleh Mazwan Alexander Viozeta, sang pewaris tahta DPC group.
Redz corporation sendiri telah memisahkan diri saat Ridzwan memutuskan menikahi Viara kala itu, Wirawan sungguh tidak menyukai Viara, tetapi dia sangat mencintai putranya, maka jalan ini yang dia tempuh, agar tidak ada masalah di kemudian hari.
DPC group merupakan perusahaan properti raksasa di seluruh Indonesia dan di negara lain, tepatnya di Paris, Prancis. Menjadi perusahaan properti nomor satu di dua negara menjadikan keluarga ini sangat disegani, harapan keluarga Alexander Viozeta adalah Tiara dan hanya Tiara, tidak ada yang lain.
'Kamu mau kumpul keluarga besar kamu Pa, aku dan Vianna gak ikut ya, keluarga besar kamu itu terlalu sombong, banyak aturan, gak boleh ini, gak boleh itu, menjengkelkan tahu gak, aku mau shopping sama Vianna, bawa aja tuh si Tiara anak pungut kesayangan kamu.'
'Kenapa kamu selalu seperti itu, kamu harus tahu fakta tentang Tiara di dalam kehidupanku dan dalam kehidupan keluarga besarku.'
'Aku tidak peduli, cepat kasih kami uang, sebagai denda karena kamu lebih memilih bertemu keluarga besarmu yang sombong itu.'
Ridzwan terbuncang, setiap kali Viara mengatakan keluarganya sombong hanya karena setiap mengadakan acara makan-makan besar keluarga, pimpinan utama DPC group yang bukan lain ayah dari Mazwan dan Ridzwan selalu menerapkan tata cara makan yang harus dijalankan oleh seluruh keluarga Alexander Viozeta.
'Didik istri dan anak kamu untuk menjadi bagian Alexander Viozeta, dan Tiara, jaga dia dengan baik, jika Tiara terluka maka papi yang akan turun tangan untuk mengatasinya, sayangi dia sebagai anakmu sendiri, karena dia bukan orang lain, dia satu-satunya keponakanmu dan cucu pertama Papi.'
Ridzwan mengangguk-angguk, membuat Navian heran, apa yang membuat Ridzwan mengangguk, apa yang sebenarnya dipikirkan mantan mertuanya itu, tetapi Navian tidak berani berucap atau mempertanyakan hal itu, hal itu sangat lancang, pikir Navian demikian.
"Pa ...," panggil Navian lembut di samping kanan Ridzwan.
Mata Ridzwan mengerdip, tubuhnya mengarah pada Navian. "Kenapa Nav? Kamu mau pulang? Cepet banget kamu main ke sini," sahut Ridzwan.
"Iya Pa, soalnya Nav harus segera kembali ke kantor," jawab Navian meraih tangan Ridzwan, dikecupnya punggung tangan Ridzwan. "Jangan lupa datang ya Pa, ke acara aqiqah dan marhaba Ansel, kemungkinan empat hari dari sekarang Pa," imbuh Navian kemudian.
Ridzwan mengangguk, melontarkan senyuman manisnya. "Iya Nav, nanti Papa pasti datang sama Tiara, semoga Tiara enggak lagi kuliah ya, Tiara itu sangat menyukai belajar, makanya nilainya lebih tinggi dari Vianna, dia itu kalau udah belajar suka lupa waktu," jawab Ridzwan.
"Euum ... Ya udah Pa, Nav pulang dulu," pamit Navian melenggang menuruni undakan di sana, sampai dia tiba di lantai satu.
Di tengah-tengah ruangan, Navian terhenti dan meraba saku celananya, dia mengingat suatu hal. Sebelum datang ke rumah Tiara, pria itu sempat membeli ginseng merah yang selalu dia konsumsi untuk mempertahankan stamina tubuhnya.
Navian beralih dan berayun ke dekat Tiara, berdiri di samping gadis yang tengah membalas pesan seseorang di ponselnya. Bayangan Navian menyembul dan menjadi hidangan keterkejutan yang hebat di mata Tiara.
Perlahan gadis itu menoleh pada Navian sembari mengunyah apel yang baru saja di masukkan ke dalam mulutnya, matanya terkatung melihat Navian berdiri di dekatnya, dia telan ludahnya dengan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Navian.
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe