Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Sekutu Rasa
Bab 20 Sekutu Rasa
"Lakukan, Aidam!"
Gerakan cepat Gauri menangkap pergelangan tangan Aidam dan mengarahkan ke perutnya.
"Jika kamu puas dengan semua rasa sakit yang kamu torehkan. LAKUKAAAAN!!!" sentak wanita yang menekan ujung pistol lebih menusuk ke perutnya.
Kedua tangannya semakin mengerat di pergelangan pria yang mengerjapkan matanya.
Kepalanya berdenyut seperti mendengar dengungan peluit panjang memekakkan telinga.
"Gauri ...."
Dia menggeleng setelah nama terucap dari mulutnya yang bergetar. Genggaman pada pelatuk melemah, tapi tekanan yang dilakukan istrinya itu tak jua memberi kelonggaran.
"Jangan sebut namaku dengan mulutmu yang menjijikan itu!!!" sentak Gauri melemparkan pistol itu ke lantai.
Dia terhuyung dan dengan cepat Aidam merengkuh tubuh yang sangat dirindukan sekaligus dibencinya.
"Maaf ...."
"Bicarakan masalah kalian di dalam. Aku akan kembali, Gauri. Kamu akan aman berada di sisi suamimu. Patuhlah!" Kenzie mengusap kepala Gauri yang berada dalam pelukan suaminya.
"Gauri berbagi ASI denganku sewaktu bayi, itu faktanya, Aidam. Jelaskan semuanya pada istrimu!" ucapnya melangkah pergi setelah menepuk pundak Aidam.
Gauri mendorong dada Aidam kasar. Wanita itu terisak saat tubuh pria itu tak merenggang sama sekali.
"Lepas!" sentaknya sedikit meronta.
"Maaf ...."
Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan pria yang mulai berembun sudut matanya. Berjarak dengan seorang yang tak sadar telah disakitinya itu membuatnya berada dalam palung penyesalan terdalam. Semua kenyataan yang diungkap oleh video di dashboard mobil saat dalam perjalanannya tadi belum sampai pada fakta pribadi Kenzie.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa???" teriak Gauri semakin kuat memukuli Aidam yang belum memberi jarak.
"Nak ... sebaiknya kalian masuk dulu ke kamar. Silakan! Agar lebih nyaman membicarakan masalah kalian tanpa kami dengar." Abah yang sejak tadi melihat bagaimana Aidam mengarahkan senjata ke kepala putranya itu angkat bicara.
Aidam hanya meresponnya dengan anggukan. Tanpa melepaskan pelukan pada istrinya, dia membawa tubuhnya masuk ke kamar Kenzie di rumah itu. Mendudukkan Gauri di tepi ranjang lalu berjongkok di depannya.
"Sayaaang ... maafkan Papa ... hm? Kamu baik-baik saja di sana?" ucapnya lembut mengusap perut Gauri yang masih rata.
Wanita pemilik perut itu kembali menitikkan air mata hingga jatuh di punggung tangan Aidam.
"Mama membawa mu jauh dari, Papa? Maafkan Mama dan Papa ya, Sayaaang? Papa janji! Setelah hari ini, Mama nggak akan menangis, kamu akan selalu tersenyum, hm? Baik-baik di dalam sana sampai keluar jadi junior Papa yang lebih kuat seperti Mama, ya?"
"Jangan seperti ku! Aku sama sekali tidak pernah punya kekuatan. Aku rapuh dan menyedihkan. Anakku nggak boleh jadi sepertiku." sahut Gauri menyingkirkan tangan Aidam dari perutnya.
"Pergilah ... kita akan bercerai secepatnya, Aidam ... setelah ini kita tak akan ada hubungan apa pun! Bukankah anak ini bukan anakmu, heu?"
Gerakan Gauri menaikkan kakinya ke atas ranjang membuat Aidam jatuh terduduk di lantai. Dia terdiam mendengar ucapan istrinya yang dingin dan terasa berbeda baginya.
Tak akan pernah ada seorang wanita bersuami yang mau dituduh hamil dari orang lain. Menyakitkan. Tak akan pernah bisa sembuh dengan kata maaf. Meninggalkan bekas luka sepanjang usianya. Pasti.
Gauri merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Berbaring miring memunggungi Aidam yang masih mematung di tempatnya. Beberapa menit bertahan di posisi masing-masing dalam kebisuan.
"Selama ini aku dan kamu sama, Gauri ... berpuluh tahun belum bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Aku, kehilangan Mama dengan cara tragis. Tak pernah kutahu ternyata Papa bukanlah Papa kandungku. Dia Sadino bukan Sadana. Mereka kembar, dan aku tak bisa menerima kenyataan itu hingga sekarang. Besok Papa Sadana keluar dari penjara. Aku akan ... bertanggung jawab atas kematian Ayah dan Bunda. Demi anak kita."
"Agar aku memaafkanmu? Agar aku tetap jadi obsesi terbesarmu? Agar aku tak dimiliki orang lain? Kamu gila Aidam! Cintamu sungguh menyakitiku! Membuatku membenci dan mencinta sekaligus. Lepaskan ... mari kita berpisah, Aidam ...."
Aidam berdiri dan memutari ranjang. Naik dari sisi lain ranjang. Tidur miring menghadap Gauri. Single bed membuat posisi keduanya sangat dekat. Aidam memeluk Gauri yang menghindar dengan berbalik kembali memunggunginya lagi. Tak menyerah pria itu melingkarkan lengannya di perut dan mendaratkan kepala di ceruk leher Gauri.
"Diamlah ... sebentar saja biarkan aku memelukmu, mungkin terakhir kalinya."
Mengerti wanita yang masih menyandang gelar istri itu sedikit meronta, dia mencegahnya. Tangan di perut itu mengelus pelan. Satu kecupan mendarat di pipi ber-dimple dan setetes bulir membasahinya.
"Aku akan mati tanpamu, Gauri ...." ucapnya lirih hampir tak terdengar.
"Beri tahu aku bagaimana aku bisa hidup tanpamu. Sedangkan kamu adalah nyawaku--"
Gauri bergeming tak mau terlarut dalam satu rayuannya, lagi. Hatinya terus menepis semua desiran yang mengalirkan buncah bahagia itu. Tapi saraf dengan hormon bahagianya telah meningkat menimbulkan sedikit rekahan di bibirnya. Tipis, sangat tipis tak terlihat.
'Aidam ... rasa cinta ini lebih menyakitkan saat tak bersamamu. Di sampingmu luka ini kembali berdarah. Harus bersikap bagaimana diriku pada sekutu rasa ini?'
...***...
^^^Bersambung dulu ya ....^^^
^^^Semoga besok bisa double atau triple up 🙏^^^
^^^Terima kasih,^^^
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣