"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 21
"Enjoy your day, Hanin. Aku kerja dulu!" seru Siska. Aku hanya terkekeh geli, bestie-ku satu itu emang unik dan perhatian.
Dan setelah Siska berlalu, aku masuk dan merapikan berkas yang akan aku gunakan untuk melamar kerja. Ini masih hari jum'at, itu artinya masih sisa dua hari untuk menikmati waktu dengan berkeliaran sebelum sibuk menjadi budak corporate.
Sagara, laki-laki itu tak lagi menghubungiku sejak kemarin. Mungkin karena perkenalan singkat kita hanya angin lalu. Namun, entah kenapa perasaanku malah jadi aneh mengingat kita pernah dekat meski sekedar curhat.
'Mbak, pabrik heboh kamu kabur sama Pak Firman. Mbak Hanin gimana kabarnya?'
Pesan dari Nadia membuatku menghela napas, bisa-bisanya mereka bergosip seperti itu hanya karena Mas Firman ke Kalimantan.
'Biarin aja, itu hanya gosip, Nad. Aku di Jakarta kok.' balasanku, tentu karena aku percaya Nadia tak akan ember kemana aku pergi.
Tak berselang lama, panggilan video call masuk. Nadia benar-benar penasaran, apakah aku bersama Mas Firman atau tidak.
"Mbak, ihhh. Aku pengen nyusul, kamu beneran di Jakarta kan?"
"Iya bener, nihhh!" aku mengubah setelan panggilan ke layar belakang untuk menampilkan kos-ku saat ini.
"Udah percaya kan?" Aku tersenyum melihat Nadia yang malah merengek.
"Pengen ikut, ada lowongan gak ya, Mbak?" harapnya.
"Belum tau, Nad. Tapi aku punya jurus orang dalam, beliau bilang boleh masuk lagi ke perusahaan milik papanya!"
"Kabarin kalau udah sukses, Mbak. Pengen rasain kerja di Jakarta. Siapa tahu, dapat duda kaya raya."
Aku mendelik, "ya kali jauh-jauh dari kampung pulang nikah sama duda. Tuh, Mas Firman duda juga, Nad." Aku tertekeh saat melihat ekspresi Nadia berubah masam.
"Laki-laki kaya Pak Firman gak cukup dengan satu wanita!"
Aku semakin tertawa, apalagi saat melihat wajah garang itu berada di belakang Nadia seraya berkacak pinggang. Kapan laki-laki itu pulang ke Bandung?
"Kamu ngomongin saya, Nad? Mau saya potong gaji kamu."
Nadia mendelik, "udah dulu ya, Mbak. Ketahuan tak kirain Pak Firman masih nyari prawan kalimantan! Jangan-jangan dia pulang lewat pintu doraemon."
Nadia hendak mematikan sambungan teleponnya sebelum Mas Firman merebut ponsel dan kini menatapku lekat lewat layar benda pipih itu.
"Kamu sehat kan, Nin?"
Hah? Aku mengerjap, suara berat itu membuatku merinding sebadan-badan.
"S-sehat, Mas!"
Lalu helaan napas lega menyambutku, sampai-sampai suara cempreng Nadia membuyarkan keterdiaman kami.
"Nad, pelit banget. Nanti saya beliin kuota," rayu Mas Firman.
"Percuma, Pak. Buat apa, pacar aja gak punya!" sewot Nadia.
Hal itu tentu membuatku merindukan kebersamaan singkat kita di Bandung.
"Nin, telepon aku, ya?" pintanya melembut diiringi senyum.
Sial, punya pelet apa laki-laki itu.
"Aku lagi sibuk, Mas. Belum beberes, bahkan belum mandi!"
"Astagaaaa, biasanya jam segini kamu udah sampai pabrik loh, udah modis dan udah modus!"
"Kapan aku modus?" Mata ini sampai menyipit.
"Boleh gak aku bilang, kamu berhasil nyingkirin Marsya!"
Wajahku menegang, nggak, dan bukan itu.
"Siapa bilang?"
Tut...
Panggilan itu terputus seiring helaan napas kasarku. Sialnya, aku jadi kepikiran.
***
"Nin, sini?" Gara melambaikan tangannya. Diantara sekian banyak cafe di Jakarta, kenapa kita harus bertemu di cafe yang sama. Dia bahkan bersama wanita yang kulihat dari belakang gesturnya, pasti cantik.
Wanita itu ikut menoleh dan tersenyum padaku, "ajak kesini, Gar!"
Mendadak, kakiku diam di tempat seolah tak ada tenanga untuk sekedar melangkah sampai meja.
Gara menghampiriku, menarikku agar ikut bergabung dengannya.
"Nah, Mah. Ini Hanin, kekasihku!" Aku Gara membuat diri ini seketika syok dan ingin pingsan rasanya.
"Cantik, Mas."
Apa tadi? Mah, Mas? Atau jangan-jangan mereka ini suami istri? Tapi wanitanya lebih tua walau masih sangat cantik dan modis.