NovelToon NovelToon
Tentang Kita

Tentang Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Cintapertama
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: nurlina_lina

Keisya Amora, gadis cantik berambut panjang hitam. memulai hidup sendiri di kota Bogor, meninggalkan semua masa lalunya. termasuk rumah mewah, dan orang tuanya.
dengan awal hidup baru, keisya bertemu dengan Evan Mahendra, laki-laki yang hidupnya penuh dengan misteri.

Akankah Keisya dan Evan akan bersatu layaknya pasangan lain sampai menikah?
Bagaimana perasaan Keisya setelah mengetahui hidup Evan yang sebenarnya?
Baca terus kisah Keisya dan Evan, dijamin seru. karena disetiap episodenya akan membuat kalian penasaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurlina_lina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan

Keisya terkesiap melihat Evan melakukan itu, Evan yang tiba-tiba saja jadi begitu sangat marah. Terlebih saat melihat sekujur tubuh Evan menegang.

Namun tampaknya apa yang dilakukan Evan tidak membuat pria itu merasa terintimidasi.

"Ups. Bukan keduanya?" Pria itu masih senang memprovokasi dengan senyuman aneh di wajahnya.

Evan mendekatkan wajahnya ke telinga pria bertato itu. "Lepas atau saya bisa buat tangan anda patah."

"Oke," pria itu menjawab dengan santai seraya melepaskan tangan Keisya dan mundur setelah Evan melepaskannya.

Keisya yang masih tidak mengerti kondisi macam apa yang sedang terjadi hanya bisa diam dan memperhatikan. Evan terlihat tidak tenang setelah bertemu dengan pria bertato tadi yang Keisya simpulkan adalah musuhnya, entah karena alasan apa.

Dengan keras Evan membanting pintu mobilnya setelah masuk, menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan cepat di jalan. Keisya tidak bisa berkata-kata, bahkan saat Evan melajukan mobil ke arah yang berlawanan dari rumahnya.

Sambil melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, berulang kali Evan melihat ke kaca di atas dashboard. Sebuah van hitam mengikutinya sejak dari restoran. Van hitam itu semakin menambah kecepatannya saat mereka lewat di jalanan sepi dan mulai memasuki daerah dengan banyak pepohonan besar di kanan dan kiri jalan.

"Evan, kenapa kita di kejar?" Keisya tidak bisa menahan diri lagi.

Tanpa menjawab Evan membanting stirnya ke sebelah kiri memasuki jalanan hutan yang kecil dan tanpa penerangan. Van hitam itu masih mengikutinya masuk ke dalam hutan gelap yang jauh dari pemukiman.

"Apa itu orang yang tadi?" Tanya Keisya yang mulai panik. Kenapa Evan malah melarikan diri ke tempat yang sepi? Keisya mengaduk isi tasnya dengan panik untuk mengambil ponsel. "Orang jahat? Apa kita harus polisi?" Keisya berusaha menekan nomor darurat dengan tangannya yang bergetar.

Memanggil polisi? Evan mendesah frustasi, itu adalah hal yang buruk. Dia menggeleng dengan cepat lalu meraih ponsel yang ada di tangan Keisya. "Biar aku yang tanganin," katanya dengan yakin.

Setelah berada jauh di dalam hutan Evan menghentikan mobilnya. Dia melihat Keisya yang duduk di sampingnya terlihat jelas gadis itu ketakutan.

"Setelah aku keluar, kamu kunci pintunya," kata Evan dengan tergesa seraya membuka sabuk pengamannya. "Jangan keluar dari mobil dan sembunyi di kursi belakang," peringat Evan dengan tegas. Evan benar-benar berharap Keisya akan menurutinya.

Sebelum Evan pergi keluar Keisya mencekal tangan pria itu.

"Kamu mau kemana? Kamu mau ngapain?" Keisya kebingungan dengan apa yang dilakukan Evan. Di saat mereka harusnya menelpon polisi, Evan tidak melakukannya. Di saat mereka harusnya pergi ke te tempat yang banyak orang untuk meminta bantuan, Evan malah masuk ke hutan yang gelap dan sepi.

Evan melepaskan tangan Keisya yang bergetar dan dingin. "Kamu bisa turutin apa yang aku bilang barusan? Aku harus beresin mereka."

Ucapan Evan tidak bisa Keisya mengerti.

"Sendirian?" tanya Keisya memastikan. Dilihat dari bentuk mobil yang mengikuti mereka di belakang. Keisya merasa akan ada banyak orang yang keluar dari mobil itu.

Dan Evan mengatakan dia akan menanganinya sendirian?

"Iya."

Setelah menjawab dengan tegas, Evan keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras. Seperti yang Evan katakan, Keisya memastikan semua pintu dan jendela mobil terkunci lalu pindah ke kursi belakang untuk bersembunyi.

Van hitam yang tadi mengikuti sudah tiba. Evan menyambut mereka, berjalan ke belakang mobil dengan tenang tanpa merasa takut. Begitu berhenti, sekitar delapan orang berbaju hitam keluar dan langsung menyerang Evan tanpa basa-basi.

Di dalam mobil Keisya menutup mata dan telinganya. Namun, keributan di luar terdengar menakutkan. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Keisya memaksakan diri untuk melihat apa yang terjadi di belakang mobil. Matanya membulat saat melihat ada banyak orang mengerikan menyerang Evan dari berbagai arah dan beberapa dari mereka memiliki senjata tajam.

Sementara di luar, Evan berusaha bertahan meskipun dia sudah kalah secara jumlah. Seseorang mengunci leher Evan dari belakang dan menariknya kuat berusaha membuat Evan lemah, Evan melepaskan kuncian leher itu sambil menendang orang dari depan yang hendak menghujamkan senjata tajam ke arahnya.

Dengan kaki panjangnya Evan menendang si penyerang di depan lalu bergerak cepat memberi pukulan untuk orang yang mengunci lehernya di belakang dengan siku. Pukulan itu berhasil membuatnya lemah selama sepersekian detik, Evan mengambil kesempatan secepat mungkin untuk menarik pria itu lalu membantingnya ke depan.

Perlawanan belum berakhir sampai di sana, seseorang lain dari belakang memukul keras punggung Evan dengan sebatang kayu membuat tubuh Evan melengkung ke belakang saat menerima pukulan keras itu. Berusaha menahan rasa sakitnya, Evan segera berbalik lalu melakukan tendangan bawah pada orang yang memukulnya dengan kayu sampai pria itu ambruk, Evan langsung menginjak dadanya dengan brutal.

Keisya masih melihat semua itu dari dalam. Sekarang hanya tersisa dua orang di luar sana yang masih melawan Evan. Salah satunya bersenjata tajam. Hanya melihat itu membuat Keisya benar-benar merasa takut dan ingin segera keluar dari situasi ini.

Keisya jelas ketakutan. Namun entah keberanian dari mana, Keisya akhirnya membuka pintu mobil dan keluar diam-diam ia berniat mencari sebuah batang pohon yang cukup keras untuk memukul orang yang melawan Evan dari belakang saat lengah.

Keisya mengendap ke belakang mobil. Enam orang sudah terkapar dengan luka di sekitar kepala dan wajah. Sementara dua orang masih berusaha berhadapan dengan Evan yang terlihat mulai kelelahan hingga tidak berhasil menghindari pukulan beberapa kali.

Dengan satu tendangan Evan berhasil membuat orang yang memegang senjata terjatuh. Evan mengambil sebuah pisau yang terlempar ke dekatnya lalu menghujamkan pisau itu tepat di kaki orang yang baru saja di jatuhkannya.

Satu orang lain yang masih bertahan akhirnya menyerah untuk melawan Evan tanpa senjata. Orang itu melihat sekitar dan mengambil pisau dari tangan rekannya yang sudah terkapar. Memegang pisaunya dengan kuat lalu mengangkatnya tinggi-tinggi bersiap menusukan pisau itu ke jantung Evan begitu Evan berbalik.

JLEB!

Pisau itu berhasil menusuk tetapi bukan pada Evan seperti yang direncanakannya. Melainkan pada seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di tengah mereka dan menghalangi pisau itu untuk Evan.

"Keisya."

Evan terkejut mendapati Keisya di hadapannya, menghalangi pisau yang pasti sudah mengenainya jika tidak ada gadis itu di sana. Saat orang itu akan mendorong pisaunya lebih dalam, Evan menangkap pisaunya dengan tangan kosong, menahannya tanpa ragu membuat pisau itu tidak bisa bergerak.

Darah mulai bercucuran dari tangan kiri Evan mengenai baju Keisya. Gadis itu mulai merasa sakit di belakang punggungnya yang tertancap pisau. Dia berusaha bertahan dan meremas baju Evan.

Evan menyadarinya, Keisya yang kesakitan. "Tahan sebentar dan pindah ke belakang aku dalam hitungan ke tiga," kata Evan tanpa mengalihkan pandangan dari pria di depannya. "Satu ... Dua ...."

Evan langsung mendorong pisau itu dari tubuh Keisya, bergerak cepat membuat Keisya bersembunyi di belakang tubuhnya lalu segera mengambil kesempatan untuk menjatuhkan pria terakhir. Keisya langsung ambruk sementara Evan terus menyudutkan pria itu sampai membuat tubuhnya menghantam bagian belakang van hitam itu.

Dengan memberikan pukulan keras di tangannya Evan berhasil menjatuhkan senjata. Secepat kilat Evan mengambil pisau yang terjatuh untuk digunakan melawan pria terakhir dengan menusuk bagian perutnya berulang kali.

Setelah pria itu tidak lagi perlawanan, Evan akhirnya berhenti. Napasnya terengah, ia langsung berbalik dan melihat Keisya yang terduduk di belakang sana, posisi gadis itu membelakanginya hingga Evan bisa melihat dengan jelas darah dari luka tusukan itu mewarnai bajunya.

Evan menghampiri Keisya dengan dengan frustasi dengan pisau yang masih ada di tangannya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Membunuh Keisya?

1
Ramlah Usman
seram pembunuhan berantai 😱
Zona Cell
lagi seru serunyaa ,❤️‍🔥
Zona Cell
plis lanjutt, ngegantung bgt ceritanyaa thor
Zona Cell
semangattt thor💪
Zona Cell
thor lanjut
Nita Nita
ud lama bgt apa ud selesai ya
Anawahyu Fajrin
Thorr,,udah lamaaaaaaaaa banget belum Up. sediiiiiihhhhh,,,
ANISA NUR OKTAVIANI
ko gak up lg thor, keren crita y, lanjut dong crita evan & keysha y.
Anawahyu Fajrin
Thooorrr,,,kenapa belum Up Thorr😭😭😭
Anawahyu Fajrin
semangat Up ya Thor,,. dari kemarin bolak balik kesini. nunggu Author Up.
Anawahyu Fajrin
Ooohhhh,,,tidaaaaakkk,,
Anawahyu Fajrin
Horeeee,,,ada Evan😍😍
Anawahyu Fajrin
OMG
Anawahyu Fajrin
Cinta itu berat😭😭
Anawahyu Fajrin
ini emang sakit Keysha
Anawahyu Fajrin
ditunggu Up nya Thor,,semangat,,
Anawahyu Fajrin
aku ikut nangis. meskipun yang dilakukan Evan untuk kebaikan Keysha. tapi ini menyakitkan./Sob//Sob/
Anawahyu Fajrin
itu namanya C I N T A bang,,
Nita Nita
waduh
Anawahyu Fajrin
aku udah ga' bisa komen apa2 lagi Thor,,,. karyamu sangat bagus.❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!