Aluna terpaksa menikahi muridnya bernama Keenan. Seorang siswa yang terkenal nakal di sekolah tempatnya mengajar.
Semuanya berawal saat keduanya kepergok warga ketika berteduh di sebuah gubuk dekat hutan lindung. Aluna dan Keenan dipaksa menikah karena kedapatan berpelukan.
Pernikahan keduanya harus disembunyikan hingga Keenan lulus sekolah.
Bagaimanakah mereka akan menjalani rumah tangga, jika keduanya berbeda prinsip dan gaya hidup?
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Like dan koment. 💓💓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kepercayaan Yang Hilang
Salah satu hal yang paling kutakutkan di dunia ini adalah dibohongi. Sebab aku tahu sedang dibohongi oleh seseorang, berarti sebelumnya aku sudah memberikan beberapa kepercayaanku padanya. Saat aku tahu bahwa faktanya apa yang aku terima berbeda dengan apa yang diucapkannya, maka saat itulah rasanya sulit meyakinkan diriku untuk percaya lagi.
***
Setelah membasuh wajahnya Aluna keluar dari kamar mandi. Dia mengambil bubur dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan tanpa suara wanita itu menyuapi Keen. Dia tahu saat ini istrinya pasti masih marah.
"Maafkan, aku," ucap Keen pelan.
"Maaf untuk apa?" Aluna bertanya, membuat Keen jadi serba salah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Keen menarik napasnya untuk menghilangkan kegugupan.
"Maaf untuk semuanya yang membuat kamu marah. Aku tidak pernah bermaksud ingin membohongi dirimu!" ucap Keen dengan wajah penuh penyesalan.
"Kamu tahu Keen, saat kamu berbohong dengan seseorang, lalu kamu hancurkan kepercayaannya. Kamu tak hanya kehilangan kepercayaannya,tapi kamu mungkin akan kehilangan dirinya." Aluna bicara dengan penuh penekanan.
"Luna, maafkan aku," ucap Keen dengan meraih tangan istrinya. Namun, di luar dugaan, wanita itu menepisnya sehingga membuat cowok itu sangat kaget.
Aluna turun dari tempat tidur. Dia mengambil kantong berisi pakaian Keen yang kotor terkena darah. Baju yang Aluna kenakan saat ini juga banyak darah yang telah mengering.
"Jangan lupa minum obatnya. Aku harus pulang untuk mengambil bajumu, sekalian mau mandi dan berganti pakaian. Mungkin aku agak lama karena harus masak," ucap Aluna dengan suara datar.
Keen yang takut jika Aluna tidak akan kembali lagi, meraih tangan wanita itu dan menahannya. Dia seperti anak kecil yang takut ditinggalkan ibunya.
"Jangan pulang! Kamu di sini saja!" Keen berkata dengan suara ketakutan. Aluna berusaha melepaskan pegangan tangannya.
"Bajuku kotor. Tidak mungkin aku begini terus!" Suara Aluna terdengar mulai meninggi.
"Akan aku pesan bajumu melalui toko online." Keenan masih berusaha menahan istrinya itu.
"Banyak yang harus aku kerjakan di rumah. Nanti aku pasti kembali. Kamu mau dimasakan apa?" Aluna bertanya dengan suara yang masih datar.
Keen memandangi wajah Aluna dengan memelas. Dia takut sekali jika wanita itu pergi. Keen telah merasa sangat nyaman dengannya.
"Aku tidak ingin apa pun kecuali kamu. Aku hanya ingin kamu cepat kembali. Aku tidak akan makan dan minum obat jika bukan kamu yang suapi," ucap Keen.
Aluna hanya tersenyum menanggapi ucapan cowok itu. Dia mengambil barang yang akan di bawa pulang. Setelah itu pamit. Keen melepaskan dengan berat hati.
Keen lalu menghubungi Raka, meminta temannya menunggu di apartemen dan melihat apakah istrinya memang kembali ke sana.
Setengah jam menunggu, akhirnya Raka memberi kabar jika Aluna memang kembali ke apartemen. Barulah Keen merasa tenang dan membaringkan tubuhnya.
Sampai di apartemen, tangis Aluna pecah. Dia sebenarnya ingin memeluk suaminya, tapi rasa kecewanya jauh lebih besar. Bukan hanya kebohongan Keen yang membuat Luna sakit hati, tapi juga karena dijadikan barang taruhan.
Aluna memukul dadanya yang terasa sakit dan sesak. Dari kemarin dia ingin meluapkan semua beban di hati. Ingin berteriak dan berjalan di bawah derasnya hujan untuk menghilangkan semua pikiran buruk.
Aluna terduduk di lantai kamar, menangis terisak. Baru saja dia merasakan kebahagiaan, dan baru saja dia percaya dengan seorang pria, kenyataan langsung menghempas semuanya. Aluna tidak tahu lagi, pria seperti apa yang harus dia percaya.
""Aluna, jika mata dan tubuhmu sudah mulai lelah, istirahatlah. jangan memikirkan sesuatu yang tak perlu kau pikirkan. Dan jangan mengkwatirkan sesuatu yang belum pasti terjadi. Segera bersihkan tubuhmu, berdoalah lalu pejamkan matamu sembari hatimu berkata 'Ya Tuhan, aku maafkan kesalahan diriku sendiri, dan aku maafkan orang-orang yang telah menyakiti hatiku. Aku ikhlas dengan apapun yang terjadi pada diri ini. Semoga tubuh dan hatiku selalu kuat dengan semuanya. Pasti semua akan baik-baik saja'," gumam Aluna pada dirinya sendiri.
Setelah itu Aluna bangun dan mandi. Cukup lama dia mandi. Selesai berpakaian Aluna membaringkan tubuhnya. Setengah jam kemudian, Aluna akhirnya tertidur. Tubuh dan pikirannya yang lelah, membuat wanita itu tidur dengan lelap.
Di rumah sakit, Keen menunggu dengan gelisah. Jam telah menunjukkan pukul dua siang, tapi istrinya itu tidak juga kembali.
"Apakah Aluna ke apartemen hanya untuk mengambil pakaiannya dan pergi?" tanya Keen pada diri sendiri.
Keenan tampak sangat gelisah di kamarnya. Beberapa kali mencoba menghubungi wanita itu tapi tidak diangkat ponselnya. Aluna memang mematikan nada dering sehingga dia tidak mendengar suara panggilan.
Jam tiga Aluna terbangun. Melihat jam dinding telah menunjukan pukul tiga sore.Dia langsung duduk teringat Keen. Wanita itu langsung mengambil tas dan memasukan pakaiannya dan juga Keen. Setelah itu dia langsung menuju rumah sakit.
Dengan berjalan tergesa di lorong rumah sakit, wanita itu menuju kamar Keen. Di dalam taksi tadi Papi telah menghubungi Aluna. Dia meminta tolong padanya untuk menjaga Keen dan mengirimkan uang yang cukup banyak untuk pengobatan putranya. Papi Bramantyo berpesan jika uangnya kurang, Aluna bisa meminta lagi.
"Kenapa Papi tidak kuatir dengan keadaan Keen? Apa dia tidak ingin tahu keadaan putranya?" Aluna bertanya dengan dirinya sendiri.
Aluna membuka pintu. Keen yang berdiri di dekat jendela dengan tiang infus yang dia seret ke sana. Cowok itu tersenyum semringah saat melihat kedatangan Aluna dan berjalan mendekati istrinya itu.
Keen memeluk Aluna erat, tidak peduli tangannya yang satu masih terpasang infus. Aluna melepaskan pelukan Keen.
"Tangan kamu masih terpasang infus. Nanti luka," ucap Aluna masih dengan suara datar. Keen dengan terpaksa melepaskan pelukannya.
"Aku takut kamu pergi dan meninggalkan aku," ucap Keen.
Mendengar ucapan Keen, wanita itu tersenyum miring. Suaminya itu memandang heran dengan reaksi Aluna.
"Apa kamu tidak percaya jika aku takut kehilangan kamu, Lun? Aku sangat mencintaimu. Apa kamu juga tidak percaya itu?" tanya Keen.
"Aku sudah tidak percaya lagi apa pun yang kamu ucapkan," jawab Aluna sambil menyusun barang yang dia bawa.
Keen terkejut mendengar jawaban dari Aluna. Dia memandangi istrinya tidak percaya.
...----------------...
dari yg awalnya saling menolak tapi harus menikah dg terpaksa, tapi berakhir saling mencintai satu sama lain, bahkan jadi bucin..
happily ever after Keenan dan Aluna, gak ketinggalan Jeca jg..
makasih mama, udah nyuguhin novel ini.
semoga sehat terus ya mam..
tetap semangat dan semoga sukses selalu..
🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕💕💕