Puella Beradette Giorgio ingin memenuhi permintaan terakhir mommynya yaitu melihatnya menikah dan bahagia bersama orang yang dicintai. Dia meminta sang kekasih, Orsino Giatrakos untuk mulai merencanakan pernikahan karena mereka saling cinta.
Namun, sama-sama suka saja tidak cukup membuat hidup keduanya bahagia. Orang tua Orsino tidak menyukai Puella karena memiliki keterbatasan yang tidak sempurna, dan hal itu menjadi alasan untuk membencinya hingga berusaha memisahkan dua manusia yang saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Langkah Puella sangat pelan menyusuri lorong rumah sakit. Rasanya menggerakkan kaki palsu pun begitu berat tak seperti biasanya. Debaran di dada juga lebih memilukan dibanding saat memikirkan kondisi percintaannya dengan Orsino yang tidak ada kemajuan apa-apa. Pria itu masih tetap sering keluar dengan Suzan. Puella sudah tak memikirkan tentang itu lagi, mau Suzan sekarang bekerja sebagai sekretaris suaminya atau jabatan lain yang sangat dekat dengan Orsino, ia sedang tidak memerdulikan itu. Sebab, ada yang jauh lebih penting untuk dipikirkan dan sedihkan selain kondisi rumah tangganya yaitu keadaan sang Mommy tercinta.
Tadi saat perjalanan, Puella dihubungi oleh daddynya, memberi tahu kalau Mommy Deavenny masuk ke ICU lagi untuk yang kesekian kali. Tapi, sepertinya yang sekarang sangat berbeda dari sebelumnya. Biasanya dokter terlihat optimis bisa mengusahakan yang terbaik, namun saat ia berhenti di depan ICU dan ada dokter yang baru saja memeriksa keadaan orang tuanya tengah keluar dari ruangan. Wajah tidak bisa berbohong kalau menyimpan rasa bersalah.
“Bagaimana istriku? Baik-baik saja seperti biasanya, kan?” tanya Daddy Marvel.
“Kita berdoa saja yang terbaik, Tuan, semoga masih diberi waktu lebih lama untuk terus bersama keluarga.” Dokter menepuk lengan atas Daddy Marvel sebagai ucapan semangat.
Puella menghela napas panjang mendengar jawaban itu. Setelah dokter pergi dari hadapan mereka, ia pun memeluk sang Daddy. Tidak perlu berkata apa-apa, karena orang yang tengah bersedih oleh keadaan apa lagi menyangkut sosok paling istimewa hanya butuh dukungan berupa sandaran, bukan kalimat yang berusaha menenangkan.
“Duduk, Dad, nanti kau lelah kalau berdiri terus,” ajak Puella seraya menuntun orang tuanya menuju kursi tunggu di depan ruang ICU persis.
Daddy Marvel menghela napas berat saat duduk bersebelahan dengan sang putri. “Mommymu begini karena dia memikirkanmu, Pu.” Sebenarnya ia tidak mau mengungkit atau memberi tahu penyebab istri tercinta menjadi lebih buruk kondisi kesehatannya. Tapi, apa boleh buat, Puella perlu mengerti segalanya.
Untuk menengok ke daddynya saja terasa berat, ada gemuruh penuh rasa bersalah tiba-tiba menghimpit. “Memikirkan apa?” Walau dalam pikiran Puella sudah bisa menebak.
“Kau sering datang ke rumah sakit sendirian dan Orsino juga sempat berkunjung tanpamu.”
Alis Puella naik sebelah. Ia tak tahu kalau ternyata sang suami datang ke rumah sakit tanpa dirinya. “Dia sibuk, jadi aku tidak bisa menuntut agar kami datang menjenguk berdua,” kilahnya.
Daddy Marvel tersenyum simpul sembari mengusap puncak kepala putrinya. “Begitu, ya?”
“Ya.”
“Tapi, apa kau tahu apa yang dikatakan Orsino pada kami saat berkunjung?”
Rasa penasaran begitu menggebu, Puella sungguh tak tahu apa-apa tentang suaminya. Entah langkah apa yang diambil oleh Orsino sampai mendatangi orang tuanya hingga berakhir membuat mommynya masuk ICU. “A—pa?” Suaranya tercekat oleh harap-harap cemas.
“Orsino meminta maaf pada kami kalau belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Dia memohon padaku dan mommymu agar membantu membujuk kau supaya mau memaafkan, mendengar penjelasan, dan intinya adalah kami bisa menyimpulkan kau dan Orsino sedang tidak baik-baik saja. Namun, tiap kali kau ditanya tentang rumah tanggamu selalu berkata tak ada masalah. Kau selalu menutupi dari kami,” ungkap Daddy Marvel. Ia tarik tubuh putrinya ke dalam pelukan. “Kau selalu menguatkan aku atas kondisi mommymu yang tak pernah bisa sembuh dan sehat lagi. Tapi, sebenarnya yang jauh lebih butuh semangat dan kekuatan adalah kau. Aku telah terbiasa menghadapi situasi seperti sekarang, dan sudah bersiap kalau memang istriku akan berpulang. Kalau kau? Aku tahu satu-satunya orang yang kau andalkan dan cintai hanyalah Orsino. Kau selalu tidak mau merepotkan keluarga hingga berakhir menunjukkan kekuatan di depan kami semua, walau sebenarnya kau juga rapuh di dalam.”
Puella tidak bisa mengelak. Benar, dia tidak memiliki siapa-siapa yang mengisi hati kecuali keluarga dan suaminya. Namun, ia tidak habis pikir dengan Orsino yang nekat memohon bantuan pada orang tuanya hanya untuk mendapat maafnya dan tidak didiamkan lagi bagai orang asing. Bukannya instropeksi lalu memperbaiki, malah membuat mommynya masuk ICU. Entah apa yang akan ia lakukan pada suami setelah ini. Pikirannya terlalu rumit karena Orsino justru melangkah ke jalan yang tidak benar.
Apakah dia sengaja memberi tahu kondisi rumah tangga kami yang buruk agar Mommy cepat berpulang ke pangkuan Tuhan, dan kami lekas berpisah setelah itu? Mau tidak memikirkan dalam batin, tapi otaknya berpikir ke arah sana. Sudah tahu Mommy Deavenny sakit-sakitan, masih diberi beban pikiran.
...*****...
...Orsino bener-bener lu ya minta digibeng berjamaah apa gimane sih? Heran gue sama laki sebiji ni kaga waras lu mah, kalo emang mau cere mah cere aja gausah bikin Dea otw meninggoy...