Setelah putus dari Jevano Gautama Abraham, Alyssa Roseana Navier berusaha melupakan sang mantan dengan lari dari kota Bandung ke Surabaya.
Jevano memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin 4 tahun lamanya begitu saja karena bosan dan jujur tentang perselingkuhannya. Sampai akhirnya setelah 3 tahun berlalu mereka kembali bertemu.
Alyssa bekerja sebagai seorang sekretaris di perusahaan besar milik ayah Jevano yang baru saja bertemu dengan anaknya setelah sekian lama, hingga saat itu perusahaannya di percayakan kepada Jevano dan membuat Alyssa menjadi sekretaris pribadinya.
Akankah cinta mereka bersemi kembali? Atau Alyssa akan mengundurkan diri? Bisa kah Alyssa bertahan dengan rasa sakit hatinya menghadapi Jevano?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cxafixe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deeptalk
Selama beberapa hari ini Alyssa mencoba menghindar dan menjaga jarak dengan Jevano. Kejadian malam itu kenapa harus dia ingat, sih? Salahnya juga dia menanyakan hal itu pada Jevano. Sekarang mau ditaruh di mana mukanya? Apalagi Jevano yang suka meledeknya untuk berciuman. Memang dasar menyebalkan.
Seperti sekarang, Alyssa sedang menyerahkan beberapa dokumen namun dia tidak berani menatap Jevano. Jevano sih sadar tapi ya bukan Jevano kalau tidak usil.
"Saya boleh kembali bekerja, Tuan?" Tanya Alyssa yang nampaknya sudah mulai tak nyaman berdiri di dekat Jevano.
"Belum, saya belum selesai membaca," balas Jevano.
Alyssa berdecak, kenapa sih lama sekali? Padahal itu dokumen biasa, bukan kontrak atau apapun tapi Jevano lama sekali membacanya.
"Kamu kenapa, mau buang air?" Tanya Jevano.
Alyssa menggeleng, "Tidak."
Jevano menahan tawanya, ya Alyssa terlihat lucu saja. Padahal Jevano tidak melakukan apapun. "Kamu tidak betah berlama-lama di dekat saya karena takut terpesona ya?"
Alyssa menghela napas, bagaimana juga Jevano bisa se percaya diri ini. "Sudah atau belum?" Tanya Alyssa memastikan. Dia tidak mau beradu argumen karena menurutnya akan semakin memperlambatnya untuk segera pergi dari Jevano.
Jevano menyimpan pulpen yang sedang dia pegang lalu menegakkan tubuhnya di hadapan Alyssa. Perlahan dia menarik pinggang Alyssa untuk mendekat ke arahnya. "Belum dan akan saya perlambat karena saya tau kamu sedang menghindari saya."
Alyssa yang tersontak kaget berusaha menjauh dari Jevano, namun dia tidak sekuat itu ternyata. Lagi, kenapa reaksi tubuhnya ini terkadang tidak sinkron, dia ingin menjauh tapi tubuhnya seolah nyaman jika berada di dekat Jevano. "Lepaskan saya, Tuan Jevano."
"Tidak akan sebelum kamu menjawab pertanyaan saya," ucap Jevano mutlak.
"Ini di kantor," balas Alyssa.
"Oh atau mau di publik saja?" Tawar Jevano. Ya bisa saja sih dia lakukan itu. Apa yang tidak bisa bagi Jevano.
"Jangan gila."
"Iya saya memang tergila-gila dengan kamu, jadi cepat jawab," balasnya enteng.
Bayangkan, Jevano segamblang dan seterang-terangan itu di hadapan Alyssa yang jantungnya mulai tidak aman? Apa tidak ketar-ketir Alyssa kalau Jevano seugal-ugalan ini?
Alyssa masih berusaha melepaskan dirinya, namun karena tidak ada jawaban dari Alyssa Jevano melepaskan rangkulannya. "Temani saya."
Alyssa yang masih diam menatap Jevano penuh pertanyaan, tidak berani buka suara dan tidak berani berbuat apapun.
"Mencari kado untuk adik tiri saya, besok dia ulang tahun." Setelah mengatakan itu Jevano melewati Alyssa dan Alyssa pun mengikuti Jevano dari belakang.
Bukan apa-apa, Jevano tadi takut kalau sampai dia tidak bisa menahan dirinya untuk kembali mencium bibir cherry yang membuatnya kepikiran terus sejak beberapa hari ini.
Alyssa dan Jevano memasuki mobil, mereka berdua menuju ke salah satu mall terbesar di Surabaya. Jalanan kali tidak terlalu ramai, bahkan lancar. Beberapa menit pun akhirnya mereka sampai di sana.
Sejak turun dari mobil, dia hanya mengikuti Jevano tanpa berniat untuk bicara atau menanyakan apapun. Jevano dan Alyssa memasuki salah satu toko perhiasan dan jam tangan.
Alyssa sedikit tersenyum sih, dia tidak pernah masuki toko ini. Selain dia jarang membeli perhiasan, sudah pasti harganya menembus ratusan juta.
Sambil menunggu Jevano yang sedang mengambil pesanannya, Alyssa melihat-lihat berbagai kalung di sana. Matanya tertuju pada kalung cantik dengan liontin kupu-kupu kecil yang manis. Dia suka sekali, namun tidak lama karena dia terkejut melihat harganya yang hampir 1 milyar itu. Itu sih gajinya beberapa tahun juga tidak akan cukup untuk membeli kalung itu. Tapi tidak apa-apa, terkadang wanita hanya melihat juga sudah ada kepuasan tersendiri
Cukup lama mereka ada di toko itu, Jevano pun menghampiri Alyssa. "Ada yang ingin dibeli? Biar saya antar."
"Tidak ada, ini juga sudah hampir sore. Saya langsung pulang saja, Tuan."
"Saya antar." Tanpa mengatakan sepatah kata lagi Jevano menggenggam tangan Alyssa dan membawanya keluar dari Mall itu.
Alyssa menatap ke arah genggaman tangan mereka, kenapa ya semakin hari dia malah merasa tidak bisa tegas dirinya sendiri dan menikmati setiap perlakuan Jevano. Kenapa dia seolah tidak punya pendirian begini?
.
.
.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Alyssa.
"Ingin saja."
Alyssa terdiam, duduk di antara rerumputan sambil melihat ke arah perkotaan dari atas sini. Iya Jevano membawanya ke dataran tinggi, jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang bikin pusing kepala.
"Selama puluhan tahun menjadi anak tunggal, saya punya adik sekarang," ucap Jevano tiba-tiba.
Alyssa menatap ke arah Jevano yang ada di sampingnya. "Bagus, kan?"
"Saya tidak berani dekat dengan dia. Dia masih SMA dan kami berbeda ibu. Pasti canggung rasanya."
Alyssa paham sih, pasti tidak mudah juga dia menerima orang baru ke dalam kehidupannya. Belum lagi Alyssa juga tau kalau Jevano baru kembali bertemu dengan ayahnya setelah sekian lama. Bahkan dulu Jevano menanggap kalau dia memang tidan punya peran ayah. "Lalu?"
"Tidak ada, hanya bingung saja bagaimana mencoba untuk menerima orang-orang baru dalam hidup saya. Kamu tau sendiri saya tidak semudah itu," balas Jevano.
"Tapi dalam kehidupan kita juga gak bisa kalau stick di tempat yang sama, manusia itu datang dan pergi. Kita juga sebagai manusia pasti selalu ada fase dimana harus menerima dan merelakan. Saya rasa itu norma setiap kehidupan, mau atau tidak semua harus membiasakan itu di dalam kehidupan mereka."
Jevano terdiam, tidak tau juga harus membalas Alyssa bagaimana. Kalau Alyssa sudah bersabda begini kata-katanya pasti benar.
"Ibu Endru baik banget, saya gak tau sih personalitinya gimana karena saya juga belum berinteraksi langsung. Tapi saya yakin kalau ibu pasti akan memperlakukan Tuan seperti anaknya sendiri."
"Bagaimana cara memulainya?" Tanya Jevano.
"Dari mulai ulang tahun adik Tuan, dekatkan diri di sana lebih banyak." Setelah itu Alyssa tersenyum.
Jevano juga ikut tersenyum saat melihat senyuman Alyssa. Setelah sekian lama, dia baru kembali melihat senyuman tulus yang terpancar dari wajah Alyssa. Senyum yang dia rindukan beberapa tahun ini.
"Terima kasih, Alyssa."
"Jangan terima kasih sama saya. Cukup lakukan yang terbaik, mulai semuanya dari sekarang. Jangan pernah menunda hal-hal baik."
Ya meskipun Alyssa pernah sakit karena Jevano, sejujurnya dia hanya mau melihat Jevano baik-baik saja. Melihat Jevano memenangi banyak hal dalam hidupnya membuatnya merasa lega.
Alyssa tau bagaimana dulu perjuangan Jevano hidup tanpa kasih sayang seorang ayah, bagaimana dulu dia sangat ingin sosok itu ada. Meskipun Alyssa tau itu tidak akan menggantikan peran ibu di dalam diri Jevano, tapi dia hanya mau Jevano merasakan kalau dia masih memiliki keluarga.