7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sepanjang hari Mia gelisah karena sudah 2 hari ini Sendy tidak pulang ke rumah dan juga tidak memberinya kabar
" Mas kenapa ponselmu enggak aktif sih?" gumam Mia menatap ke arah pintu berharap suaminya akan segera pulang
" Apa aku telpon Marisa aja ya? ah.. tidak...tidak jika aku lakukan itu pasti akan membuat Marisa tersinggung dan menganggap aku isteri yang posesif" gumamnya
" Tapi kan mereka hanya menikah untuk memiliki anak bukan mas Sendy nya" gumamnya lagi
Saat Mia hendak menghubungi Marisa tiba-tiba saja Mia dibuat terkejut dengan ponselnya yang sudah lebih dulu berdering dan tertera nama Marisa di layar ponselnya
" Hallo, Assalamualaikum!"
...Wa'alaikum salam...
" Ada apa?"
...Apa mas Sendy masih pulang ke rumah lagi ?...
...Bagaimana aku bisa program hamil jika mas Sendy selalu pulang ke rumah mu dan enggan menemuiku?...
" Apa maksudmu?"
..." Apa maksudku? kau jangan pura-pura bodoh, aku tahu sebenarnya kau masih berat kan menerima statusku sebagai isterinya mas Sendy, benarkan?"...
" Kau ini bicara apa Marisa?"
..." Kau pasti mengerti maksud ku, kau menginginkan anak tapi kau sendiri tidak mau mas Sendy datang ke rumah ku"...
" Kau jangan bercanda Marisa, bukankah sudah dua hari ini mas Sendy pulang ke rumah mu"
..." Kau yang bercanda, bahkan dari kami menikah sampai detik ini mas Sendy tidak pernah datang menemui ku"...
Deg
Pikiran Mia menjadi kalut, kemana sebenarnya suaminya itu pergi, ponselnya pun tidak aktif
" Mas Sendy sudah dua hari pergi dari rumah dan dia mengatakan akan datang ke rumah mu"
" Aku pikir dia ada di rumah mu karena ponselnya pun tidak aktif"
...Apa katamu, datang menemuiku? mas Sendy tidak pernah datang menemuiku...
" Apa kau serius? jangan membuat ku khawatir Marisa"
...Kau pikir aku bercanda?...
" Kalau mas Sendy tidak datang ke rumah mu lalu mas Sendy pergi ke mana?" tanya Mia nampak khawatir
...Mana aku tahu?...
" Ya sudah aku tutup telponnya, aku akan menghubungi pak Azka dan menanyakan padanya"
..." Iya, kalau sudah ada kabar beritahu aku!"...
Usai memutus sambungan telpon dengan Marisa, Mia pun langsung menghubungi Azka dan ternyata Azka pun tidak mengetahui dimana keberadaan Sendy
" Kamu sebenarnya pergi ke mana sih mas?" keluhnya merasa khawatir dengan keadaan suaminya
🤎🤎
" Mba Mia!"
Mia yang sedang berada di dalam kamarnya dibuat terkejut dengan kedatangan Marisa ke rumahnya
Karena belum juga mendapatkan kabar tentang Sendy akhirnya Marisa memilih untuk datang ke rumah Mia
" Ada apa kamu teriak-teriak di rumahku?" tanya Mia kesal dengan sikap Marisa yang datang ke rumahnya dengan tidak sopan
" Aku hanya ingin memastikan apa benar mas Sendy tidak ada di rumah ini, jangan-jangan itu hanya alasan mu saja yang tidak ingin mas Sendy tinggal bersama ku"
Mia menggelengkan kepalanya pelan " Kau menganggap ku berbohong?"
" Aku tidak mungkin meminta kalian menikah jika aku mengekang mas Sendy untuk menemui mu!"
" Ya bisa saja karena kau tidak rela mas Sendy menyentuh ku "
Mia menghela napasnya berat " Terserah kau mau bicara apa Marisa yang jelas saat ini aku sedang mencemaskan keadaan suamiku yang saat ini entah sedang berada di mana"
" Kau lupa mba Mia, mas Sendy juga suamiku sekarang"
Mendengar ucapan Marisa entah mengapa ada rasa tidak terima dihati kecil Mia ketika Marisa mengatakan Sendy sebagai suaminya juga
" Sudahlah Marisa sebaiknya kau pulang saja, aku sedang ingin sendiri!" seru Mia
" Tidak, aku ingin menunggu mas Sendy disini" tolak Marisa
"Terserah mu, aku mau istirahat!" sahut Mia lalu berbalik badan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua
Marisa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, ia melihat dengan seksama seluruh isi dari rumah tersebut
Marisa tersenyum miring dengan berbagai rencana di otak kepalanya
" Mau minum apa bu?" sapa seorang asisten rumah tangga yang bekerja pada Marisa
" Jangan panggil aku ibu, panggil aku nyonya karena aku juga nyonya di rumah ini, kau mengerti!" ketus Marisa
Art yang bernama Wulan terdiam sedikit berpikir apa benar apa yang dikatakan wanita yang ada di hadapannya ini
" Apa kau tidak percaya?" Sentak Marisa karena melihat respon Wulan yang diam saja
" Emmm.... saya_!" Wulan nampak gugup
" Ini kau lihat sendiri, aku sudah menikah dengan majikanmu!" Marisa menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan foto pernikahannya dengan Sendy
Glek
Wulan terperanjat melihat foto yang ada di ponsel milik Marisa
" Apa kau sudah percaya sekarang?"
Wulan mengangguk pelan " I...iya Bu!" jawabnya terbata
" Sudah ku bilang jangan panggil aku ibu, panggil aku NYONYA, apa kau mengerti hah!" sentak Marisa membuat Wulan mengangguk dengan cepat
" I..iya nyonya"
" Bagus" Marisa tersenyum miring
" Sekarang tunjukkan dimana kamar tamunya, aku mau istirahat?" tanya Marisa yang memutuskan untuk menginap di rumah Mia karena dia tidak percaya begitu saja pada Mia siapa tahu diam-diam ternyata Sendy memang pulang ke rumah itu pikir Marisa
Wulan yang takut melakukan kesalahan memilih untuk izin terlebih dahulu pada Mia
" Ma..maaf nyonya, saya harus memberitahu Bu Mia terlebih dahulu!" pamit Wulan
" Hey tunggu, aku juga nyonya di rumah ini jadi aku juga berhak untuk tinggal di rumah ini" Marah Marisa karena Wulan mengabaikan dirinya
Wulan tidak menggubris ucapan Marisa dan lebih memilih untuk menemui Mia
Tok... Tok.. Tok...
Mia yang baru saja hendak masuk ke dalam kamar mandi langsung menoleh ke arah pintu yang diketuk
" Bu... bu Mia!" teriak Wulan seraya memanggil nama Mia disela ketukan pintu
" Iya sebentar!" teriak Mia seraya melangkahkan kakinya menuju pintu
Ceklek
" Wulan, ada apa?" tanya Mia melihat Wulan sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat cemas
" Bu.. maafkan saya sebelumnya karena sudah lancang tapi itu bu... emmm..." Wulan nampak gugup
"Ada apa bicara saja!" Mia sedikit mengerutkan keningnya melihat wajah gugup Wulan
" Itu bu dibawah ada wanita yang mengaku isterinya bapak dan dia meminta saya untuk mengantarkannya ke kamar tamu bu" terang Wulan sedikit takut-takut
Mia menghela nafasnya kasar " Ternyata dia belum pergi, yaudah antarkan saja dia ke kamar tamu" Ucap Mia
" Tapi bu, apa bu Mia tidak apa-apa?" tanya Wulan yang terlihat jelas begitu mengkhawatirkan keadaan majikannya itu
Mia tersenyum tipis didalam hati ia merasa bersyukur karena memiliki asisten rumah tangga seperti Wulan yang begitu peduli dengan dirinya
"Aku enggak apa-apa Wulan" sahut Mia
" Maaf bu kalau saya lancang, jadi benar kalau wanita itu isterinya pak Sendy?" tanya Wulan berusaha memberanikan diri bertanya pada Mia
Mia bergeming lalu detik berikutnya ia mengangguk pelan " Iya, itu benar" jawab Mia dengan dada yang terasa begitu sesak
" Ya sudah pergilah, layani dia dengan baik!" titah Mia
" Baik bu!" Wulan pun pamit undur diri
Mia kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali
Mia bersandar dibalik pintu seraya mengusap dadanya yang terasa begitu sesak
" Apa keputusan yang aku ambil ini salah? Sepertinya Marisa menginginkan hal lebih dari pernikahannya dengan mas Sendy dan saat ini aku yakin kalau dia masih belum percaya jika mas Sendy tidak pulang ke rumah ini" gumam Mia
Tubuhnya tiba-tiba merosot ke lantai Mia memikirkan keberadaan Sendy yang tidak ada kabar sama sekali selama dua hari dan dia menyesal karena sudah membuat suaminya marah hingga memutuskan pergi begitu saja
" Mas Sendy kamu dimana? Hiks...Hiks..."
Mia mengusap wajahnya kasar, dia merutuki kebodohannya yang sudah memaksakan kehendaknya kepada suaminya sendiri hingga membuat suaminya marah dan memilih pergi meninggalkan dirinya