WARNING!!!
Bisa menyebabkan kram pipi!
Bagaimana jadinya jika di dalam Rumah tangga hanya ada sebuah pura-pura untuk mengelabuhi kedua orangtuanya. Padahal masing-masing diantaranya masih menjalin hubungan dengan pasangannya.
Matcha Aurora seorang sekretaris dari Milo Anggara harus terjebak dalam sebuah pernikahan pura-pura demi menolong bosnya yang sangat dia hormati. Sayangnya setelah pernikahan itu berlangsung hari-hari Matcha semakin rumit ditambah lagi dengan perasaan yang dia sadari jika dirinya telah jatuh cinta kepada bosnya. Disisi lain Milo tak bisa meninggalkan kekasihnya.
Apakah Matcha harus menimbun dalam-dalam perasaannya atau dia harus memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epsd 21. Sah!
"Saya terima nikah dan kawinnya Matcha Aurora Satya binti Almarhum Satya dengan seperangkat alat sholat serta perhiasan berlian dibayar tunai." Ucap Milo dalam satu tarikan nafas.
"Sah,"
"Sah!"
Acara demi acara telah terselesaikan dengan lancar. Ikrar sumpah janji pernikahan baru saja selesai Milo ucapkan.
'Kenapa perasaan gue sedih gini ya lihat Matcha menikah,' Batin Tiar terus menatap kearah Matcha.
"Terimakasih nak sudah mau menjadi menantu mama...," sambut mama Rika dengan pelukan hangat.
"Saya yang harusnya berterimakasih ma... karena sudah diterima di keluarga besar mama, papa dan kakek.
"Apa yang Rika katakan benar Cha... kakek sangat senang kau akhirnya menjadi menantu keluarga ini." Ucap kakek kemudian meraih tangan Matcha.
"Berjanjilah kau akan selalu menjadi bagian keluarga ini apapun yang terjadi." Imbuh kakek Hermawan menggenggam jemari Matcha.
**
"Selamat ya Cha atas pernikahannya," ucap Hana setengah malas.
"Terimakasih saudariku." Sahut Matcha.
"Gue gak jamin rumah tanggamu akan bahagia, secara suamimu masih berhubungan dengan pacarnya diluar." Bisik Hana.
Senyum yang tadinya terurai hilang begitu saja setelah mendengar bisikan Hana. Bagaimana bisa Milo melakukan ini disaat selesai ikrar sumpah janji pernikahan dia ucapkan dengan sangat lantang didepan para penghulu dan saksi.
"Apa kau yakin rumah tanggamu akan bertahan?" bisik Hana kembali.
Matcha kemudian mengembalikan senyumnya.
"Kau tak perlu memikirkan pernikahanku, pikirkanlah dirimu sendiri. Apakah aku akan mengirimkan kalian sejumlah uang seperti biasanya apabila rumah tanggaku tak bertahan? pikirkan itu Hana." Matcha membalas bisikan Hana. Hana yang kalah telak langsung saja menghentakkan kakinya sangat kesal.
Matcha kemudian melewati Hana menuju para tamu lainnya.
Acara pertunangan sekaligus pernikahan ini sengaja dilakukan dengan sederhana atas permintaan Matcha. Meski begitu mama Rika dan papa Angga tetap akan melakukan pesta resepsi.
"Selamat ya Cha...," ucap Maya teman sekantor Matcha.
"Terimakasih May... kamu kesini sama siapa? apa sama si---"
"Ssssttt! jangan keras-keras ngomongnya, aku takut kedengaran yang lain." Sahut Maya langsung menahan Matcha.
"Cie... akhirnya jadian juga nih...," Matcha menyenggol lengan Maya hingga membuat Maya malu.
"Asyik bener nih kalian... pada bahas apa sih?" Roy asisten Tiar ikut bergabung.
"Eh pak Roy... bentar lagi nyusul nih...," ledek Matcha.
"Tenang aja Cha, bentar lagi pokoknya...," sahut Roy.
"O iya Cha, tuan Milo kemana? daritadi aku belum melihatnya." Tanya Roy.
"Itu anu, tadi dia pamit ke toilet." Jawab Matcha.
"Toilet ya? kayaknya tadi aku melihat tuan Milo bersama seorang wanita didepan. Entah mataku yang salah atau bukan ya...," Sahut Maya.
"O... gitu ya May, coba aku tengok. Kalian tunggu sebentar ya...," pamit Matcha.
Matcha melangkahkan kakinya keluar seperti yang ditunjukkan oleh Hana dan Maya. Matcha mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya. Benar saja Matcha melihat Milo sedang bercumbu dengan Lisa.
"Issshhh... memalukan! apa dia tak memikirkan harga dirinya? masih banyak para tamu seenaknya sendiri." Gerutu Matcha.
"Ngapain lu Cha sendirian disini? mana belum ganti baju masih pake gaun putih. Gue kira tadi kuntilanak," ejek Tiar.
Selesai acara memang Tiar sengaja menjauh untuk sekedar menenangkan hati dan dirinya. Melihat Matcha keluar, Tiar yang berada di balkon kepikiran untuk mengikutinya.
"Lihat saja sendiri." Ucap Matcha menunjuk kearah Milo dengan bola matanya.
"Brengsek! gue gak bisa tinggal diam, gue bakal kasih pelajaran sama tuh anak." Sahut Tiar akan menghampiri Milo.
"Eh... apa-apaan, jangan membuat keributan. Tamu masih banyak, kasihan mama, papa dan kakek." Ucap Matcha menahan Tiar.
"Tapi Cha...,"
"Udahlah Tiar... biar aku yang mengatasi ini semua." Matcha mengelus pundak Tiar dengan pelan.
"Memangnya elu bisa?"
"Lihat saja," sahut Matcha dengan yakin seperti biasanya.
Matcha kemudian berjalan mendekati Milo dan Lisa.
"Ehm!" deheman Matcha membuat Milo dan Lisa menghentikan cumbuannya.
"Pak bos sombong rupanya disini, aku bingung pada ditanya pak bos dimana." Ucap Matcha.
"Oh... rupanya ada tamu, kenapa gak masuk saja mbak? disini gelap, banyak nyamuk, mending mbaknya masuk saja. Pak bos, mending tamunya diajak masuk yuk...," ajak Matcha langsung menggandeng tangan Lisa.
"Mil... Milo...," ucap Lisa bingung.
"MATCHA...!" Bentak Milo langsung membuat langkah Matcha terhenti.
"Gue udah pernah bilang sama elu, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku! memang kita sudah menikah, tapi tetap elu gak berhak atas diri gue!" Umpat Milo.
Matcha lalu melepas tangannya dari pergelangan tangan Lisa. Matcha lalu mendekati wajah Milo dengan tatapan tajam.
"Aku memang gak berhak atas dirimu, pernikahan ini juga menurutmu adalah pernikahan pura-pura. Tapi ingat, jaga harga dirimu didepan para tamu jangan menjadi atasan yang menjijikkan." Ucap Matcha langsung ngena dihati Milo.
Matcha kemudian pergi begitu saja, kalau bukan karena kakek, mama dan papa dia tak akan sudi menikah dengan Milo yang belum bisa melepas Lisa.
Tiar bertepuk tangan dengan keberanian Matcha.
"Lu beneran Matcha yang gue kenal bukan?" ledek Tiar.
"Siapa dulu, Matcha gitu loh...," sahut Matcha membanggakan dirinya.
"Cha, hati elu terbuat dari apa sih bisa sekuat ini hadapin si Milo?" tanya Tiar.
"Yang pasti bukan baja ya...," jawab Matcha.
"Sebenarnya semua hati terbuat sama, tinggal pintar-pintarnya kita mengkondisikan. Kalau bukan karena kebaikan pak bos sombong sudah menerimaku di perusahaannya membuatku mengenal keluarga besarnya. Hanya itu sih...," ucap Matcha.
"Lu gak terimakasih juga sama gue gitu?" tanya Tiar.
"Aku juga sangat berterimakasih denganmu Tiar, karena sudah menjadi teman terbaikku. Semoga suatu hari ada wanita terbaik yang menjadi jodohmu. Biar aku ada temannya ngobrol gitu... hehe," jawab Matcha.
"Apapun yang terjadi kita akan menjadi teman baik. Begitu bukan...," ucap Tiar. Mereka berdua lalu berjabat tangan dengan senyum dan tawa bahagia.
Dari kejauhan, Milo yang memperhatikannya merasakan tak suka dengan keakraban Tiar dan Matcha.
"Milo...," panggil Lisa masih berada disamping Milo.
"Lisa, sebaiknya kau segera pulang. Besok pagi aku akan menjemputmu."
Lisa mengikuti saran Milo, dia segera pergi dari situ. Setelah Lisa masuk kedalam mobil, Milo bergegas masuk kedalam untuk melanjutkan menemui para tamu. Dicarinya Matcha disekelilingnya namun tak Milo temukan.
"Tuan Milo, selamat atas pernikahannya. Semoga tuan Milo dan Matcha diberikan pernikahan yang langgeng sampai maut memisahkan." Sapa kolega bisnis Milo.
"Terimakasih tuan Rendi. Begitu sebaliknya, semoga tuan dan nyonya Rendi selalu diberkahi Tuhan." Balas sapa Milo.
Milo kemudian berjalan lagi, pandangannya tetap mencari keberadaan Matcha.
"Ma... apa mama melihat Matcha?" tanya Milo berpapasan dengan mamanya.
"Matcha disana bersama Tiar sedang mengobrol dengan para tamu undangan." Jawab mama menunjuk kearah Matcha berada.
"Darimana saja kau ini, daritadi Matcha mencarimu."
"Maaf ma... Milo sedang berada di toilet."
"Ya sudah sekarang kau hampiri Matcha, kasihan dia daritadi sendirian menyapa para tamu. Ingat sekarang Matcha adalah istrimu bukan anak buahmu lagi." Pesan mama.
...----------------...
Mampir lagi yuk ke karya temanku,