"Kak tunggu! Aku mau bilang sesuatu sama kakak. Aku udah lama nunggu waktu itu hanya buat bilang ... kak Adrian ... aku suka sama kakak," kata seorang gadis.
"Tapi aku di sini," kata seseorang yang duduk dipojokan taman.
Gadis itu ternyata salah mengucapkan nama. Ia ingin mengutarakan perasaannya pada cowok tampan yang bernama Adrian. Tapi ia malah bilang cinta pada Adnan, kembarannya Adrian.
Mereka memang sama persis, hingga tidak ada celah untuk membedakannya. Mereka sering salah dikenali oleh para gadis yang selalu berebut untuk mencari perhatian mereka. Sikembar memang sering membuat jebakan pada para gadis.
Bagaimana kisah sikembar selanjutnya? selalu bersama jebakan cinta sikembar ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
+20
Sambungan telfon pun terputus. Camelia tersenyum sambil menyimpan ponselnya kembali kedalam saku bajunya.
"Ada apa, Amel? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Ganisa penasaran ketika melihat Camelia senyum-senyum sendiri.
"Tidak ada apa-apa, Nis. Hanya saja, kakak Adrian sedikit lucu dan bikin gemes."
"Adrian?"
"Iya," ucap Camelia singkat dan kembali sibuk dengan aktifitasnya.
"Amel, apa kamu bisa membedakan yang mana Adrian dan yang mana Adnan dari kakak kembar mu itu?"
Camelia menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Ganisa, lalu tersenyum pada Ganisa.
"Aku tidak terlalu bisa membedakan yang mana kak Adrian, dan yang mana kak Adnan. Karena mereka sama persis, dan hampir tidak ada beda. Mereka punya makanan favorit yang sama. Mereka punya warna kesukaan yang sama dan mereka punya kebiasaan yang sama persis. Hanya saja, yang bisa aku bedakan dari mereka berdua adalah, mereka punya dua sifat yang berbeda," kata Camelia menjelaskan panjang lebar pada Ganisa.
Ganisa yang mendengarkan cerita Camelia soal Tuan muda kembar ini. Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil menyimak tiap cerita yang keluar dari mulut Camelia.
"Jadi, hanya sifatnya yang berbeda, ya Mel?" tanya Ganisa serius.
"Iyah. Hanya sifat mereka saja yang bisa membedakan, mana kak Adrian, dan yang mana kak Adnan. Tapi, itupun kalau mereka menunjukkan sifat aslinya. Kalau tidak, ya kamu akan sulit untuk membedakan mereka."
"Maksud kamu, Mel?"
"Yah, kalau kak Adrian. Ia lebih mirip mamanya. Galak, namum baik hati dan sangat hangat orangnya. Tapi, kalo kak Adnan, ia lebih mirip dengan om Elang. Dingin, cuek, gak banyak bicara. Tapi ...."
Camelia menghentikan perkataannya pada bagian kata tapi. Ia menarik napas panjang dan dalam, membuat Ganisa merasa heran dan bingung.
"Tapi apa, Amel?" tanya Ganisa tidak sabar lagi.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Itu adalah sifat asli mereka berdua. Dan sifat asli ini adalah kunci buat aku membedakan, yang mana kak Adrian dan yang mana kak Adnan. Kunci ini tidak akan berlaku, jika mereka tidak menunjukkan sifat asli mereka."
"Maksud kamu, sifat mereka berdua bisa saja berubah. Gitu?"
"Iyah. Mereka bisa memainkan peran masing-masing. Hanya dengan mengubah sifat mereka berdua," kata Camelia menjelaskan dengan serius.
"Oh, ternyata, kamu tahu banyak tentang mereka berdua ya, Mel," kata Ganisa penuh kagum.
"Iya gak terlalu tahu banyaklah, Nis. Namakan juga saudara sepupuan. Sedikit banyak, aku tahulah sifat mereka berdua."
Di sana, Kinan sedang memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan percakapan antara Camelia dan Ganisa. Ia berusaha menyimak semua yang Camelia katakan tentang si kembar.
Kekagumannya pada si kembar, membuat ia ingin tahu banyak hal tentang kehidupan si kembar.
Sementara di sisi lain, Adrian sudah sampai di halaman sekolah Camelia. Ia datang untuk mengantarkan tugas Camelia yang tertinggal di mobil mereka tadi pagi.
Adrian datang sendirian, karena Adnan sedang ada tugas yang harus ia selesaikan. Lagi pula, Adnan dan Adrian itu berbeda. Ia tidak suka keluyuran saat jam sekolah masih belum selesai. Kalau tidak ada kepentingan yang mendesak, ia lebih memilih untuk tetap di sekolah dari pada keluyuran.
Adrian menelfon Camelia untuk meminta adik sepupunya datang mengambil tugas yang ia bawa. Karena ia adalah anak sekolah lain, membuat ia tidak enak untuk menerobos masuk kedalam kelas Camelia.
Camelia meminta Adrian untuk menunggunya sebentar. Adrian melakukan apa yang Camelia katakan.
Di dalam kelas, Camelia sedang ingin keluar. Tapi sebelum itu terjadi, Kinan menghentikan langkah kaki Camelia.
"Amel, biar aku temani kamu ya," kata Kinan dengan nada yang sangat manis. Tidak seperti biasanya, ia adalah siswa yang kasar dan manja. Apalagi dengan Camelia, dia tidak pernah menunjukkan wajah damai.
"Tidak usah, Kinan. Aku bisa pergi sendiri kok. Lagian, aku juga gak akan lama kok," kata Camelia menolak dengan halus.
"Gak papa, biar aku temani aja. Lagian, dari pada kamu pergi sendirian, lebih baik sama aku kan? Setidaknya, ada teman untuk ngobrol," kata Kinan sambil memegang lengan Camelia sambil memaksakan senyum manis.
oh iya itu dia! terima kasih Kak Author! aku bisa menemukan judul dan cerita yang nanti aku buat!
mksih
Zia lebih cocok sama adrian yang lebih supel karna keliatannya zia pendiam, sedangkan adnan cocok sama cewek kaya ganisa karna punya hobi yang sama 😊