Cinta Marsha
Deskripsi
“Alga-Alga , kenapa Alga jahat banget sama Malsha , Alga kan tau kalau Malsha enggak suka sama cicak ,tapi ini ahhh Alga ” rengek Marsha sembari mengibaskan-ngibas kan rok pendek nya yang di tempelin cicak oleh Arga . Arga terkikik , “Siapa suluh kamu enggak mau jadi istli aku , kan aku udah lamal kamu” sahut Arga . “Enggak mau lah kita kan masih kecil” Marsha Adelina , gadis cantik nan lembut , harus memendam perasaan nya sedari dulu kepada seorang sahabat nya , Argantara Kusuma , bad boy tampan . Marsha selalu melindungi Arga dari segala kenakalan remaja nya , pria tampan itu selalu membuat ulah , “Kamu akan Mami hukum Arga , kamu sudah berani balapan liar , ! ” pekik Mami Reta- Mami Arga . Arga menggeleng kan kepala nya , “Enggak Mi , Arga tadi kerja kelompok kok di rumah Marsha , Arga ketiduran Mi , tanya deh sama Marsha , iya kan sha !!” Arga mengedipkan sebelah mata nya menyuruh Marsha untuk mengiyakan perkataan nya . Marsha yang faham langsung tersenyum
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Tring
Tring
"Berisik banget ni ponsel , pingin gue banting aja ! Tapi sultan punya ! Bisa megap-megap gue ganti nya" gerutu Revan sembari meletakkan se cup Cofe di atas bangku , Cofe yang baru saja di beli nya di kantin rumah sakit . Revan lalu meraih ponsel milik Arga yang memang diri nya simpan di saku celana nya tadi .
"Anj\*, astaghfirullah enggak boleh ngumpat." Revan meraup wajah nya kasar Ketika melihat siapa yang menelpon Arga sedari tadi .
"Tapi , kayak nya kalau gue ngumpatin yang nelpon enggak dosa ya , orang yang nelpon juga si setan"
Tanpa berniat mengangkat ponsel milik Arga , Revan menyimpan nya kembali ke saku celana nya . Berharap yang menelpon akan kesal dan tidak menghubungi lagi .
Namun ternyata keberuntungan tidak berpihak kepada Revan , Revan yang tengah berjalan sambil menikmati se cup cofe milik nya , tersentak , ketika pandangan nya tidak sengaja bertemu dengan sosok yang paling di hindari nya .
Revan yang tidak ingin bertemu dengan sosok tersebut lantas membalikkan tubuh nya berniat kembali ke kantin atau entah kemana lah , yang terpenting jangan bertemu dengan wanita tersebut .
"Revan !!!"
"Sial"
Rupa nya Revan kalah start . Mesti nya Revan cepat sedikit jalan nya ,
Vera yang tidak mau membuang waktu langsung menghampiri Revan , dan menyunggingkan senyuman termanis nya ke arah Revan yang memasang wajah jutek .
"Hai Van" sapa Vera dengan nada manja nya .
Revan memutar bola mata nya jengah. "Hm" sahut nya .
Vera tersenyum , lalu tangan nya terulur ingin menyentuh lengan Revan , tapi langsung di tepis oleh pria itu .
"Jangan pegang-pegang , najis gue"
Vera mengerucut kan ujung bibir nya . "Gitu banget sih Van , padahal kan gue pengen--"
"Stop ye ! Gue enggak sudi di sentu-senyu sama lo" pekik Revan .
"Van , padahal kita ini cocok banget loh . Lo juga tampan , enggak kalah tampan sama Arga . Gue mau loh Van tinggalin si Arga demi lo" ucap Vera sembari mengedipkan sebelah mata nya .
Revan berdecih sinis . "Lo kira gue mau sama lo . Ih ogah"
"Van lo kok kayak gitu sih . Gue tau lo udah lama naksir berat sama gue . Tapi karena gue lebih milih Arga , lo jadi mundur , iya kan Van . Ngaku aja deh . Gue kali ini mau kok sama lo . Dan rela lepasin Arga demi lo"
Revan membulat kan kedua bola mata nya . "Lo kalau mau gila enggak usah ngajak -ngajak gue deh ," ucap nya , lalu Revan melangkah kan kaki nya pergi .
Vera berdecak kesal , lalu menghentakkan kaki nya , "van --- gue serius loh" teriak nya , namun tidak di hiraukan sama sekali oleh Revan .
"Van I love you" teriak Vera .
"Cih najis !" Umpat Revan yang masih mendengar teriakan dari Vera .
"Bisa-bisa nya Arga kenal sama cewek sinting kayak tu orang , mana di pacari nya lagi " gerutu Revan di sepanjang jalan nya .
\_\_\_oOo\_\_\_
"Besok kamu sudah pulang ! Apa yang akan kamu lakukan untuk misi kamu ?"
"Aku sudah punya rencana kek , aku sudah menyusun nya dengan rapih . Karena aku yakin ada sesuatu yang sudah di sembunyikan sejak lama "
Menghembuskan nafas nya berat , . "Bagaimana dengan Marsha ?"
Menggeleng kan kepala nya lemah . "Aku juga enggak tau kek . Kayak nya , aku enggak berjodoh sama dia . Bukti nya , beberapa hari lagi dia akan nikah , dan jadi istri orang . Aku harus terima " lirih nya .
Menepuk pundak nya dengan lembut. "Kakek yakin suatu saat kamu akan menemukan sosok yang bisa mengisi hati mu lagi ."
"Entah lah , aku enggak tau . Aku enggak tau apa aku bisa menemukan sosok seperti Marsha, aku mencintai nya sudah lama , sangat sulit bagi ku untuk melupakan nya dan menemukan sosok yang lain " ucap nya lirih , suara nya nyaris tercekat di tenggorokan , ada rasa sesak di dalam dada nya .
Mengangguk kan kepala nya lemah , sang kakek tidak menjawab nya lagi . Diri nya sangat tau apa yang di rasakan oleh sang cucu. "Istirahat lah , besok kamu akan memulai semua nya"
___oOo___
"Sha , gue mau ngo--"
Tring
Tring
Ponsel milik Marsha berbunyi , Marsha lalu menatap ke arah Arga .
"Ga , maaf , sebentar ya , aku mau angkat telpon dulu , " ucap nya .
Arga berdecak , namun tetap mengangguk kan kepala nya . Diri nya harus berusaha menahan emosi dan kesabaran nya yang setipis tisu itu . Tidak boleh , -- tidak boleh lagi marah-marah kepada Marsha, apa lagi membuat gadis nya itu berpaling hati . Arga tidak mau hal tersebut terjadi .
Marsha melangkah kan kaki nya sedikit menjauh dari Arga , Marsha lalu mengangkat sambungan telepon tersebut yang ternyata dari nomor yang tidak di kenal .
"Halo "
Terdengar suara tawa di seberang telepon . Membuat Marsha mengerut kan kening nya bingung .
"Siapa in--"
"Masih bisa tersenyum rupa nya . Setelah membuat orang yang paling mencintai mu menderita hingga nyaris merenggang nyawa "
Deg
Tubuh Marsha membeku . Tangan nya terkepal kuat .
"Maksud--"
Terkekeh samar "kenapa hm? Masih mau menyangkal nya lagi . Sudah salah tapi tidak mau mengakui nya . Jika saya menjadi Kamu, saya pasti sudah pergi jauh , tidak menampakkan diri lagi di depan dua orang yang sama-sama bodoh mencintai kamu"
"Kamu siapa ?"
"Saya siapa? Itu tidak perlu , yang terpenting , saya cuman mau mengingatkan kamu ! Ini baru awal permulaan permainan saya . Saya akan membuat permainan yang lebih seru lagi"
"Jangan main-main"
"Saya tidak pernah bermain-main baby"
"Apa yang kamu mau"
Terdengar suara tawa pria di ujung telepon . "Kamu bertanya saya mau nya apa ?"
"Mudah "
"Cukup kamu ikuti saja , sekarang kamu pulang ke rumah kamu , dan jangan pernah menemani Argantara, jika kamu menemani nya di rumah sakit . Saya pastikan , Argantara sama celaka nya dengan Kavandra "
Deg
Tubuh Marsha lemas seketika , lalu tiba-tiba panggilan telepon tersebut terputus .
"Sha" panggil Arga yang sudah menunggu Marsha sedari tadi .
Marsha mendongak , lalu berjalan menghampiri Arga .
"Ga , ma--maaf aku mau pulang , tadi Omi nelpon kata nya enggak bisa tidur kalau enggak ada aku . Mungkin besok aku kesini lagi . Maaf banget ya "
"Sha tapi , ada yang mau gue --"
"Ga , besok aja ya " Marsha memotong perkataan Arga ,
Arga memicingkan mata nya , ada sesuatu yang aneh , diri nya akan mencari tahu nya .
"Ga , cepet sembuh ya . Aku pamit" ucap Marsha lalu melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan Arga tanpa berniat mendengar sahutan dari Arga .
Arga menghembuskan nafas nya kasar . "Gagal lagi "
___oOo___