Apa jadinya jika dua orang yang tidak saling mencintai justru harus hidup dan tinggal dibawah satu atap yang sama sebagai suami istri?!
Celine tak pernah menyangka jika hidupnya akan berakhir dengan sangat menyedihkan. Menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak dia cintai, hidup satu atap sebagai pasangan suami-istri.
Setiap hari Celine selalu makan hati karena suaminya selalu membawa pulang wanita lain ke rumah mereka. Apakah Celine cemburu? Apakah Celine sakit hati? Maka jawabannya adalah tidak, bahkan dia tak peduli sama sekali.
Lalu langkah apa yang akan Celine ambil pada akhirnya? Tetap mempertahankan pernikahannya, atau justru mengakhirinya?! Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21: Aku Mencintainya
Celine kembali mencecap coklat panasnya, sesekali Ia memandang kosong keluar jendela cafe. Tersaji pemandangan kota Seoul yang mulai memasuki musim panas. Tidak lama kemudian, pintu cafe terbuka.
Gadis itu langsung menoleh dan melihat kearah pintu. Terlihat Bobby berjalan menghampirinya dengan senyum terbaiknya. Celine tidak menunjukkan ekspresi apa pun, gadis itu hanya memasang wajah datarnya. Bahkan ketika Bobby sudah ada di depannya dan mengecup keningnya.
"Maaf Celine, aku terlambat!" sesal Bobby.
Celine menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah," katanya datar.
Bobby duduk berhadapan dengan Celine. Senyum tak pudar sedikit pun dari wajah tampannya, di genggamnya tangan Celine yang ada di atas meja. Bukannya merasa senang, Celine malah menarik kembali tangannya dan meletakkan di atas pangkuannya.
Bobby mengerutkan dahinya melihat sikap gadis itu yang semakin hari semakin berbeda. Dan Bobby merasa bila Celine semakin menjauh darinya. Tidak hanya itu, Bobby tidak lagi melihat ada cinta dimata Celine untuknya. Bobby mencengkram dadanya yang terasa berdenyut, rasanya sangat sesak. Laki-laki itu menghela nafas dan mencoba menepis semua pikiran negatifnya tentang Celine.
"Celine?"
Celine mendongakkan wajahnya dan menatap Bobby yang juga menatapnya, tatapan Celine tetap sedatar tadi. "Ada apa, Bob?" tanya Celine.
Bobby meraih tangan Celine kemudian menyematkan cincin pada jari manisnya."Mari kita menikah," Celine membuang muka kearah lain, melepaskan cincin itu dari jari manisnya kemudian meletakkan di atas meja
"Maaf, aku tidak bisa!" jawabnya.
Bobby memandang kosong cincin itu lalu mendongak menatap Celine yang terus menatap kosong pada jalanan kota. "Kenapa? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini? Kau seperti bukan gadisku, ada apa denganmu? Kenapa kau tidak mau menikah denganku? Apa kau sudah tidak lagi mencintaimu? Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?"
Celine mengepalkan tangannya sambil menggigit bibirnya. Gadis itu menatap Bobby tajam "BAGAIMANA AKU BISA BAIK-BAIK SAJA KETIKA RUMAH TANGGAKU BERADA DI UJUNG TANDUK," seru Celine dengan suara meninggi.
Nafasnya naik turun dan matanya kembali berkaca-kaca. Celine menghiraukan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Gadis itu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanannya.
"Celine, tunggu!!'
Segera Bobby mengejar Celine yang baru saja meninggalkan cafe. Di tariknya lengan gadis itu membuat Celine mau tidak mau berhenti, Bobby membalikkan tubuh Celine dan menatap langsung pada mata hazel-nya.
"Katakan, apa maksudmu? Bukankah seharusnya kau merasa bahagia karena dia ingin menceraikanmu, dengan begitu kita bisa terus bersama sampai maut memisahkan. Kecuali jika kau..."
"Ya, kau benar. Aku memang mencintainya, aku jatuh cinta pada pria yang membuatku berpisah denganmu. Aku mencintainya, aku mencintainya dan aku tidak ingin berpisah dengannya!" Celine tidak bisa lagi menahan isakannya, bahkan air matanya semakin deras.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Ia menangis, meratapi nasib rumah tangganya yang berada di ujung tanduk. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Aiden. Bobby yang mendengar ucapan Celine hanya bisa terdiam, laki-laki itu tersenyum miris.
Ia kalah, laki-laki itu telah mengalahkannya dan memenangkan hati Celine. Bobby mundur beberapa langkah kebelakang, dengan berat hati Ia meninggalkan Celine dan beranjak pergi.
Celine mendongak menatap langit yang tampak gelap dengan kilatan putih yang terus menyambar. Gadis itu merasa ada sesuatu yang dingin dan basah menyentuh wajahnya, yang semakin lama semakin tidak terhitung jumlahnya. Langit ikut menangis mengiringi kesedihan hatinya.
Tubuh itu tidak lagi sekering sebelumnya, tubuh Celine mulai basah kuyup karena guyuran air hujan dan tubuhnya mulai gemetar kedinginan. Air matanya tetap mengalir meskipun tersamarkan oleh tetesan air hujan yang turun dengan lebatnya. Langit kelabu, sesekali petir menyambar membuat tubuh kecil dan rapuh itu menegang.
Celine masih bergeming dari tempatnya berdiri, disaat orang-orang berusaha berteduh dari hujan, gadis itu justru membiarkan air mata langit itu mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Celine berharap air hujan dapat menghapuskan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Dan dia berharap ada keajaiban dalam kisah cintanya yang rumit. Namun Ia tidak ingin terlalu berharap, dan hanya keajaiban yang bisa membawa Aiden ke dalam pelukannya.
.
.
Celine tiba di rumah tepat pukul 9 malam. Pakaian yang melekat di tubuhnya pum sudah mulai mengering oleh hembusan angin. Samar-samar dia mendengar perbincangan pria yang berasal dari ruang tengah, Celine mengenali siapa pemilik suara-suara itu dan salah satunya adalah Aiden. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Membicarakan sesuatu yang serius? Memangnya sejak kapan bocah seperti kalian yang taunya hanya bermain-main saja bisa menjadi serius?" terdengar nada meremehkan Aiden menyahut ucapan Neo.
Celine kembali memasang baik-baik telinganya. Mendengar pembicaraan orang lain mungkin adalah hal paling tercela, namun rasa penasaran membuat Celine terpaksa melakukannya.
"Yakk. Untuk kali ini saja berhenti meledekku dan, Neo. Sungguh, kali ini aku dan Neo benar-benar serius!" ucap Ren menegaskan.
Aiden mendengus. "Kalau begitu katakan," pintanya datar.
"Ini menyangkut hubunganmu dengan Kakak Ipar , Kak. Apa sekali saja kau pernah mencintainya? Sebenarnya untuk apa kau menerima perjodohan itu jika memang tidak ada cinta di antara kalian berdua? Atau kau melakukannya demi orang tua kita? Apa karena kau tidak ingin mempermalukan keluarga kita jika menolak perjodohan itu?"
"Katakan yang sejujurnya, Kak. Jujur saja aku dan Ren benar-benar penasaran dengan rumitnya rumah tangga kalian berdua, dan kami juga ingin mendengar alasan kenapa kau..."
"Aku mencintai, Celine," sergah Aiden cepat.
Aiden bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela kaca di ruangan itu. Berdiri tegap memandang langit malam yang gelap dan kelam. Aiden menarik nafas panjang dan menghelanya, Ia tidak tau dari mana harus menjelaskan pada kedua adiknya itu mengenai perasaannya pada Celinw yang sebenarnya.
"Jadi? Kau mencintainya, Kak?" Neo dan Ren menatap Aiden tak percaya, pria itu mendesah dan mengangguk .
"Ya, aku mencintainya!!"
.
.
Bersambung.
*mereka melaknat aiden yang bersandiwara membawa wanita lain tapi mereka membela dan membenarkan celine yang selingkuh, bermesraaan, bercumbu dengan lelaki lain
fakta
novel menunjukkan karakter authornya dan koment menunjukan karakter readernya
dia selingkuh dan beemesraan dengan lelaki lain baru dia heran bingung kenapa suaminya mengdarinya
beginilah kelakuan wanita egois, munafik dan tidak punya perasaan sama sekali
dia melakukan hal paling menjijikan, selingkuh dan bermesaan dengan lelaki lain tapi tidak sadar dia melakukan kesalahan
jujur pemikiran celine sangat menjijikan
othornya ini plin plan amat...MENJENGKELKAN
Hanna sama yg lainnya
lanjut💪