NovelToon NovelToon
Scenery Out The Window

Scenery Out The Window

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Arslanoir

Maurice, seorang pemuda biasa yang rela menukar kehidupan biasanya demi pesona kegelapan bernama SMA Nusantara Senja: sekolah pencabut nyawa yang dekat dengan alunan musik hitam.

Di sana ia berkenalan dengan seorang gadis berpenutup mata misterius yang dimusuhi oleh seluruh sekolah.

Satu demi satu orang kehilangan nyawanya. Apakah hantu? Atau sesuatu yang lebih kuat dan jahat daripada itu?

Manusia.

Scenery Out the Window (main story): 1-34
Scenery Out the Window of Corruption: 36-79
Scenery Out the Window of Destruction: 81-119
Maurice's Conclusion 1: 120
Scenery Out the Window of Avior: 121-179
Maurice's Pre-Conclusion 1: 175
Scenery Out the Window of Acute Myself: 183-...

Kisah ini akan mempersembahkan sesuatu yang tak ingin kalian saksikan dari balik jendela.

Disclaimer! Seluruh gambar yang terdapat dalam cerita ini bukanlah milik pengarang.

follow ig Noir di @arslanoir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arslanoir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Immoral Memory of Pathetic Person 5

(disclaimer)

Di depan pintu ruang Kepala Sekolah. Mendadak perasaannya gusar. Tepatnya takut. Baru di saat seperti ini Jethro berpikir khotbah ayahnya setiap malam mengenai Bu Ressel benar.

"Masuk!" teriak Ressel dari dalam seolah mengetahui bahwa Jethro telah berdiri di depan pintu sejak tadi.

Jethro pun masuk. "Selamat siang, Bu Ressel."

"Selamat siang Jethro Dick Rise Rivanno," jawabnya sambil sibuk menyulam di kursi goyang. "Apa benar yang Nenek dengar belakangan?" tanyanya.

"Benar. Dan aku tidak takut menghadapi apa pun resiko dari perasaanku. Meski itu menentang Nenek dan Ayah sekalipun," jawabnya lantang.

"Bagaimana Marquis mendidik kamu. Sehingga menjadi anak kurang ajar. Kata teman sekelasmu kamu berani menghina Nenek. Demi cinta monyet pada pembunuh itu," lanjut Ressel tanpa mengalihkan pandangan dari rajutannya,

"Millie bukan pembunuh, Nek!" Masih tetap sibuk menyulam. Ressel memicing pada pemuda itu. "Ya, yang membunuh Paman Henry i, itu aku."

"Kamu sampai rela berbohong deminya. Sungguh mengharukan. Tapi, kamu harus ingat bahwa pembunuh itu harus dihukum. Kamu siap?" tanya Bu Ressel.

Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak yakin apakah akulah yang membunuh Pak Henry. Tapi, ingatan itu. Rasa darah yang bermuncratan ke bibirku itu. Pemandangan hari itu. Semua tertempel erat di ingatanku. Mengatakan akulah... pelakunya.

Apa yang membuatku melakukannya? Mengapa aku harus membunuh Pak Henry? Pikiranku, ingatanku, semuanya tidak masuk akal dan sangat kejam.

Air mata tanpa isak yang menetes deras dari kedua pelupuk matanya. Tak bisa menangkap logika dari semua ini. Ressel melihat Jethro hingga menghentikan aktifitasnya.

"Aku siap, Bu Ressel!" Jethro menunjukkan kedua telapak tangannya pada Ressel. "Tangan inilah... yang telah menghabisi nyawa putra kandung Anda. LAKUKANLAH APA PUN AGAR INGATAN INI DAPAT LENYAP. HAAAA!!!!" Duak duak duak. Jethro tejatuh dan memukul-mukuli lantai.

Ressel meminta Jethro keluar. Ia beralasanakan memanggil Pak Ridwan. Setelah itu ia menekan-nekan tombol di telepon ruangannya.

"Marquis, aku pikir anakmu membutuhkan Dokter Jiwa."

"Mistress benar. Aku pikir juga dia sudah tidak waras."

🎭🎭🎭

Dengan langkah lemah Jethro kembali melangkah menuju kantin tempat ia meninggalkan Maurice. Benar saja, Maurice masih duduk di meja yang sama sambil menyeruput es cendol seorang diri.

Setelah berdiam diri cukup lama. Akhirnya Jethro berkata pada Maurice, "Sebenarnya aku mempertanyakan sesuatu. Entah kamu memikirkannya atau tidak."

"Aku juga, kok. Pertanyaannya adalah kenapa Bu Ressel mengizinkan polisi mengusut kasus ini. Sebenarnya hubunganmu dengan Kepala Sekolah itu bagaimana?" tanya Maurice.

"Sejak kecil Ayah dibuang oleh orangtua kandungnya hingga harus menggelandang. Pada suatu hari Ayah menyelamatkan seorang wanita kaya yang diserang perampok. Itulah pertemuan pertama dengan Bu Ressel. Ayahku diangkat menjadi anak. Ayah diperlakukan sama dengan putra-putranya yang lain. Hingga kini Ayah menganggap Bu Ressel sebagai... dewi. Pujaan mungkin. Ia akan mematuhi apa pun ucapan wanita itu melebihi ia mematuhi firman Tuhan," jawab Jethro.

🎭🎭🎭

Jethro dan Maurice berpisah saat supir Jethro menghampirinya bak penjahat. Yang harus segera diringkus. Sebelum memasuki mobil Jethro sempat melambaikan tangan pada Maurice. Maurice jadi merasa sedih mengapa mereka harus salah paham seperti tadi. Jethro itu sama seperti Millhewi. Suci.

Tiin tiin tiin! Klakson dari mobil Miranda berbunyi keras. Maurice memasuki mobil itu tanpa suara hingga sampai di rumah. Ia tak bisa mengatur perasaannya sendiri. Ia menderita karena kematian papanya. Selama ini ia terus saja berpura-pura untuk senyuman dan tawa orang biasa.

Kenyataan bahwa ia menyukai darah dan kematian. Tak akan bisa meninggalkannya seumur hidup. Hanya akan membuatnya menggila. Ia gila dengan hidupnya.

Padahal tujuan awalku pindah ke SMA Nusantara Senja untuk menyelidiki kasus pembunuhan Pak Henry. Semakin kemari aku malahan lebih banyak memikirkan diri sendiri. Mungkin alasanku ingin mengetahui siapa pembunuh Pak Henry. Karena merasa gagal tidak dapat menemukan pembunuh Papa.

Ketika semakin banyak pembunuhan terjadi. Niat itu berubah. Entah menjadi apa. Padahal pembunuh itu sempat menyentuh wajahku. Tapi, wajahnya tetap tertutup. Bayangan hitam.

"Mama," panggilnya pada Miranda yang tengah memasak bersama Mbok Ratih.

"Apa, Sayang? Maurice, Mama sedang membuat makanan kesukaanmu. Nasi pindang," beritahu Miranda ceria.

Pandangannya kosong menatap Miranda. Ia tak mengetahui apa pun. Berusaha mencari tahu dan salah. Ia tak paham perasaannya. Ia tak tahu apa yang dipikirkannya.

"Mama tahu siapa yang membunuh Papa?" tanya Maurice pada akhirnya.

Tek. Waktu seolah berhenti turut menghentikan gerakan Miranda maupun Mbok Ratih.

"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Miranda sambil melanjutkan kegiatannya memotongi daging.

"Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan jika tidak mendapat keterangan atas bayangan itu. Peristiwa kematian Papa senantiasa menghantui pikiranku. Entah sadar maupun tidur. Aku mengingatnya jelas. Segala detail kejadian itu. Hanya satu yang tertutupi. Wajah pelakunya," jawab Maurice.

"Mas Maurice, itu kan sudah lama. Mungkin juga memang sudah waktunya buat Tuan pergi. Tidak usah dibicarakan lagi. Kasihan arwahnya," nasihat pembantunya.

"Aku bertanya pada Mama," balas Maurice.

Mereka mengabaikanku. Menyembunyikan sesuatu yang penting bagiku. Merahasiakan bukti dari hidupku.

Tepat saat itu mengapa... seperti ada sekilat cahaya yang menyinari wajah itu. Tapi, terlambat untuk Maurice menyadarinya. Diusap dahinya yang berkeringat dan kembali ke kamar.

"Maurice kenapa, ya?" tanya Miranda khawatir.

"Maklum, sedang puber," jawab Mbok Ratih.

Maurice berubah sejak masuk SMA Nusantara Senja. Apakah kesalahan karena aku membiarkannya menjalani itu? Jangan-jangan SMA Nusantara Senja telah menyingkap tabir masa lalunya? Kumohon, jangan.

"Miranda, Ratih, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Maurice di depan cermin.

🎭🎭🎭

Esoknya Nismaya mendatangi Millhewi sendirian.

"Kapan kalian akan melepaskanku?" tanya Millhewi.

"Tidak akan!" ketusnya sambil membalik badan hendak menuruni tangga.

Langkahnya terhenti saat Millhewi berkata, "Selanjutnya anak yang dahinya lebar itu."

🎭🎭🎭

Beberapa hari kemudian muncul surat keputusan dari kepolisian yang menyatakan baik Panji maupun Edi melakukan bunuh diri. Tapi, tidak untuk Maurice yang menguping pembicaraan dua orang siswi di lorong.

"Benar Edi anak kelas A, bukan? Sebenarnya aku melihatnya di hari katanya dia meninggal," aku seorang siswi.

"Lalu, kenapa kamu tidak melapor pada polisi?" tanya siswi satunya.

"Aku tidak bisa bicara kalau di depan polisi. Ingatanku seperti hilang," jawab siswi itu.

Maurice mendatangi keduanya. "Bisa kau ceritakan padaku apa yang kau lihat?" tanyanya.

Ia mulai membayangkan. "Waktu itu di klub voli aku dapat piket membersihkan lapangan. Saat aku ingin menutup pintu belakang gedung olah raga. Aku melihat Edi tengah berbincang dengan seseorang. Karena membelakangiku. Aku tak tahu ia bicara pada siapa. Ia laki-laki yang menggunakan seragam yang sama dengan kita. Jadi, kupikir temannya," jawab siswi itu.

Logikanya mungkin saja orang terakhir yang ditemui Edi mempengaruhi pikirannya untuk melakukan bunuh diri.

Atau yang lain?

Sebenarnya aku ingin tahu siapa pelakunya bukan untuk keadilan. Apalagi membela anak itu. Sama sekali tidak. Aku hanya berpura-pura untuk mengisi hari-hari jenuhku. Sementara tidak seorang pun yang menyadari akting bodoh ini. Aku akan membela yang benar dan memerangi kejahatan. Untuk menyembunyikan rasa bosanku. Mari membenci dengan kesungguhan hati. Kalian semua akan mati.

Maurice berjalan sendirian menuju pintu keluar. Berat perasaannya menyadari Millhewi tak lagi berjalan di sisinya. Sebenarnya di mana dia?

Aku masih curiga dengancarillonitu. Aku ingin sekali mencari sendiri. Memastikan sendiri dengan mata kepalaku. Tapi, aku tidak bisa. Mustahil aku bisa bertahan di tempat tinggi.

Diputar langkahnya kembali ke bagian belakang sekolah. Dalam hatinya berdengung perasaan: aku akan mati jika tidak memastikannya dengan mata kepalaku sendiri!

Sampailah ia di depan tangga gelap menuju puncak carillon. Belum-belum keringatnya sudah menetes deras. Membayangkan betapa panjang tangga itu. Berusaha dibayangkannya tangga itu adalah tangga di rumahnya sendiri. Yang pendek. Dengan merayap diteguhkan hatinya mencapai puncak.

Tep! Saat mencapai ujung derita. Perasaannya semakin kacau tak mampu membuka mata. Hanya mampu dirasakan keringat yang muncul dari kulitnya. Keadaannya basah kuyup. Pelan dibuka matanya. Karena keringat yang berkumpul di bulu mata. Membuat pemandangan kabur sesaat. Ketakutan masih mencengkramnya. Hingga...

TANG! Suara benda logam yang menghantam kepalanya menutup penglihatan Maurice.

(Sumber gambar: Avogado6)

Apakah ini akhir dari perjalanan singkat Maurice?

Ikuti terus ceritanya! Jangan lupa share comment dan like 👍

1
Phi Pesek
👍
♚Qų¡ղ♕🅠🅡🅕
keren kak. terpesona dengan ceritanya. tak lanjut ya
Arslan Cealach: silahkan dishare ke teman-temannya yg mungkin tertarik juga ya hohoho
total 2 replies
Music Is Life🎧🎶
Maurace itu cwek atau cwok sieh? Bingung aku
Arslan Cealach: hehe coba dibaca terus nanti juga tahuhuhuhu
total 2 replies
Music Is Life🎧🎶
panggilannya Momo Tahu😀
Altair Syahrifsan
mantap
Arslan Cealach
HEIII INI NOIR BAWA KABAR BAHAGIOO 🎉 Buat yg pengen baca karya horor seram, penuh misteri, dan super seru lain seperti SCENERY OUT THE WINDOW karya Noir bokeh banget intip karya baru Noir yaa judulnya...

SANG PEWARIS KEGELAPAN

Berawal dari permintaan untuk indekos. Hidup Gio yg udah buruk jadi semakin nyampah karena terperangkap di perkampungan aneh. Ga ada yg salah dengan perkampungan itu. Tapi para tetangganya... mencurigakan semua!

Cari aja di gugel 😂 pf baca novel yg warna ungu 😈 napen Arslanoir ☺ sampai ketemu sayang ♥ 👍
Altair Syahrifsan
kenapa iklan lazad*a selalu muncul tiap 2 detik 😠😠😠 kesel banget sampah padahal dah saya uninstall app nya
Nadine Sabrina
suka bangett oyyy 💓💓💓💓💓💓💓
Arslan Cealach: Makasih banyak kak terus baca yaa 💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
total 1 replies
Mira
jepang mata belo alay gasi 😭🤸‍♀
Arslan Cealach: Btw kk juga bisa cek info soal karya Noir yg lain di ig: arslanoir.write ;-D
total 2 replies
Mira
otakku dipermainkan disini
Arslan Cealach: All free ya kak ceritanya <3
total 2 replies
Mira
deg degan dichapter ini tuh dapet banget 😭
Mira
Bumiku yang malang...
Arslan Cealach: Lha Noir malah jadi ceramah wkwk
total 2 replies
Mira
Baper sama sikap Bumi sama Ayano. bener bener apa adanya tapi romantis rasanya tuh
Arslan Cealach: Cowok idaman sejagat hiks
total 1 replies
Mira
pengen cepet² ke adegan dimana Bumi mencapai titik jayanya. Dimana semua orang yang kontra akan dia, berbalik untuk mengabdi padanya. Tapi ya, gabisa menebak dichpater mana adegan itu berada. Alhasil baca lah semua chapter dengan sabar
Arslan Cealach: Makasih banyak kak
total 1 replies
Mira
jatuh cinta sama novel ini pas dichapter 2, lebih diperkuat ketika sampai chapter 4. serius!! saya enggak bisa menebak-nebak alur disini. bener² deh alurnya bagus thor, bikin gregett. but, maaf ya jarang like abisan bacanya offline biar gada iklan
Arslan Cealach: Kalau ada kesempatan nanti Noir mohon dukungannya di setiap bab untuk cerita ini ya kak <3 kamsahamnida (namaste)
total 1 replies
Mira
KERENNN
Arslan Cealach: KAMU JUGA KERENNN MAKASIH BANYAK YA SUDAH BACA JANGAN LUPA INTIP KARYA NOIR LAIN DI PF UNGU/PINK YANG PASTINYA GA KALAH SERU KEREN DAN THRILL >O< BIG LOVE 4 UUU
total 1 replies
Rena Harianto
author apakah ini cerita lain lagi kah???
kok gak nyambung dengan cerita sebelum nya
Arslan Cealach: ini masih sambung kok kak ♥ ini adl pondasi yg membentuk maurice karena untuk anak remaja spt maurice pasti ada perjalanan panjang yg bisa buat dia jadi spt ending kisah sebelumnya ♥ terima kasih ☺
total 1 replies
Rena Harianto
thor,itu gambar barusan menggambar kan apa?
Arslan Cealach: manusia adalah makhluk paling mengerikan di dunia kak *sob sob*
total 1 replies
Rena Harianto
cantik thor poto cewek nya
Arslan Cealach: terima kasih kak ♥☺
total 1 replies
Rena Harianto
saya sudah merasakan sedikit ke hororan nya thor,
semangat ya thor.
Arslan Cealach: wkwk gas terus 😈
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!