(17+)
Mengenal seorang laki-laki bernama Dika, dia adalah teman sepupuku, kakak kelasku waktu SMP, dia itu anak yang usil sekali dan suka menggodaku, lulus SMP Dika meninggalkan kota ini dan melanjutkan sekolah di ibukota bersama kepindahan keluarganya, disaat Dika jauh, Vania merasa kehilangan dan merasa mencintai Dika.
Vania... gadis tomboi yang pintar dan banyak prestasi menunggu kabar dari Dika tak juga kunjung ada, kemudian saat di SMK Vania bertemu dengan Arman, laki-laki yang selalu mengisi hari-harinya dan akhirnya Vania melupakan cinta pertamanya dan mulai mencintai Arman.
Tapi... di saat Dika bekerja di Negeri Jepang dan mulai mapan, Dika menghubungi Vania, dan menginginkan menjadi istrinya.
Simak kisah selanjutnya, apakah Vania memilih Dika sebagai cinta pertamanya? atau Arman yang selalu ada untuk Vania, atau memilih laki-laki lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariyanti Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlombaan
Pagi jam enam aku sudah berada di Dinas pendidikan dimana aku berkumpul untuk berangkat ke provinsi untuk mengikuti lomba tingkat provinsi cabang atletik mewakili kabupatenku, ini adalah terakhir kali aku ikut lomba lari, setelah ini aku fokus ke belajarku, apapun yang kudapat hari ini, aku siap menang ataupun kalah aku akan berhenti, batinku
"Vania, semangat ya" kata Arman aku mengaggukkan kepala kemudian naik ke atas bus bersama dengan atlit lainya, setelah semua siap bus meninggalkan dinas pendidikan, aku lihat Arman dari kaca cendela melambaikan tanganya, akupun begitu
Aku menikmati perjalanan ini, tak lama kemudian kami sampai di tempat perlombaan, aku berjalan mengikuti pak Ratno, dan berhenti di pojokan lapangan bersama dengan atlit lari lainya
"Vania makan dan minum dulu, perlombaan masih lama jam dua jam lagi" kata Pak Ratno sambil menyerahkan kotak makanan dan susu kotak dan air mineral juga kepada atlit lainya, aku membuka kotak makanan dan makan makanan tersebut demikian juga dengan atlit lainya.
Tak terasa waktuku berlomba tiba, hatiku was-was juga cemas
"Vania... kamu bisa semangat" kata pak ratno sambil mengepalkan tanganya menyemangatiku
"Pasti" kataku
Juga mengepalkan tangan kemudian aku masuk ke lapangan masuk ke barisan sesuai urutanku, panitia memberi aba-aba dan aku bersiap untuk lari, aku masuk babak final, lawanku dari beberapa kota dan kabupaten, mereka semua hebat tapi aku juga harus mengalahkan mereka, saat ini aku masuk urutan no sepuluh aku harus melewati sembilan pelari di depanku, kurang dua putaran lagi, saat ini aku sudah diurutan no lima, aku harus bisa, kupacu langkah kakiku dan semangatku sampai aku pada barisan no dua, tinggal beberapa meter lagi aku sampai ke finish susah sekali melewati pelari no satu, dan akhirnya aku mendapatkan juara dua tingkat provinsi
Aku menjatuhkan diriku setelah melewati finish sujud syukur disana, tanpa ada keluarga yang menghadiri, ketika aku berdiri disambut oleh Pak Ratno dan orang-orang dinas terkait, mereka semua memberiku selamat.
Saat aku keluar dari lapangan kulihat kedua orang tuaku dan kedua orang tua Arman juga Arman turun dari podium, aku berkaca-kaca terharu, aku tidak menyangka mereka datang memberiku support aku berlari menghampiri mereka memeluk ibu dan bapakku
"Selamat Vania, terima kasih sudah membuat Ibu Bapakmu ini bangga" kata Bapak
"Iya Pak, Bu" mataku berkaca-kaca haru dan memeluk Ibu dan Bapakku, kemudian menoleh ke orang tuanya Arman
"Om, Tante terima kasih" ucapku
"Arman... gak nyangka kamu datang, terima kasih" kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Selamat Vania, kamu hebat" kata Om Idris
Tante Tina tersenyum bangga kepadaku
kemudian aku duduk bersebelahan dengan Arman sambil mengelap keringatku dengan handuk dan meluruskan kakiku mengambil air mineral dan meminumnya, di tribun kami ngobrol-ngobrol santai, kulihat pak Ratno memberi kode padaku untuk turun di lapangan, aku segera menuruni podium dengan berlari menuju lapangan.
Sampai di tempat pak Ratno
"Vania... kamu di sini setelah ini pengumuman juara, dan kamu naik ke sana" kata pak Ratno sambil menunjukkan tempatku nanti
"Selamat Vania, kamu hebat baru tahun ini kabupaten kita dapat juara lari" kata pak Ratno
"Terima kasih pak atas segala bimbingan dan kerja kerasnya melatih Vania" kataku
"Pak... ini terakhir Vania ikut lomba lari" kataku pelan karena takut pak Ratno kecewa
"Kenapa?" tanya pak Ratno penasaran
"Vania sebentar lagi akan kelas dua, ada kegiatan magang juga ingin fokus sekolah Pak" kataku menjelaskan alasanku
"Nanti Pak Ratno rundingkan dengan lainya ya" kata pak Ratno
Tak lama kemudian namaku di panggil aku berlari menuju ke panitia dan naik ke kotak kayu yang tertulis angka dua, panitia mengumumkan kalau aku mendapat juara dua mewakili kabupaten dan mengalungkan medali ke leherku juga menyerahkan piala dan aku turun dari kotak kayu kemudian melangkah menuju ke pak Ratno, "Ini untukmu Vania, bawalah pulang" kata pak Ratno
"Pak... Vania sekarang sudah boleh pulang?" tanyaku
"Kamu mau pulang dengan siapa?" tanya pak Ratno kemudian
"Sama keluargaku dan keluarga Arman Pak" kataku sambil menunjuk ke tribun dimana mereka berada, Pak Ratno melihat mereka dan melambaikan tangan
"Iya Vania, boleh pulang duluan, nanti aku bilang ke panitia kabupaten" kata Pak Ratno
"Terimakasih Pak, saya permisi" kataku kemudian berjalan meninggalkan Pak Ratno membawa tropi, medali dan uang menuju ke keluargaku, dalam hati Alhamdulillah...
Sampai di tribun
"Ayo foto bareng" kata Arman sambil mengeluarkan kamera
"Pak... minta tolong di fotokan ya?" kata Arman ke Bapak yang duduk di depan, kami berpose aku membawa pialaku dan tersenyum bangga
"Terimakasih pak" kata Arman kemudian mengambil kameranya
"Vania ganti baju dulu ya..." pamitku kemudian meletakkan tropi di tribun dan aku turun ke bawah dengan membawa tas ransel, Arman mengikutiku.
"Hei... ngapain kamu mengikutiku" kataku
"Gak boleh apa?" kata Arman
"Awas jangan ngintip loh" kataku kemudian masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
Sebenarnya di bawah tribun ada ruang untuk ganti tapi aku malas harus berputar, selesai ganti baju aku keluar kamar mandi, kulihat Arman masih duduk di tempat semula
"Ada apa Man?" tanyaku.
"Selamat ya" kata Arman.
"Kan sudah tadi" kataku.
"Ini ucapan selamatnya khusus dariku" kata Arman.
"Ha ha ha, ada-ada saja kamu ini Man" kataku
"Ayo..." kataku kemudian aku berjalan menuju ke tribun
Sampai di tribun bersama dengan Arman
"Ibu Bapak tadi bagaimana ceritanya bisa kesini bersama om dan tante?" tanyaku
"Arman yang ke rumah tadi menjemput kami bersama kedua orang tuanya" kata Ibu
"Hah? jadi Om Idris, Tante Tina ke rumah tadi?" tanyaku
"Ya Allah... maaf rumah Vania seperti itu beda sama rumah Om Idris" kataku
"Vania... bagaimanapun kondisimu, tapi kamu membanggakan kedua orang tuamu, kamu seperti ini berarti orang tuamu hebat mendidikmu" kata Om Idris sambil menepuk pundakku
"Pak Idris ini terlalu memuji kami" kata Bapak
"Ayo pulang" kata Tante Tina.
Kemudian kami berjalan menuju mobil Om Idris, aku dan Arman naik di bangku belakang sendiri, om idris menghidupkan mobilnya, perjalanan langsung menuju rumahku
Dua jam kemudian kami sampai di rumahku, waktu menunjukkan pukul empat sore
"Bapak, Ibu, Arman silahkan masuk" kata Ibu mempersilahkan mereka masuk ke rumah kemudian aku dan Bapak menemui mereka, Ibu keluar rumah menuju warung sebelah mungkin beli sesuatu, tak lama kemudian Ibu kembali membawa bungkusan plastik dan masuk ke dalam.
Ketika Ibu kembali ke ruang tamu.
"Bapak, Ibu, Arman mari ke dalam cicipi masakan desa" kata Ibu, kemudian kami masuk ke dalam menuju meja makan, kami makan bersama "Rasanya khas Bu" kata tante Tina, setelah selesai makan, keluarga Arman pamit dan meninggalkan rumah kami.
semangat kak😍