(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)
Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Halaman ~
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...
“Mas... aku berangkat dulu.” Zahra mendekati Abyan yang tengah duduk di sofa sembari fokus pada layar laptopnya.
Abyan tersenyum saat melihat Zahra. “Sebelum kamu pergi, Mas pengen ngomong sebentar.”
Zahra sedikit ragu. Ia masih teringat percakapan sebelumnya yang belum sepenuhnya selesai. “Tapi aku telat loh, Mas,” ucapnya sambil melirik jam yang sudah menunjukkan setengah dua siang.
“Kabarin aja dulu teman kamu untuk masuk telat. Bilang aja ada urusan mendadak,” perintah Abyan santai.
Zahra sempat berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Iya, Mas.” Ia duduk di samping Abyan dengan jarak sekitar satu meter sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia pun langsung mengirim pesan ke Finna, serta teman-temannya. “Sudah Mas, ada apa?”
“Begini, Ay… maaf ya, kita belum bisa langsung pindah ke rumah yang kamu mau. Mas pengen liat dulu rumahnya bareng kamu sebelum ditempatin.”
Ia berhenti sejenak dengan tatapan yang lebih dalam, menunjukkan kesungguhannya.
“Mas nggak mau tempat itu nanti malah nggak nyaman buat kamu. Soal sawah lima hektar itu, Mas juga udah nemuin tempat yang lumayan bagus buat ditanamin.”
Zahra terdiam sejenak. Ucapan Abyan membuatnya kembali menyadari betapa seriusnya Abyan menanggapi hal yang ia anggap hanya candaan. “Mas... kamu nggak perlu repot-repot begini. Aku kan udah bilang, bahwa aku kemarin cuma bercanda aja. Jadi... lupakan aja ya, Mas.”
“Iya itu candaan kamu, tapi ini bukan candaan bagiku,” jawab Abyan sedikit dingin.
Zahra menelan ludah. Suasana kembali berubah. “Iya... maaf, Mas.”
“Kalau nanti ada waktu, kita liat rumahnya bareng. Mas udah pilih beberapa lokasi. Kalau soal sawah, tunggu kamu libur atau berhenti kerja dulu, baru kita ke sana.”
Zahra mengangguk patuh. “Tapi kalau boleh tau... di mana lokasi rumahnya, Mas?”
“Masih dalam kota, nggak terlalu jauh.”
“Ini apartemen mau diapain, Mas? Apa kita juga bakal pisah rumah?” tanyanya spontan.
Abyan menatap dengan wajah datar. “Cukup kamar aja yang pisah ya, Ay. Jangan rumah.” Abyan kembali menatap laptopnya. “Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa aku robohin rumah itu,” ucapnya pelan, tapi tegas.
Zahra terdiam, sedikit bingung dengan reaksi Abyan.
“Kamu itu istri Mas bukan?”
“Teman, Mas.”
“Zahra....” panggilnya dengan suara yang mulai menegang.
Zahra buru-buru menenangkan suasana. “Iya hadir, Mas.”
Abyan kembali tersenyum tipis.
Zahra menghela napas pelan.
“Mas serius, Ay.”
“Iya aku lebih serius, Mas.”
Abyan menghela napas pelan. “Apartemen ini hanya tempat singgahan aja, siapa tau kamu dan Mas jenuh tinggal di sana. Kamu juga bebas di rumah ini, mau apa aja. Kamu juga boleh mau masuk ke kamar Mas, tidur di sana sama-sama lagi atau ada keperluan lainya,” jelasnya.
Zahra hanya mengangguk pelan sembari menyengir. Sepertinya itu berat.
“Motor kamu udah di bawah, kalau nggak tau tempat parkiran tanya sama security.”
Mata Zahra langsung berbinar. “Iya Mas, terimakasih banyak.”
Abyan spontan merasa motor lebih penting dari pada dirinya. “Terus... jika kamu pulang ke apartemen, lalu mau masuk, tekan nomor yang Mas kirim ke Hp kamu, biar mudah di ingat.”
Zahra tersenyum bahagia. “Iya, Mas.”
Abyan kembali merasa sepertinya Zahra akan bahagia jika membahas bendanya sendiri. “Itu aja. Kamu boleh pergi.”
Zahra masih tersenyum-senyum. “Iya, Mas.”
Abyan menatap Zahra heran. “Iya udah... kamu ngapain masih di sini?”
Zahra tersenyum kecil. “Kirain, Anda masih mau menyampaikan sesuatu. Kalau begitu saya berangkat ya, Pak.”
Abyan terkejut dengan panggilan Zahra. “Bapak lagi panggilannya,” gumamnya.
“Anda kan direktur saya,” balas Zahra ringan.
Abyan melihat Zahra dengan wajah kesal, tapi ia tetap menahan diri. “Ingat ya Ay, dimana pun itu, Mas tetaplah suami kamu, bukan siapa-siapa.”
Zahra mengangguk sembari tersenyum tipis. “Iya... sayangku.” seketika ia terdiam, refleks menutup mulutnya sendiri.
Abyan terdiam sejenak. “Kamu... panggil Mas apa tadi?”
Zahra panik. “Itu Mas... maksudnya sayang banget sudah terlambat mau masuk kerja. Kalau begitu aku berangkat dulu.” Ia langsung berdiri, mendekat, lalu mengangkat tangan untuk berpamitan.
Abyan membalas sembari menahan senyuman. “Hati-hati di jalan, bawa motor juga harus pelan-pelan. Yang penting selamat.”
Zahra tersenyum. ”Siap bos... laksanakan. Assalamu'alaikum.”
Abyan tak bisa menyembunyikan senyumannya. “Waalaikumussalam...”
...***...
Motor kesayangan Zahra kini sudah terparkir di belakang apartemen. Ia sudah pulang dari kerjanya hari ini. Zahra masih melihat kembali motor kesayangannya itu.
Rasa bahagia tak bisa ia pungkiri. Motor itu bukan sekadar kendaraan, melainkan hasil kerja kerasnya sejak awal.
Kenangan tentang perjuangan itu kembali terlintas. Dari gaji yang harus dibagi, kebutuhan yang harus dipenuhi, hingga usaha keras di bawah panas dan hujan. Semua terasa nyata dalam setiap langkah yang telah ia lalui.
Ia pun mengambil kantong plastik hitam dari dalam jok.
Dua bungkus bakso dibawanya masuk ke dalam apartemen. Ia sempat tersenyum kecil, mengingat kini ada seseorang yang bisa diajak makan bersama.
Sesampainya di depan pintu, ia menekan nomor yang diberikan Abyan, lalu masuk ke dalam.
Di dalam, Abyan masih duduk dengan laptop terbuka dan dokumen yang berserakan di meja. Wajahnya tampak fokus, namun langsung berubah saat melihat Zahra.
Tampaknya lelaki itu tidak pindah tempat sejak pagi tadi.
“Lagi sibuk ya, Mas?” tanya Zahra sembari mendekat.
“Ini... barusan aja selesai, Ay,” jawab Abyan sambil menutup laptop. Tatapannya kemudian beralih ke palstik di tangan Zahra. “Itu apa, Ay?”
Zahra mengangkat plastiknya. “Dua bungkus bakso, Mas mau nggak?”
Senyum Abyan langsung muncul. “Mas mau.”
Zahra mengangguk. “Iya udah kalau gitu… aku ke kamar ganti baju dulu, habis itu baru kita makan bareng.” Ia sempat berhenti. “Mas udah makan nasi belum?”
“Sudah, Ay,” jawab Abyan. “Kamu sendiri, udah makan nasi belum?”
“Sudah juga Mas, di kantin rumah sakit tadi.” Zahra meletakkan plastik di meja makan. “Aku ke kamar dulu Mas, tunggu sebentar.”
Abyan mengangguk sambil tersenyum.
Zahra melangkah pergi, meninggalkan ruang itu dengan perasaan yang entah kenapa terasa lebih ringan.
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...