Tak dihargai dan dianggap sebagai Istri. Akankah Serra tetap mempertahankan pernikahannya dengan Leo yang sejak awal sudah tidak sehat?!
Tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka!!Serra menikahi Leo karena terpaksa. Keluarga angkatnya memiliki hutang yang sangat besar pada keluarga, Leo. Dan karena tak bisa melunasi semua hutang-hutangnya tersebut. Maka Serra yang harus ditumballkan, dan demi balas membalas budi pada keluarga angkatnya, Serra rela menikah dengan pria tak punya hati seperti Leo.
Kehadiran orang ketiga dalam pernikahan mereka, membuat Serra sadar, jika tak ada alasan lagi baginya untuk mempertahankan pernikahannya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Alergi!!
"Serra,"
"Mama,"
Serra dan Nyonya Margaretha saling menatap dengan mata berkaca-kaca. Rasanya nyonya Margaretha ingin menghampiri Serra dan langsung memeluknya, tetapi hal itu harus ia tahan untuk sementara waktu, begitu pula dengan Serra.
Sungguh ia ingin tahu rencana apa sebenarnya yang tengah dijalankan oleh Luis dan ibunya untuk Lia. Bukan hanya mereka berdua saja, tetapi Nyonya dan Tuan Qin juga ikut terlibat.
Nyonya Qin menghampiri menantu kesayangannya itu dan menggenggam tangannya. "Tidak perlu berkecil hati, apalagi merasa sedih. Dia tetaplah ibu kandungmu dan hanya kau satu-satunya putri, Margaretha." Ucap Nyonya Qin mencoba menenangkan Serra.
Perempuan itu menatap Ibu mertuanya dan menganggukkan kepala. "Aku mengerti, Ma. Tetapi sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan?" Serra menatap ibu mertuanya itu dengan penasaran.
Nyonya Qin menghilangkan dan menggelengkan kepalanya. "Mama sendiri juga tidak tahu, ini semua adalah rencana, Luis. Dia hanya meminta kami supaya mengikuti alur yang di perankan oleh Lia. Tapi percayalah, jika rencana Luis adalah yang terbaik." Ucap Nyonya Qin sambil tersenyum lebar.
Leo dan Lia datang bersamaan. Lia langsung menghampiri Nyonya Margaretha dan memeluknya. Membuat perempuan itu merasa tak nyaman sama sekali. "Mama, aku tau kau adalah, Mamaku. Maafkan aku karena tak langsung mengenalimu." Ucap Lia, namun pandangannya pada Serra.
Serra memutar matanya jengah. Bukannya merasa iri ataupun marah, dia justru merasa jijik. Terus terang Serra merasa kasihan pada Lia, demi mencapai tujuannya sampai-sampai dia rela membohongi semua orang. Dan hal itu Tentu saja sangat memalukan.
"Maafkan, Mama, juga. Ayo makan, Maka sudah memasak banyak seafood untukmu. Saat masih kecil kau suka sekali makan Seafood. Dan pasti selama ini kau merindukan seafood masakan, Mama."
Deggg...
Lia tersentak kaget. Apa dia tidak salah dengar? Seafood, bagaimana mungkin dia sangat menyukai seafood sementara dirinya alergi pada segala jenis makanan yang berasal dari laut. Lia menggelengkan kepala.
"Ma, aku sudah tidak menyukai seafood lagi. Aku tidak tahu Sejak kapan, tetapi sudah sejak lama aku tak pernah memakannya." Ucap Lia.
"Wah, sayang sekali, ya. Padahal Bibi Margaretha sengaja memasak seafood itu untukmu, akan sangat kecewa jika putrinya tak mau memakan masakannya." Ucap Luis sambil mengangkat gelas berkaki tinggi yang berisi air putih.
Pandangan Lia lalu bergulir pada Luis. Wanita itu menggeleng. "Bukan seperti itu, aku ingin sekali memakannya, tapi masalah..."
"Jangan memaksanya!!" Leo mengambil suara dan menatap semua orang di meja makan dengan tajam, Luis terutama. "Dia sedang hamil, dan dokter menyarankan agar Lia tidak memakan seafood untuk kebaikan janinnya!!"
"Memangnya Sejak kapan dokter melarang ibu hamil memakan seafood?!" Serra menyela ucapan Leo. "Seafood merupakan salah satu makanan yang direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil, untuk mendapatkan beberapa nutrisi yang dibutuhkan tubuh sendiri dan janin. Karena makanan tersebut kaya akan kandungan protein, zat besi, dan zink yang sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan bayi." Ujarnya panjang lebar.
Skak matt..
Leo dan Lia kehilangan kata-katanya. Mereka tak bisa lagi berkata-kata setelah mendengar ucapan Serra. Dan penuturan Serra tentu saja mengejutkan orang-orang yang sedang berkumpul dimeja makan, kecuali Luis yang memang sudah mengerti tentang gadis itu.
"Tentu saja sejak Leo membawaku periksa ke dokter kandungan. Dan dokter menyarankan ku agar aku tidak memakan seafood, bisa jadi bayinya mengalami alergi jika aku sampai memakannya!!" sahut Lia menuturkan.
"Lia, Sayang. Rasanya itu sangat mustahil, karena dalam keluarga kita tidak ada catatan yang mengalami alergi pada segala jenis seafood." Ucap Nyonya Margaretha.
Mendengar hal itu membuat Lia menjadi gelagapan sendiri, dia bingung untuk menjawab apa. Lia sedang memutar otaknya, mencoba menemukan jawaban yang tepat untuk membalas ucapan Nyonya Margaretha.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak memakannya, Ma. Makanya aku bisa mengalami alergi. Sejak kecil hidupku sudah sangat susah, jangankan untuk membeli seafood, untuk makan saja harus mencari dulu baru bisa membeli makanan untuk dimakan."
"Kemudian saat aku masuk sekolah menengah, teman-temanku mengajakku makan siang di kantin. Kemudian mereka memesankan ku makanan seafood, setelah memakannya tiba-tiba tubuhku gatal-gatal dan merah-merah. Dari situlah aku baru sadar ternyata aku alergi pada semua jenis seafood." Ujar Lia menuturkan.
Bukannya merasa prihatin dengan keadaan perempuan itu. Semua orang yang berada di meja makan malah mengabaikan cerita Lia yang penuh dengan drama dan sandiwara. Kecuali Leo, hanya dia satu-satunya orang yang peduli padanya.
"Kalian sudah mendengarnya sendiri kan, jadi mulai sekarang jangan pernah memaksanya untuk memakan seafood lagi. Lia, alergi pada seafood. Dan akan sangat fatal akibatnya, jika dia tetap memakannya!!"
Nyonya Margaretha penggalang nafas."Sungguh sangat disayangkan, aku pikir Lia akan memakannya, tetapi ternyata tidak." Ucapnya dengan raut wajah kecewa.
"Kecuali jika dia adalah putri palsu!!" sahut Serra sambil menyeringai sinis ke arah Lia.
Wanita itu pun berdiri dan menatap Serra dengan tajam. "Maksudmu apa perkata seperti itu? Oh, jadi kau menuduhku sebagai putri palsu, Mama Margaretha?! Jelas-jelas hasil tes DNA itu membuktikan jika aku adalah Putri kandungnya, sementara kau bukan!!"
"Aneh sekali, ya. Padahal kami tidak pernah membahasnya denganmu maupun, Leo. Tentang Putri Bibi Margaretha yang selama ini hilang maupun tentang tes DNA itu. Tapi bagaimana kau dan Leo bisa tau, bahkan kau sampai ikut-ikutan melakukan tes juga!! Apakah ini masuk akal?!"
"A..Apa maksudmu?" Lia menatap Serra dengan gugup.
Perempuan itu mengangkat bahunya."Bukan apa-apa, pikirkan saja sendiri!!" jawabnya.
Lia tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar apa yang Serra katakan. Dia benar-benar kehilangan kata-katanya sekarang. "Kenapa diam saja, Kakak Ipar? Apakah ada yang salah dengan perkataan ku? Atau mungkin karena kau memiliki maksud terselubung?" Serra menyeringai.
"Apa maksudmu?!"
Serra mengangkat bahunya. "Bukan apa-apa, lupakan saja apa yang baru saja aku katakan. Anggap saja aku tidak mengatakan apapun." Jawabnya sambil tersenyum.
Luis menatap istrinya itu dengan bangga. Serra benar-benar sulit di tebak, dibalik wajah cantiknya dan sikapnya yang anggun, ternyata dia juga pandai berdebat apalagi membuat orang lain sampai kehilangan kata-kata.
Itu artinya dia tidak perlu turun tangan untuk menghadapi menjawab setiap kata yang keluar dari bibir Lia, karena Serra saja sudah cukup untuk menghadapinya.
"Sudah cukup kalian semua. ini adalah meja makan, semuanya duduk di kursi masing-masing. Jangan membuatku sampai kehilangan selera makan karena kalian!!" ucap Tuan Qin menengahi perdebatan.
Dia benar-benar paling tidak bisa jika ketika melihat ada yang berdebat dimeja makan. Karena meja makan untuk berkumpul bersama keluarga, bukan untuk berdebat apalagi bertengkar seperti ini.
.
.
Bersambung.
sungguh mantap ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘