Kisah seorang wanita terpaksa menjual tubuhnya hanya untuk pengobatan suami. menjadi selimut hangat, menghangati tubuh seorang CEO yang ternyata punya maksud lain dibalik penawaran tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cece Virgo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Kalau begini terus, akunya bisa sakit karna kurang istirahat." gumam Arunika menatap lekat setiap lekuk wajahnya
Ia pikir karena tuntutan perjanjian kepada Virendra-lah yang membuatnya merasa lelah. berhubungan disetiap malam dengan pria itu, belum lagi mengurus suaminya yang masih dalam perawatan di rumah sakit. Rehatnya terkuras untuk mereka, hanya demi uang yang sangat bernilai bagi sepasang suami istri tersebut.
Arunika kembali membilas wajahnya agar tetap segar dan lebih bersemangat lagi dalam menjalani hari-harinya ke depan.
***
Diselang pekerjaannya yang cukup banyak pada hari itu, Virendra terlihat senyam-senyum sendiri menatap seonggok box yang tertata rapi diatas meja kerjanya. sembari menyelesaikan pekerjaannya ia menanti seseorang yang akan ke ruangannya beberapa saat lagi.
Tak berapa lama apa yang dinanti Virendra akhirnya tiba juga. suara ketukkan pintu begitu ia harapkan. hingga saat pintu terbuka sebelum ia mempersilakan, senyum kembang yang terpatri dibibirnya langsung menyurut ketika sosok yang tidak ia inginkan menampakkan wujudnya.
"Mita?" Virendra terhenyak kaget, ia langsung berdiri dan mendekatinya dengan raut wajah yang tampak tegang
"Ngapain kamu kesini lagi!"
"Aku bosan di rumah, ibu bawel mulu." keluhnya dengan raut wajah yang lesu dan sebal
"Nggak harus kemari juga, kan?" Virendra mengusap wajahnya dengan kasar sembari menatap pintu ruangannya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. "Kamu bisa ke teman-temanmu. ayo ikut!" sontak saja Virendra langsung mencekal tangan Asmita dan menyeret wanita itu keluar dari ruangannya.
Menjauh.
"Ih!! kenapa sih, Veer? aku pengen numpang tidur di kamarmu!" Asmita menghentakkan tangan mereka, ingin lepas
"Aku akan pesankan hotel dengan view yang menarik," tanpa banyak basa-basi dan tidak ingin ribet dengan urusan wanita ini, Virendra langsung mengambil jalan cepat untuk memesankannya hotel dari pada berurusan panjang dengan wanita ini.
Sesekali Virendra mengedarkan pandangan ke setiap arah, termasuk lift yang akan mereka tuju. Seketika Virendra bisa bernapas lega kala ia dan Asmita telah masuk ke dalam benda segi empat ini sambil check in melalui sebuah aplikasi di ponsel pintarnya.
"Kamu temani, ya?" pinta Asmita dengan manjanya. memeluk lengan Virendra sembari bergelayut begitu gemasnya
Virendra terlihat risih, beberapa kali ia menjauhkan tangannya dari wanita ini.
Ia benar-benar merasa tidak nyaman
"Aku banyak pekerjaan." ucapnya
"Ck!" Asmita berdecak kesal. "Sebentar lagi juga jam istirahat, kan? ayolah ... tinggalkan sebentar pekerjaanmu."
"Tidak bisa. sebentar lagi akan ada pertemuan dengan beberapa klien dan aku harus menyelesaikan semuanya." ucap Virendra dengan alasannya
Asmita hanya bisa mengembuskan napas dengan kasar. tatapannya terlihat kesal kepada pria ini.
Lift yang mereka naiki telah berhenti tepat di lantai dasar gedung ini. pintu otomatis terbuka dan memperlihatkannya dengan berbagai macam kesibukan di lantai tersebut. ya, para pegawai gedung tampak giat sekali dengan pekerjaan mereka masing-masing. berpacu pada waktu hingga mengerahkan pikiran untuk terus berusaha mengerjakan tugas dengan baik dan benar.
"Pergilah," ucapnya dengan lembut namun mimik wajah terlihat sangat dingin. mendorong tubuh seksi Asmita untuk masuk ke dalam taksi
Hingga pintu telah tertutup rapat dan Virendra melanjutkan kalimatnya yang ingin ia utarakan sedari tadi. "Dan jangan pernah kembali." gumamnya
Virendra melangkahkan kakinya dengan cepat setelah mampir ke pos security untuk memberikan tugas baru kepada mereka. moodnya yang terkadang tidak beraturan, kadang terlihat ramah dan kadang terlihat dingin, tidak membuat mereka yang berpapasan dengannya merasa heran.
Para pegawai seolah mengerti akan sikap bossnya itu.
"Apa dia sudah datang?" tanya Virendra kepada sekretarisnya yang tetap stay didepan ruangan sang presdir
"Su-sudah, Tuan."
Virendra mengangguk samar sembari menatap lekat wajahnya. "Lain kali harus keras sama Asmita itu! kalau perlu suruh mereka membantumu mengusirnya." peringat Virendra sembari menodongkan tatapan tajam kepada para pegawai yang bertugas tidak jauh dari sana
Sekretarisnya hanya mengangguk dengan tunduk
Virendra merapikan kemejanya beserta dasi yang ia kenakan. tak lupa pula dengan tatanan rambut yang tak mau kalah demi terlihat tampan tanpa celah sedikit saja dihadapan sosok yang ia harapkan didalam sana.
Virendra mencoba untuk tersenyum sebelum masuk ke dalam ruangannya sendiri. entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kencang dan ia merasa gugup akan hal ini.
Lucu sekali, seolah-olah Virendra akan melakukan interview saja sehingga merasa gugup.
Ceklek!
Pintu ruangan dibuka, menampilkan sosok cantik tengah berdiri dihadapan tembok kaca hingga memperlihatkan suasana kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi di sekitarnya.
Sosok tersebut terhenyak kaget kala sepasang lengan melingkar di pinggulnya. kecupan lembut begitu terasa di leher jenjang milik Arunika.
Arunika, sosok wanita bersuami yang begitu cantik telah berhasil membuat sang presdir terlihat gugup sebelum bertemu dengannya.
"Uh! lepas!"
~Bersambung~
woi iiiii mana
woiiii
jangan main main.
saya sdah tdak sabaran menunggu kisah selanjutnya.
author mmang terbaik.
semangat Author