Hai gusy, harap maklum ya novel ini masih banyak typo, karena masih dalam tahap revisi, revisi lambat!
Seorang guru beladiri perempuan termuda yang masih berumur 19 tahun di kota X terpaksa dieksekusi hukum mati, karena dituduh sudah menjual informasi tentang perguruan mereka, dia adalah guru beladiri termuda sepanjang sejarah perguruan mereka, siapa sangka setelah dihukum mati perempuan itu memiliki kesempatan kedua untuk hidup, sayangnya dia bertransmigrai ke dalam tubuh seorang gadis SMA yang cupu dan kerap sekali dibully.
Saat sudah berada di dalam tubuh gadis cupu itu, gadis itu di hadapan dengan dua masalah di dua tempat yang berbeda.
Bersamaan dengan itu Laura bertemu dengan seorang guru muda yang mungkin bisa membantu dirinya keluar dari beberapa masalahnya.
Penasaran dengan kisah Laura? kuy kepoin hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kejar-kejaran
Bissmillahirohmanirohim.
Dengan perasaan malas dan kesal Vano terpaksa mengantarkan pakaian ganti untuk Liana, ke perguruan Kalam kilat. Pakaian itu sudah disiapkan oleh Wati terlebih dahulu, sebelum menyuruh Vano untuk mengantarkan pada Liana.
"Huh! itu anak kok ngeselin banget sumapah! Mana gue disuruh anterin bajunya lagi, udah mulai ngelunjak sama gue"
Vano mengerkan kakinya turun dari mobil, benar-benar dengan perasaan malas, ingin sekali rasanya dia melampiaskan kemarahanya pada Liana.
Vano sudah benar-benar memasang muka marah, bahkan mukanya sampai sudah merah padam, Vano menatap datar orang yang berjaga digerbang perguruan kalam kilat.
"Maaf ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu penjaga itu dengan ramah.
Jujur saja, ingin rasanya penjaga tersebut menonjok muka Vano, tapi aturan yang ada di perguruan kalam kilat harus memaksanya untuk menahan diri agar tidak melukai tamu.
Bagaimana tidak sebal, muka Vano seperti orang yang mengajak berperang saja tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
"Ya! Saya ingin bertemu dengan Liana!" jawab Vano datar.
'Cek'
"Baiklah anda bisa tunggu sebentar" Vano mengangguk.
Tapi belum sempat penjaga itu melangkah Vano kembali bersuara. "Katakan pada Liana, jangan terlalu lama, karena saya bukan babunya! Tapi kakaknya!"
Sayangnya penjaga itu tak lagi mengubris perkataan Vano, dia hanya menganggukkan kepalanya agar Vano tak bersuara lagi.
Vano akhirnya memutuskan untuk duduk disalah satu kursi tunggu, sunggu Vano sudah malas sekali rasanya.
5 menit sudah berlalu tapi Liana tak kunjung terlihat batang hidungnya. "Cek, mana sih anak itu lama banget dah! Nggak tahu apa gue nunggu lama, waktu gue terbuang sia-sia cuman buat nunggu dia doang" kesal Vano.
Sampai 10 menit berlalu barulah Vano melihat Liana melangkah keluar dari perguruan Kalam kilat, yang membuat Vano tambah sebal pada Liana, gadis itu tersenyum dari kejauhan pada dirinya, tentu saja senyum mengejek yang Liana berikan untuk Vano..
"Awas kamu ya Liana!" teriak Vano dalam hatinya.
Rasanya dia ingin menendang perut Liana sekarang juga, tapi Vano berusalah menghadapi Liana dengan tenang, Vano tahu jika dia main kekerasan maka Liana pun tak akan segan melakukan kekerasan pada dirinya.
Saat Liana sudah berdiri di hadapan Vano, Vano mentapa gadis yang menyandang status sebagai adik sepupu satu susuan dengan ibu, Vano mentapnya dengan tajam, setajam harimau yang ingin segera melahap habis mangsanya, tapi sayang Liana bahkan sama sekali tidak takut dengan tatapan itu, karena dia Laura si gadis tangguh bukan Liana.
"Lo emang kakak gue yang paling terbaik! Terima kasih sudah mau susah-susuah mengantar bajuku" ucap Laura, sambil merebut tas yang sedang Vano pegang.
"Sekarang lo boleh pergi" usir Laura. "Sudah tidak ada keperluan lagi buka" Laura semakin membuat Vano jengah.
"Lo!-"
"Apa?" potong Laura sebelum Vano angkat bicara, benar Laura tak sedikitpun memberikan Vano ruang untuk bicara.
"Sudahlah lupakan!" dengus Vano sebal.
Tanpa pamit Vano pergi begitu saja dari hadapan Liana. "Terima kasih kakakku" teriak Laura sebelum Vano benar-benar sudah tak terlihat lagi.
Bukannya Laura tidak mau mengambil baju gantinya sendiri di rumah Liana, hanya saja peraturan yang ada di perguruan Kalam kilat tak membolehkan satupun murid pulang ke rumah mereka masing-masing. Bukan kejam hanya saja aturan ya tetap atauran.
Dengan perasaan senang Laura masuk kembali ke dalam area perguruan Kalam kilat, bagaimana tidak senang, lagi-lagi dia berhasil membuat Vano kesal.
"Asik banget dah ngerjain kakak sendiri, huh! Seru juga ya punya kakak kayak Vano, seru buat dijahili" ucap Laura pelan.
Hal yang paling tidak Laura senang sama sekali, ketika dia harus berpapasan dengan ketau Sinta, ataupun tak sengaja bertemu dengan ketua Sinta.
"Apes banget dah gue ketemu sama mak Lampir satu ini!" ucap Laura sedikit keras.
"Kamu ngomongi saya?" marah Sinta, tak lupa matanya yang sudah melotot seperti ingin lompat dari tempatnya.
"Siapa? Kalau situ ngerasa sih nggak papa juga saya tidak marah" jawab Laura dengan enteng.
Saking entengnya jawaban yang Laura berikan pada Sinta, merupakan dia memiliki status seorang ketua, membuat Glen yang tak sengaja mendengarnya sampai terbelak kaget.
'Itu bocah kayak nggak ada takut-takutnya sama sekali lah' ujar Glen tak habis pikir.
Nggak di sekolah, nggak di perguruan Kalam Kilat Liana sama saja, Glen belum tahu seperti apa Liana yang dulu.
Sinta masih menatap Liana dengan tajam, sedangkan yang ditatap hanya berlaku santai saja. "Kamu! Jaga sopan santun kamu ya! Saya ketua di perguruan ini!" sentak Sinta..
Tapi lagi-lagi Glen yang masih menonton Sinta dan Liana, dibuat heran dengan gadis itu, bahkan kemarahan Sinta tak membuat Liana takut sedikitpun..
"Saya tahu, ketua sinta juga tak perlu mengumumkan, semua murid di perguruan ini juga tahu jika ketua Sinta adalah ketua yang paling galak!"
"Saking galaknya bahkan ketua Sinta tak memikirkan perasaan orang lain, it's okey jika yang lain diam jika anda marah, itu semua tidak masalah! Tapi mohon maaf semua itu tidak berlaku untuk seorang Liana"
"Kam-"
Laura belum selesai bicara, dengan cepat dia memotong perkataan ketua Sinta yang akan angkat bicara dia sudah geram dengan Liana, ketua Sinta sama sekali tak menyangka ada anak baru seberani Liana, Liana dengan terang-terangan mengibarkan bendera perang pada dirinya.
"Ingat ketua Sinta! Jika anda ingin dihargai maka hargai lebih dulu orang lain, atau jangan-jangan anda ingin dihargai dengan uang kalau begitu katakan berapa!" ucap Laura sambil tertawa..
"Kamu!"
"Ups, maaf ketua Sinta saya salah bicara, bukan! tapi yang saya katakan adalah sebuah fakta" ucap Laura lalu dia lari masih sambil mentertawkan Sinta.
"Kurang ajar kamu Liana! Aku akan menghukummu lihat saja!" sentak ketua Sinta
Sinta segera berlari mengejar Liana, ingin rasanya dia menjebloskan Liana ke dalam penjara! Tidak lebih tepatnya Sinta ingin sekali Sinta mendorong Liana kedasar jurang.
Tidak ada Laura ternyata anak baru bernama Liana itu lebih membuat Sinta ingin sekali mengamuk.
"Jangan lari kamu Liana!" teriak Sinta.
Glen saja sampai tidak percaya jika ketua Sinta akan meladeni Liana yang masih labil itu, Glen sampai memperhatikan Sinta dan Liana yang sedang main kejar-kejaran.
"Week! Coba tangkap ketua Sinta kalau bisa" balas Laura tak kalah berteriak.
"Gadis kurang ajar! Awas kamu ya"
Karena Liana dan ketua Sinta saling teriak sampai mengundang para penghuni perguruan Kalam kilat untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Sedang apa ketua Sinta dan anak baru bernama Liana itu" begitulah kira-kira pertanyaan yang terlontar dari orang yang menyaksikan hal tersebut.