NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Setelah Renata menyerahkan

dokumen yang baru saja diselesaikan kepada Tia, kemudian dia beres-beres dan

pulang ke rumah. Sengaja dia mematikan ponselnya, biar Bram maupun Erwin tidak

bisa menghubungi.

Sampai di rumah mbok Jum

heran tiba-tiba Renata muncul.

“Kok masih siang sudah pulang

jeng...”

“Rena pusing mbok, badan

sakit semua. Pengen tidur.”

“Simbok kerokin ya, mungkin

aja masuk angin...” kata mbok Jum dengan kuatir.

“Gak usah mbok, buat

tidur saja ntar juga sembuh.”

“Ya sudah, tapi makan dulu

ya jeng..”

“Nanti sore aja mbok...”

“Ya sudah..., simbok

buatin teh panas saja.”

Setelah Renata masuk kamar,

mbok Jum ke dapur untuk membuatkan teh panas, kemudian diantar ke kamar Renata.

Renata merebahkan

badannya di tempat tidur dan memakai selimut sampai di leher. Mbok Jum

mendekati dan memijit kakinya, kemudian pindah ke tangannya. Mbok Jum terkejut

karena badan Renata demam.

“Jeng badannya agak panas,

minum obat dulu ya, terus tehnya diminum mumpung masih anget.”

Renata tidak menjawab,

tapi dia bangkit duduk dan meminum tehnya, satu gelas dihabiskan.

“Udah mbok tinggal aja,

aku mau tidur.”

“Ya jeng, kalau perlu

apa-apa panggil simbok ya.” Mbok Jum kemudian keluar kamar, membiarkan Renata

tidur. Jam lima sore mbok Jum masuk ke kamar Renata, karena tidak ada tanda-tanda

Renata bangun dan keluar dari kamar.

Rupanya Renata sudah bangun

dan baru saja keluar dari kamar mandi.

“Lhoooo... kok mandi jeng,

kan lagi demam..”

“Gak mandi kok, cuma lap saja,

gak tahan mbok, rasanya gerah.”

“Trus gimana sekarang? Masih

pusing? Makan dulu ya jeng, biar cuma sedikit.”

“Masih. Tapi barusan minum

obat lagi kok, tolong aja buatin coklat anget.”

“Siang belum makan kan.

Makan saja dulu sedikit jeng.”

“Ntar malem aja mbok. Pengen

tidur aja.”

“Perutnya kan kosong jeng.

Atau simbok temani ke dokter ya...”

“Ahhh...gak usah mbok.

Cuma pusing aja. Badan juga udah gak panas kok.”

“Ya sudah, simbok bikin

coklat dulu ya...tapi habis minum coklat terus makan ya....” Mbok Jum ke dapur

untuk membuat coklat hangat kesukaan Renata.

Setelah coklat diminum Renata,

mbok Jum keluar kamar, membiarkan Renata kembali tidur karena tetap tidak mau

makan. Dan memang benar, entah karena pengaruh obat yang diminumnya, Renata

kembali tertidur pulas.

Mbok Jum sebenarnya merasa

sedih dengan kondisi Renata. Dia teringat tadi pagi ibunya Renata telphone menanyakan

kondisi Renata. Ibunya khawatir dengan Renata. Apalagi mengingat harusnya beberapa

bulan lagi Renata menikah dengan Adhitya, dan tiga bulan ke depan kekhawatiran

ibunya apabila Renata kembali down karena memikirkan pengkhianatan Aditya. Mbok

Jum juga khawatir, jangan-jangan sekarang Renata sakit juga karena itu. Mbok

Jum jadi sedih melihat kondisi Renata.

Ketika mbok Jum sedang menutup

gordin ruang tamu, karena hari sudah mulai gelap, muncul Bram yang wajahnya

menunjukkan kekhawatiran.

“Mbok..... Renata sakit

ya..?’

“Iya den, mari silakan

masuk dulu.

“Sakit apa, terus sekarang

kondisinya gimana...?” Tanya Bram Lagi dengan penuh kekhawatiran sambil duduk

di kursi tamu. Mbok Jum ikut duduk.

 

 

 

 

*Flasback on*

Sekitar jam tiga ponsel

Tia ada nada panggil masuk, rupanya panggilan dari Bram.. dan ini panggilan

yang ke tiga. Karena yang pertama dan ke dua tidak dijawab. Tia khawatir Bram

menanyakan Renata. Karena tidak enak, akhirnya Tia menjawab telephone Bram

“Halooo...Tia ada Rena di

dekat situ..? Kok aku phone gak pernah diangkat, kayaknya ponselnya mati, terus

chat juga gak masuk. Kamu juga, aku phone dari tadi gak diangkat.”

“Eeee...Rena lagi meeting

mas. Kayaknya gak bawa Hp dech...” Jawab Tia berbohong

“Oke dech. Tolong sampein

aku phone ya. Trims”

“Siaaappp...bos.”

Jam lima kembali Bram

phone Tia

“Gimana Tia...kok Rena

susah juga aku phone. Ada apa Tia...?” Tanya Bram mulai curiga.

“Eeee...anu mas...” Tia

tergagap dengan pertanyaan Bram

“Tia please dech...ada

apa dengan Renata..?” Tanya Bram penasaran.

“Mas...maaf... sebenarnya

ini permintaan Rena...”

“Memangnya ada apa..?”

Bram makin penasaran

“Mas sebenarnya Renata sudah

pulang sejak tadi jam sebelasan. Dia gak enak badan. Kayaknya sakit, tapi dia

gak mau aku kasih tahu mas Bram...”

“Haahh... sakit apa..?”Tanya

Bram khawatir.

“Katanya sih pusing. Tapi

yang kulihat tadi mukanya agak pucat...”

“Terus dia pulang naik

apa...sama siapa...?”

“Sendirian mas, naik

taxi...sory ya mas.....” Jawab Tia dengan nada menyesal.

“Oke dech..trims infonya

ya..” Kemudian Bram mengakhiri pembicaraan.

*Flashback off*

“Renata sebenarnya sakit

apa mbok..?” Tanya Bram dengan perasaan khawatir

“Tadi pulang dari kantor,

katanya pusing dan badan agak panas. Sekarang masih tidur. Sebenernya simbok

khawatir kalau penyakit jeng Rena kambuh lagi..” Jawab mbok Jum dengan muka

sedih

“Penyakit apa mbok..?” Tanya

Bram heran.

“Sejak jeng Rena pisah

dengan pacarnya, jeng Rena sering sakit dan masuk rumah sakit, bahkan sering

pingsan. Mungkin ini karena pikiran juga. Tadi pagi ibu sepuh tilpon simbok

menanyakan kabar jeng Rena karena khawatir, kalau tidak salah kira-kira dua atau

tiga bulan lagi harusnya jeng Rena menikah dengan mas Adhit. Ibu khawatir jeng Rena

kepikiran dan jadi sakit. Ternyata menurut simbok sepertinya benar, karena

akhir-akhir ini simbok lihat jeng Rena sering melamun, bahkan susah makan, kalaupun

ada yang dikerjakan, paling-paling ngurus tanaman, yang memang dari dulu kesukaannya...”

Terlihat air mata keluar dari mata mbok Jum.

“Mbookkk...” Bram

bermaksud memotong pembicaraan mbok Jum

“Simbok sangat kasihan dengan

jeng Rena den. Tapi simbok gak bisa berbuat apa-apa. Simbok sangat sayang sama

jeng Rena. Kok ada ya...laki-laki yang jahat sama jeng Rena. Padahal jeng Rena

orangnya baik, hatinya lembut...” Terdengar mbok Jum terhisak.

“Sejak pisah dengan mas

Adhit, jeng Rena tidak pernah dekat dengan laki-laki. Dan baru sekarang sepertinya

dekat dengan den Bram. Simbok sangat senang den, kalau jeng Rena sudah mau dekat

lagi dengan laki-laki. Karena selama bekerja di sini, jeng Rena belum pernah

dekat lagi dengan pria.” Kata mbok Jum dengan suara lirih.

“Mbok...saya memang mencintai

Renata. Saya akan membahagiakan Renata, tapi sepertinya Renata belum mau terima

saya..” Bram berkata dengan sungguh-sungguh.

“Simbok hanya bisa

berdoa, semoga jeng Rena menerima den Bram. Kasihan jeng Rena...”

“Mbok boleh saya lihat

Rena ?”

“Coba simbok lihat dulu

ya den, sudah bangun atau belum. Tadi jam limaan bangun. Belum mau makan dari

siang. Cuma minum coklat, tapi sudah minum obat.”

“Baik mbok, saya tunggu

di sini.”

Sepeninggalan mbok Jum,

hati Bram benar-benar merasa sedih dan sakit mendengar cerita mbok Jum. Sama

dengan apa yang pernah Arya ceritakan padanya. Ren...kasihan sekali kamu. Aku

berjanji akan membahagiakan kamu, apapun caranya. Kata Bram dalam hati.

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!