Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Setelah Renata menyerahkan
dokumen yang baru saja diselesaikan kepada Tia, kemudian dia beres-beres dan
pulang ke rumah. Sengaja dia mematikan ponselnya, biar Bram maupun Erwin tidak
bisa menghubungi.
Sampai di rumah mbok Jum
heran tiba-tiba Renata muncul.
“Kok masih siang sudah pulang
jeng...”
“Rena pusing mbok, badan
sakit semua. Pengen tidur.”
“Simbok kerokin ya, mungkin
aja masuk angin...” kata mbok Jum dengan kuatir.
“Gak usah mbok, buat
tidur saja ntar juga sembuh.”
“Ya sudah, tapi makan dulu
ya jeng..”
“Nanti sore aja mbok...”
“Ya sudah..., simbok
buatin teh panas saja.”
Setelah Renata masuk kamar,
mbok Jum ke dapur untuk membuatkan teh panas, kemudian diantar ke kamar Renata.
Renata merebahkan
badannya di tempat tidur dan memakai selimut sampai di leher. Mbok Jum
mendekati dan memijit kakinya, kemudian pindah ke tangannya. Mbok Jum terkejut
karena badan Renata demam.
“Jeng badannya agak panas,
minum obat dulu ya, terus tehnya diminum mumpung masih anget.”
Renata tidak menjawab,
tapi dia bangkit duduk dan meminum tehnya, satu gelas dihabiskan.
“Udah mbok tinggal aja,
aku mau tidur.”
“Ya jeng, kalau perlu
apa-apa panggil simbok ya.” Mbok Jum kemudian keluar kamar, membiarkan Renata
tidur. Jam lima sore mbok Jum masuk ke kamar Renata, karena tidak ada tanda-tanda
Renata bangun dan keluar dari kamar.
Rupanya Renata sudah bangun
dan baru saja keluar dari kamar mandi.
“Lhoooo... kok mandi jeng,
kan lagi demam..”
“Gak mandi kok, cuma lap saja,
gak tahan mbok, rasanya gerah.”
“Trus gimana sekarang? Masih
pusing? Makan dulu ya jeng, biar cuma sedikit.”
“Masih. Tapi barusan minum
obat lagi kok, tolong aja buatin coklat anget.”
“Siang belum makan kan.
Makan saja dulu sedikit jeng.”
“Ntar malem aja mbok. Pengen
tidur aja.”
“Perutnya kan kosong jeng.
Atau simbok temani ke dokter ya...”
“Ahhh...gak usah mbok.
Cuma pusing aja. Badan juga udah gak panas kok.”
“Ya sudah, simbok bikin
coklat dulu ya...tapi habis minum coklat terus makan ya....” Mbok Jum ke dapur
untuk membuat coklat hangat kesukaan Renata.
Setelah coklat diminum Renata,
mbok Jum keluar kamar, membiarkan Renata kembali tidur karena tetap tidak mau
makan. Dan memang benar, entah karena pengaruh obat yang diminumnya, Renata
kembali tertidur pulas.
Mbok Jum sebenarnya merasa
sedih dengan kondisi Renata. Dia teringat tadi pagi ibunya Renata telphone menanyakan
kondisi Renata. Ibunya khawatir dengan Renata. Apalagi mengingat harusnya beberapa
bulan lagi Renata menikah dengan Adhitya, dan tiga bulan ke depan kekhawatiran
ibunya apabila Renata kembali down karena memikirkan pengkhianatan Aditya. Mbok
Jum juga khawatir, jangan-jangan sekarang Renata sakit juga karena itu. Mbok
Jum jadi sedih melihat kondisi Renata.
Ketika mbok Jum sedang menutup
gordin ruang tamu, karena hari sudah mulai gelap, muncul Bram yang wajahnya
menunjukkan kekhawatiran.
“Mbok..... Renata sakit
ya..?’
“Iya den, mari silakan
masuk dulu.
“Sakit apa, terus sekarang
kondisinya gimana...?” Tanya Bram Lagi dengan penuh kekhawatiran sambil duduk
di kursi tamu. Mbok Jum ikut duduk.
*Flasback on*
Sekitar jam tiga ponsel
Tia ada nada panggil masuk, rupanya panggilan dari Bram.. dan ini panggilan
yang ke tiga. Karena yang pertama dan ke dua tidak dijawab. Tia khawatir Bram
menanyakan Renata. Karena tidak enak, akhirnya Tia menjawab telephone Bram
“Halooo...Tia ada Rena di
dekat situ..? Kok aku phone gak pernah diangkat, kayaknya ponselnya mati, terus
chat juga gak masuk. Kamu juga, aku phone dari tadi gak diangkat.”
“Eeee...Rena lagi meeting
mas. Kayaknya gak bawa Hp dech...” Jawab Tia berbohong
“Oke dech. Tolong sampein
aku phone ya. Trims”
“Siaaappp...bos.”
Jam lima kembali Bram
phone Tia
“Gimana Tia...kok Rena
susah juga aku phone. Ada apa Tia...?” Tanya Bram mulai curiga.
“Eeee...anu mas...” Tia
tergagap dengan pertanyaan Bram
“Tia please dech...ada
apa dengan Renata..?” Tanya Bram penasaran.
“Mas...maaf... sebenarnya
ini permintaan Rena...”
“Memangnya ada apa..?”
Bram makin penasaran
“Mas sebenarnya Renata sudah
pulang sejak tadi jam sebelasan. Dia gak enak badan. Kayaknya sakit, tapi dia
gak mau aku kasih tahu mas Bram...”
“Haahh... sakit apa..?”Tanya
Bram khawatir.
“Katanya sih pusing. Tapi
yang kulihat tadi mukanya agak pucat...”
“Terus dia pulang naik
apa...sama siapa...?”
“Sendirian mas, naik
taxi...sory ya mas.....” Jawab Tia dengan nada menyesal.
“Oke dech..trims infonya
ya..” Kemudian Bram mengakhiri pembicaraan.
*Flashback off*
“Renata sebenarnya sakit
apa mbok..?” Tanya Bram dengan perasaan khawatir
“Tadi pulang dari kantor,
katanya pusing dan badan agak panas. Sekarang masih tidur. Sebenernya simbok
khawatir kalau penyakit jeng Rena kambuh lagi..” Jawab mbok Jum dengan muka
sedih
“Penyakit apa mbok..?” Tanya
Bram heran.
“Sejak jeng Rena pisah
dengan pacarnya, jeng Rena sering sakit dan masuk rumah sakit, bahkan sering
pingsan. Mungkin ini karena pikiran juga. Tadi pagi ibu sepuh tilpon simbok
menanyakan kabar jeng Rena karena khawatir, kalau tidak salah kira-kira dua atau
tiga bulan lagi harusnya jeng Rena menikah dengan mas Adhit. Ibu khawatir jeng Rena
kepikiran dan jadi sakit. Ternyata menurut simbok sepertinya benar, karena
akhir-akhir ini simbok lihat jeng Rena sering melamun, bahkan susah makan, kalaupun
ada yang dikerjakan, paling-paling ngurus tanaman, yang memang dari dulu kesukaannya...”
Terlihat air mata keluar dari mata mbok Jum.
“Mbookkk...” Bram
bermaksud memotong pembicaraan mbok Jum
“Simbok sangat kasihan dengan
jeng Rena den. Tapi simbok gak bisa berbuat apa-apa. Simbok sangat sayang sama
jeng Rena. Kok ada ya...laki-laki yang jahat sama jeng Rena. Padahal jeng Rena
orangnya baik, hatinya lembut...” Terdengar mbok Jum terhisak.
“Sejak pisah dengan mas
Adhit, jeng Rena tidak pernah dekat dengan laki-laki. Dan baru sekarang sepertinya
dekat dengan den Bram. Simbok sangat senang den, kalau jeng Rena sudah mau dekat
lagi dengan laki-laki. Karena selama bekerja di sini, jeng Rena belum pernah
dekat lagi dengan pria.” Kata mbok Jum dengan suara lirih.
“Mbok...saya memang mencintai
Renata. Saya akan membahagiakan Renata, tapi sepertinya Renata belum mau terima
saya..” Bram berkata dengan sungguh-sungguh.
“Simbok hanya bisa
berdoa, semoga jeng Rena menerima den Bram. Kasihan jeng Rena...”
“Mbok boleh saya lihat
Rena ?”
“Coba simbok lihat dulu
ya den, sudah bangun atau belum. Tadi jam limaan bangun. Belum mau makan dari
siang. Cuma minum coklat, tapi sudah minum obat.”
“Baik mbok, saya tunggu
di sini.”
Sepeninggalan mbok Jum,
hati Bram benar-benar merasa sedih dan sakit mendengar cerita mbok Jum. Sama
dengan apa yang pernah Arya ceritakan padanya. Ren...kasihan sekali kamu. Aku
berjanji akan membahagiakan kamu, apapun caranya. Kata Bram dalam hati.
next