NovelToon NovelToon
Rindu

Rindu

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Single Mom / Hamil di luar nikah / Teen Angst / Tamat
Popularitas:538.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: hermawati

Sudah jatuh tertimpa tangga plus diludahi, sebuah gambaran kehidupan yang dialaminya, Akibat kecerobohannya, ia terjebak malam panas dengan lelaki yang paling dibencinya di sekolah,

Kehidupan yang tadinya damai berubah drastis menjadi kekacauan baik di sekolah dan keluarganya.

Beruntung ada sang ibu yang selalu menguatkannya melewati masa-masa sulit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh satu

Sesuai permintaan Kartika, Rindu bersikap biasa saja, seolah menerima, ketika Rita mengaku sebagai calon ibu tirinya, saat remaja berusia delapan belas tahun itu, tiba di rumah.

Rindu bisa melihat raut wajah terkejut dari wanita perusak rumah tangga kedua orangtuanya, "Nggak masalah Tan, yang penting papaku bahagia," komentarnya,

Setelah mengatakannya, Rindu meminta ijin memasuki kamarnya yang ada di lantai dua, rasanya ingin menangis, berteriak dan memaki, namun ia harus menahannya, karena tak ingin kedua orangtuanya bertengkar.

Makan malam bersama, membuat Rindu nyaris tak bisa menelan makanannya, ia muak melihat kelakuan Rita yang kelewat manja pada papanya.

Setelahnya, Pramana mengajaknya duduk berbicara diruang keluarga, lelaki berusia empat puluh lima tahun itu duduk sendiri di sofa singel, sementara Kartika dan Rindu duduk di sofa panjang, lalu Rita duduk di sofa singel berseberangan dengan papanya.

"Tunggu pa, sebelum papa berbicara, Rindu mau minta hadiah untuk kelulusan, nilai Rindu bagus loh pa, Rindu peringkat ke dua puluh untuk satu angkatan, jadi papa harus kasih hadiah ke Rindu," pinta remaja itu.

"Hadiah apa yang kamu minta?" tanya Pramana.

"Uang dong pa, Rindu mau liburan ke Singapura bareng Andini," Dustanya, ia menyelipkan jari telunjuk dan tengahnya bersilang di saku piyama yang dikenakannya.

"besok ya,"

Rindu menggeleng, ia memasang wajah sedih, ia tau Pramana paling tidak bisa melihatnya bersedih.

"Kan bentar lagi liburan, entar tiket pesawatnya keburu abis, Rindu kan juga mesti booking hotel," ujarnya beralasan.

Rita hampir protes namun Kartika menyelanya, "Kasih aja Mas, Rindu udah berusaha keras supaya dapat nilai bagus, tau sendiri menjelang ujian, anak kita sampai sakit selama seminggu,"

Pramana mengambil ponselnya, dan mentransfer nominal beberapa puluh juta untuk putri semata wayangnya.

Rindu yang mendengar notifikasi di ponselnya, langsung mengeceknya, ia tersenyum lebar, lalu bangkit mencium pipi sang papa sembari berucap terima kasih.

"Jadi apa yang mau papa bicarakan?" tanya Rindu tersenyum, setelahnya ia duduk kembali bersebelahan dengan Kartika.

Pramana menghela nafas, ia menatap putrinya dengan tatapan rasa bersalah, "Sebelumnya papa minta maaf, mungkin ini akan menyakiti kamu," lelaki itu menghentikan ucapannya dan bangkit, lalu duduk di samping putrinya, memegang kedua tangan buah cintanya dengan sang istri, "Papa akan menikahi Tante Rita, papa mohon jangan marah," pintanya.

Rindu mencium punggung tangan sang papa, "Sebenarnya Rindu kecewa, tapi kalau hal ini buat papa bahagia, nggak masalah, lalu bagaimana dengan mamaku?" tanyanya melirik Kartika yang duduk disebelahnya.

Pramana mengelus kepala putrinya, ia mencium dahi remaja itu, lalu menatapnya lembut, "Kami akan tetap bersama, kamu nggak usah khawatir, kami tak akan berpisah,"

Rindu melirik Kartika yang memasang senyum palsu, "Apa mama tidak keberatan untuk berbagi suami dengan wanita lain?" tanyanya mencoba berakting.

Kartika mengelus kepala belakang putrinya, "Asal papa bahagia, tak masalah, Karena cinta sejati akan melakukan apapun untuk kebahagiaan pasangannya, begitu juga mama yang mencintai papa,"

Rita berdehem, seolah memberitahukan bahwa wanita itu masih berada di sana menyaksikan drama keluarga yang mungkin memuakan bagi dirinya.

Keesokan paginya, Seperti biasa jika di rumah, Rindu akan membantu Kartika mengerjakan pekerjaan rumah, meskipun sudah ada ART yang dibawa Rita, tak mengubah apapun kebiasaan anak dan ibu itu.

Keduanya hanya membicarakan seputar sarapan yang dibuat, juga bumbu-bumbu apa saja yang digunakan, tak ada pembahasan apapun soal calon istri Pramana seolah keduanya telah menerima keadaan.

Rindu baru saja selesai menata meja makan ketika Pramana berjalan ke arahnya dengan Rita yang menggandeng tangan lelaki itu mesra.

Di meja makan, seperti biasa Kartika mengambilkan ini itu sesuai keinginan Pramana, terlihat seperti istri yang baik, sementara Rindu seolah tak peduli dan memulai sarapannya sendiri.

"Apa rencana kamu hari ini?" tanya Pramana pada putrinya.

Rindu melirik Kartika, "Aku ikut mama arisan," jawabnya, setelahnya tak ada lagi pembicaraan, hingga sarapan pagi itu selesai.

Kartika bersama Rindu mengantarkan Pramana dan Rita menuju teras rumah, hingga saat ini, wanita yang mengaku tengah hamil itu masih bekerja sebagai asisten dari lelaki itu.

Siang harinya, Kartika mengajak putrinya makan siang bersama teman-teman sosialitanya untuk menghadiri arisan terakhirnya.

Mereka bertemu di salah satu restoran yang menyajikan menu ala Perancis, interiornya benar-benar seperti suasana negara itu, teringat dulu saat SMP, Rindu berlibur bersama kedua orangtuanya, ke negara yang terkenal dengan menara Eiffel.

Sudah jadi kebiasaan, para wanita sosialita itu membawa serta anak-anak mereka, namun sekarang hanya dua orang yang membawa anak mereka, Kartika dan Eveline.

Malas ber haha-hihi dengan wanita dewasa itu, Adrian anak dari Eveline mengajak Rindu duduk di outdoor restoran itu.

"Udah lama banget kita nggak ketemu, kamu masih ingat aku nggak?" tanya Adrian begitu keduanya duduk dan memesan menu yang tersedia.

"Ingatlah, kamu kan paling jahil diantara anak-anak teman mama," sahut Rindu.

Adrian terkekeh, "Abisnya kamu lucu dan cantik sih, udah gitu tukang ngambek lagi, kan jadi gemes, sekarang masih kayak gitu nggak?"

"Menurut kamu?" ucap Rindu sinis.

"Masih sama sih," sahut Adrian tertawa.

Keduanya bercerita tentang masa kecil yang pernah mereka habiskan bersama, dan beberapa kali juga Rindu berdecak kesal ketika Adrian menggodanya.

Selama satu jam, keduanya terlibat pembicaraan cukup akrab, saling tertawa dan sesekali mengejek.

Rindu bisa sedikit terhibur karenanya, sejenak ia bisa melupakan masalah yang menimpa keluarganya, Sifat Adrian yang humoris membuatnya bisa tertawa lepas.

"Ri abis ini kita nonton yuk, ada film bagus loh, ingat nggak dulu, kita sama yang lain sering kabur buat nonton bareng-bareng"

Rindu mengangguk sambil tertawa, "Kita bohongi penjaga pintu masuk, kalau orang belakang kita adalah wali kita, makanya diijinkan masuk sama petugasnya,"

Jika arisan diadakan di restoran yang ada di mall, dengan alasan bosan menunggu, anak-anak yang masih Duduk di bangku sekolah dasar, meminta ijin pada mamanya untuk berkeliling mall.

Beberapa kali secara beramai-ramai bocah-bocah itu menonton bioskop, main di Timezone atau makan es krim.

Rindu menyetujui ajakan Adrian untuk menonton di bioskop, seolah lupa akan peringatan David.

Setelah meminta ijin, pada mama masing-masing, kedua remaja itu beranjak dari restoran menuju mall yang biasa mereka datangi dulu.

Rindu tak menyangka, jika saat ini, Adrian adalah lelaki yang menyenangkan dan nyambung dalam obrolan, tak ada yang mendominasi, terasa seimbang begitu saja.

Padahal dulu sewaktu kecil lelaki dengan dua lesung pipi di kedua sisi wajahnya, sangat menyebalkan karena perilaku jahilnya yang luar biasa.

"Ri, sadar nggak sih nama panggilan kita hampir sama," ujar Adrian usai menonton film dan berjalan menuju kedai es krim disalah satu sudut mall.

"Bener juga ya, Riri sama Rian," sahut Rindu terkekeh.

"Jangan-jangan kita jodoh Ri," celetuk Adrian sembari tertawa.

Rindu ikut tertawa, "Ada-ada aja kamu, bisa-bisanya punya pikiran gitu,"

"Coba kamu pikir, kita tumbuh bersama, biarpun dulu aku jahil banget, aku juga yang pertama cium kamu, terus kedua orang tua kita akrab, apalagi yang kurang, tinggal kita nih, cari cara buat saling jatuh cinta," usul lelaki berkemeja kotak-kotak yang tak dikancing.

"Iyain deh biar cepat," sahut wanita yang tingginya sebatas telinga Adrian.

"Abis kuliah, kerja dua atau tiga tahun, aku ijin ke om Pram buat nikah sama kamu ya! seru kali ya Ri, kalau Tante Tika sama mamaku besanan,"

Keduanya sampai di kedai es krim, Adrian bahkan masih ingat kesukaan Rindu, Es krim Vanila mix strawberry.

Mereka bagai sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta, saling menyuapkan es krim masing-masing dan mengelap sisi mulut menggunakan tisu.

Disisi lain disalah satu sudut mall, ada seorang lelaki bermata cokelat terang menatap mereka penuh amarah, rahangnya mengeras, giginya beradu, dan tangganya mengepal.

1
RithaMartinE
luar biasa
Cece Jumi
Luar biasa
Kinan Shidqia
cewek sok 2 tp mau diewekk juga
jenny ayu
luar biasa👍👍
Moreno
ini keren novelnya. Rntut, rapi, seruuu plotnya. Karakternya juga manusiawi ❤️❤️❤️
Woro Wardani
Luar biasa
mei
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Holipah
zinah trs merendah wanita
Clarisa Chan
bangga pala lo
Clarisa Chan
wkwkwk ngelawak 🤣
Srirejeki Gabus
😊
Lies Atikah
ko riri jadi gitu sih jadi binal suami udah cinta bahkan bucin eh sekarang cewenya mau jadi jalang sadar ri 2
Lies Atikah
milano mahgaduh bapak teu damang otak na
Lies Atikah
sebel aku ternyat a si milano berengsek hubungan macam apa tuh mau2 nya riri kamu dijadi kan perempuan hina gak ada harga nya disuruh hamil di nikahin kaga sementara dia ama cewe lain sadar ri
Lies Atikah
lanjut thor
Lies Atikah
milano kaya nya tulus cinta nya
Lies Atikah
gak seru ah cewe nya payah lembek
Nursina
mantap semangat
Syarifah Syarifah
Luar biasa
Agus Tina
Baru mampir bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!