BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
"Sungguh ka?? kamu suaminya?? saat itu aku bertanya dan kamu bilang itu pelayan mu... mana pantas pelayan satu mobil dengan tuan nya?"
"Andin pulanglah, aku membawa mobil yang lebih bagus daripada dia dan kamu dia lebih memilih pulang bersama dengan dia??" Ujar Hans yang seolah tak ingin Andin pulang bersama Alvin.
"Jangan terlalu di pikirkan, kalau ingin pulang sekarang maka pulanglah, aku tak apa pulang sendiri, jaga dirimu baik baik. Saat tiba di rumah jangan lupa kabari aku ndin,,"
Akhirnya Alvin bersikap dewasa, dia sadar akan hartanya yang tak lebih banyak dari Hans. Saat Alvin sudah tak nampak, Andin menolak Hans dengan lembut.
"Tidak tuan, di mobil itu ada dua kursi, anda dan supir itu, lalu aku akan di taruh dimana?"
Hans terdiam,
*Bagaimana aku bisa lupa? mobil itu hanya ada dua kursi, aku terlalu hanyut kali ini.. Cckk..
"Tak apa tuan, saya naik angkutan umum saja.."
"Kalau begitu pulanglah sebelum aku tiba di villa!"
Hans pergi, Andin masih di atas sana termanung diam cukup lama tak tau bagaimana tiba-tiba ada seseorang yang membius Andin dengan sapu tangan, alhasil Andin terjatuh dalam rencana mereka, setelah tak sadarkan diri, Andin di bawa oleh beberapa orang masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kita mau apakan dia yah, yah... sebelum di beli sama si tua itu.." Ujar si pertama.
"Iya benar, lebih baik kita coba saja dulu lalu serahkan ke si tua kaya itu" Sahut temannya.
"Jangan! ini gadis yang baru kita tangkap, paras nya saja sudah pasti membuat kita kaya raya!"
"Ah! siapa peduli!, gadis cantik berkulit putih seperti dia mumpung tak sadarkan diri kenapa tak di coba???" Mengangkat kedua alis di tampang mesum nya.
"Begini saja, bos coba dulu lalu kita bergilir, bagaimana??"
"Tidak bisa, aku yang membius nya, kenapa bisa bos dulu?! biar aku yang pertama!"
"Mana mungkin kamu! Bukankah aku yang memapah tubuh bagus ini menuruni tangga?"
"Hei, hanya memapah sesombong itu... dia di apit oleh kita berdua, jadi kita yang coba"
"Stooop!! Aku boss nya maka aku yang dahulu! kalian diam lah!"
Begitu berisik, membuat Andin setengah sadar itu membuka matanya.
*Siapa mereka?? bagaimana aku bisa berada di dalam mobil ini?? mereka pasti bukan orang baik baik, bagaimana aku bisa keluar?? Hans jahat itu pasti marah saat aku pulang terlalu lama..
Sebenarnya Andin sudah sadarkan diri hanya saja dia lebih memilih untuk tetap menutup matanya, dia takut untuk membuka matanya dan membuat mereka semua menyadari akan dirinya yang terbangun.
"Hei dia bergerak gerak tadi!! dia sudah sadarkan!!"
Andin masih menutup Matanya.
"Bagus jika dia sudah sadar di awal!, aku akan menghentikan mobilnya dan kalian turunlah! jaga dari luar setelah itu barulah giliran kalian" Ujar pimpinan yang menghentikan menyetir mobil.
Mereka keluar dan di dalam mobil hanya ada Andin dan orang di bangku supir, lelaki itu merangkak ke samping Andin yang berpura-pura tak sadarkan diri.
Tangannya meraih dagu Andin, gadis itu membuka matanya dan menampar keras di pipi lelaki itu. Ia segera membuka pintu mobil saat lelaki itu merasa sakit.
Para komplotan nya tak ada yang tau, karena Andin keluar dari pintu mobil sebelah kanan yang menghadap jalan, sedangkan mereka duduk di pohon besar dekat dengan pintu mobil sebelah kiri.
Andin berlari sekencang yang ia bisa, dia berusaha meredam suara agar tak terdengar tetapi percuma mereka orang orang jahat itu spontan mengejar Andin saat tahu kalau Andin lepas, di bawah kesadaran nya yang tak begitu bagus akibat obat bius, gadis itu berlari semakin kencang karena mereka mengejar.
Saat ia menyebrang jalan, tak melihat lihat alhasil ia tetabrak truk boxs besar, tubuh kecilnya terpental menghantam trotoar, darah mengalir hingga membuat wajahnya menjadi tak jelas.
Supir itu tak lari, ia membawa Andin segera ke rumah sakit dengan truk nya sebelum orang orang yang berlari itu mendapatkan Andin.
*Yaampun, gadis ini... aku nggak akan ninggalin dia di jalanan, aku yang tabrak karena dia yang tidak sadar. Kasihan dia orang orang di belakangnya pasti bukan orang baik baik, kamu harus kembali sadar, tahan ya...
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
"Halo dokter Alvin? Anda berada di mana??" Suaranya terlihat panik.
"Ini saya habis jalan jalan, sekarang kurang lebih dua bangunan lagi dari rumah sakit, memangnya ada apa?"
"Dokter ada pasien korban tabrakan disini, sepertinya mengalami pendarahan hebat, segeralah kesini"
Alvin segera menutup telfon itu, ia berlari ke rumah sakit.
*Tidak! karena bersama Andin mana mungkin aku meninggalkan tugasku!
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
"Dokter, ini pasien sudah berada di ruang gawat darurat, mohon dokter mengganti pakaian, dan segera kesana"
"Baik bola, lalu..., bagaimana dengan keadaan pasien? parah sekali ka?"
"Dokter lihat lah sendiri, sulit bagi saya menjelaskan dengan mengikuti langkah dokter yang cepat ini.. hosh hosh hosh"
"Lain kali terapkan diet! jangan tahu makan saja, mengerti..? Hmph! Bola"
Alvin pergi ke ruangan nya, ia mengganti pakaian dan langsung pergi ke ruangan dimana pasien sudah menunggu di sana.
Alvin membersihkan darah yang membuat pasien sulit di kenali, saat selesai membersihkan ia terkejut lantaran itu adalah Andin yang tadi ia suapi.
"An... Andin....?" Lirih Alvin.
Air matanya menetes begitu saja.
*Seharusnya aku memaksa mu pulang bersama dengan ku, aku salah Andin, maafkan aku, aku memang benar-benar tak bisa di andalkan...
Alvin menangis dan memukul mukul pelan di pipi Andin.
"Andin? bangun ndin.. buka mata kamu ndiiinnnn,, huu huu hu..."
Ia memeluk Andin ketika Andin tak berkutik apapun.
Hans yang sudah lama tiba di villa, ia sangat geram akan Andin yang tak kunjung datang, modar mandir kesana kemari tak jelas, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Andin.
Kkkriingg...
Ponsel Andin yang ada di pangkuan pak supir truk berdering. Bapak itu mengangkat nya.
"Halo!! Andin! apa kamu tuli hah!!!? lihat ini sudah jam berapa?!!! cepatlah pulang!!" Teriak Hans dalam panggilan nya.
"Halo? ini siapa?"
Saat hendak menutup telepon Hans mendengar suara seperti laki-laki tua.
"Tunggu! kamu siapa! dimana Andin?!"
"Ini... suaminya neng tadi ka??"
"Maksud bapak Andin?"
"Oh, neng barusan namanya Andin, jangan marah, neng tadi sedang di rawat di rumah sakit"
"Hah!? rumah sakit??"
"Ada apa dengan Andin??" Tambah Hans.
"Dia tadi tidak sadar saat berlarian menyebrang jalan dikejar banyak laki-laki, sehingga saya yang membawa truk boxs besar dengan kecepatan yang normal tak sengaja menabrak nya."
"Tidak peduli! Sekarang di rumah sakit mana???"
"Saya tidak tahu, tapi dokter yang masuk tadi namanya Alvin"
Hans menutup telepon nya, dengan terburu buru ia berlari menuruni tangga, dan segera naik di mobil lamborghini nya ke rumah sakit, ia membawa mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata karena sangat khawatir akan Andin.
Sementara di rumah sakit setelah selesai merawat Andin, Alvin terus tak ingin melepaskan pandangannya dari Andin yang terbaring, dia duduk di samping Andin dan memegangi tangan nya dengan air mata yang tak henti henti jatuh.
-------------------------
BERSAMBUNG...