“Temani kesepianku, maka uangku adalah uangmu!"
Demi kesembuhan sang ibu, Ermi Azrina rela menjadi Fake Affair yang berarti ia hanya perlu menjalankan misi agar Nesya Key (istri sah) sakit hati hingga menuntut perceraian.
Mampukah Ermi menyelesaikan misinya dengan baik? Apakah mungkin Key yang sangat mencintai suaminya mau bercerai hanya karena kehadiran orang ketiga? Apa motif di balik Fake Affair yang Varon Mero lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 ~ Kamar Mandi
Keesokan harinya, Ermi bangun lebih dulu. Ermi berusaha menyingkirkan tangan kekar Varon yang masih memeluknya erat.
Ketika berhasil melepaskan diri, Ermi berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya terutama bagian di bawah sana. Saking sakitnya, Ermi sampai meneteskan air mata.
Mungkin bila hanya setengah jam atau satu jam, tidak akan sesakit ini. Tapi, Varon menggagahinya hingga berjam-jam lamanya. Entah Varon manusia atau bukan. Ermi tak mengerti kenapa banyak wanita yang menikah. Dan bagaimana mereka bisa terlihat biasa saja, tidak sepertinya yang bahkan kesakitan setiap melangkah.
Karena sudah tak sanggup menahan perih saat bergesekan karena melangkah. Ermi pun bersimpuh di lantai, kemudian mencoba beringsut. Tapi, sama saja, justru semakin sakit.
"Ermi," panggil Varon yang telah bangun. Ermi kebingungan bagaimana harus menutupi tubuhnya yang polos. Bahaya kalau Varon melihatnya tak berpakaian, bisa-bisa Varon kembali menggagahinya.
"Mau ke mana?" tanya Varon dengan tubuh polosnya, Ermi menutupi bagian sensitifnya seadanya dengan kedua tangan.
"Mau ke kamar mandi, Tuan," jawab Ermi tanpa menoleh pada Varon, hingga tak sadar ketika Varon mengangkat tubuh polosnya ala bridal.
"Untuk apa ditutupi? Aku bahkan sudah merasakan," oceh Varon kemudian mendudukkan Ermi di atas kloset.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Pipislah." kedua pipi Ermi seketika memerah. Karena sudah tak tahan, Ermi terpaksa melakukannya, sementara Varon mengisi buthub dengan air hangat.
"Aw!" ringis Ermi kesakitan, Varon langsung mendekat.
"Kenapa?" tanya Varon khawatir.
"Pe-perih sekali, Tuan."
Varon pun kembali mengangkat tubuh polos Ermi, kemudian memindahkannya ke dalam buthub yang sudah berisi air hangat.
"Aahh ...."
"Kau menggodaku?" tanya Varon, Ermi menoleh tak mengerti.
"Mak-maksud tuan apa?" tanya Ermi sambil memejamkan mata menikmati sensasi perih dan mengganjal di bawah sana.
"Kau mende sah dan sengaja menggodaku."
"Saya meringis karena perih tuan, bukan mende sah," ucap Ermi membela diri.
"Alasan," balas Varon turut masuk ke dalam buthub. Ermi beringsut menyelamatkan diri.
"Tuan, jangan tuan. TUAN!"
Di dalam kamar mandi, Varon kembali menggagahi tubuh Ermi. Varon benar-benar buas, tak pernah lelah apalagi puas. Ermi tak sanggup mengimbangi. Varon melakukannya hingga Ermi benar-benar tak lagi sanggup bergerak.
Setelah puas, barulah Varon membawa Ermi kembali ke atas ranjang. Ermi yang kelelahan langsung terlelap. Sementara Varon kembali melanjutkan membersihkan diri. Senyuman puas terus menempel di bibir tipisnya.
Varon menyukai rasa Ermi. Rasa yang tak pernah ia dapatkan dari wanita mana pun. Jika wanita lainnya nikmat saat pertama, maka Ermi berbeda bagi Varon. Semakin dilakukan, ia semakin merasa kurang. Ermi telah menjadi candu baginya.
***
Hampir seminggu berlibur di villa bersama Ermi. Tak ada sedetik pun Varon lewatkan kenikmatan demi kenikmatan dari tubuh Ermi. Hanya Ermi satu-satunya wanita yang dapat memuaskan hasrat seorang Varon.
Kini, Varon telah kembali ke perusahaan. Begitu pun Ermi yang kembali pulang. Tapi, Ermi tak langsung pulang ke rumah nya. Melainkan ke rumah sakit terlebih dahulu.
Varon memberikan Ermi banyak sekali uang, Ermi langsung menyetorkan uang tersebut ke rumah sakit karena takut uangnya direbut sang adik bila dibawa pulang ke rumah terlebih dahulu.
Setidaknya uang itu bisa membuat Ermi lega, biaya rumah sakit lunas bahkan hingga empat bukan ke depan. Ermi merasa sangat lega. Tapi, entah kenapa Ermi merasa ada yang hilang dari dirinya. Meski senang, tapi tidak dengan hatinya yang selalu gelisah.
"Apa seperti ini rasanya menjadi selingkuhan yang sebenarnya? Aku tidak merasa senang disaat seharusnya aku merasa senang. Sekarang aku bukan lagi fake Affair, tapi selingkuhan sesungguhnya," sesal Ermi dengan air mata yang mengalir deras.
"Ya Tuhan, aku tidak meminta engkau mengampuni dosaku, aku sadar aku tidak pantas menerima ampunan mu. Tapi setidaknya, bantulah aku sedikit merasa tenang hidup di dunia yang kejam ini," batin Ermi berkecamuk. Saat ini ia tengah berjalan di trotoar jalan menuju rumahnya.
.
.
.
tapi kok dikit banget kak.. 😁😁😁
gpp deh, yg penting masih bisa terus menikmati karyamu..
oke deh lanjut karya berikutnya..
sehat2 terus ya kak..
tetap semangat berkarya.. 😘🥰🤩😍
udh mampir di karya baru mu mak..
makasih othor 😘