NovelToon NovelToon
Amara (Bukan Anak Terbuang)

Amara (Bukan Anak Terbuang)

Status: tamat
Genre:Persahabatan / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: trias wardani

Kalau yang ingin cerita cinta-cintaan bukan di sini tempatnya. Ini hanyalah cerita gabut author yang entah kenapa bisa bikin kisah anak berusia 8 tahun.
Nggak suka boleh skip. Yang mau lanjut harap sediakan tisu karena cerita ini mengandung banyak bawang.

***

'Apakah aku nakal? Kenapa aku dibuang di sini? Apakah Ayah tidak inginkan aku lagi?'

Amara, seorang gadis berusia delapan tahun yang tengah dilanda sedih karena dititipkan di panti asuhan oleh ayahnya tanpa dia tahu kenapa. Di tengah kesedihannya, Belvara, seorang anak laki-laki selalu hadir untuk menghibur hati Amara yang sedang sedih.

Sampai pada akhirnya ....

"Tidak! Kalian bohong!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Ayah Pasti Akan Kembali

Aku pun terpaksa bangkit berdiri mengikutinya. Dia mendorongku keluar dari ruangan itu, tapi ketika aku sudah keluar, pintu itu menutup dengan kencang sampai aku melompat kaget karenanya dan ... Bara tidak ada. Dia masih ada di dalam sana.

"Lho? Bara? Kamu malah nggak keluar! Bara!" teriakku menggebrak pintu itu dengan cukup keras sampai telapak tanganku sedikit sakit karenanya.

"Amara?" Terdengar suara di belakang, aku menoleh. Zian berkacak pinggang dengan wajah kesal dan bibir yang cemberut.

"Kamu jauh amat, sih!" gerutunya, nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi dahinya. 

"Maaf!" Aku tertawa kecil melihatnya cemberut seperti itu seperti anak perempuan saja!

"Sudahlah, kita pulang saja! Ini sudah sore!" tukasnya seraya berbalik.

Aku mengikutinya, tapi baru saja satu langkah aku membalikkan tubuhku lagi menatap pintu itu, di mana Bara ada di dalam sana.

Lalu, Bara bagaimana? Dia di dalam sendirian?

"Kamu pergi saja, Amara!"

Eh?

"Amara! Ayo cepat!" Zian menarik tanganku. Aku pun tersentak dan kami pun pergi dari situ.

Bara, kenapa tidak keluar?

...***...

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, ku tendang kerikil dengan kesal di jalanan yang kering. Bara selalu saja begitu, entah sebenarnya dia itu kenapa, selalu saja menghilang. Apa dia malu dengan Zian, atau yang lainnya? Padahal menurutku, jika dibandingkan dengan anak panti yang lain, dia lebih baik, lebih tampan. Dia juga lebih berani dan aku pikir tidak akan ada seorang yang berani membully-nya.

"Kamu kenapa?" tegur Zian.

Aku menoleh padanya, "Nggak apa-apa!" jawabku pelan, lalu kembali menatap tanah di bawah kakiku.

Zian mendengus cukup keras. "Wajahmu kesal begitu!" ujarnya cemberut.

Iya, ya! Kenapa aku kesal? 

"Maaf," kekehku tertawa sambil menyenggol lengannya.

"Kamu lagi halangan?" tanya Zian.

"Hah? Apa itu halangan?" tanyaku tak mengerti. "Ada yang menghalangi?" tanyaku lagi sambil menatap Zian dengan bingung.

Zian menggeleng. "Kak Tania sama Kak Ani suka bahas itu kalau lagi kesal, katanya lagi halangan!" terangnya.

Aku masih tidak mengerti apa itu. 

"Hei, kalian!" 

Kami menoleh bersamaan. 

Kak Gery tersenyum lebar seraya menepikan motornya. "Kok baru pulang?" tanyanya heran.

Zian melirikku. "Amara ngajak main petak umpet di sekolah, jadinya lama!" ujarnya setengah menggerutu.

"Bara yang mengajakku!" kelitku.

"Bara?" tanya Kak Gery, saat aku melihat dia tengah mengerutkan keningnya.

"Amara suka ngomong sendiri, Kak, mungkin dia bicara sama hantu!" ejek Zian yang langsung kuberi hadiah cubitan di pinggangnya. Anak itu mengaduh seraya berkelit tertawa geli dan mengusap pinggangnya.

"Belvara bukan hantu!" sergahku. Kalau dia hantu, mana bisa dia memegangku seperti tadi, 'kan?

"Belvara?" kata Kak Gery pelan.

Aku melihat Kak Gery terdiam dengan wajah pucat. Aku dan Zian berpandangan.

"Kak Gery nggak apa-apa?" tanyaku.

Kak Gery mengerjap lalu tersenyum lebar. "Ah, maaf, tiba-tiba kepalaku sakit!" katanya seraya mengusap tengkuknya.

"Kalian makan es krim lagi?" tanyanya kemudian, yang tentu saja membuat Zian melompat seraya bersorak kegirangan dan kami pun lagi-lagi pergi ke kedai es krim bersama dengan Kak Gery.

...***...

Kami pulang petang dan sekali lagi Kak Gery mendapatkan omelan dari Bunda Evie. Aku dan Zian malah terlalu senang mengingat telah makan es krim dan melupakan Kak Gery yang tengah diceramahi Bunda Evie. Kami berebut untuk mandi. Kami main air sebelum mandi sampai Kak Ani berteriak memarahi karena hari sudah terlalu sore bahkan mulai gelap.

"Hayo, nanti ada hantu kalau mandi malam-malam!" Kak Tania tertawa dari kejauhan melihat kami kena marah. Terlihat sangat puas sekali dalam tawanya itu.

"Amara nggak bakal takut, Kak! 'Kan dia punya teman hantu!" ejek Zian seraya tertawa.

"Diam, Zian!" semburku seraya menyiramnya dengan seember air. Dia pun basah kuyup, tapi alih-alih marah dia malah tertawa dan membalasku dengan hal yang sama.

Kami baru berhenti saat Bunda Evie datang dan berteriak memarahi kami.

Selepas mandi kulihat Zian sudah tak ada, sepertinya dia sudah selesai duluan, dan benar saja hari sudah gelap saat aku keluar dari kamar mandi. Suasana halaman belakan terlihat sepi dan menyeramkan. Semua anak-anak berada di dalam ruangan, terdengar suara celotehan mereka yang masih ramai bercanda satu sama lain. 

Ketika melewati ruangan Bunda Evie, kulihat ada beberapa orang di sana. Ada Kak Ani yang tengah berbicara dengan Letta dengan mata berair. Dia memeluknya dan Letta juga menangis dan menolak untuk melepaskan Kak Ani. 

Aku menoleh saat ada yang menyentuh bahuku. Lebih pada terkejut karena sedari tadi aku fokus pada orang-orang yang ada di dalam sana. Kak Tania tersenyum sendu dan ikut melihat ke dalam ruangan itu.

"Mereka kenapa, Kak? Letta sakit lagi?" tanyaku.

Kak Tania menggeleng, "Bukan, itu karena Letta mau pergi dan Kak Ani sedih," jelasnya sambil mengusap sudut matanya yang berair.

"Pergi kemana? Sendirian?" tanyaku lagi.

"Letta dibawa sama dua orang itu nanti." Kak Tania menatap kedua orang pria dan wanita yang sekarang sedang memangku Letta dan memberinya sebuah boneka beruang yang lucu. Anak itu berhenti menangis dan tersenyum malu-malu menerima bonek beruang tersebut.

"Apa dia bakal kembali?" tanyaku penasaran.

Kak Tania terdiam. "Entahlah, semoga Letta bisa bahagia dan hidup lebih baik lagi," ucapnya lirih lalu berbalik pergi dari tempat itu.

Eh, padahal aku masih ingin bertanya lagi.

Sebentar saja aku melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu, kemudian memutuskan untuk menyudahinya dan pergi dari sana.

Di dalam kamar, aku merenung memikirkan apa yang tadi Kak Tania katakan. Letta akan dibawa oleh dua orang tadi. Apakah dia akan bahagia bersama dengan orang asing itu?

Saat berbaring, tiba-tiba saja terpikirkan jika aku menjadi Letta. Jika ada seseorang yang datang dan mengambilku bagaimana? Apakah aku juga harus ikut dengan mereka? Apa aku bisa menolak mereka?

Tidak! Aku tidak boleh pergi karena bisa saja sewaktu-waktu Ayah datang dan akan menjemputku kembali. Aku percaya Ayah hanya sedang kesulitan dalam pekerjaannya sehingga aku masih berada di sini. Aku percaya, jika sudah waktunya nanti, jika Ayah sudah lebih baik dalam pekerjaannya, dia pasti akan menjemputku dan kami akan bisa bersama lagi tinggal meski di dalam rumah sederhana kami.

Ya, itu yang dikatakan Vanesa saat dia mendengar cerita tentang aku yang dititipkan di panti. Bisa saja Ayah sedang sangat kesulitan di dalam pekerjaannya dan menitipkanku karena tidak mau membuatku sedih.

Ya, suatu saat Ayah akan datang. Suatu saat kami akan bisa kembali bersama. Aku yakin itu!

1
Tien Ensoe
ada bbrp hal yg blm dijelaskan
Tien Ensoe
kok tamat kak,gmna dngn bara dan ana yg mirip dengan nya
Tien Ensoe
akhirnya amara mau diadopsi,semoga orangtuanya angkatnya baik...
Tien Ensoe
kok blm up lg
Tien Ensoe
iya ,kamu hrs bahagia amara
rindi yesna wati
😋😊💖💓💓😻😉😉💞🥳🥳🤗😚😚😍💌🌷💕😁😁❣😽💟😘💗💗💝🥰🥰
Nurul Boed
sedihhh
Giyarni Sutrisno
bagus
rindi yesna wati
💞💘😘💌😉🌷💖💝🥰🤩
Naura Salsabila
bara yah thor. dia idah meninggal
Trias Wardani: 🤔. belum tau, apakah dia hanya teman khayalan atau gimana ini?😅
total 1 replies
☾⃟ℳoon - Moon 🌙
Karya baru,nyimak dulu ya kak, semangat
Trias Wardani: silakan kak, semoga menikmati cerita ini 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!