''Apa? Ternyata benar! Mas Faris dan Sintia berada dalam satu kamar hotel yang sama. Mereka sudah sama-sama dewasa, dan aku bukanlah wanita bodoh, sepertinya mereka telah bermain-main di belakang ku. Suami dan sahabat dekatku sepertinya telah mengkhianati aku lebih jauh. Oh ... Kenapa mereka kejam? Akan aku kumpulkan bukti-bukti akurat tentang perselingkuhan mereka, lalu aku akan menggugat cerai Mas Faris. Aku harus bermain cantik, secantik paras ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba Di Villa 2
Beberapa kali Faris melakukan panggilan ke ponsel sang istri tapi tak kunjung di angkat. Ia merasa tak tenang karena terus memikirkan Nirmala. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, masih dengan ponsel di pegang dan di letakkan di dekat telinga.
''Kamu lagi apa sih, Nirmala? Kamu di mana sekarang?!'' gumamnya lirih seraya menggenggam ponsel. Setelah itu ia mencoba lagi dan lagi untuk menelpon, tapi hasilnya tetap sama, Nirmala masih tidak mengangkat panggilan dari nya, padahal nomernya aktif.
''Argh!'' Faris merasa sedikit kesal. Ia membanting ponselnya ke tempat tidur. Entah kenapa pikiran nya selalu tertuju kepada sang istri. Bayang-bayang wajah cantik Nirmala selalu memenuhi ingatannya. Saat ia tengah merasa kesal, tiba-tiba Sintia masuk ke dalam kamar. Sintia berputar-putar di dalam kamar dengan senyum ceria, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
''Kamar pengantin kita terlihat sangat cantik, ya, Mas. Dan terasa begitu nyaman. Apalagi bila kita bermain-main di sini, pasti sangat menyenangkan. Harum kelopak bunga mawar begitu menambah rasa bahagia ku karena tidak lama lagi kita akan resmi menjadi suami istri. Aku sangat mencintai mu dan mahluk kecil yang ada di dalam sini, Mas.'' Sintia berucap dengan rona bahagia terlukis sempurna di wajah nya, ia membelai perutnya yang sudah mulai membesar. Melihat dan mendengar itu, membuat rasa kesal Faris seketika menguap begitu saja. Faris pun membaringkan tubuhnya di samping Sintia. Ia juga membelai dan mengecup perut Sintia berulangkali.
''Apa kamu merasa bahagia, Sayang?'' tanya Faris. Pertanyaan semu, padahal hanya dengan melihat dari wajah Sintia saja sudah bisa menebak bahwa dia tengah merasa sangat bahagia.
''Tentu, Mas. Aku merasa sangat-sangat bahagia, karena sudah lama sekali aku menunggu saat-saat seperti ini tiba. Saat kamu akan mengucapkan ikrar nikah di depan orangtuaku, penghulu dan para saksi.'' Sintia memiringkan tubuhnya, hingga kini tubuh nya sudah menghadap ke arah Faris. Ia meletakkan jari telunjuk nya di hidung Faris, lalu turun ke bibir. Sintia memain-mainkan jarinya di sana dengan kebahagiaan yang begitu besar di rasakan nya. Baginya Faris begitu sempurna, begitu tampan dan selalu bisa memanjakan nya. Dan dia selalu merasa bangga karena bisa mendapatkan hati suami sahabatnya itu.
''Semoga saja Nirmala bisa menerima kamu sebagai adik madunya, ya. Dan semoga saja kamu dan Nirmala bisa menjadi istri, Mas yang selalu akur dan rukun. Saling menyayangi dan peduli satu sama lain.'' Faris berkata lagi sembari berkhayal Nirmala dan Sintia hidup di satu atap yang sama dengan rukun dan saling tolong menolong dalam mengurus rumah dan mengurus lainnya.
''Bagaimana kalau Nirmala mengamuk tidak terima kamu madu, Mas?'' tanya Sintia dengan satu bibir di naikan.
''Itu tidak mungkin terjadi.'' Faris berkata yakin.
''Kalau misalnya Nirmala meminta kamu memilih antara aku atau dia, maka kamu akan pilih siapa?'' tanya Sintia lagi. Karena yang ia inginkan kedepannya Faris akan memilih dirinya dan mencerai kan Nirmala.
''Maaf, Mas tidak bisa memilih satu di antara kalian berdua. Karena Mas sama-sama membutuhkan kalian berdua.'' Jawab Faris egois.
''Hmm ...'' Sintia hanya berdehem kecil. Di bantah pun tak ada gunanya. Malah bisa membuat mereka berantem karena hal sepele. Padahal nanti malam mereka akan menikah. Sebisa mungkin Sintia menghindari sesuatu yang dapat merusak hubungan nya dan Faris.
***
Di tempat berbeda, Dirga, Nirmala dan Bara juga sudah tiba di tempat tujuan. Mereka menyewa sebuah Villa yang berjarak beberapa buah Villa dari Villa yang di sewa keluarga Faris. Nirmala berjalan memasuki Villa dengan di apit oleh dua lelaki tampan lagi kaya raya. Setibanya di dalam Villa, mereka menjatuhkan pantat mereka di atas sofa ruang keluarga. Perjalanan yang cukup jauh, cukup membuat tubuh mereka merasa pegal karena kelamaan duduk di dalam mobil.
''Maaf, ya, karena aku telah membawa kalian ke dalam urusan pribadi ku. Kalian harus ikut ke sini, melewati perjalanan yang lumayan jauh hanya karena hal yang tak penting bagi kalian. Aku rasa kalian berdua pasti lelah. Karena aku juga merasa tubuh ku sedikit pegal.'' Nirmala berkata memecah kebisuan yang sempat melanda di ruangan itu. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya dengan tangan di angkat tinggi dan tubuh sedikit di tarik dan di gerakkan ke kiri ke kanan.
''Tidak apa-apa Nirmala. Kami senang bisa membantu mu. Iya, 'kan, Bro?'' sahut Bara, tatapan nya menatap ke arah Dirga yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dirga sedang berbalas pesan dengan karyawan nya di kantor dan dengan orang-orang yang ada urusan dengan nya. Selama beberapa hari ini Nirmala tidak masuk kerja lagi. Dirga yang meminta agar dia berhenti menjadi sekretaris pribadi, Dirga tidak mau tubuh Nirmala terlalu lelah. Saat ini diam-diam Dirga telah membangun sebuah Butik untuk Nirmala. Besok, saat Butik itu telah selesai di bangun dan telah di isi dengan pakaian yang akan dijual, Dirga akan memberi tahu Nirmala, membuat kejutan untuk sang kekasih.
''Iya, betul sekali. Bahkan kami sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran kepada Faris dan kami juga sudah tidak sabar mendengar kata talak keluar dari mulut pria itu untuk mu.'' Bara berkata lagi dengan senyum mengembang.
''Oh, jadi kamu merasa senang kalau aku menjadi seorang janda, Bara? Jadi begitu!'' Nirmala berkata seraya menepuk kecil punggung sang sahabat, hubungan keduanya memang seperti itu. Terjalin cukup dekat dan akrab sedari mereka duduk di bangku sekolah menengah atas.
''Hehehe, ya senang lah. Dari pada kamu bersuami tapi nahan hati, tapi tak bahagia. Untuk apa bertahan di dalam hubungan yang tak sehat dan berkumpul dengan orang-orang yang bikin mood dan hari-hari mu menjadi buruk. Aku tidak rela sahabat seperti mu menanggung semua itu Nirmala. Kamu adalah wanita yang baik, wanita yang tulus, dan semoga saja kedepannya kamu bisa berbahagia dengan jalan hidup yang kamu pilih.'' Bara berkata serius. Nirmala pun tersenyum senang mendengar penuturan sang sahabat. Lalu Nirmala merebahkan kepalanya pada bahu Bara. Bara balas mengelus pelan lengan Nirmala yang tertutup dress berlengan panjang. Selama mereka berteman, mereka memang suka berbagi cerita tentang kehidupan pribadi mereka, dan tentang apa saja. Dirga yang melihat itu merasa cemburu, rasanya ia ingin menarik kepala Nirmala agar berbaring di bahu nya saja. Tapi masih ia tahan keinginan itu, karena ia tahu Nirmala dan Bara berteman sudah cukup lama. Dan dirinya bisa mengenali sosok Nirmala juga berkat perantara dari Bara.
Bersambung.
btw org2x kek faris m keluargany in real life bnyk tau