Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Lucille seketika terpana akan tubuh tinggi berotot yang menjulang tinggi di hadapannya. berbeda dengan Louis yang terlihat enggan terlibat percakapan dengan nya. Lamunannya seketika buyar saat Louis menjentikkan jari nya tepat di depan mukanya.
"Ada perlu apa?"
"Ahh..., aku hanya ingin singgah di kamarmu sebentar" Ucapnya dengan nada sedikit menggoda dan dengan sengaja ia menurunkan sesikit sisi gaun tidurnya.
Louis yang melihat itu hanya tersenyum sinis.
"Aku sedang tidak ingin di ganggu, kau bisa pergi sekarang" Ucapnya dengan suara berat dan sedikit menekan sambil mengulurkan tangan nya keluar sebagai isyarat agar Lucille segera pergi.
Lucille yang mendengar itu tak langsung mengindahkan kata-katanya. Dengan tatapan curiga ia langsung melayangkan protes.
"Kenapa? Kau sebelumnya tidak pernah menolakku Louis. Katakan apa ada seseorang didalam!"
"Kecilkan suaramu Lucille. Jangan membuat onar di tempat ini dan ingat batasanmu." Louis berkata dengan tajam dan menekan setiap perkataannya. Tetapi berbeda dengan Lucille yang semakin tersulut emosinya, Dengan paksa ia mendorong tubuh berotot itu dan menyerobot masuk kedalam. Louis yang salah memperkirakan pergerakan Lucille sedikit terhuyung kesamping dan terlambat menahan wanita itu.
Tepat di tengah ruangan, Di atas ranjang besar yang pernah ia singgahi bersama Louis. Ia melihat seorang gadis setengah telanjang yang hanya tertutupi selimut sebatas pinggulnya tengah tertidur dengan posisi meringkuk.
Lucille yang mendapati itu seketika marah, Ia mengeraskan rahangnya dan berbalik dengan tatapan tajam.
"Louis, siapa dia!"
"Pelankan suaramu"
"Katakan padaku siapa dia!" Louis dengan paksa menarik pergelangan tangan Lucille dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Tepat di depan kamar ia membentak dan menyuruh Lucille kembali ke kamarnya.
"Pergi dari sini"
"Aku tidak mau! Sebelum kau katakan siapa perempuan itu dan suruh dia pergi dari sini."
Louis terkekeh, " Kau sudah lupa dimana tempat mu Lucille, dan ingat. Aku yang berwewenang di sini. Ini istanaku Dan kau hanya seorang tamu di tempatku." Ia menekan setiap perkataan yang ia lontarkan terhadap wanita itu.
Lucille tersenyum sinis "Kau keterlaluan Louis, sikapmu semakin berbeda semenjak kau hidup berdampingan bersama mereka. Ingat dari mana asalmu dan siapa dirimu!" Lucille berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang cukup terhina. Ia berjanji akan segera membuat perhitungan dengan gadis itu.
Berbeda dengan Lumina yang setengah terjaga mendengar suara gaduh dari depan pintu. Ia lantas duduk bersandar di ranjang menekan pelipis nya yang sedikit menimbulkan rasa pusing.
"Kau tidur dengan nyenyak?"
Lumina sedikit terkesiap akan kehadiran Louis secara tiba-tiba. Ia tersenyum menarik sudut bibir nya untuk menutupi rasa tidak nyaman akibat pusing yang menderanya.
Louis terpana, alis hitam tebalnya terangkat mengamati gadis itu. Ia yakin saat ini Lumina tidak sadar jika kondisi nya setengah telanjang. Tatapannya masih terpaku akan gumpalan bulat padat dengan ujung mungil berwarna merah muda yang seakan mengundang untuk ia singgahi.
Untuk beberapa lama Lumina tengah bingung dan kikuk melihat Louis yang diam membatu melihat dirinya. Sampai hembusan angin yang masuk dari jendela seketika membuat tubuhnya meremang dan membawa tanganya memeluk tubuhnya sendiri.
Saat tanganya tanpa sengaja menyentuh ujung *********** sendiri, seketika ia menunduk dan mengeratkan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Louis terkekeh pelan, "Kenapa harus di tutupi, Kau lebih indah saat tak menggunakan apapun."
Mendengar perkataan Louis ia diam-diam mencibir dalam hati. Sungguh ia merasa malu dan tak pernah berfikir untuk menerima tawaran pria itu. Di satu sisi ia juga masih menyiman dendam akan perilakunya. Dengan sengaja ia melempar bantal tepat ke arah pria itu dan segera bergegas kekamar mandi.