" Nona tunggu, nona jangan lari " teriak salah satu bodyguard yang bertugas menjaga dan mengikuti kemanapun sang nona pergi.
" Kalau tidak lari, mana mungkin aku bisa kabur " jawab sang nona dengan gaya tengilnya tanpa menghentikan kakinya untuk berlari menjauh dari kejaran para bodyguard sang daddy.
" Nona fyth, jika nda kabur lagi tuan besar akan marah nona " lanjut sang bodyguard mencoba membujuk song nona agar mau berhenti berlari. namun sayang, nonanya itu tetap berlari menjauh menuju kerumuman orang yang hendak menyeberang jalan untuk mengecoh pandangan para bodyguardnya.
Gadis yang bernama lengkap Aurora Fythania Pratama putri bungsu Barack Pratama dan Nathalie Pratama ini, rela pergi meninggalkan rumahnya karena sang Daddy yang bersikeras menjodohkannya dengan putra teman bisnisnya. gadis cantik yang sudah menginjak usia 20 tahun itu tak mau menuruti keinginan sang Daddy yang memaksanya untuk menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kh_fytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Jika didalam kelas terjadi suasana tegang, berbeda dengan Fyth yang asyik rebahan di warung mbok Piam. Sakit perut saat datang bulan begitu menyiksanya. Mbok Piam yang melihat Fyth kesakitan sambil memegang perutnya mengambil kompresan air hangat dan menaruh diatas perut Fyth.
" Biar redahan dikit nduk " ucap mbok Piam.
" Terimakasih mbok " kata Fyth lirih.
Mbok Piam tersenyum lalu bangkit menuju teras warung untuk mengambil sapu lidinya. Mbok Piam menyapu halaman warung yang telah banyak daun mangga berserakan.
" Assalamualaikum mbok " tak lama Anila dan Indri pun datang ke warung mbok Piam.
" Waalaikum salam, eh kalian.. masuk saja. Fyth sedang istirahat di dalam, sedang datang bulan " jawab mbok Piam seraya menyuruh Anila dan Indri masuk ke dalam warungnya.
" Baik, terimakasih mbok " ucap Indri yang ditanggapi anggukan oleh mbok Piam.
Fyth merasakan nyeri luar biasa pada perutnya, hingga keringat dingin membanjiri keningnya. Dalam sekejap rasa sakit pada kepala mulai menyerangnya. " Aduh, kenapa tiba-tiba pusing begini " keluh Fyth.
" Assalamualaikum Fyth " salam Anila dan Indri begitu memasuki kamar mbok Piam. Fyth hanya meliriknya sebentar lalu menjawab dengan lirih salam dari kedua sahabatnya.
Anila dan Indri yang melihat wajah pucat Fyth dan keringat dingin yang membanjiri keningnya sontak terkejut. Indri memeriksa suhu pada tubuh Fyth. " Panas banget " pekik Indri saat mengetahui Fyth demam tinggi.
" Bawa rumah sakit Ndri, hayuk kita papah keluar " ujar Anila panik sekali. Indri mengangguk seraya mulai memapah Fyth bangun.
Mbok Piam yang melihat Fyth dipapah keluar pun sontak terkejut. " Kenapa nduk ? " Tanya mbok Piam penuh kekhawatiran.
" Demam tinggi mbok, kita mau bawa ke rumah sakit mbok " jawab Anila sebenarnya.
" Ya Allah, cepat kalian bawa supaya segera dapat pertolongan nduk " ujar mbok Piam. Anila dan Indri segera mengangguk.
Namun belum sempat melanjutkan langkah mereka, Fyth sudah berada di gendongan seorang laki-laki. Lebih tepatnya Davin, dosen mereka.
" Aku tunggu penjelasan dari kalian" ucap Davin dingin membuat Anila dan Indri menelan salivanya susah payah.
" Sayang, are you okay hem " tanya Davin penuh perhatian.
Mendengar Davin memanggil Fyth dengan sebutan sayang sontak Anila dan Indri saling pandang. Dalam pandangan mereka seolah berkata ada yang mereka lewatkan rupanya.
Lamunan keduanya buyar begitu mendengar teriakan Davin dari kejauhan.
" Apa kalian akan bengong saja begitu " ucap Davin seraya berteriak.
Anila dan Indri segera berlari menyusul davin dan Fyth. Banyak tanda tanya yang hadir dalam benak mereka. Apa hubungan sebenarnya antara dosennya dan Fyth, sahabatnya itu.
Raffa segera meninggalkan semua pekerjaannya begitu mendengar kabar Fyth masuk rumah sakit. Kepanikan melanda diri Raffa. Baru kali ini adiknya mau berada di rumah sakit, karena sesakit apapun Fyth tidak mau dibawa ke sana.
" Ya Tuhan, ada apa denganmu Fyth ? Monolog Raffa penuh kepanikan.
" Dim, bisakah kau lebih cepat lagi. Tambah kecepatannya kalo perlu " sentak Raffa pada Dimas, asisten sekaligus sahabatnya.
" Sabar Raff, gue tahu lue panik. Tapi kalo kita naik ugal-ugalan juga kita sendiri yang celaka nanti " jawab Dimas mencoba menenangkan kekhawatiran Raffa.
" Gimana gue bisa tenang Dim, selama ini sesakit apapun adik gue dia gak bakalan mau di bawa ke rumah sakit. Sekarang dia ada di rumah sakit, gimana diri gue nggak khawatir " papar Raffa.
" Iya gue paham perasaan lue, Fyth juga udah gue anggap adik gue sendiri. Sebentar lagi sampai, tenangin diri lue " ucap Dimas kemudian.
Sementara di kediaman Pratama, mommy Nathalie tak berhenti menangis. Kekhawatiran begitu melanda hatinya saat mengetahui kabar dari Raffa tentang adiknya yang masuk rumah sakit.
Daddy Barack yang melihat mommy Nathalie tak berhenti menangis pun, menghela nafasnya panjang. Daddy Barack juga khawatir akan putri tengilnya itu, namun Daddy Barack berusaha bersikap tenang agar istrinya tidak semakin panik.
" Tenanglah mom, Fyth pasti baik-baik saja. Ayo kita ke rumah sakit sekarang " ajak daddy Barack setelah sopir pribadinya memberitahu jika mobil sudah siap.
" Tapi dad, mommy khawatir sama Fyth. Andai tadi kita melarangnya untuk berangkat ke kampus, pasti dia tidak akan..... Hiks, hiks, hiks " mommy Nathalie tidak dapat melanjutkan ucapannya hanya suara tangisnya yang terdengar.
" Sudah, semua pasti baik-baik saja " kata daddy Barack seraya mengusap punggung mommy Nathalie mencoba memberi ketenangan. Kau harus baik-baik saja sayang, monolog daddy Barack dalam hati.