NovelToon NovelToon
Bos Marco

Bos Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:210.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Belinda Marchely

Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.

Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.

Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.

Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Harus Bertanya, Kau Tidak Perlu Menjawab

Marco's POV

Setelah Ibu Baskoro meninggalkan kantor, aku mengirimkan pesan pada Anetta untuk menungguku pulang. Aku akan menyelesaikan sedikit pekerjaanku yang terkendala karena kedatangan tiba-tiba Ibu Baskoro ke kantor hari ini.

Terdengar ketukan pintu. Itu pastilah Anetta.

“Masuk!” perintahku.

Pintu terbuka dan benar saja, Anetta langsung muncul dari balik pintu. Dengan senyuman manis yang membuat hatiku berdesir halus setiap kali menatapnya, di melangkah masuk.

“Kamu duduk dulu di sofa, ya. Sepuluh menit lagi aku selesai," kataku.

Anetta menurut. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku. Hanya tinggal sedikit lagi saja untuk bisa kutinggalkan.

Ketika sepuluh menit telah berlalu, aku menghampiri Anetta di sofa yang ada di sudut ruang kerjaku. Dia memejamkan matanya, tampak lelah. Kepalanya bersandar pada punggung sofa dengan sangat nyaman. Aku mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya, membuat tubuhku dan tubuhnya sangat dekat, tanpa jarak.

Lama kupandangi dia, sampai, entah karena sadar kupandangi atau apa, dia terbangun.

Dia mengerjapkan matanya berulang kali, mungkin masih setengah sadar. “Ehm, kamu udah selesai? Maaf, ya, aku ketiduran ...” ucapnya begitu dia terjaga.

“Aku yang seharusnya minta maaf, karena sudah membuat kamu menunggu ....”

Aku merasa bersalah karena secara tidak langsung memaksanya untuk tinggal lebih lama di kantor, hanya untuk menungguku menyelesaikan pekerjaanku yang tidak ada habisnya ini.

Anetta tersenyum. "Enggak apa-apa, kok," katanya.

Aku memandanginya lekat-lekat. Dari jarak yang begitu dekat seperti ini, dapat kusaksikan cantiknya wajah Anetta, dengan gurat-gurat merah yang menembus dari balik kulit putihnya.

Aku menyentuh anak-anak rambut yang berserakan di sekitar dahinya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga Anetta.

Sepertinya dia merasa geli, karena tubuhnya sedikit terkesiap dan matanya menatapku kaget. Namun, seketika raut terkejut itu berganti dengan rona malu yang kutangkap dengan jelas.

“Kita belum selesai tadi ...” kataku kemudian.

Wajah Anetta semakin memerah mendengar kalimatku barusan.

“Lalu?” tantangnya, tapi wajahnya tertunduk tidak berani melihatku.

“Kamu dengar, kan, apa yang aku bilang tadi, Netta? Aku cemburu kamu diantar Ferdy. Aku tidak suka ada laki-laki lain yang mendekati kamu. Baik Ferdy atau siapa pun itu, bukan, tapi siapa pun itu, terlebih seorang Ferdy Gunawan," jelasku mengulang pernyataan tadi siang, sambil terus memilin juntaian rambutnya.

“Aku dengar, Marco ...” jawabnya sambil menyentuh pipiku dengan telapak tangannya. Aku merasakan hangat dari kulitnya menjalar ke seluruh tubuhku. "Aku dengar," ulangnya sekali lagi.

“Netta ...” Aku mendekatkan wajahku padanya.

“Hm?” Dia hanya menggumam.

Manik mata kami bertemu. Saling menatap lama, seolah ingin menembus kedalamannya masing-masing. Mencari tahu apa saja yang tersimpan di baliknya, yang dapat membuat masing-masing menjadi saling mengerti satu sama lain.

Kupandangi wajahnya, tak hanya mata, hidung, pipinya yang masih merah, serta bibir ranumnya yang sangat menggoda.

Sugar. Honey. Ice. Tea! Bibir itu, sungguh-sungguh membuat hatiku bergejolak.

Aku tidak dapat menahan diriku lagi untuk tidak menciumnya. Aku meraih dagunya, mendekatkannya pada wajahku, lalu kuberi kecupan lembut di bibirnya. Hanya sebuah kecupan. Aku memberikan kesempatan padanya untuk menolak, walau aku berharap dia menerimanya.

Beberapa saat menunggu, tak kulihat tanda-tanda Anetta menolak kecupanku. Kemudian kupertemukan lagi bibirku dengan miliknya, memberikan bukan lagi kecupan, melainkan ciuman lembut di sana. Dia menerimanya. Dia bahkan membalas ciumanku dengan lembut pula. Dapat kurasakan bibirnya yang manis turut mengikuti permainan bibirku, mencecap rasaku.

Sungguh, sudah cukup aku menahan hasrat yang muncul setiap kali melihat bibir ranum merah jambu milik Anetta.

Setelah selama ini hanya bisa mengecup pipinya, entah kenapa hasrat dalam hatiku menuntut lebih, aku juga ingin bibir itu menjadi milikku seorang.

Kesempatan ini benar-benar merupakan hal yang manis yang terjadi dalam hidupku ketika bertemu dengan Anetta. Memang kemarin aku sudah membuatnya bersedih, tapi yang jelas aku tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan kedua ini.

Aku tidak mau karena emosi merajai hatiku, aku kehilangan kesempatan untuk memanjakan Anetta. Aku ingin menjadi lelaki yang selalu ada di sampingnya. Tidak akan kubiarkan lelaki seperti Ferdy mendekatinya.

Lama bibir kami berpagut. Sampai aku berinisiatif untuk melepaskan diri darinya. Memberi ruang untuk kami saling bernapas.

Anetta tampak tak siap karena aku melepaskan pagutan bibirku secara tiba-tiba. Namun, aku mengingatkannya bahwa kami masih berada di ruang kerjaku, di kantor.

“Lebih lama lagi kita tidak keluar dari sini, mungkin satpam akan menggedor pintuku, Netta ...” jelasku sambil mengusap lembut pipinya.

Dia mengangguk mengerti. Lalu aku menghela tangannya untuk bangkit dan segera keluar dari ruang kerjaku.

~

Sepanjang perjalanan, aku tidak melepaskan pikiranku dari apa yang baru saja terjadi antara aku dan Anetta. Aku belum bisa menetralkan debaran di hatiku mengetahui Anetta menerimaku. Dia menerima ciumanku, itu berarti dia sudah memaafkanku dan menerima aku sebagai lelakinya.

Sesekali aku menatapnya yang juga tidak lepas dari senyumannya, sambil mengusap rambutnya lembut.

Sesampainya di rumah Anetta, aku menahannya untuk tidak buru-buru turun.

Setelah melepas seatbelt, kuposisikan diriku berhadapan dengannya. Kusentuh jari-jemarinya, lalu kuusap dengan lembut. Perlahan-lahan, jemariku pun bergerak naik ke tangannya, mengelusnya dengan gerakan naik turun, merasakan halus kulitnya.

Kutatap gadis di hadapanku ini, mencari tahu keberadaan cinta di sana. Ketika manik mata kami bertemu, aku dapat melihat cinta itu. Mata yang berbinar itu, menghiasi indahnya wajah gadis cantikku. Ada cinta di sana. Gelora yang terpancar dari sana, sama besarnya dengan gelora cinta yang kupunya.

Lama kami saling menatap, dalam keheningan yang sangat nyaman untuk kami berdua.

Kemudian, tangan Anetta mulai bergerak menyentuh kulit wajahku. Sentuhannya yang lembut terasa sangat nyaman di atas kulitku. Lalu kupejamkan mata untuk membiarkan rasa nyaman itu mengalir ke dalam darahku.

Setelah merasakan kenyamanan memenuhi diriku, aku membuka mataku. Kembali kudekatkan wajahku padanya. Kutatap dia dalam-dalam, sekali lagi, lalu kuberikan ciuman yang sangat lembut sebagai penutup pertemuan malam ini.

Anetta membalas ciumanku dengan lembut juga. Lama sekali kami saling merasakan bibir hangat kami saling berpagut. Sampai-sampai yang terasa hanya rasa manis, membuat bibir serta hatiku menggelenyar karena gelora asmara yang baru saja terjalin di antara kami.

Lalu, dengan berat hati—sekali lagi—aku harus melepaskan pagutan bibirku lebih dulu, karena khawatir kalau-kalau ada tetangga yang melihat aktivitas kami di mobil.

"Cukup dulu untuk malam ini, ya ..." ucapku, yang dibalas senyuman manis dari gadisku itu. "Sampai ketemu besok," kataku lagi.

"Sampai ketemu, besok." Anetta membalas ucapanku, lalu mengecup pipiku.

Aku pun mengecup kening Anetta sebelum akhirnya dia turun dan aku melajukan mobil untuk pulang.

1
ein
lanjut thorrrr
ein
ahh akhirnyaaa
ein
bolehlah mereka.. hrhe
ein
asikk juga bisa temenan sama mantan hehehhhhe
ein
ngak ada percikan lagi yaa
ein
frans kamu gimana..
ein
kebetulan bangett yaa..
ein
kenapa aku ikut deg degan saat aneta pilih pilih jas yg berwarna ya 😁😁😁
ein
wahhh.. akhirnya dapat yg cocok
ein
ahh
ein
mau thorrr.

love u
ein
terima kasih author sayang

selalu ku tunggu ceritamu
ein
ahhh so sweett...
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
ein
wow kerennn thor...
ein
melelehhhhh.. terharuuu akuu
ein
suka karyamu author sayang
selalu semangat yaa
ein
halo sayang.. terharu akuu
ein
duhh penasaran saat duet nnt gimana
ein
wowww kerenn saxophone...
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍
ein
frans pilih mana.. hsyoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!