Sebutan sebagai wanita perusak rumah tangga orang tersemat pada diri Hanindya Ayu, Hanin tak menyangka jika kisah cintanya dengan Senggala Bimantara akan serumit ini.
Kisah ini di mulai setelah kejadian malam itu dan berlanjut saat Gala resmi bercerai dengan mantan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShaNisha_icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Keluarga
Lombok 2 Tahun lalu
𝙎𝙀𝙉𝙂𝙂𝘼𝙇𝘼.
Sial aku belum bisa kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah dengan Anggun, padahal aku ingin sekali menangkap basah perselingkuhan Anggun, tapi proyek ini membuat ku harus tetap bertahan di lombok.
Aku meminta Siti untuk melaporkan apapun yang terjadi di rumah selama aku berada di Lombok.
Kenapa semua masalah datang bersamaan, dari ayah sakit, soal perusahaan ayah, masalah di proyek dan sekarang Anggun wanita itu ternyata tidak pernah berubah.
Dia sudah bertindak di luar batas membawa selingkuhannya ke rumah bahkan memperkenalkannya pada Aryo putra kami.
Malam semakin larut namun mataku tak mampu terpejam, nyatanya aku gak bisa menenangkan diri dan beristirahat di meski ragaku terasa lelah.
Aku memutuskan untuk ke villa para pekerja seenggaknya aku bisa berbincang dengan para staf ku sedikit melupakan masalah yang aku hadapi saat ini.
Tiba di Villa hampir tengah malam, seperti hari kemarin di ruang tengah para teknisi tengah menonton pertandingan bola kali ini pak Ginting tak terlihat, mungkin pria paruh baya itu sudah terlelap.
Setelah berbincang sejenak aku memutuskan menuju kamar yang malam kemarin aku tempati.
Pagi hari saat sarapan aku tak mendapati Hanin di meja makan hanya ada Lala dan beberapa orang teknisi.
"Hanin kemana?" Karena penasaran akhirnya aku bertanya.
"Bu Hanin menginap di Villa orangtuanya, maksudnya di Villa tempat orangtuanya menginap pak," jawab Lala staf Hanin yang Hanin bawa untuk menemani dirinya selama di Lombok.
"Orang tua Hanin?" aku mengernyitkan dahiku
"Iya Pak, kemarin sore keluarga bu Hanin datang," terang Lala.
"Paling sebentar lagi bu Hanin,,," sapaan Hanin membuat kami semua menoleh kearah pintu.
"Pagi,, semua maaf saya,,, " Hanin datang terlihat cantik pagi ini senyum mengembang di wajah ayunya.
"Pak Galla, maaf saya,,," cicitnya pelan menunduk saat pandangan kami bertemu.
"Duduk, sarapan dulu baru kita berangkat ke lokasi," titahku, dia menyeret kursi di sebelah Lala dan duduk di hadapanku.
"Ke lokasi untuk apa pak? Kita harus ke kantor pemerintahan pagi ini, pihak provider meminta kita ikut rapat bersama mereka," ujar Hanin
Aku lupa jika agenda hari ini adalah rapat bersama, tidak ada Rifat yang mengatur jadwalku sehingga aku melupakan agenda penting pagi ini, terlebih lagi aku sedang tidak bisa berkonsentrasi karena masalah yang tengah aku hadapi saat ini.
"Oke,,"hanya itu jawabku menyudahi sarapan meninggalkan meja makan berjalan ke depan karena ponsel ku berdering.
Bunda mengabarkan jika kondisi ayah mulai membaik tapi tetap harus menjalani perawatan sampai kondisi ayah stabil.
Bunda meminta ku mengantarkan Aryo ke Singapura saat libur sekolah nanti, itu memang sudah aku masukan dalam rencana liburan kami sekeluarga tapi dengan adanya rekaman CCTV itu aku gak yakin rencana ini akan terealisasi.
"Pak apa bisa kita berangkat sekarang," ujar Hanin berdiri di belakangku, membuyarkan lamunanku tentang keluargaku, keluarga yang sudah hancur dan kali ini gak akan bisa disatukan kembali.
"Iya kita berangkat sekarang," ujarku acuh berjalan ke arah mobil aku kacau saat ini.
Tak ada percakapan apapun di antara kami, Hanin tertunduk seperti biasa gadis itu terlihat tak nyaman entah karena apa.
"Pak maaf,," aku menoleh ke arah Hanin saat gadis itu membuka suara.
"Apakah hari ini saya boleh izin setengah hari," ujarnya.
"Agenda kita hari ini apa saja?" tanyaku dingin.
"Hanya rapat bersama pihak pemerintah dan provider pak," jawabnya.
"Kamu ada acara?" Aku harus memastikan untuk apa Hanin meminta Izin.
"Keluarga saya saat ini berada di sini pak, saya ingin menemani mereka," jawabnya pelan, ya Lala mengatakan jika kelaurga Hanin tiba kemarin sore.
"Keluarga kamu? Sejak kapan? mereka tinggal di mana?" bukan menjawab pertanyaan Hanin aku malah bertanya tentang di mana keluarga Hanin tinggal selama di Lombok.
"Mereka tinggal di Villa mas Dion pak," aku menoleh tak percaya, Dion apa hubunganya dengan Dion.
"Kenapa di Villa Dion?" tanyaku mencerca.
"Karena Mas Dion yang mengundang keluarga saya ke Lombok pak," aku terkesiap tak percaya, Dion mengundang keluarga Hanin untuk apa jangan bilang kalau Dion sengaja melakukan ini untuk mendapatkan hati Hanin.
Artinya Dion sudah sangat dekat dengan keluarga Hanin karena dengan mudahnya Dion membawa keluarga Hanin.
Aku merasa kalah, padahal kami tidak sedang berkompetisi apapun tapi aku gak rela jika Dion bisa sedekat itu dengan keluarga Hanin.
Bertambah satu lagi masalah yang aku hadapi,mana yang harus aku selesaikan terlebih dahulu aku tak mau Dion bersama Hanin, aku tak rela,sementara saat ini aku tidak ada hak apapun atas Hanin selain atasan dan bawahan.
"Siang nanti saya mau bertemu keluarga kamu," ujarku, aku harus mengenal orang tua dan keluarga Hanin.
"Hah,, gimana pak?" Hanin terlihat kaget mukanya begitu menggemaskan di mataku bola matanya mengerjap berkali-kali, sejenak aku terlena dan melupakan tentang masalah yang ada.
Tatapan Hanin selalu meneduhkan, memberikan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya dan saat ini aku mengakui jika aku telah jatuh pada pesona Hanindya.
𝙃𝘼𝙉𝙄𝙉𝘿𝙔𝘼.
Aku tak menyangka jika mas Dion memberikan kejutan, mendatangkan bapak ibu, dan Lima memfasilitasi semuanya hingga aku bisa tidur bersama bapak dan ibu malam ini.
Tak henti aku ucapkan terimakasih pada pria itu, pria yang selama ini dekat denganku dan beberapa kali membantuku saat aku dalam kesusahan.
Katanya aku berhak mendapatkan kejutan ini, karena aku belum bisa kembali takut rinduku pada keluarga menggunung canda Mas Dion.
Aku sangat berterimakasih pada Mas Dion, dan berjanji suatu saat nanti akan mengganti kebaikan Mas Dion tapi Mas Dion hanya minta aku terus bahagia dengan siapapun nantinya.
Pria itu baik selama aku mengenalnya,tidak seperti apa yang dikatakan Suri, Mas Dion itu seorang yang buruk seorang Casanova dan banyak keburukan Mas Dion di mata Suri, tapi tidak bagiku karena sejauh ini Mas Dion orang yang sopan dan memperlakukan diriku dengan baik.
Pagi ini aku terlambat bangun, tidur bersama bapak dan ibu terasa nyaman. Aku harus kembali ke Villa hari ini agenda untuk rapat bersama pihak pemerintah dan provider.
Kedatang bapak, ibu dan Lima seperti tambahan energi untuk ku. Aku lebih bersemangat menghadapi hari.
Tiba di villa lagi-lagi aku dikejutkan oleh keberadaan pak Galla yang duduk manis di meja makan menikmati sarapan bersama rekan-rekan kerjaku.
Pak Galla terlihat kusut apakah masalah di proyek begitu berat atau mungkin ada masalah lain?
Aku tak berani bertanya dan beberapa kali mengurungkan niat untuk meminta izin, selesai jam makan siang aku berjanji akan menemani keluargaku meskipun ada mas Dion tapi aku gak enak merepotkan mas Dion terus.
"Pak maaf,, " tanyaku..
"Apakah hari ini saya boleh izin setengah hari?" aku menatap ragu kearah pak Galla.
"Agenda kita hari ini apa saja?" Bukan menjawab pertanyaanku pak Galla malah balik bertanya.
"Hanya rapat bersama pihak provider dan pemerintah pak," jawabku
"Kamu ada acara?" tanya pak Galla.
"Keluarga saya saat ini berada di sini pak, saya ingin menemani mereka," ujarku dan memberi tahu pak Galla jika Mas Dion yang membawa keluargaku aku tak mau pak Galla berfikir aku yang membiayai keluargaku berlibur ke Lombok.
Aku menautkan jari-jariku diatas pangkuan berharap cemas, takut jika pak Galla tidak memberikan izin.
"Siang nanti saya ingin bertemu keluarga kamu," jawab pak Galla saat aku mengatakan kedua orang tuaku berada di lombok.
"Hah gimana pak?" Aku mengerjap kaget dengan ucapan pak Galla.
"Untuk apa pak?" pertanyaan itu meluncur begitu saja.
mmh icha tetap semangat