Legenda perjalanan dua pendekar yang mengarungi dunia persilatan. Mengguncang dunia persilatan dengan bakat dan kemampuan yang mereka miliki. Mendapatkan julukan dari para pendekar diseluruh penjuru dunia.
Perjalanan menuju keabadian yang penuh akan pengorbanan. Mengguncang langit dengan pedang di tangannya. Seluruh alam berseru, menunggu waktunya mereka mencapai puncak tertinggi dunia.
cover by: pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewa Lei Wen Yang
Hua Yan mendapatkan penglihatan mengenai alam dewa ketika mahkota Kaisar Dewa Suci berada di kepalanya. Istana-istana megah berdiri diatas awan, sungai-sungai jernih dengan sumber mata air surga mengalir sepanjang jalan. Jalan-jalan yang terbuat dari giok murni, gerbang utama alam dewa dijaga oleh prajurit sakti alam Dewa.
Naga Bai Long terbang mengitari istana langit dengan gagahnya. Penglihatan yang didapatkan oleh Hua Yan sama persis seperti lukisan reruntuhan suku kuno yang ia dapatkan. Hua Yan tersadar kembali setelah mendapatkan penglihatan alam Dewa.
Air terjun bercabang bergetar hebat. Hua Yan cepat-cepat pergi keluar air terjun. Hua Yan melihat formasi besar sebelumnya dibawah air terjun. Perlahan-lahan air terjun menghilang ketika formasi besar muncul, termasuk roh penjaga.
Para pendekar yang berada di luar hutan melihat array penghalang kuat. Mereka menggabungkan kekuatan untuk memecahkannya. Hua Yan melihat suara dentuman dari berbagai arah.
Bao Shen dengan jubah hitam menggenggam erat pedang dan terbang menggunakan qingqong berpijak dari satu pendekar ke pendekar lainnya hingga ia berada di atas hutan tepat dibawah awan hitam.
"Kita lihat, petir milik siapa yang paling kuat,"ucap Bao Shen.
Pedang milik Bao Shen diselimuti petir biru menjalar hingga menyambar beberapa pendekar ditanah. Para pendekar yang terkena oleh sengatan listrik mati seketika.
Mereka yang mengetahui kekuatan Bao Shen yang kuat membuat pelindung menggunakan energi qi menghindari petir dari pedang kilat.
Bao Shen menebaskan pedangnya ke arah awan hitam yang kemudian dibalas oleh petir merah. Dentuman dahsyat terjadi ketika dua kekuatan petir bertabrakan. Bao Shen memusatkan seluruh kekuatannya hingga menciptakan petir biru besar membentuk naga yang merupakan salah satu teknik terkuatnya.
"Teknik amukan naga petir!!"ucap Bao Shen.
Naga petir melesat menuju awan hitam diatasnya. Awan hitam yang sepertinya tak mau kalah mengumpulkan petir merah pada satu titik hingga membentuk telapak tangan raksasa.
Dua kekuatan besar bertabrakan, naga petir ditahan oleh telapak raksasa milik awan hitam. Para pendekar dengan kekuatan yang tak kalah dari Bao Shen mulai unjuk gigi dengan mengerahkan semua kekuatan mereka untuk memecahkan array yang mengelilingi hutan.
Pendekar yang tak cukup kekuatan memilih untuk meninggalkan tempat pertarungan terjadi, mereka masih menyayangi nyawa mereka sendiri.
Kaisar melihat pertarungan dahsyat dari istana bersama permaisuri khawatir akan keselamatan rakyatnya.
"Situasi semakin tidak terkendali,"ucap Kaisar.
Kaisar mengeluarkan pedang miliknya yang memancarkan keagungan. Pedang kaisar melesat diudara tepat di atas istana. Pedang milik Kaisar membuat empat bayangan pedang. Ketiga bayangan pedang melesat ke arah permukiman penduduk disekitar hutan tempat terjadinya pertarungan. Warga melihat pedang agung melesat ke arah tempat tinggal mereka, hati mereka sedikit tenang karena tahu bahwa pedang tersebut milik Kaisar.
Ketiga pedang menacap di tanah diberbagai sudut wilayah yang paling dekat dengan dampak pertarungan terjadi. Kaisar menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh permaisuri.
Hua Yan yang berada di hutan tahu bahwa banyak pendekar yang menginginkannya. Hua Yan memanggil pedang bunga persik miliknya.
"Dunia tanpa bunga akan duka, cinta tanpa pembuktian hanyalah kebohongan. Semesta tercipta oleh cinta dan harapan, aku Hua Yan memanggilmu untuk keluar!!"teriak Hua Yan.
Angin di dalam hutan berhembus kencang, bunga-bunga persik mengelilingi Hua Yan. Tanda bunga teratai muncul di dahinya, pedang bunga persik keluar dari tubuhnya.
Hua Yan menggerakkan kedua tangannya membuat pedang bunga persik mengeluarkan kekuatan agungnya. Pedang bunga persik melesat ke atas menyerang kedua kekuatan yang tengah saling beradu. Pedang bunga persik berputar-putar ketika Hua Yan membuat segel di tangannya.
"Teknik pilar penghancur bumi!!"teriak Hua Yan.
Pedang bunga persik meledakkan kekuatannya dengan dahsyat. Suara dentuman besar tercipta. Bayangan pedang Kaisar yang tengah memancarkan gelombang-gelombang penenang seketika terganggu akibat ledakan kekuatan pedang bunga persik.
Dua kekuatan menyerang Bao Shen membuatnya mulai terdesak, sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar. Kekuatan petir merah dengan pedang bunga persik bersatu melawan naga petir milik Bao Shen.
"Bommm...!!!
Suara ledakan dahsyat terjadi ketika dua kekuatan menghantam tubuh Bao Shen. Bao Shen jatuh ke tanah dengan menggenggam pedang sebagai tumpuannya. Ia terbatuk-batuk hingga memuntahkan darah segar.
"Kekuatan macam apa itu, sungguh mengerikan,"ucap Bao Shen disela batuknya.
Kaisar terkejut di dalam hatinya ketika pedang bunga persik memancarkan kekuatannya.
"Senjata Dewa!!"pekik Kaisar di dalam hatinya.
Ketika ledakan terjadi, bayangan pedang yang tersisa mengeluarkan satu gelombang yang lebih kuat dari sebelumnya membuat ledakan dahsyat tidak memengaruhi wilayah disekitarnya.
Ibu suri melihat jatuhnya Bao Shen hanya terdiam tanpa memiliki rasa bersalah sedikitpun dihatinya.
"Pengecut,"ucap ibu suri.
"Dia memang layak duduk di takhta Kaisar"
Semua pendekar yang sebelumnya berusah menghancurkan array, ketika ledakan terjadi meraka terpental hingga jatuh ketanah. Keadaan meraka lebih baik dibandingkan Bao Shen. Seakan-akan dua kekuatan hanya menargetkan Bao Shen sebagi musuh utamanya.
Bao Shen pergi tergopoh-gopoh terbang menggunakan qingqong meninggalkan tempat kejadian, begitupun dengan para pendekar lainnya yang telah pergi satu persatu.
Bayangan pedang kembali berkumpul dan bergabung dengan pedang aslinya, pedang milik Kaisar kembali ditangannya.
Permaisuri mengambil jarum yang selalu ia bawa dan menusukkannya ke salah satu titik akupuntur di tubuh Kaisar. Membuat peredaran qi yang sebelumnya kacau, kembali stabil.
"Senjata Yang Mulia gunakan bukanlah senjata sembarangan hingga dapat membuat qi di dalam tubuh Yang Mulia kacau,"ucap permaisuri.
"Memang benar, aku jarang menggunakannya karena sangat menguras tenaga. Meksipun fondasi kultivasi ku kokoh, akan tetapi tubuhku tidak kuat untuk mengendalikan kekuatan besar di dalamnya,"ucap Kaisar.
"Lebih baik digunakan pada saat genting, seperti hari ini,"ucap permaisuri.
"Benar,"balas Kaisar.
Ibu suri melihat komunikasi antara Kaisar dan Permaisuri wajahnya kentara tidak suka sama sekali dengan hubungan mereka.
"Cinta? Tidak ada gunanya,"ucap ibu suri remeh.
Pedang bunga persik kembali ke dalam tubuh Hua Yan. Awan hitam tidak menghilang sama sekali meskipun pertempuran telah usai. Sebuah cahaya berwarna merah melesat turun ke tempat Hua Yan berada.
Hua Yan melihat gumpalan cahaya berselimut petir merah yang perlahan-lahan berubah menjadi asap. Di dalam asap terdapat seseorang dengan hanfu hitam merah menyala dengan percikan petir yang sesekali menyambar melalui hanfu nya.
Hua Yan mundur beberapa langkah ke belakang. Orang yang berada di dalam asap melambaikan tangannya membuat asap yang mengelilinginya menghilang. Seorang pria dengan kelopak mata merahnya menatap Hua Yan.
"Cukup bagus,"ucapnya dengan nada berat.
"Siapa kau!"ucap Hua Yan waspada.
"Aku Dewa petir Lei Wen Yang"
Hua Yan terkejut lantas bertanya, "Bukankah para Dewa tinggal di alam atas?"
"Hahahaha...."
"Kau tidak salah, namun setiap Dewa memiliki tugasnya masing-masing. Aku Dewa yang bertugas di alam fana, aku bisa saja kembali ke alam Dewa, namun dahulu seseorang memintaku untuk tetap berada di dunia fana sebelum seseorang yang ditunggu datang,"ucap Lei Wen Yang.
"Siapa orang yang ditunggu?"tanya Hua Yan.
"Aku yakin kau bukan orang bodoh,"jawab Lei Wen Yang.
"Orang yang ditunggu aku? Tapi, bagaimana bisa? Perjalanan ku seperti telah diatur seseorang, namun siapa yang bisa mengatur jalannya takdir?"batin Hua Yan.
"Tugasku telah selesai, waktunya aku kembali ke alam atas. Perjalanan mu masih panjang, banyak rintangan yang harus kau hadapi di depan sana,"ucap Lei Wen Yang.
Lei Wen Yang melesat dan berdiri di atas awan hitam, ia kembali ke alam atas mengendarai awan hitam.