Sang Superstar, Jason harus berurusan degan gadis biasa yang merepotkan, Han Se Na. Ini adalah kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cupid
Han Se Na
Aroma daging yang harum menggoda, menguar dengan hebatnya. Aku menatap bulgogi di hadapanku dengan wajah datar. Sepertinya, daging menggoda di mangkukku terlihat empuk dan nikmat. Rasa lapar kini menggeliat hebat bersama saliva yang memenuhi mulutku. Yah, bisa kuakui kalau Jae Hyun adalah koki pribadiku yang handal. Dia sanggup membuat menu masakan yang sekelas resto mewah. Masakannya luar biasa hebat dan menggoda. Aku sungguh ingin melahapnya. Jika... pikiranku normal.
Tapi, aku sungguh tidak cukup bernafsu makan hari ini. Sayangnya, pkiranku kalut dan hanya terbayang akan bibir sexy milik Jason, berbanding terbalik dengan keinginan menyantap makanan di depanku ini. Ugghh! Aku masih ingat jelas bagaimana bibir hangat dan lembutnya mendarat di bibirku, ******* habis napasku yang terengah menikmati tiap lidahnya menyapu lidahku. Momen yang tidak pernah kusangka, momen yang menggoda dan membuat dadaku memanas. Bibir Jason yang terasa begitu... nikmat. Hmmmh... aku mulai menggila.
“Hiks... hiks, eottokae (Apa yang harus kulakukan)? Rasanya... aku mulai menggila ... ,” lirihku sambil terisak kecil. "Aissshh... apa yang harus kulakukan sekarang!"
“Yyaa! Geumanhae!” pekik Jae Hyun. “Kau ini mau makan apa menangis? Noona... sikap sungguh aneh pagi ini! Apa yang sedang terjadi dengan otakmu?” omel Jae Hyun.
Aku mengatupkan bibir dan menatap Jae Hyun dengan wajah memelas. Tapi, adikku ini sama sekali tidak punya empati padaku. Aku mendesah panjang. Perlahan, aku menyuapkan sarapanku ke dalam mulut. Daging ini sungguh empuk dan bumbunya serasa nikmat. Bumbunya pas dan begitu lumer di lidah. Tingkat kematangannya pas dan begitu membuat nafsu makanku menggelora. Rasanya, aku ingin menangis lagi. Lembutnya daging ini membuatku ingat akan bibir Jason. Aku bersiap untuk terisak saat Jae Hyun menyumpal mulutku dengan nasi. Aku menatap Jae Hyun dengan mulut penuh dan ekspresi kesal bercampur merasa bersalah. Aku hanya bisa terpaksa mengunyah isi mulutku meski hatiku sesak.
“Jika kau berteriak atau menangis atau apapun yang membuat keributan di meja makan, aku akan menyuapkan piring ke arahmu,” ancam Jae Hyun sembari mengacungkan sumpitnya ke arahku.
“Hmmph, arrasoe.” Ujarku sembari menelan makananku dan menahan diriku.
“Dasar. Memang nasibku punya kakak yang gila.” Ujar Jae Hyun.
“MWO?!” pekikku sambil melotot padanya. Dari tadi dia tidak punya sopan santun sama sekali, dasar adik sinting.
“Makan saja!” perintah Jae Hyun. “Juga... sampai kapan rambutmu akan terus pirang? Aish... sungguh merusak mataku!” ujarnya dengan mimik memejamkan mata silau. Ingin kutusuk saja bola matanya itu. Tsk.
Aku melirik kepalaku. Poniku terjuntai dan aku bisa melihat ujung keriting pirangnya. Memang tidak seberapa keriting sekarang tapi warnanya masih pirang. Aku menggeleng kecil, tanda kalau aku pun tidak tahu kapan rambut mengerikan ini akan menghilang. Aku masih belum sepenuhnya terima nasib buruk rambut ini. Ditambah... ciuman Jason. Ah, Han Se Na... apa yang terjadi dengan hidupmu, sih?
“Aku akan memperbaikinya nanti saat menjelang Anniversary Party.” ujarku asal sambil sesekali melirik ujung poni mengerikan itu
Aku kembali menikmati sarapanku dalam diam dan setengah melamun. Tapi, sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak ribut. Aku tidak akan rela jika adik kurang ajar di hadapanku ini menyentuh bibirku dengan piring. Bibir... Ah, aku sungguh gila. Kenapa kunyuk itu berani menciumku, sih! Sial!
“Noona... .”
“What? Aku tidak berisik, khan?” tanyaku dengan sedikit protes.
“Memang. Tapi, kau sungguh aneh. Kau sungguh merusak pemandanganku. Kau menghancurkan nafsu makanku. Kau sedang PMS?”
“Yyaak! Anniya,” sergahku.
“Ah... benar sedang PMS. Arrasoe.”
“Aiisshh!”
-oOo-
Setelah kuliah hingga tengah hari, aku mengantar Se Kyung ke mangosix dan sekalian saja aku mampir. Se Kyung menyuguhkan caffe latte di hadapanku. Salah satu menu yang cukup kusuka di tempat ini. Se Kyung sedang sibuk mengurus pelanggan yang mulai berjubel. Aku terdiam di kursi dan menikmati kesendirianku.
Mendung nampak menggelayuti sang awan di luar sana. Perlahan, satu per satu butiran salju yang putih kembali turun siang ini. Musim dingin sungguh telah datang. Aku menopang dagu dan melamun kembali. Salju ini membuatku kembali teringat dengan ciuman itu. Seperti inikah rasanya ciuman pertama itu? Tapi, kenapa justru aku lewati dengan si kunyuk. Dia adalah orang yang paling tidak kuharapkan untuk menyentuh tubuhku atau bahkan sampai menciumku.
Hanya saja... .
Kenapa aku justru tidak marah? Aku kesal, tapi tidak ingin memaki atau marah. Hanya merasa... canggung. Bahkan, saat-saat ini aku tidak begitu membenci kehadiran Jason. Terlepas dari apa yang terjadi semalam, aku sesungguhnya tidak lagi merasa gerah di sekeliling Jason. Justru, aku menikmatinya. Perasaanku sungguh biasa... dan aneh.
“Kau melamun lagi,” komentar Se Kyung.
Aku tergelak dan menurunkan tanganku dari meja. Se Kyung duduk di hadapanku dan menatapku serius. “Mwoga ?”
“Kau kenapa? Aku lihat kau tidak fokus hari ini. Apa terjadi sesuatu? Apa ada yang salah?”
“Apa kau wartawan? Kenapa pertanyaanmu banyak dan rumit untuk dijawab.” Ujarku dengan malas.
“Pertanyaanku biasa saja dan tidak rumit untuk kau jawab. Jika sesuatu yang salah terjadi, itu baru rumit. Benar, khan?” tebak Se Kyung.
Aku menatap Se Kyung yang menatapku penuh ekspresi interogasi. Dia memulai aksinya untuk memojokkanku. Dia tidak berbicara, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh misteri. Aku sudah stress mengingat bibir sexy yang lembut milik Jason. Aku tidak punya tenaga berkelit darinya.
“Aku mengalah,” selaku. “Benar. Kau sangat benar.”
Se Kyung tersenyum puas. “Malhaebwa ,” ujar Se Kyung.
“Saat kau merasa canggung ketika bersama seseorang yang dulu kau benci. Saat kau merasa berdebar aneh saat bersama dengan orang yang dulu kau benci. Dan, saat kau merasa tenang meski dia telah melakukan sesuatu yang salah denganmu. Perasaan itu... apa?”tanyaku.
“Semua itu terjadi pada orang yang kau benci?” tanya Se Kyung.
“Hmmm. Dulu.”
“Sekarang? Kau masih membencinya?”
Aku terdiam dan berikir kecil lalu menggeleng ragu, “Aku tidak benar-benar tahu apa aku membencinya atau tidak. Aku dalam area Swiss. Di tengah-tengah. Netral.”
“Kalau begitu. Kemungkinannya adalah... kau mulai menerima kehadirannya. Kau membencinya karena sesuatu. Tapi, perasaan itu menguap dan berganti dengan rasa menerima akan kehadirannya.”
Aku mengernyit bingung. “Maksudmu?”
“Itu adalah proses kau tidak lagi membencinya.”
“Itu baik atau buruk?”
“Tergantung dari sudut mana kau memandangnya. Dan, tergantung dengan si cupid.”
“Si cupid?”
“Tergantung keadaan. Jika dia seorang perempuan, maka itu dianggap proses kau menerimanya sebagai temanmu.”
“Jika laki-laki?”
“Kau mulai menyukainya. Di sinilah, faktor si cupid bekerja.”
“Musun... suriya ?” aku termenung bingung dalam diam, “Menurutmu, aku menyukainya?”
“Pertanyaan itu untukmu, jadi jawablah sendiri. Apa kau sedang jatuh cinta Han Se Na-ssi?”
-oOo-
Bersambung
jangan Lupa Like. komentar. Fav. rating bintang 5. Vote and Gift
regards me
Far Choinice ^^
semangat yaa..
1 mawar+ like mendarat😍