NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang di Gerbang Keluarga Huang

​Berjalan kaki adalah hal paling menyebalkan yang harus dilewati Ji Huang hari ini.

​Di kehidupan sebelumnya, sebagai seorang Dewa Pedang yang berdiri di puncak kedewataan, dia hanya perlu memikirkan sebuah tempat, dan pedang terbangnya akan mengantarkannya menembus awan dalam sekejap mata. Namun sekarang? Berjalan dari Hutan Kabut Hitam menuju pusat Kota Amerta dengan sepasang kaki manusia biasa yang tidak pernah dilatih, rasanya seperti disiksa di neraka lapis pertama.

​"Sialan, tubuh ini benar-benar selemah tahu sutra. Baru berjalan lima kilometer saja, betisku sudah sekeras batu," keluh Ji Huang blak-blakan sepanjang jalan.

​Penampilannya saat ini sama sekali tidak membantu. Jubah linen murahnya robek di sana-sini, memperlihatkan kulitnya yang coreng-moreng oleh debu dan darah monster yang mengering kehitaman. Namun, wajah Ji Huang sama sekali tidak mencerminkan orang yang baru saja lolos dari maut. Sambil melangkah gontai, tangan kanannya memegang sebuah buah liar berair yang dia petik di pinggir jalan, mengunyahnya dengan santai hingga air buahnya menetes di dagu.

​Ketika dia memasuki gerbang Kota Amerta, orang-orang di pasar langsung menyingkir. Para pedagang menghentikan teriakannya, dan para ibu segera menarik anak-anak mereka menjauh. Mereka menatap Ji Huang dengan pandangan ngeri, mengira remaja itu adalah korban selamat dari perampokan berdarah, atau mungkin orang gila yang baru keluar dari kubur.

​Ji Huang tidak peduli. Matanya yang polos hanya melirik ke kanan dan ke kiri, mengagumi kedai-kedai makanan yang aromanya menusuk hidung. “Ah, bebek panggang itu baunya enak sekali. Sayang sekali tubuh ini tidak punya uang sepeser pun,” batinnya, sedikit meratapi nasib kemiskinannya.

​Setelah setengah jam berjalan dengan menyeret kaki, Ji Huang akhirnya tiba di depan kediaman Cabang Keluarga Huang. Kompleks bangunan itu cukup megah, dikelilingi tembok putih tinggi dengan sepasang patung singa batu di depan gerbang kayu besarnya.

​Di depan gerbang, dua orang penjaga bertubuh kekar dengan seragam abu-abu sedang berdiri tegak. Ketika mereka melihat sesosok makhluk berlumuran darah berjalan mendekat, keduanya langsung memasang posisi waspada dan memegang gagang golok di pinggang mereka. namun, begitu sosok itu makin dekat dan wajahnya terlihat jelas, ekspresi tegang mereka berubah menjadi syok, sebelum akhirnya berganti menjadi seringai meremehkan.

​"Heh? Bukankah ini si sampah Ji Huang?" penjaga bertubuh tinggi, Zhang Bao, berteriak sambil tertawa mengejek. "Aku kira kamu sudah jadi kotoran binatang buas di hutan. Bagaimana bisa bajingan kecil ini pulang dalam kondisi hidup?"

​Ji Huang menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan gerbang. Dia menguap lebar, mengusap matanya yang mulai mengantuk, lalu menatap Zhang Bao dengan pandangan polos.

​"Minggir. Aku lelah, kakiku pegal, dan aku mau tidur siang," ucap Ji Huang tanpa filter, nadanya sedatar air di dalam sumur mati.

​Penjaga kedua, sebut saja Liu, melangkah maju dengan wajah garang. Sifat blak-blakan Ji Huang yang biasanya penakut ini membuatnya merasa tersinggung. "Kurang ajar! Berani sekali kamu bicara seperti itu pada kami? Dari mana kamu mengemis baju penuh darah ini, hah? Cepat berlutut dan minta maaf, atau aku akan—"

​"Darah ini dari dalam perut serigala," potong Ji Huang dengan jujur, memotong kalimat Liu begitu saja. "Serigalanya berisik, jadi aku tusuk kepalanya sampai mati. Sekarang, tolong minggir. Kepalaku agak pusing karena belum tidur."

​Mendengar jawaban yang terdengar seperti bualan gila itu, Zhang Bao tertawa terbahak-bahak. "Tusuk serigala sampai mati? Bocah lumpuh sepertimu bahkan tidak bisa membunuh seekor ayam! Jangan cari masalah di sini!"

​Zhang Bao melangkah maju, mengangkat tangan kanannya yang besar untuk mendorong bahu Ji Huang dengan kasar, berniat menjatuhkan remaja lemah itu ke tanah seperti yang biasa dia lakukan.

​Namun, yang terjadi selanjutnya tidak pernah ada dalam bayangan siapa pun.

​Ji Huang tidak menghindar. Tepat saat telapak tangan Zhang Bao hendak menyentuh bajunya, tangan kiri Ji Huang bergerak. Gerakan itu terlihat sangat malas, seperti orang yang sedang mengusir nyamuk, namun kecepatannya melampaui batas pandangan mata manusia biasa.

​Hap.

​Jari-jari kurus Ji Huang mengunci pergelangan tangan Zhang Bao yang besar. Sebelum penjaga itu sempat menyadari apa yang terjadi, Ji Huang memutar pergelangan tangan itu dengan sentakan kecil yang penuh presisi.

​KRAK!

​Bunyi patah tulang yang renyah menggema di udara sepi depan gerbang.

​"AAAKKKHHH!" Zhang Bao menjerit histeris, tubuhnya langsung ambruk berlutut di tanah, memegangi tangannya yang kini tertekuk ke arah yang salah. Wajahnya memucat seketika, keringat dingin bercucuran.

​Ji Huang menatap Zhang Bao yang mengerang di bawahnya dengan wajah tanpa emosi. Sadis, tapi matanya tetap terlihat polos seolah-olah dia baru saja mematahkan sebatang ranting kering, bukan tangan manusia.

​"Sudah kubilang aku lelah, kenapa malah mengajak main?" gumam Ji Huang pelan. Dia kemudian menoleh ke arah Liu yang kini berdiri mematung. Celana Liu bagian depan perlahan-lahan basah—penjaga itu pipis di celana karena ketakutan melihat aura dingin tersembunyi yang mendadak memancar dari tubuh Ji Huang.

​"Pintu masuknya yang mana? Aku lupa jalan ke kamarku," tanya Ji Huang blak-blakan pada Liu.

​"D-di... di sebelah sana, Tuan Muda!" jawab Liu dengan suara bergetar, buru-buru mendorong pintu gerbang hingga terbuka lebar tanpa berani menatap mata Ji Huang.

​"Terima kasih," kata Ji Huang sopan, lalu melangkah masuk ke dalam kediaman dengan santai, meninggalkan Zhang Bao yang masih merintih kesakitan di atas tanah.

​Ji Huang berjalan menyusuri koridor batu halaman dalam. Ingatan pemilik tubuh asli mulai samar-samar membimbingnya. Namun, kedamaian yang dia inginkan kembali terusik saat dia melewati taman tengah.

​Di sana, di dalam sebuah paviliun kayu yang indah, beberapa murid muda Keluarga Huang sedang berkumpul. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang pemuda berjubah sutra biru dengan kipas di tangannya. Dialah Huang Jian, sepupu yang beberapa jam lalu mendorong Ji Huang ke sarang monster.

​"Hahaha! Kalian harus melihat wajahnya saat aku meninggalkannya di Hutan Kabut Hitam," Huang Jian sedang tertawa jemawa, menyombongkan "prestasinya" kepada murid-murid lain. "Si sampah itu menangis dan memohon-mohon padaku. Tapi tentu saja, hutan adalah tempat terbaik untuk membuang kotoran seperti dia."

​Murid-murid lain ikut tertawa terpingkal-pingkal, menjilat Huang Jian yang merupakan anak dari salah satu tetua penting.

​Namun, tawa mereka mendadak terhenti satu per satu. Suasana di paviliun itu mendadak mendingin secara drastis. Seseorang baru saja melangkah masuk ke area taman.

​Huang Jian yang merasa aneh dengan perubahan suasana itu langsung menoleh ke arah koridor. Detik berikutnya, wajahnya yang kemerahan karena arak langsung berubah pucat pasi bak kertas mayat. Kipas di tangannya terlepas, dan cangkir teh yang sedang dia pegang jatuh ke lantai batu, hancur berkeping-keping.

​"J-Ji Huang?!" teriak Huang Jian, suaranya melengking karena syok yang teramat sangat. "B-bagaimana bisa... Kamu hantu?!"

​Ji Huang berjalan mendekati paviliun dengan langkah malas. Dia melirik pecahan cangkir dan teh yang tumpah di lantai, lalu menatap Huang Jian dengan pandangan polos namun menusuk.

​"Ah, tehmu tumpah. Padahal aku ke sini mau minta minum, tenggorokanku sangat kering setelah membunuh serigala yang kamu kenalkan padaku tadi siang," ucap Ji Huang, bicaranya jujur tanpa ada nada kemarahan sama sekali.

​Sikap santai Ji Huang justru membuat bulu kuduk Huang Jian berdiri. Dia tahu betul bahwa dia meninggalkan Ji Huang dalam kondisi sekarat di depan Serigala Belati Bermata Tiga. Bagaimana bisa bocah cacat ini kembali tanpa luka fatal, bahkan mengklaim telah membunuh monster itu?

​Melihat murid-murid lain mulai berbisik-bisik dan menatapnya dengan bingung, Huang Jian mencoba mengumpulkan keberaniannya. Dia berdiri dari kursinya, menunjuk Ji Huang dengan jari yang gemetar. "B-bajingan kecil! Aku tidak tahu keberuntungan apa yang membuatmu bisa merangkak keluar dari hutan itu! Tapi berani sekali kamu kembali dan bicara lancang di depanku!"

​Huang Jian menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan rasa takutnya dengan kesombongan. "Jangan pikir karena kamu selamat hari ini, kamu bisa lolos besok! Besok adalah Turnamen Pemilihan Murid Dalam! Di atas panggung nanti, jika kamu berani naik, aku sendiri yang akan memastikan kedua tangan dan kakimu lumpuh total! Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu!"

​Murid-murid di sekitar paviliun tersenyum sinis, menunggu reaksi ketakutan atau tangisan dari Ji Huang yang biasanya.

​Namun, Ji Huang justru melakukan sesuatu yang membuat mereka semua mati kutu. Pemuda berlumuran darah itu menarik napas panjang, lalu menguap dengan sangat lebar hingga air mata sudut matanya keluar. Dia menggaruk lehernya yang gatal dengan malas.

​"Oh, turnamen besok ya? Terserah," jawab Ji Huang acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak menganggap ancaman kelumpuhan itu sebagai hal penting. "Kamarku di sebelah mana? Aku lupa jalan karena kepalaku agak pusing setelah mematahkan tangan penjaga di depan."

​Setelah melontarkan kalimat itu dengan wajah polos tanpa dosa, Ji Huang berbalik dan berjalan pergi meninggalkan paviliun, melangkah menuju deretan kamar murid cabang dengan santai.

​Huang Jian berdiri mematung di tempatnya, wajahnya memerah karena malu sekaligus ngeri. Kalimat terakhir Ji Huang tentang "mematahkan tangan penjaga" terus terngiang-ngiang di telinganya. Halaman paviliun itu seketika menjadi sunyi senyap, menyisakan ketakutan yang perlahan-lahan merayap di hati mereka semua.

​Sementara itu, Ji Huang yang berjalan menjauh sama sekali tidak memikirkan tentang turnamen besok pagi. Pikirannya saat ini sangat sederhana: “Semoga kasur di kamar pemilik tubuh ini beneran empuk. Aku mau tidur sampai besok siang.”

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!