Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Tarikan Napas dan Gengsi yang Kembali Tegak
Hening yang tercipta setelah bisikan lirih Arga terasa begitu pekat, seolah menyedot seluruh udara yang ada di dalam ruangan tengah kontrakan itu. Kinar masih bisa merasakan kehangatan dahi Arga yang menempel di dahinya, sensasi sentuhan yang membuat seluruh pasokan akal sehatnya menguap entah ke mana. Jantungnya berdentum begitu keras, sampai-sampai Kinar takut Arga bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, tidak ada yang bergerak. Mereka berdua sama-sama terpaku di ambang batas yang mereka buat sendiri.
Hingga akhirnya, suara klakson mobil tetangga yang hendak masuk ke dalam pagar sebelah gang berbunyi nyaring, memecah sihir intim yang mengurung mereka.
Telolet! Telolet!
Suara bising itu bagaikan sirine darurat yang membangunkan kesadaran mereka berdua secara paksa. Arga tersentak, lalu dengan gerakan patah-patah menarik kembali tubuhnya. Dia melangkah mundur dua babak, menjauhkan dirinya dari Kinar. Tangannya langsung bergerak mengusap tengkuknya sendiri dengan canggung, sementara matanya membuang pandangan ke arah rak sepatu di sudut ruangan, enggan menatap mata Kinar langsung.
Kinar sendiri langsung merosot sedikit di balik pintu, tangannya memegang dadanya yang masih naik-turun dengan tidak teratur. Wajahnya sudah tidak lagi merah padam, melainkan hampir matang sempurna karena menahan rasa malu yang luar biasa luar biasa.
"Gue... gue mau ganti baju dulu," gumam Arga dengan suara baritonnya yang mendadak kembali serak, tanpa menunggu jawaban Kinar, dia langsung berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju kamarnya dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
Blam!
Pintu kamar Arga tertutup rapat. Begitu bayangan cowok itu hilang, Kinar langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Dia menyandarkan kepalanya ke daun pintu, memejamkan mata sembari merutuki dirinya sendiri. Bodoh, Kinar! Bodoh! Kenapa lo tadi malah merem?! Harusnya lo tendang tulang keringnya si kunyuk itu! batin Kinar menjerit histeris, kesal karena sistem pertahanan jiwanya bisa lumpuh total hanya karena tatapan mata Arga.
Kinar mengatur napasnya selama beberapa menit sampai detak jantungnya kembali ke ritme normal. Setelah merasa cukup tenang, dia berjalan menuju dapur kecilnya, berniat mencuci muka demi mendinginkan suhu tubuhnya yang mendadak naik drastis.
Namun, begitu melihat isi kulkas yang kosong melompong—hanya menyisakan beberapa butir telur dan setengah bungkus mi instan—Kinar menghela napas panjang. "Gara-gara drama si Selin tadi pagi, gue bahkan belum sempat belanja bulanan," gerutunya pelan.
Mau tidak mau, dengan bahan seadanya yang tersisa di dapur, Kinar mulai menyalakan kompor gas kecilnya. Dia memutuskan untuk membuat nasi goreng mentega darurat dengan sisa nasi semalam, ditambah orak-arik telur dan taburan bawang goreng yang dia temukan di dalam stoples sudut meja. Suara desisan wajan yang beradu dengan sodet kayu perlahan memenuhi dapur, mengusir sisa-sisa kecanggangan yang sempat menggantung tebal.
Sepuluh menit kemudian, dua piring nasi goreng sederhana yang aromanya cukup menggugah selera sudah tersaji di atas meja makan kayu mereka.
Tepat saat Kinar meletakkan sendok terakhir, pintu kamar Arga terbuka. Cowok itu keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar, hanya mengenakan kaus oblong hitam santai dan celana pendek selutut. Rambutnya yang tadi berantakan kini terlihat sedikit basah, tanda dia baru saja membasuh wajahnya dengan air dingin—mungkin dengan tujuan yang sama seperti Kinar tadi.
Arga berjalan mendekati meja makan, matanya melirik ke arah dua piring nasi goreng buatan Kinar. "Lo... masak?" tanya Arga, suaranya sudah kembali normal, meski nadanya masih sedikit kaku.
"Gak, ini sulap," sahut Kinar sarkas, mencoba mengembalikan tameng galaknya yang sempat hancur lebur di balik pintu tadi. Dia mendudukkan diri di salah satu kursi, lalu menyodorkan piring satunya ke hadapan Arga. "Bahan di kulkas habis. Cuma ada ini. Kalau lo gak mau makan, ya udah biar gue abisin semua."
Arga tidak menjawab. Dia langsung menarik kursi di seberang Kinar dan duduk. Begitu menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya, kunyahan Arga sempat terhenti sejenak. Dia menatap nasi goreng itu, lalu beralih menatap Kinar yang sedang asyik mengunyah dengan pipi yang menggembung.
"Gimana? Kurang garem?" tanya Kinar ketus, menyadari tatapan Arga.
Arga menelan makanannya perlahan, lalu sebuah senyuman tipis—senyuman tulus yang sangat jarang dia tunjukkan—muncul di wajahnya. "Enggak. Enak kok. Pas."
Mendengar pujian singkat yang keluar dari mulut Arga tanpa embel-embel ledekan membuat Kinar kembali salah tingkah. Dia buru-buru menundukkan kepalanya, menyendok nasi gorengnya dengan kecepatan ganda demi menutupi rasa senangnya.
"Nar," panggil Arga pelan di sela-sela denting sendok mereka yang beradu dengan piring.
"Apaan?" sahut Kinar tanpa mendongak.
"Soal yang di balik pintu tadi..." Arga menggantung kalimatnya sejenak, membuat gerakan tangan Kinar yang sedang memegang sendok otomatis membeku di tempat. Jantung Kinar kembali berdesir waswas. "...gue minta maaf kalau tadi bikin lo gak nyaman. Gue beneran cuma... kebawa emosi gara-gara liat cowok di kampus tadi."
Kinar perlahan mendongak, menatap mata Arga yang kini menatapnya dengan pandangan yang teduh, seolah meminta pengertian. Kinar menelan nasi di mulutnya dengan susah payah, lalu menarik napas panjang demi menegakkan kembali benteng gengsinya sebagai seorang sahabat belasan tahun.
"Gak apa-apa, Ga. Gue paham kok. Lagian kita kan emang harus totalitas biar gak ada yang curiga kalau pernikahan ini cuma pura-pura," bohong Kinar, kalimatnya terdengar begitu lancar, namun di dalam hati rasanya seperti ada yang mengganjal dengan sangat perih. "Tapi besok-besok... gak usah pakai acara deket-deket begitu lagi ya. Jantung gue gak kuat kalau harus jantungan terus tiap hari gara-gara lo."
Arga tertegun sejenak mendengar jawaban Kinar. Ada kilat kekecewaan yang melintas sangat cepat di mata cowok itu sebelum akhirnya dia kembali memasang wajah datar andalannya. Arga terkekeh hambar, lalu melanjutkan makannya.
"Iya, tenang aja. Lagian siapa juga yang mau deket-deket sama Mak Lampir kayak lo lama-lama," balas Arga dengan nada mengejek yang dipaksakan.
Di atas meja makan kecil itu, di bawah pendar lampu dapur yang temaram, mereka berdua kembali melanjutkan makan siang dalam diam. Kebohongan demi kebohonan tentang "totalitas kontrak" kembali mereka gunakan untuk menambal keretakan dinding persahabatan mereka, tanpa menyadari bahwa semakin kuat mereka menolak perasaan itu, maka ledakan yang akan terjadi di masa depan pastinya akan jauh lebih dahsyat menghancurkan segalanya.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/