[Cover buatan salah satu pembaca baik hati yang mau membuatnya]
"Namaku Yaoma aku hanyalah bocah kecil, yang hidup bahagia, setidaknya itu menurutku sampai kehancuran akibat para Dewa di langit terjadi...."
"Peperangan para Dewa terlalu menghancurkan dunia, ibuku yang seorang Dewi kembali ke langit dan berusaha menghentikannya..."
"Tapi dia tidak pernah kembali, dan senyuman kebahagian keluargaku tidak pernah lagi terlihat..."
"Aku yang masih kecil terkadang berpikir begini 'Apa semua masih bisa kembali?' yah meski setelah melihat fakta hari itu harusnya mustahil yah."
(Authornya jarang off, sorry kalo jarang baca komen + ini novel uji coba. Semoga menikmati)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoake-Sama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 "Ledakan Darah, Prt 2"
Chapter 21
Ledakan Darah, Part 2
*Gerbang ke 8*
Mereka melihat satu sama lain dengan kepalanya menghadap kebelakang sembari bersiap dan beregenerasi kembali.
"Aku mulai!" ucap Rebbeca sembari membalikan badannya dan bersiap menyerang.
"Majalah!" ucap Yaoma sembari berlari ke arah Rebbeca juga.
Keduanya berada serangan satu sama lain dengan senjata mereka dengan sangat kuat dan cepat.
"Benar juga, ternyata kau bisa gunakan kekuatan darah yah," ucap Rebbeca di tengah pertarungan sembari beradu serangan.
"Yah meski tidak sekuatmu," jawab Yaoma pada Rebbeca.
"Yah kau lagipula tidak mungkin latihanku selama 132 tahun disini bisa dengan mudah di kuasai," balas Rebbeca juga pada Yaoma.
"Yah siapa perduli soal itu dan ayo tetap bertarung!" sambung Yaoma sembari menebas dari samping mengincar perut Rebbeca.
Rebbeca menghindar dan melompat kebelakang sembari bersiap menyerang.
"Blood Emberance : Double Blood Cutter!" ucap Rebbeca mengaktifkan jurusnya sembari menyerang dari atas.
2 tebasan angin keluar dari serangan senjata Rebbeca dan menuju ke arah Yaoma.
"Dark Excalibur : Essence Slash!" Yaoma membalas dan mengaktifkan skillnya.
Yaoma menebas dengan satu serangan dan mampu mementalkan kedua serangan itu ke kiri dan kanan.
Yaoma melompat dan bersiap menebas dengan cepat.
"Cih reaksi dia memang selalu cepat," gerutu Rebbeca.
Yaoma menebas dengan tangan kanannya menuju ke arah leher Rebbeca dan Rebbeca menahannya namun karena kekuatan Yaoma lebih kuat dia terpental ke arah kanan.
"Urgh," gerutu Rebbeca yang terpental.
"Dark : Double Dark Spear!" Yaoma kembali mengaktifkan jurus di atas udara tanpa membiarkan Rebbeca sempat berpikir.
Kedua tombak hitam menuju Rebbeca dan Rebbeca langsung mengarahkan jarinya ke serangan tersebut.
"Cih, Kijitsu : Red Lust!" Rebbeca mengeluarkan skillnya kembali dan berusaha setidaknya membuat tombak itu kehilangan arah.
Energi merah besar yang tadi di keluarkan Rebbeca sebagai pembukaan keluar dan menghanguskan tombak itu dan menuju Yaoma.
"Dark : Reveletion!" Yaoma mengaktifkan skillnya dan menyerap energi itu dengan kekuatannya.
Rebbeca menggunakan kesempatan itu karena Yaoma sedang menyerapnya dan mencari ancang-ancang bagus untuk mendarat.
"Urgh," ucap Yaoma dengan kesakitan pada kepalanya yang sakit dan tetap memegang pedangnya, sembari menggunakan tangan kirinya untuk menyerap energi itu.
Rebbeca mendarat dengan baik kembali ke bawah dan Yaoma selesai menyerap energi itu dan terjatuh dengan menunduk sembari memegang kepalanya dengan tangan kirinya.
"Sudah batas?" tanya Rebbeca.
"Heh yang benar saja," jawab Yaoma sembari melepas tangannya yang memegang kepalanya dan berdiri dengan memegang pedangnya dengan kedua tangannya dan bersiap kembali.
"Aku masih bisa," tegas Yaoma sekali lagi.
"Begitu kah? Kalo begitu aku dengan senang hati menyerang!" jawab Rebbeca pada tekad Yaoma sembari menerjang.
Keduanya beradu kembali dengan sengit dengan kecepatan Rebbeca yang jauh sekali lebih cepat dari sebelumnya, seakan tanpa ampun.
"Sial," gerutu Yaoma yang kesulitan menahannya karena kekuatan Yaoma sudah terasa terlalu melebihi bebannya dari pikiran, tubuh, dan tenaga.
"Hoy, hoy kenapa? Kau melemah?" tanya Rebbeca di tengah-tengah keadaan menyerang.
"Tentu tidak!" jawab Yaoma sembari berusaha sekuat tenaga menyembangi serangan Rebbeca.
Keduanya menyerang lebih cepat dan semakin cepat, dan yakin tetap mengikuti kecepatan Rebbeca dan berusaha bersaing lebih di keadaan dia yang sulit.
"HAHAHAHAHAHAHA INI BARU MENYENANGKAN!" tawa Rebbeca di tengah pertempuran.
"Tentu sa-"
Perut Yaoma tertusuk sabit dari sebelah kiri dan menembus ke kanan.
"Blood Emberance : Sickle Turn A Around Blood!" Rebbeca mengaktifkan skillnya dan memutar Yaoma yang tertusuk sabitnya bersama dengan sabitnya.
Darah Yaoma terus keluar dan Yaoma berusaha melepaskan diri dari tengah putaran.
"Kijitsu : Sickle Bakuhetsu!" Rebbeca kembali mengaktifkan skillnya di tengah putaran dan meledakan sabitnya bersama dengan Yaoma.
Yaoma melepaskan diri dengan merobek perutnya dengan sabit tersebut namun tetap terkena dampak ledakan.
Yaoma terlempar dan langsung mendapat selagi menancapkan pedangnya dengan tangan kanannya dan tangam kirinya memegang perutnya.
"Heh, sepertinya akhirnya sudah terlihat yah," ucap Rebbeca dengan sombong.
Yaoma berdiri dengan menopang tubuhnya dengan pedangnya dan membiarkan luka sobek dan goresan di perutnya.
"Hoy...," reaksi Rebbeca dengan bingung.
Tampang Yaoma dengan wajah di bagian kanan yang sedikit hancur dengan matanya yang hancur, kaki kanan dan hampir seluruh tubuhnya bagian kanan penuh luka.
"Apa-apaan itu? Tidak beregenerasi?" tanya Rebbeca dengan bingung lihat penampilan Yaoma.
"Hah... hah... hah..., aku... menghentikan regenerasiku saja...," jawab Yaoma dengan kelelahan.
"Hah? Kenapa? Ah... aku mengerti supaya energimu tetap ada kah? Tapi menurutku melihat keadaanmu harusnya itu percuma." jawab Rebbeca sembari memberitahu spekulasi menurutnya.
"Hah.... hah.... hah... hehehe... sebelum mencoba... siapa tau?" jawab Yaoma dengan terengah-engah sembari mengangkat pedangnya dengan kanannya dan mengarahkannya ke Rebbeca.
"Perlawanan yang percuma yah? Baiklah aku ikuti!" jawab Rebbeca sembari kembali menerjang dan bersiap serang.
Yaoma menghirup nafas dengan panjang dan bersiap melakukan sesuatu yang baru.
"White Excalibur : Alestaria Ken Line Slash!" Yaoma menyerang Rebbeca tepat saat Rebbeca sangat dekat dengannya.
"Eh?" reaksi Rebbeca akan serangan yang sangat tiba-tiba.
Rebbeca menghindar dengan panik namun dia tak bisa sepenuhnya menghindar dan kupingnya terbelah.
Yaoma menatap tajam Rebbeca yang di depannya.
Rebbeca memegang telinganya dengan sangat bingung.
"Kau seorang iblis tapi pedang itu, dan kekuatan itu.... cahaya!?" tanya Rebbeca dengan sangat sekali kebingungan.
"Ini... salah satu jurus pedang yang ayahku pernah ajarkan aku hanya mengimajinasikannya dan mengubahnya menjadi putih, dan sejujurnya berkat kekuatan ini juga aku mengalahkan naga itu," jawab Yaoma pada Rebbeca.
"Ah... aku mengerti.... kau menerima ibu, jadi kau bisa menggunakannya karena itulah kau bisa gunakan cahaya sama seperti diriku dulu yah?" balas Rebbeca.
"Yah," jawab Yaoma padanya.
"Kau setelah di buang ibu, kau masih berpikir untuk tetap menerima kenyataan kehadirannya dalam hidupmu...?" tanya Rebbeca sekali lagi.
"Yah, dan juga aku menghargai ayahku. Kekuatan ini adalah hasil dari mereka berdua, darah ibuku dan seni berpedang ayahku," jawab Yaoma.
"KAU SERIUS MENGAKUI LACUR DAN SI KEJIH ITU!?" tanya Rebbeca dengan kesal.
"DIA MEMBUANGMU! MENIKAH DENGAN IBLIS, DAN SOK SOK BILANG TENTANG PERDAMAIAN DI LANGIT SANA DAN MENINDAS ORANG DENGAN BILANG SEMUA DEMI PERDAMAIAN DAN KAU MENERIMANYA!?" sambung Rebbeca lagi.
"Yah kalo aku bilang 'iya' tentu itu bohong, aku tidak ingin menerima ibu. Tapi aku menyayanginya, dan aku tak akan bisa membuang kenangan ayahku. Meski aku menggunakan teknik iblis aku sampai mati tidak akan menerima darah orang yang mengaku sebagai ayahku ini!" jawab Yaoma pada Rebbeca dengan tegas.
Gigi Rebbeca menggerutu dan bersiap menyerang Yaoma.
Yaoma segera menanggapi dan memegang erat pedangnya dengan kedua tangannya sembari bersiap.
"Blood Emberance : Death Claw," Rebbeca dengan super marah menyerang Yaoma dari depan dengan mata sabitnya ke depan mata Yaoma.
"White Excalibur : Alestaria Ken White Repellant," Yaoma menangkis serangan itu dengan menyerang dari sisi kanan dengan pedang dan kedua tangannya.
Pedang putih Yaoma menangkis Sabit itu sampai mata sabit itu hancur.
"Blood Emberance : Essence Of Death," Rebbeca langsung dengan cepat tanpa menyerah tetap menerjang namun berganti menuju ke jantung Yaoma dan berusaha menusuknya dengan Sabitnya dengan bagian yang tersisa.
"White Excalibur : Alestaria Ken Line Slash!" Yaoma tanpa memperdulikan itu dan berusaha menyerang Rebbeca sebelum mengenainya.
Yaoma sedikit gagal menebas Rebbeca dan hanya menebas lengannya sampai lepas namun jantung Yaoma tertusuk dan tubuhnya terlempar menuju tembok.
"Kijitsu : Sickle Red!" Rebbeca mengaktifkan jurusnya dan meledakan sabitnya yang tertancap pada Yaoma.
Yaoma meledak dan dalam keadaan asap lagi ledakan yang sekilas itu tangan Yaoma terlempar dan tubuhnya tetap langsung menuju tembok.
Yaoma terlempar dengan keras sampai pedang yang ia pegang juga terpental dan dia langsing terjatuh dalam keadaan terduduk.
"Ugh, gagal yah...," ucap Yaoma dengan keadaan babak belur dan terduduk di ujung tembok tersebut.
"Tapi seharusnya kau tidak bisa regenerasi sementara waktu!" pikir Yaoma dalam keadaan itu.
Rebbeca memegang lengannya yang putus dan masih dengan wajah yang marah melihat Yaoma.
"Kau berpikir, dengan kekuatan cahayamu itu kau bisa membuatku setidaknya tidak bisa regenerasi sementara waktu yah? Yah memang itu mustahil," jawab Rebbeca pada rawut wajah Yaoma yang akan hal ini sebelumnya.
"Yah tentu saja..," Yaoma berusaha berdiri dengan tubuh yang hampir seluruhnya hancur dengan 1 lengannya.
"Kalo begitu apa?" tanya Yaoma pada Rebbeca.
"Aku hanya ingin beritahu ada yang membuat itu mungkin," jawab Rebbeca.
Yaoma terkejut mendengar hal itu dan sempat terdiam sementara mematung.
"Cih... baiklah, kalo begitu tunjukin saja!" jawab Yaoma mendengar hal itu.
"Kau yakin? Kau bisa mati loh?" tanya Rebbeca.
Yaoma dengan sempoyongan dan dengan kaki kiri yang patah berusaha berjalan dengan terengah-engah mengambil pedangnya yang jatuh.
"Yah, kau sendiri tadi bilang kita mustahil mati kan? Lagian kau sendiri babak belur kan, kalo begitu daripada sok kuat ayo selesaikan ini!" jawab Yaoma sembari mengangkat pedangnya dengan 1 tangan dengan wajah yang tetap percaya akan kemenangan.
"Kalo begitu, jangan menyesal!" peringatan Rebbeca.
"Mana mungkin," jawab Yaoma.
Energi merah besar mengumpul pada Rebbeca dan Rebbeca di kelilingi energi yang memasuki tubuhnya dengan cepat.
"Awekaning : Red Vampire Murchiealago" ucap Rebbeca di dalam energi tersebut.
Rebbeca berubah dari hampir seluruh bagian tampilan dan matanya merah menyala lebih dari sebelumnya dan Yaoma bisa merasakan energi yang jauh lebih besar.
*Ilustrasi
Awekaning
[Red Murchiealago]
Tangan Rebbeca dan kuping Rebbeca kembali tumbuh dan regenerasinya dengan sangat cepat, setara dengan kecepatan Yaoma pada kondisi sangat prima.
"Sialan..., masih berlanjut dengan seperti itu!?" gerutu dan gumam Yaoma melihat energi dan kekuatan regenerasinya Rebbeca.
"Baiklah, sebagai pembukaan," Rebbeca mengarahkan tangannya ke arah Yaoma.
Yaoma menancapkan pedangnya di lantai namun ia tetap siap untuk keadaan apapun setelah melihat Rebbeca mengarahkan tangannya.
"Kijitsu : Red Murchiealago," Rebbeca mengaktifkan skill pertama awekaningnya dan menyerang Yaoma dengan energi super besar melebihi seluruh serangan yang Yaoma pernah lihat di Dunia Bawah.
Energi itu segera menuju Yaoma, dan Yaoma tersenyum melihatnya.
"Hoy, hoy... bukankah ini terlalu mustahil dia melebihi naga i-"
Yaoma meledak dengan ledakan super itu bersama dengan seluruh area di samping dan di belakangnya di ruangan super besar itu.
Tubuh Yaoma hampir tak bisa dilihat karena hancur lebur dan ledakan itu saja bahkan memakan cukup lebih banyak waktu untuk meregenerasi ruangan itu.
"Sepertinya sampai si-"
"Tunggu, aku masih bisa.....
bertarung.."
Episode berikutnya "Ledakan Darah, Prt 3"
well tidak adanya tanda baca disana kau jadi seakan akan menghina ibumu sialan:)
kau ini mau pakai kalimat apa?! jangan dicampur seperti itu coba pelajari lagi tentang tata letak kalimat langsung tidak langsung. ada beberapa hal yg butuh penjelasan latar tapi sudah dilanjut ke adegan berikutnya.
mohon perhatikan lagi.
kata yaoma dengan sedih.
yaoma dengan sedih ....bla bla..
tadi sempat kulihat sudut pandang tokoh aku di tengah sudut pandang penulis.
tolong kurang pengulangan kata. selain boros juga bisa membuat bosan! perhatikan juga latar waktu tempat dan keadaan! bukan hanya suasana.
selain itu. bagus.